
Dua puluh lima anggota pasukan Shindung Bawana telah berbaris menunggu Cakra keluar dari pondoknya, Cakra yang semalaman bersemedi menenangkan pikiran dan menyucikan hati dari niat yang cela baru selesai saat para pasukan Shindung Bawana telah berkumpul.
Dari pondok sederhana yang di tinggali oleh Cakra, Cakra muncul dengan pakaian rompi warna putih yang memperlihatkan tonjolan otot di perut, dada dan lengannya, pedang garuda di punggungnya menambah gagah penampilan Cakra, wajah yang tampan berkulit putih membuat orang tidak bosan memandang.
" Maaf kalian telah lama menunggu, hari ini adalah awal dari pasukan Shindung Bawana untuk memulai langkah kecil perjuangan dan menjadi langkah besar untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan, "
" Pagi ini kita menuju desa Mojosari, kuwu yang saat memimpin mereka adalah antek dari Sangga Bhumi, kuwu itu selalu berlaku semena mena, banyak gadis di culik hanya untuk melampiaskan nafsu bejatnya, untuk itu mari kita hukum kuwu yang bejat itu,,! " ucap Cakra memberi penjelasan apa yang akan di lakukan hari itu.
" Kami semua taat dan tunduk terhadap perintah ketua, " ucap para pasukan serempak.
" Pergi membawa semangat pulang membawa kejayaan , " teriak Cakra di sambut teriakan yang senada oleh para anggota pasukan Shindung Bawana.
Mereka semua segera memacu kudanya meninggalkan hutan Gondo Mayit menuju desa Mojosari.
***
Di pendopo desa Mojosari, ki Karmo kuwu desa Mojosari telah kedatangan tamu seorang pendekar golongan hitam yang singgah di desa itu setelah melakukan perjalanan dari Gading Padas menuju tempat tinggalnya yang dulu, ki Sabuk Ulet memutuskan memisahkan diri dari Sangga Bhumi, karena dia menimbang tidak ada untungnya berada di pihak Sangga Bhumi, kebetulan ki Sabuk Ulet melewati desa Mojosari sehingga dia ingat temannya yang menjadi kuwu di desa itu.
Ki Karmo menyambut kedatangan temannya dengan gembira, dia menghidangkan banyak makanan sambil membicarakan situasi di Gading Padas saat ini, Ki Sabuk Ulet menceritakan semua yang terjadi di Gading Padas dan mengajak kawannya untuk meninggalkan Sangga Bhumi mengikuti jejaknya, namun fasilitas yang selama ini di nikmati oleh Ki Karmo telah membutakan mata hatinya, dia merasa belum puas menikmati kesenangan dunia itu, walau sebenarnya kenikmatan dunia yang menipu ini hanya sementara di nikmati, kenikmatan dunia hanya membara kesengsaraan bagi mereka yang tidak mampu mengendalikannya, kenikmatan yang seperti bangkai hewan yang mati, lambat laun akan busuk dan di jauhi semua orang.
Ki Karmo masih tetap pada pendiriannya, bahkan dia mengajak ki Sabuk Ulet untuk bergabung dengan dirinya di sini untuk memperkuat posisi mereka sehingga bisa melebarkan sayap sampai ke desa luar yang terdekat.
Sejenak ki Sabuk Ulet mulai tertarik, bagaimana pun juga dia butuh kesenangan yang dulu dia dapat saat berada di Gading Padas, mereka berbicara di pendopo itu cukup lama, kadang terdengar suara tertawa keras dari mereka.
Dari arah gapura masuk desa terdengar hentakan kaki kuda yang berlari dengan kencang, terdapat dua puluh ekor kuda yang sedang berpacu agar segera sampai di tujuannya.
Terjadi kehebohan di situ, lima prajurit penjaga segera menghadang laju kuda itu, namun bukannya mereka menghentikan laju kudanya, justru penunggang kuda itu memacu lebih kencang meloncat melewati prajurit penjaga yang menghadang.
Ke lima prajurit penghadang itu bergelimpangan jatuh, tidak tahu apa yang terjadi tiba tiba di bagian tubuh mereka merasa sakit dan mengeluarkan darah sehingga nyawa mereka pun juga ikut keluar.
Kini sekumpulan prajurit bersenjata tombak mengacungkan tombaknya ke arah para penunggang kuda di depannya, walau dengan tubuh yang bergetar namun mereka memantapkan hati untuk menghadang para penunggang kuda itu.
Sriiiing..
__ADS_1
Sriiiingg..
Sriiiiingggg.
Hujan anak panah mengarah ke mereka, sehingga tidak butuh waktu lama, sekumpulan prajurit itu tergeletak di tanah tanpa bangkit lagi.
Penunggang kuda itu langsung mengarah ke pendopo desa, mereka memasuki halaman pendopo di sambut oleh seratusan prajurit yang ada di situ.
"Siapa kalian berani membuat onar di sini,,? " tanya ki Karmo.
" Kami kesini hanya ingin menjemput kepalamu itu, jadi lepaskanlah kepalamu itu untuk kami bawa agar tidak ada banjir darah di sini,,,! " ucap Cakra.
" Kurang ajar, jangan harap kau bisa memegang kepalaku, kalian keluar dari sini saja itu sebuah keajaiban, jadi bersiaplah kalian,, " seru ki Karmo terpancing amarahnya.
