PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Resi Wisrawa


__ADS_3

Tubuh yang lebur menjadi abu menyisakan jerit kematian yang pilu, hampir semua yang mendengarkan menjadi bergidik ngeri, mereka tidak bisa membayangkan jika yang mengalami kematian seperti itu adalah dirinya sendiri.


Banyak manusia yang lupa jika dirinya nanti juga akan mengalami kematian yang mungkin lebih menyakitkan, mereka terlena akan kenikmatan sementara hingga untuk membayangkan kematian nya nanti.


Manusia terlena akan keadaan dunia, saat tiba waktu kematian mereka, kebanyakan manusia baru sadar jika dia belum punya bekal di kehidupan setelah kematian.


Cakra masih berdiri di tempatnya, memastikan jika raja siluman kera tidak bangkit lagi untuk menuruti nafsu ketamakannya.


Tiba tiba dari arah belakang bermunculan kesatria kera berjumlah lima, di belakang mereka berdatangan juga prajurit prajurit kera yang banyak jumlahnya.


Cakra segera waspada, dia membalikkan badan dengan pedang yang masih berada di tangan.


Suatu hal di luar pikiran Cakra terjadi, semua kesatria kera memberi hormat kepada Cakra di ikuti semua pasukan kera di belakangnya.


Kenanga yang berlari hendak menghampiri Cakra karena takut jika Cakra di keroyok oleh pasukan kera, menghentikan larinya karena tidak percaya terhadap apa yang di lihatnya.


Mendapat penghormatan dari para kesatria kera, Cakra kemudian membungkukkan badan sebagai tanda membalas penghormatan yang dia dapatkan.


" Kami para kesatria kera memberi hormat kepada kesatria jatayu,, " ucap salah satu kesatria kera yang berada paling tengah.


Kelima kesatria kera ini memiliki ciri ciri berbadan tinggi besar dengan dada yang tegap berbulu ke emasan, yang membedakan di antara mereka adalah ikat pinggang yang mereka gunakan memiliki warna yang berbeda beda.


Nama mereka tergantung dari warna ikat pinggangnya yaitu Rewanda Jingga, Rewanda Kuning, Rewanda Hijau Rewanda Putih dan Rewanda Coklat.


" Salam hormat juga bagi semua kesatria kera beserta para prajurit kerajaan siluman kera,, " balas Cakra.


Begitu juga Kenanga yang telah berdiri di samping Cakra juga ikut memberi hormat.


" Maaf kesatria Jatayu, kami di utus oleh resi Wisrawa untuk mengundang kesatria Jatayu untuk menghadap beliau, jika berkenan kami akan mengawal anda sampai ke tempat pertapaan sang resi,, " ucap Rewanda Hijau pemimpin kesatria itu.


Mendengar itu Kenanga yang khawatir jika itu jebakan kemudian memegang lengan kiri Cakra.

__ADS_1


Yang di pegang lengannya pun menoleh melihat wajah Kenanga yang menggeleng gelengkan kepala tanda tidak setuju.


Cakra tersenyum dengan lembut meyakinkan Kenanga agar tidak khawatir.


" Saya akan ikut untuk memenuhi undangan resi Wisrawa bersama kalian,, " ujar Cakra.


Rewanda hijau tersenyum, dia yakin jika orang di depannya adalah kesatria Jatayu yang sudah di ramalkan oleh resi Wisrawa.


" Mari,, silahkan naik ke kereta kencana yang sudah kami siapakan,, " ucap Rewanda hijau menunjuk sebuah kereta yang mewah beroda empat di tarik enam ekor kuda yang semua berwarna putih.


" Baik lah, terima kasih atas sambutannya. " ucap Cakra.


Cakra dan Kenanga segera masuk ke dalam kereta yang sudah di sediakan, mereka duduk di dalam berdampingan, sedangkan di depan seorang kera yang agak tua bertugas menjadi kusir di temani oleh Rewanda putih yang menemaninya.


Sedangkan yang kesatria kera lainnya terbang di samping kanan dan kiri kereta di ikuti pasukan kera di belakangnya.


Perjalanan menaiki kereta itu terasa nyaman, kanan kiri yang mereka lewati adalah hutan yang masih asri tanamannya menjadikan sejuk udara di sana.


Dan memang benar, tidak lama mereka telah sampai di sebuah air terjun, di sepanjang aliran sungai yang berasal dari air terjun itu terdapat rumah rumah asri dan tertata rapi di sana.


