
Di pendopo Gading padas..
" Ampun gusti, ada seorang pimpinan prajurit dari desa Mojosari hendak menghadap, " lapor seorang prajurit penjaga.
"Suruh segera kemari,,! "
"Baik gusti, "
Tidak menunggu lama pimpinan prajurit yang bernama Kebo Dongkel itu segera menghadap, dia melaporkan apa yang terjadi di desa Mojosari, dia juga menyampaikan pesan pimpinan pasukan Shindung Bawana kepada gusti Sangga Bhumi, dia sampaikan juga jumlah prajurit dan lokasi markas mereka yang ada di hutan Gondo Mayit.
" Heeemhh, memang pantas kuwu tamak itu binasa, namun sudah lama aku mencari persembunyian perusuh itu, namun kini mereka malah menampakkan diri, tidak akan aku biarkan mereka bisa leluasa menghirup udara bebas akan aku jadikan mereka merengek minta mati karena pedihnya siksaanku,, "
" Segoro aji,, siapkan lima ribu pasukan dari Selo Cemeng dan para pendekar tambah dengan dua ribu pasukan tumbal yang akan membuka jalan bagi kita, aku sendiri yang akan memimpin pasukan itu, untuk semua urusan yang ada di sini aku serahkan kepada Renggono,,! "
" tujuh hari lagi kita akan berangkat,,, " tegas Sangga Bhumi.
" Sendiko gusti,, " jawab semua yang hadir serempak.
***
Di sebuah kamar di rumah yang dulu di tempati oleh ki Karmo, dewa tongkat rotan masih terbaring lemah, setiap hari dia di rawat oleh mbok asih pelayan ki Karmo dulu, kini tubuhnya mulai membaik walau luka dalam yang di alaminya masih belum sembuh total.
Dia merenungi setiap tindakan yang dulu dia lakukan, dulu waktu dia masih kuat, dia menindas orang lain dengan semena mena, dia menggunakan kekuatannya hanya untuk menyenangkan hawa nafsunya, bahkan bayi yang tidak berdosa pun pernah menjadi korban kekejiannya.
Kini saat dia lemah, untuk bangun dari ranjang pun harus di bantu mbok Asih dia baru menyesali apa yang telah dia lakukan dulu dulunya.
__ADS_1
Saat dia merenungi itu, Cakra masuk ke kamar itu sambil sebelumnya mengetok pintu.
" Bagaimana keadaanmu kek ? " tanya Cakra dengan sopan.
"Aku baik baik saja, kenapa kau tidak membunuh ku, padahal selama ini aku sering membuat kekacauan dan pembantaian,,? " tanya dewa tongkat rotan.
" Karena aku merasa dengan membunuh kakek tidak bakal menyelesaikan masalah, bisa jadi setelah terbunuhnya kakek justru murid murid kakek akan menuntut balas, bukankah hal itu hanya akan menambah musuh bagiku,,? "
" Bagaimana jika saat aku sembuh masih menyimpan dendam dan mengumpulkan semua murid ku untuk ku ajak membalas dendam,,? bukankah itu sama saja menambah musuh bagimu,,? " tanya dewa tongkat rotan.
" Aku masih percaya bahwa di semua lubuk hati orang masih ada sepercik cahaya kebaikan, seekor anjing yang pernah di tolong dan di rawat saja masih mau menunjukkan balas budinya, apalagi seorang manusia yang selain memiliki akal yang sempurna juga memiliki hati dan perasaan,, " ucap Cakra.
Tidak di sadari dari sudut mata dewa tongkat rotan telah mengalir setitik air bening bukti bahwa ucapan Cakra telah mampu menembus di kerasnya kalbu kakek dewa tongkat rotan.
