PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Empat Setan Gendut


__ADS_3

Cakra menikmati makanan yang di hidangkan oleh pelayan kedai perempuan yang memakai pakaian cukup mengundang laki laki yang memandangnya mengeluarkan air liur, apalagi di tambah dengan bau tubuhnya yang menyengat sehingga membuat pusing kepala para laki laki di kedai itu, tidak dapat di pungkiri jika daya tarik wanita mampu menyedot para laki laki agar datang untuk makan maupun minum minuman di kedai itu.


Sebenarnya Cakra merasa risih juga dengan suasana di dalam kedai itu, namun karena dia membutuhkan banyak informasi maka dia masih berada di situ, karena menurutnya di kedai minum lah orang bebas untuk bicara sesuka hatinya.


di sudut belakang terdapat empat orang laki laki yang sedang mabuk di sana, dengan perawakan besar, perut perut mereka sebesar gentong dan berwajah hitam serta brewok yang tidak di rawat menjadikan wajah mereka semakin menyeramkan, di sebelah mereka tergeletak golok yang besar menunjukkan mereka adalah dari golongan persilatan.


Memang ke empat orang itu adalah empat setan gendut yang selama ini menjadi momok bagi pendekar golongan putih, sikap mereka yang selalu menebar kerusakan, merampok, memperkosa dan membunuh sesuka hatinya membuat para pendekar golongan putih menentang mereka, namun sampai saat ini belum ada satu pun pendekar golongan putih yang sanggup bertahan hidup setelah menentang empat orang ini, hal inilah yang menyebabkan empat orang ini sering bertindak sesuka hatinya.


Di depan Cakra di samping pintu kedai terdapat seorang laki laki yang usianya tidak terpaut jauh dengan Cakra, wajahnya tampan dengan hidung bangir dan rambut di kuncir rapi, di pinggangnya terselip seruling bambu, dari pakaiannya sudah mudah di tebak jika dia seorang pendekar.


" Ha ha ha , dengar dengar dari para pedagang di pasar tadi kerajaan Selo Cemeng sekarang rajanya sudah di ganti oleh patih Mangun Gada, bagaimana menurut kalian, apa kita masih tetap bergabung dengan mereka atau kita melepaskan diri dari mereka,,,? " tanya Kunto salah satu dari empat setan gendut yang berbaju merah.


Cakra terkejut mendengar kabar ini.


" Terus keuntungannya apa jika kita masih di sana,,? aku yakin akibat perang dengan kerajaan Tirta Kencana keuangan mereka sedang sulit,, " sahut Darjo.


" Bodoh kamu apa peduli kita dengan keuangan mereka, yang penting kita bisa makan dan bersenang senang dengan gadis yang ada di sana, itukan sudah cukup,, " ucap Beno yang di sahut gelak tawa yang keras tidak memperdulikan pelanggan kedai lain yang merasa terganggu dengan tawa mereka.


" Eh eh eh, tapi apakah benar jika sekarang yang memimpin kerajaan Selo Cemeng adalah patih Mangun Gada,,,?" tanya Condro Mawu orang yang paling kuat di antara mereka.


" Benar kakang, bahkan dengar dengar saat ini guru dan paman guru patih Mangun Gada sudah di angkat menjadi penasehat dan patih di sana,, " jawab Beno.


" Wah jika guru dan paman guru patih Mangun Gada sudah ikut campur kayaknya kita harus tetap berada di sana, bagaimana pun juga jika kita berada di pihak mereka kita akan semakin kuat dan aman,, " ucap Condro Mawu mengungkapkan pendapatnya.


" Benar kakang, siapa yang tidak kenal dengan kakek tongkat naga merah dan kakek sabuk baja yang pukulan tapak geni nya mampu menembus setebal apapun ilmu kebal juga jurus tendangan naga yang di miliki kakek tongkat naga merah."