Di ujung dekat air terjun yang terlindung oleh dinding batuan yang tinggi terdapat rumah sederhana terbuat dari bambu dengan atap ijuk dan dinding batang padi yang di susun sedemikian rupa sehingga walau berada di tepi air terjun yang setiap saat menumpahkan airnya membuat sekitar menjadi lembab, namun di dalam rumah itu terasa hangat dan nyaman untuk di tinggali.


Kereta berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang di sana, Cakra dan Kenanga segera turun mengikuti ke lima kesatria kera yang berjalan di depan.


Mereka melewati rumah rumah yang tertata rapi di tepi sungai menuju rumah paling ujung.


Saat tiba di depan rumah itu, ke lima kesatria kera duduk bersila.


Rewanda Hijau berjalan dengan lutut seperti seorang abdi menghadap rajanya, maju ke depan, ke dua telapak tangannya di satukan kemudian di taruh di antara kening sampai hidung sebagai sembah bakti kepada orang yang di tinggikan derajatnya di masyarakat.


" Maaf resi, kami para kesatria kera menghadap karena mengantar kesatria Jatayu memenuhi undangan anda,, " ucap Rewanda Hijau penuh takdzim.

__ADS_1


" Ah benarkah itu, berarti yang selama ini aku nanti nanti telah hadir, persilahkan mereka masuk,,! " ucap resi Wisrawa dari dalam rumah.


Rewanda Hijau menoleh kepada Cakra dan Kenanga, tangannya mempersilahkan mereka masuk, tanpa berucap, Cakra langsung paham kemudian dia mengikuti sikap para kesatria kera yang berjalan dengan rendah menuju pintu rumah itu bersama dengan Kenanga.


Setelah sampai di depan pintu, Cakra menghentikan langkahnya, dengan suara yang lembut namun tegas dia menyapa resi yang ada di dalam rumah.


" Permisi eyang resi, hamba meminta ijin untuk masuk,, " ucap Cakra.


" Tidak perlu sungkan, ayo silahkan masuk,, " jawab resi Wisrawa.


Kemudian tanpa ragu Cakra masuk ke dalam rumah itu, di benak Cakra dia akan menemui pertapa dari golongan kera namun hal itu salah, karena ternyata resi Wisrawa adalah manusia seperti dirinya, beliau terlihat sangat tua dengan tubuh yang hanya tinggal tulang dan kulit saja, beliau duduk bersila di lantai yang terbuat dari bambu dengan tenang.


" Sinilah nak, duduk di depanku sini,, " ucap resi Wisrawa.


Dengan takdzim Cakra dan Kenanga duduk di depan resi Wisrawa.


" Maafkan aku yang tua ini telah mengganggu perjalanan kalian nak mas,, "


" Ah tidak resi, justru saya sangat bergembira karena bisa berjumpa dengan resi di sini, mudah mudahan dengan saya ke sini bisa mendapatkan ilmu dan petunjuk.. " jawab Cakra.


" Ilmu,,,,? ilmu apa yang kau harapkan bisa kau dapat dari orang tua seperti aku ini, semakin banyak ilmu yang di dapatkan manusia kebanyakan hanya akan menimbulkan kesombongan, jika kesombongan itu sudah menguasai hati maka yang ada hanya ketamakan, seakan dirinya yang paling kuat sehingga dia tidak peduli, semua yang ada di dunia ini harus dia miliki, mereka yang seperti ini lupa jika dirinya hanya seperti debu di mata Sang Hyang Widi, saat ilmunya di ambil mereka tidak bisa apa apa baru sadar jika dirinya sangat lemah, untuk kembali seperti awal untuk berbuat baik sudah terlambat, sama seperti murid murid ku yang baru saja kalian bunuh,, " ucap resi Wisrawa.


" Maaf, apa maksud eyang resi kami telah membunuh murid murid eyang,,? " tanya Cakra.


" He He He, ketahuilah nak mas, bahwa raja siluman kera, Wanara dan Subala adalah murid murid ku, sama dengan kelima kesatria kera yang ada di luar itu juga murid ku,, "


" Ah.. maaf eyang, kami tidak tahu jika raja siluman kera dan yang lainnya yang kami bunuh adalah murid eyang resi. "


" Kami tidak bermaksud membunuh mereka, kami hanya membela diri,, " ucap Cakra agak sungkan dengan eyang resi Wisrawa.


Keduanya terdiam sedangkan dari wajah eyang resi Wisrawa mengalir air mata.

__ADS_1


__ADS_2