" Dosa dosa ku sangat banyak, selama ini dalam kehidupan ku hanya di isi oleh kekejian dan kedzaliman, masyarakat tidak akan menerima ku walau aku sudah berubah. "
" Sebaiknya mulai saat ini kakek menggunakan kemampuan kakek untuk kebaikan semua orang, "
Setelah cukup berbicara, Cakra pamit untuk keluar dari kamar, Dewa tongkat rotan mulai merenungi setiap perkataan Cakra setelah Cakra tidak ada, dia merasa walau usia Cakra masih muda namun dia mempunyai kebijaksanaan yang menyaingi para pertapa yang sudah tua.
***
Di pendopo desa, Cakra menerima laporan bahwa para prajurit Sangga Bhumi telah bersiap untuk bergerak, mereka mengerahkan lima ribu pasukan dan dua ribu warga Gading Padas yang di gunakan tumbal perang nantinya.
Mendengar itu, Cakra tersenyum, dia mempunyai rencana untuk mengatasi masalah itu, dia memberi perintah perintah kepada orang yang membawa pesan, dia ingin pesan itu di sampaikan kepada para rakyat Gading Padas yang di paksa untuk menjadi prajurit di sana, Cakra yakin dengan rencana ini, semua akan bisa dengan mudah di kalahkan.
__ADS_1
Cakra juga mengutus satu anggotanya untuk memberi pesan kepada pangeran Jati Kusuma di hutan Gondo Mayit, dia menjelaskan siasat yang akan di lakukan olehnya.
Saat Cakra masih serius menjelaskan rencananya, di luar terjadi keributan, ada dua puluh orang dari pendekar golongan hitam yang ingin mencari muka kepada Sangga Bhumi dengan menyerang pasukan Shindung Bawana.
Cakra segera keluar, di halaman yang cukup luas itu ternyata sudah terjadi pertempuran antara dua puluh pendekar golongan hitam dengan lima belas pasukan Shindung Bawana, termasuk putri Kencana Sari yang telah mengamuk di tengah tengah arena pertempuran.
Cakra memutuskan untuk melihat saja pertarungan itu, dari yang di lihat dia merasa bahwa golongan hitam yang berada di pihak Sangga Bhumi kemampuannya masih kalah dengan para pendekar yang ada di pihak pangeran Jati.
Putri Kencana Sari yang di keroyok tiga pendekar itu masih dengan mudah mengimbangi, pedang yang di mainkan nya seolah perisai yang yang melindungi tubuhnya dari serangan lawan, sempat seorang penyerang mampu menerobos masuk ke pertahanan putri Kencana Sari, namun sebelum serangan itu sampai, justru tangan itu yang telah terpotong sampai siku oleh pedang yang di mainkan putri Kencana Sari.
Tidak sampai di situ, putri Kencana Sari mengayunkan kakinya ke arah punggung orang itu sehingga tubuh orang itu terjungkal ke depan hingga kepalanya menabrak pohon hingga pecah.
Dua lawannya yang lain mulai jerih terhadap apa yang di lakukan putri Kencana Sari, hampir saja mereka melarikan diri, namun di hadang oleh anggota pasukan Shindung Bawana yang telah menyelesaikan pertarungan dengan lawan sebelumnya.
Putri Kencana Sari menyingkir dari tempat pertarungan itu, karena melihat pasukan Shindung Bawana telah berada di atas angin.
Craaas.
Craaaass.
Aaakhhhhh..
Suara teriakan kematian mengakhiri pertarungan itu, hanya ada dua orang pasukan Shindung Bawana yang terluka ringan karena di keroyok oleh pendekar golongan hitam.
Segera mereka menguburkan semua mayat yang ada di situ dan mengobati kawannya yang terluka.
__ADS_1
Atas kejadian itu Cakra memerintahkan kepada pasukannya untuk memperkuat penjagaan, dan menempatkan beberapa orang untuk mengintai pergerakan lawan sehingga mereka bisa lebih awal tahu pergerakan lawan yang menuju ke desa Mojosari.
Cakra mengumpulkan warga di desa itu untuk segera mempersiapkan bekal untuk mengungsi, sewaktu waktu pasukan Gading Padas ke desa itu, mereka akan selamat dari kekejian prajurit Sangga Bhumi.