" Seraaaaaangg. "
Lemparan tombak meluncur ke arah pasukan Shindung Bawana, namun bukan hal sulit untuk mematahkan setiap tombak yang meluncur itu, karena hanya dengan sekali tebasan, mereka mampu menghalau bahkan mematahkan tombak itu.
Seratus prajurit maju dengan menghunus pedangnya, mereka mengincar para perusuh yang datang itu dengan tebasan dan tusukan.
Cakra meninggalkan kudanya terbang di tengah tengah prajurit, tangannya yang dilambari jurus Cakar garuda membelah badai meraih tubuh tubuh prajurit yang terdekat, banyak prajurit yang di lewati Cakra langsung tumbang karena perut atau lehernya yang terluka lebar dan dalam.
Cakra meluncur dan berhenti tepat di depan ki Karmo dan ki Sabuk Ulet di susul oleh Putri Kencana Sari di belakangnya.
Ki Sabuk ulet sangat murka kepada kedua muda mudi yang kini berkacak pinggang di depannya, dia segera maju menyerang Cakra yang dianggap pantas menjadi lawannya.
Hiyaaaaat.
Wuuuuushh.
Ki Sabuk Ulet mengirim pukulan ke arah muka Cakra, namun Cakra menghindari pukulan itu sehingga pukulan itu lewat ke samping, dengan satu sodokan siku Cakra mengincar dada ki Sabuk Ulet, namun ki Sabuk Ulet tanggap dan segera memutar badannya sehingga siku itu luput dari dadanya.
Pertarungan pun di mulai, tidak kalah seru, putri Kencana Sari sudah meladeni gempuran ki Karmo.
__ADS_1
Putri Kencana Sari bersalto menghindari sabetan celurit yang mengarah ke lehernya, Ki Karmo mengejar putri Kencana Sari, dia menyabetkan celuritnya ke arah kaki maupun perut putri Kencana Sari, namun putri Kencana Sari masih terlalu gesit untuk ukuran gerakan ki Karmo, hingga pada saat bersalto dia bisa menendang pergelangan tangan ki Karmo yang memegang celurit sehingga celurit itu terlepas dari pegangan ki Karmo.
Duuuukhh.
" Kurang ajar,, " umpat ki Karmo.
Putri Kencana Sari cuma tersenyum melihat lawannya naik pitam, dia bisa dengan mudah menaklukan lawan itu jika lawan sedang marah.
Putri Kencana Sari meloncat keatas sambil bersalto, kakinya menyepak punggung ki Karmo sehingga ki Karmo yang belum siap posisinya terjungkal ke depan.
Sambil berjumpalitan ki Sarmo melemparkan jarum jarum kecil ke arah lawannya, namun putri Kencana Sari mampu menghindar sehingga jarum itu lewat dan menancap di pohon pisang, sekejap pohon itu layu dan mati.
Melihat berbahayanya senjata lawan, putri Kencana Sari melompat dan mendaratkan kakinya di kedua bahu ki Karmo, kakinya mengapit kepala ki karmo, segera putri Kencana Sari memutar kakinya.
Krrraakk.
Suara tulang leher yang patah karena di pelintir dengan kedua kaki putri Kencana Sari.
Putri kencana Sari meloncat sambil menendang dada ki Karmo, tubuh yang tidak bernyawa itu telah rubuh ke belakang.
Putri Kencana Sari kini memperhatikan pertarungan Cakra, lawannya kini telah memakai senjatanya berupa sabuk yang biasanya di ikatkan di pinggangnya, memang ki Sabuk Ulet bukan lah nama aslinya, Sabuk Ulet adalah julukan karena dia bersenjata Sabuk.
Sabuk itu dia lecut lecutkan ke arah Cakra, banyak prajurit yang hancur kepalanya karena terkena serangan sabuk yang nyasar dari arah serangannya.
Kadang dalam sabuk itu muncul jarum jarum beracun yang meluncur, namun Cakra bukan pendekar kemaren sore yang dengan senjata mainan seperti itu bisa kewalahan, dia menciptakan pusaran angin kecil yang mampu meluruhkan jarum jarum yang meluncur ke arahnya.
Pertarungan yang sudah berlangsung cukup lama itu kini sudah mulai masuk ke puncaknya, karena Ki Sabuk Ulet telah meningkatkan tenaga dalamnya ke taraf paling tinggi, kadang tangan kirinya mengeluarkan pukulan jarak jauh, Cakra dengan tenang menghindari semua serangan itu hingga pada sabetan sabuk keluar puluhan jarum beracun,
Cakra mengibaskan tangannya sehingga muncul angin kencang yang membalikan arah jarum itu dan mendorong laju jarum sehingga lebih cepat datangnya ke dada ki Sabuk Ulet.
Jleeeph .
Jleeephh.
__ADS_1
Lima buah jarum bersarang di tubuh ki Sabuk Ulet sehingga menjadikan tubuhnya menghitam dan mengeluarkan bau busuk, ambruk lah tubuh itu terkena senjatanya sendiri.
Ambruknya Ki Sabuk Ulet menghentikan perlawanan prajurit itu karena semua prajurit yang masih hidup segera membuang senjata mereka tanda menyerah.