" Benar, dua orang kakek yang selalu bertarung bersama itu memang menakutkan kesaktiannya, karena mereka tidak segan membunuh lawannya dengan keji, bahkan banyak korbannya yang sudah tidak berbentuk lagi badannya karena serangan jurus jurus mereka.. "


Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan kerajaan Selo Cemeng lagi, setelah itu mereka melanjutkan makan dan minum sambil bercanda dan tertawa dengan keras lagi.


Tanpa di sadari oleh mereka, di salah satu sudut seorang pemuda berbaju putih yang mendengarkan pembicaraan itu berusaha keras menahan emosi, tangannya yang menggenggam koin perak tergenggam semakin erat dan dari genggaman itu muncul asap, setelah genggaman itu longgar terjatuh lah abu dari telapak tangan itu, koin perak yang keras menjadi abu dalam seketika di genggaman Cakra.


Cakra merasa mendapat informasi siapa yang pantas di curigai membunuh eyang Bagaskara, apa yang di dengar dari empat setan gendut itu ciri ciri jurus dan luka yang di derita oleh eyang Bagaskara mengarah kepada dua kakek guru dari patih Mangun Gada yang kini menjadi raja di kerajaan Selo Cemeng.


Tidak lama, ke empat setan gendut itu berdiri meninggalkan kedai itu, tanpa membayar mereka langsung pergi, pemilik kedai yang mengetahui segera berteriak mengingatkan kepada merek kalau mereka belum membayar.


Tapi ke empat orang itu berjalan sambil tertawa seakan tidak mendengar apa yang di teriakan pemilik kedai.


Saking kerasnya tertawa mereka sampai kepala mereka mendongak ke atas.


Tanpa di sadari oleh Beno jika sebuah kaki di pasang oleh pemuda yang membawa seruling di pinggangnya untuk menghadang jalan empat setan gendut itu.


Gedeeeebuuuk.


Tubuh Beno jatuh tersungkur akibat tersandung kaki.


" Wkakakakakaakakkakak,, " teman teman Beno justru tertawa lebih kencang melihat Beno terjatuh.


" Bangsat, siapa yang berani mencari masalah dengan kami,,? " teriak Beno setelah dia berdiri dari jatuhnya.


pemuda itu segera melompat keluar melewati jendela kedai.


" Aku tadi yang menjegal kamu, makanya jadi orang harus berhati hati melihat dan mendengar sekelilingnya, masak di panggil pemilik kedai tidak dengar, budek semua kalian,, " ucap pemuda itu.


Seketika terkejut ke empat setan gendut itu, bukan sosok pemuda itu namun keberanian dari pemuda itu yang membuat mereka terkejut.


Selama ini tidak ada yang berani menantang mereka sendirian, yang berkelompok saja mampu mereka ***** apalagi yang cuma sendirian.


" Yang buta itu kamu, kamu tidak kenal kami berani beraninya kamu menentang kami,," umpat Darjo tida terima di bilang budek.


" Hanya orang orang berbadan sebesar gentong saja siapa yang tidak tahu,, " ucap pemuda itu santai.


" Kurang Ajar"


Beno yang tidak sabar langsung menyerang, dia tidak peduli kawan kawannya membantu atau tidak, yang penting dia ingin segera ******* pemuda itu.


Wuuush.


Wuuushhh.


Serangan pukulan tangan kosong di lancarkan oleh Beno, pemuda itu enak saja mengelak dari pukulan yang datang, tapi harus diakui oleh pemuda itu jika gerakan Beno cukup gesit, tubuh besarnya tidak menghalangi kelincahan gerakannya.

__ADS_1


Kemana pun pemuda itu mengelak dia selalu di kejar oleh Benu, bahkan pukulan ataupun tendangan Benu sudah mulai dekat dengan tubuh pemuda itu.


Pada jurus ke lima puluh, pemuda itu tidak memiliki kesempatan untuk mengelak, sehingga dia hanya mampu menangkis pukulan yang datang dengan menyilangkan kedua tangannya di depan wajah.


Deeeees.


