PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Roh Garuda Agni 1


__ADS_3

Dua orang langsung masuk ke dalam gua, di sana di dapati Cakra yang masih terbaring, matanya menutup rapat, hanya aliran napas yang lemah terlihat, kakek dewa tongkat rotan segera memeriksa keadaan Cakra, namun masih sama seperti awal mereka membawa Cakra ke gua itu.


Sedangkan Sardi yang ada di samping Cakra, tidak sadar dia mengigau sehingga mengejutkan dua orang yang berjaga di luar tadi.


" Ternyata tadi suara Sardi yang mengigau kek,, " ucap Kelana.


" Benar kalau begitu mari kita tinggalkan mereka di sini, ayo kita istirahat saja di luar,,,! " ajak kakek dewa tongkat rotan.


Keduanya segera melangkahkan kakinya ke luar gua itu, mereka memilih bersandar di sebuah pohon besar sambil meneruskan perbincangan mereka, namun tidak lama, mereka sudah terlelap dalam tidurnya karena beberapa hari ini mereka jarang istirahat, apalagi mereka bergantian menyalurkan tenaga dalam mereka kepada Cakra.


Saat semua terlelap, di tengah malam yang gelap, semilir angin mulai masuk ke dalam gua, semakin lama angin itu mulai lebih kencang mengobarkan api obor di dalam gua itu, Semakin lama api di obor itu padam sehingga membuat gua itu gelap tanpa penerangan.


Dari sebuah lubang di dinding gua itu terdengar benda bergetar, getaran benda itu berbenturan dengan dinding gua sehingga suaranya cukup keras, di lubang itu muncul cahaya kekuningan yang cukup menerangi ruangan gua bahkan lebih terang dari pada cahaya api di obor tadi.


Dari mata patung garuda emas yang bergetar tadi keluar cahaya berwarna biru yang indah, cahaya itu awalnya kecil kemudian membesar mengenai seluruh tubuh dari Cakra, Cahaya menyebar ke seluruh tubuh Cakra, perlahan cahaya itu masuk ke dalam tubuh Cakra melalui pori pori kulit Cakra.


Tubuh yang menerima masuknya cahaya itu menjadi bergetar, bahkan tubuh itu hampir terangkat dari lantai gua tempat dia terbaring setinggi dua jengkal, cukup lama tubuh itu melayang di udara hingga cahaya itu benar benar hilang masuk ke tubuhnya baru Cakra jatuh ke lantai gua dengan posisi yang sama dan masih belum sadarkan diri.


Di alam bawah sadar Cakra, dia membuka matanya, namun hanya ada ruang putih tanpa batas, dia mencoba mencari cari ke semua arah, namun yang di temui hanya ruang kosong saja di sekelilingnya, Cakra kemudian melangkahkan kakinya mencari jalan keluar dari tempat itu, lama dia berjalan namun tidak ada apapun di ruangan itu yang bisa di temui Cakra.


Cakra hampir putus asa terhadap keadaan ini, perasaan kalut dan khawatir membuat dirinya tidak mampu berpikir jernih sehingga membuat dia semakin tertekan dan tidak bisa berbuat apa apa.


Di saat keadaan seperti itu, dalam hati Cakra muncul ketakutan yang luar biasa, suatu hal yang baru ini dia rasakan, padahal dulu waktu dia terpisah dengan orang tuanya dia masih bisa mengendalikan ketakutannya, namun saat ini rasa itu tidak bisa terbendung lagi.


Aaaaaaaaaakhhhhh...

__ADS_1


Cakra berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan beban yang ada di dadanya.


Tubuhnya ambruk tersungkur di lantai dengan posisi sujud, dalam posisi itu dia menangis sejadi jadinya.


" Tenangkan dirimu,,,,! "


Setelah cukup lama Cakra berada di posisi itu, terdengar suara yang memerintahkan Cakra untuk menenangkan diri.


Perlahan Cakra mengangkat kepalanya melihat sekelilingnya, dari atas dia melihat sosok besar melayang dengan sayap garuda yang mengembang, sosok manusia berkepala burung itu memancarkan cahaya yang menenangkan dari tubuhnya.


