
Pagi sekali Cakra sudah bersiap untuk pergi ke Gading Padas, dia meminta restu kepada romo dan biyungnya sebelum berangkat.
"Biyung, Cakra pamit, mohon restu semoga saya bisa kembali dengan selamat dan semoga bisa membebaskan saudara kita yang ada di Gading Padas dari penindasan kerajaan Selo Cemeng" pamit Cakra.
"Pergilah Cakra, tunaikan kewajibanmu, kembalikan kejayaan kerajaan Gading Padas yang telah di rampas oleh kerajaan Selo Cemeng," ucap Galuh.
kemudian Cakra beralih sungkem di pangkuan romonya.
" Berhati hatilah anakku, di sana banyak orang sakti yang akan menjadi lawanmu, bertindaklah bijaksana dan himpunlah kekuatan yang bisa kamu ajak untuk berjuang bersamamu merebut Gading Padas dari keserakahan kerajaan Selo Cemeng, "
"Kalau melihat kejadian semalam, mereka sudah melakukan pergerakan walau masih tertutup. "
" Baik romo, saya akan berhati hati dan pesan pesan romo akan saya laksanakan. " jawab Cakra.
Mumpung pagi masih gelap, Cakra memutuskan untuk terbang, jika sudah siang dia tidak akan berani terbang di atas pemukiman takut menjadi perhatian bagi banyak orang.
Huuuphhh, paaakk pakkk paaakk. suara kepak sayap yang terbuat dari energi tenaga dalam yang memadat di punggung Cakra.
__ADS_1
Dia melesat kearah wilayah Gading Padas, tidak sampai munculnya fajar, Cakra sudah sampai di perbatasan wilayah Gading Padas, dia memutuskan untuk memutari wilayah itu sambil mempelajari keadaan alam yang cocok untuk menentukan strategi berperang nantinya.
Belum selesai dia menyelesaikan pengamatannya tentang kondisi alam Gading Padas, matahari sudah menampakan keperkasaannya, mau tidak mau Cakra harus menyudahi penyelidikannya dan turun di sekitar sawah warga yang cukup sepi karena belum ada warga yang ke sawah.
Setelah menapaki tanah, Cakra merasa heran kenapa banyak sawah yang terbengkalai, hanya sebagian sawah yang di tanami jagung yang hampir mengering waktunya panen.
Cakra memutuskan berjalan menuju desa terdekat untuk mencari informasi, dia sangat prihatin dengan keadaan masyarakat di desa itu, banyak rumah yang dinding anyaman bambunya sudah berlubang karena lapuk, ada yang atapnya yang terbuat dari ilalang sudah hancur, umpama hujan air akan dengan mudah masuk ke rumah itu, anak kecil berlarian tanpa menggunakan pakaian dengan tubuh yang kotor dan yang aneh kebanyakan penghuni desa itu adalah perempuan, jika ada laki laki kebanyakan anak kecil atau orang yang sudah tua.
Sungguh pemandangan yang menyayat hati.
" Ada apa cah ayu ? " tanya Cakra ramah sambil tersenyum kepada gadis itu.
" Lapar.. " jawab gadis itu polos.
"Siapa namamu, di mana rumahmu ,? " tanya Cakra.
" Namaku Sri, itu rumahku, " jawab gadis itu sambil menunjuk rumahnya yang tidak terlalu jauh dari situ.
__ADS_1
" kebetulan kakak membawa makanan, ayo kita makan di rumahmu,,! " jawab Cakra sambil mengeluarkan bekal yang di berikan biyungnya tadi.
Seketika wajah Sri menjadi cerah, dia segera menggeret tangan Cakra untuk segera masuk ke rumahnya.
Mereka duduk di atas tikar, Cakra menyodorkan sebungkus nasi dengan lauknya kepada Sri, dengan tergesa Sri membuka bungkusan itu, dia segera melahapnya dengan tergesa gesa.
"Pelan pelan Sri, nanti tersendak, makanlah dengan tenang" ucap Cakra sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Kamu di sini tinggal sama siapa Sri ,,? " tanya Cakra.
"Aku tinggal sendirian di sini kak, sejak bapakku di bawa para pasukan prajurit Selo Cemeng, sampai sekarang bapak tidak kembali, ibuk ku tiga purnama lalu mati di bunuh oleh pasukan Selo Cemeng, beruntung sebelum mereka datang, ibukku menyembunyikan aku di Glodok padi itu " jawab Sri sambil menunjukan Glodok terbuat dari kayu jati tempat menyimpan padi.
Mendengar itu Cakra merasa kasihan, mungkin tidak hanya Sri saja yang bernasib seperti itu, bisa jadi lebih banyak Sri Sri yang lain yang bernasib sama atau lebih parah lagi.
Setelah menyelesaikan makannya, Cakra berpamitan kepada Sri, memberi sedikit uang kepeng dan berjanji segera kembali untuk menolong Sri dengan para warga yang ada di situ.
Dari apa yang di lihat, hampir semua desa mengalami nasib yang sama.
__ADS_1