Walau bisa menangkis namun tidak ayal tubuhnya masih terdorong dengan kuat, beruntung dia masih bisa menjejakkan kakinya di tanah sehingga posisinya masih mampu menyongsong serangan susulan lawan.


Buuuuuuuk.


Beno yang saat itu meluncurkan tendangan sebagai serangan susulan tubuhnya malah terpental ke belakang karena membentur seruling yang di pegang oleh pemuda itu.


Beno mengumpat karena dia awalnya merasa senang bisa segera membunuh lawan, namun kini dia yang harus bergulingan di tanah, apalagi tubuhnya yang besar membuat tanah itu bergetar.


Beno segera bangkit, kini dia berusaha tidak sembrono agar kejadian tadi tidak terulang kembali.


Beno langsung menggempur lawannya lagi, dia masih mengandalkan kekuatan tangan kosongnya walau lawannya menggunakan senjata, namun akibat benturan tadi membuat Beno berusaha tidak membenturkan tenaganya dengan seruling lawan, dia mencoba mengincar bagian bagian tubuh lainnya.


Pertarungan berlanjut dengan serunya, namun kedua belah pihak belum mampu menyarangkan serangannya ke tubuh lawan, hal ini membuat Beno tidak sabar, dia langsung menggunakan golok besarnya untuk menyerang pemuda itu, daya jangkau yang lebih panjang itu membuat pemuda bersenjata seruling menjadi kelabakan, di tubuhnya kini telah banyak luka sayatan, luka luka sayatan itu mau tidak mau mempengaruhi kecepatan gerak pemuda itu, hingga saat Beno mengayunkan goloknya dia mencoba keberuntungan dengan menangkis golok itu dengan seruling nya.


Praaaak.


Golok dan seruling itu berbenturan, namun karena tenaga dalam Beno lebih kuat maka seruling itu terlepas dari tangan dan terlempar jauh, laju dari golok itu masih belum berhenti mengarah kepada leher pemuda itu, untung pemuda itu masih cepat mengelak karena laju golok itu sudah sedikit lambat karena berbenturan dengan seruling sehingga lehernya masih selamat.


" Bagai mana,,, ? apa kau sudah ingin menyerah,,? " tanya Beno sambil tersenyum mengejek.


" Cuiiih, lebih baik aku mati dari pada menyerah,, " ucap pemuda itu.


" Baik lah akan aku kabulkan,, " ucap Beno.


Tanpa banyak bicara Beno langsung membabatkan goloknya.


Wuuuuush.


Pemuda itu merasa sudah sangat lemah sehingga dia pasrah terhadap apa yang terjadi padanya, matanya tertutup untuk menyambut kematiannya.


Taaaaph.


Pemuda itu heran karena serangan lawan tidak kunjung datang, dia mencoba membuka matanya.


Pemuda itu yang ternyata Cakra, bergerak cepat memapak tebasan golok lawan, dengan dua jarinya dia menahan laju golok itu, Beno berusaha menarik pulang goloknya, namun ternyata bukan hal mudah untuk dirinya melepaskan goloknya dari japitan jari Cakra.


Beno semakin banyak mengalirkan tenaga dalamnya di bilah golok agar mampu di tarik, namun justru bilah golok yang di japit jari Cakra itu malah berlubang sehingga Cakra melepas japitannya.


Terlepasnya golok itu membuat tubuh Beno terpelanting ke belakang dan menabrak bangku di depan kedai sampai bangku itu hancur berkeping keping tertimpa badan besar Beno.


Beno menjadi berang dengan kejadian ini, bukan sakitnya yang membuat dia marah, namun rasa malunya yang tidak bisa dia sembunyikan, apalagi kawan kawannya tidak segera membantu malah menertawakan jatuhnya Beno.


" Kurang ajar, melihat orang jatuh malah di tertawakan. "


" Salah kamu sendiri kenapa melawan satu orang lemah saja lama sekali, kami sampai bosan menunggumu di sini,, " jawab Kunto masih dengan ketawanya.