Cakra mulai waspada, dia berdiri dan menyiapkan kuda kudanya.


" Jangan khawatir Cakra, aku tidak akan menyerang mu,, " ucap sosok itu seakan dia bisa membaca pikiran Cakra.


Cakra terhenyak mendengar ucapan sosok itu.


" Ha ha ha ha, pasti aku mengenalmu karena kamu adalah orang yang aku pilih untuk mewarisi jurus jurus ku,, "


" Apa,,,?, berarti anda eyang Jatayu,,? " tanya Cakra yang tidak percaya dia bisa bertemu dengan eyang Jatayu.


" Benar akulah Jatayu,, " jawab sosok itu.


Mendengar itu Cakra memberi hormat kepada eyang Jatayu.


" Terima sembah bekti hamba eyang,, "

__ADS_1


" Sudah sudah, tidak perlu kau melakukan seperti itu,, "


Cakra segera bangun dari sembahnya kemudian dia duduk terpekur dengan takzim.


" Cakra anak ku, kekuatan manusia tidak mutlak membuat seseorang itu selalu menang melawan musuhnya, ada kalanya seorang musuh bisa dikalahkan tidak menggunakan kekuatan namun bisa juga di kalahkan dengan kelembutan jiwa dan kekerasan tekad, jadi jangan kau gantungkan setiap pertarungan mu dengan kekuatan yang kau punya, kau juga harus mampu melibatkan rasa belas kasih dan kemauan kuat yang ada di hatimu untuk menaklukkan lawan mu,, "


" Namun, kau pun juga harus waspada kepada nafsu amarahmu dan kelemahan tekad mu, karena sebesar apapun kekuatanmu jika kamu di kuasai oleh nafsu amarahmu, maka kekuatan itu akan melemahkan mu,, "


" Kau harus ingat, pada pertarungan terakhirmu kau telah kalah karena kau di kuasai oleh amarah rasa dendam atas kematian gurumu, kau bertarung bukan karena ingin menghentikan angkara murka namun kau ingin melampiaskan dendam mu, hal inilah hal yang membuatmu lemah dan kalah, kau harus segera melenyapkan rasa dendam mu, aku yakin jika gurumu di sana menangis melihat kau menuruti dendam mu anak ku,, "


" Maafkan saya eyang, hati saya sangat lemah,, " ucap Cakra.


" Aku berharap ini bisa menjadi pelajaran bagimu nak, kau harus bisa mengalahkan nafsu yang ada pada dirimu dan ingat orang kuat tidak harus selalu menang dalam pertarungan. "


" Baik eyang, akan saya ingat pesan eyang. "


" Saat ini, pergilah kau ke arah kanan mu, carilah pintu berwarna biru kemudian masuklah ke dalamnya,,,,! di sana sudah ada sesuatu yang menunggumu. "


" Baik eyang, akan saya laksanakan,, " ucap Cakra sambil menyembah.


Saat Cakra menyembah sosok eyang Jatayu telah lenyap sehingga saat Cakra menengadahkan wajahnya sosok itu sudah tidak ada.


Cakra segera melaksanakan perintah eyang Jatayu untuk mencari pintu berwarna biru, lama dia berjalan namun belum juga dia menemukan pintu itu, keyakinan dia mulai menipis akan kebenaran adanya pintu biru itu, namun saat berada pada titik putus asa, dia ingat akan pesan eyang Jatayu tentang kekerasan tekad, dia merasa jika dia putus asa saat ini maka dia gagal terhadap ujian kekerasan tekad.


Kemudian dia mengeraskan tekad bisa kembali lagi ke alam sadarnya untuk bisa berjuang bersama dengan kawan kawan lama yang ikut bersamanya.

__ADS_1


Di depan dia terbayang wajah romo nya, biyungnya, putri Kencana Sari, pangeran Jati Kusuma, pangeran Ranu Mulya, kakek dewa tongkat rotan dan kelana, begitu juga dengan pasukan Shindung Bawana yang di pimpinnya, dia merindukan mereka dan ingin segera kembali berkumpul lagi dengan mereka.


__ADS_2