" Kalau ingin cepat ya bantu aku,,,! "


" Bilang saja kau minta bantuan karena tidak mampu mengalahkan pemuda lemah itu,, sana istirahat biar aku yang menghabisi dua pemuda ini,,! " jawab Kunto maju dengan tatapan merendahkan lawan.


Darjo langsung merangsek ke arah Cakra dan pemuda tadi, Cakra menyuruh pemuda itu untuk mundur, awalnya pemuda itu ragu, namun karena luka luka yang di deritanya sehingga dia menuruti ucapan penolongnya untuk mundur.


Weeeees.


Sebuah tendangan mengarah ke dada Cakra, namun Cakra melihat serangan itu masih sangat lambat sehingga mudah bagi Cakra untuk menghindari tendangan itu.


Setelah tendangan itu hanya lewat di depan Cakra, dengan gerakan cepat Cakra menusukkan jari telunjuknya ke betis lawan.


Tuuuk.


Cakra sedikit terkejut, biasanya batu yang keras di tusuk dengan jarinya mudah untuk tembus, namun kali ini betis lawannya yang dia tusuk itu terasa liat.


Sedangkan Kunto sendiri merasa terkejut dengan tusukan jari lawan, selama ini belum ada yang mampu melukai tubuhnya walau dengan senjata tajam karena ilmu kebalnya, namun saat ini hanya dengan tusukan jari walau tidak terluka namun betisnya terasa seperti tersengat listrik, hal ini membuat pijakan kakinya di tanah menjadi limbung sehingga dia jatuh bergulingan.


Kunto segera bangkit lagi sambil meringis menahan perih di betisnya, dia tidak percaya jika lawannya mampu membuat dia jatuh seperti itu.

__ADS_1


" Jangan senang dulu kau pemuda, ini semua hanya keberuntungan saja. " ucap Kunto.


Cakra hanya tersenyum saja mendengar ocehan itu, kini Cakra lebih siap dengan jurus Cakar garuda membelah badai.


Jari jarinya menjadi kaku dan membentuk cakar bersiap meladeni serangan lawan.


Wuuuushh.


Sebuah pukulan lurus mengarah ke wajah Cakra, tapi karena Cakra sudah siap maka pukulan itu bukan sebuah hal yang berbahaya bagi Cakra, dia menepis hanya dengan satu tangan kanannya, kemudian gantian Cakra membalas mengirimkan sikunya.


Duuuk.


Dengan telapak tangan kirinya Kunto menahan Siku lawannya, mendapat kesempatan Kunto menyepakkan kakinya ke arah pinggang Cakra.


Merasa terancam dengan cepat Cakra bereaksi dengan terbang keatas menghindari sepakan lawan.


Kunto sejenak menjadi bingung karena lawannya menghilang, tidak begitu lama, kebingungan itu menjadi terkejut karena Cakra sudah berada di belakangnya mengayunkan Cakar andalannya.


Merasa angin serangan yang berkesiutan di belakang membuat Kunto mengambil keputusan untuk melemparkan tubuhnya ke depan.


Cakra tidak memberi kesempatan lawannya untuk menghindar sehingga dia mengejar lawannya, hingga pertarungan itu berjalan seru, serangan demi serangan sudah mereka lakukan, hingga akhirnya Beno pun ikut menyerang Cakra, namun tambahan tenaga itu juga belum berarti apa apa karena mereka berdua belum mampu mendesak Cakra.


Sambaran sambaran golok yang berdesingan di antara tubuh Cakra bukan lah hal yang mengganngu, justru jurus cakar garuda membelah badai miliknya sesekali mampu melukai dua orang pengeroyoknya.


Meski sudah memakai ilmu kebal, namun jurus Cakar yang di gunakan oleh Cakra masih mampu menembusnya.


Karena geram dua kawannya belum bisa menang melawan pemuda itu, Condro Mawu dan Darjo segera melesat membantu kawannya.


Di tambah dua tenaga ini membuat serangan mereka semakin mematikan, apalagi kerja sama mereka saat menyerang sangat apik sehingga membuat mereka sedikit mampu mendesak Cakra.


Namun Cakra yang sudah sering bertarung melawan musuh yang banyak jumlahnya sama sekali tidak panik, dia menambah jurus langkah kilat menapak angin sehingga kini tubuhnya bergerak dengan cepat.


Tubuh yang berkelebatan layaknya bayangan itu menyulitkan lawan yang hendak menyarangkan senjata. bahkan dengan gerak cepat itu membuat ke empatnya kerepotan menghalau serangan lawan yang datang.


Cakra mulai tidak sabar, dia ingin segera mengakhiri pertarungan itu dengan mengeluarkan pedang garuda nya yang selama ini masih bertengger di punggung nya.


Silau sinar kebiruan yang keluar dari bilah pedang itu membuat para penyerang Cakra mulai ciut nyalinya, namun nama mereka sebagai pendekar golongan hitam yang di takuti membuat mereka meredam rasa gentar itu, mereka yakin mampu mengalahkan pemuda ini.


Wuuushh.


Cakra melabrak ke arah lawan, dengan memutar mutar pedang yang ringan itu ingin mengacaukan konsentrasi lawan, hasilnya.


Traaang


Traaaaang.


Beeeet.


Sebuah sayatan mengenai pergelangan tangan Beno sehingga tangan itu buntung, untung serangan susulan Cakra yang mengarah ke dadanya bisa dia hindari dengan menjatuhkan diri ke belakang.


Kini lawan Cakra tinggal tiga yang masih berdiri, Cakra langsung bernafsu untuk mengalahkan mereka.


Wuuushh.


Cakra membacokkan pedangnya ke arah Kunto, dengan cepat dia menangkis sabetan pedang Cakra dengan goloknya.


Traaaang.


Praaaang.


Golok itu patah dan terjatuh ke tanah, sehingga dengan mudah Cakra mengirimkan pukulan paruh garuda ke dada Kunto, tanpa bisa mengelak lagi tubuh Kunto terpental jauh dan menabrak pohon hingga tumbang, dari mulutnya keluar darah segar, dadanya jebol dengan beberapa tulang rusuk yang remuk.


Condro Mawu sangat murka karena dua kawannya bisa di lukai, dia segera mengeluarkan jurus tapak besi sedangkan Darjo mengeluarkan jurus bara merapi, keduanya melesat mengarahkan tangan kanan mereka ke arah dada Cakra, Cakra yang awalnya memunggungi Condro Mawu dan Darjo saat berbalik dia terkejut karena serangan lawan sudah tinggal sejengkal, sehingga ke dua pukulan itu tepat mengenai dada Cakra.


Deeeees.


Namun kedua penyerang Cakra sedikit heran karena pukulan itu seakan membentur baja yang cukup tebal sehingga pukulan itu tidak berpengaruh apa apa kepada Cakra, kedua pukulan itu masih menempel di dada Cakra, mereka menambah aliran tenaga dalam ke tangan mereka namun justru saat Cakra membenturkan tenaga dalam memajukan dadanya, dua orang itu terpental dan Cakra mengirimkan pukulan paruh garuda miliknya.


Daaaaar.


Selarik cahaya putih keluar dari tangan Cakra, beruntung mereka sempat memapaki serangan itu dengan pukulan jarak jauh mereka sehingga tiga pukulan itu meledak di tengah dan membuat dua orang penyerang Cakra terlempar ke belakang.

__ADS_1


Dada mereka terasa sesak dari mulut mereka mengeluarkan darah, kemudian mereka berniat lari membawa teman teman mereka yang tidak sadarkan diri.


Cakra memang tidak berniat mengejar mereka karena Cakra lebih mengkhawatirkan luka luka pemuda yang di tolongnya.


__ADS_2