
Wuuuuuus.
Traaaaaaang.
Duaaaaar.
Asap mengepul di sekitar terjadinya ledakan yang dahsyat tadi.
Sebelum terjadi ledakan, keris geni abang di tangan Rendra hampir bisa menusuk dada Cakra, tapi tidak di sangka langsung terjadi ledakan keras.
Rendra yang merasa tusukan kerisnya membentur baja keras, tubuhnya terpental ke belakang hingga dia bersalto beberapa kali di udara untuk mengurangi efek dorongan, tangannya yang memegang keris merasa ngilu.
Rendra mendarat di atas tanah dengan pelan tanpa menimbulkan suara seakan tidak menapak tanah, dia kemudian memperbaiki berdirinya agar sempurna kuda kudanya.
Rendra mengira lawannya saat ini juga merasakan hal yang sama seperti dirinya atau bahkan lebih parah keadaannya karena selama ini dia belum menemukan orang yang tenaga dalamnya berimbang.
Sejenak pandangan mata yang tertutup debu tebal itu mulai bisa melihat di dalam kepulan debu.
Wajah Rendra dan ketua pusat kelompok iblis merah menjadi terkejut, sampai sampai Rendra mengucek ucek matanya tidak mempercayai pandangan matanya, karena yang di kira lawannya terdorong dan terluka dalam justru masih tegar berdiri di tempat awalnya, bergeser satu jengkal pun tidak, tapi yang membedakan di tangan kanan Cakra saat ini telah tergenggam tombak bayu angkasa.
Ternyata tadi sebelum keris geni abang menancap di tubuh Cakra, Cakra telah mengeluarkan tombak bayu angkasa untuk menangkis keris tadi, sehingga Rendra menjadi terpental tidak mampu menembus pertahanan Cakra.
" Tidak aku sangka kau berisi juga, pantas kau berani berlaku kurang ajar di sini,, " desis Rendra.
" Sebenarnya bukan aku yang berisi, namun kamu yang terlalu kosong mlompong,, " ujar Cakra memanasi.
" Bajingan, ku pecahkan kepalamu,, "
Wuuuus.
Rendra kembali menyerang Cakra, Cakra yang sudah siap menghadapi lawannya langsung memutar tombak di tangannya.
Traang
Traaang.
Traaaang.
Keris yang mengeluarkan cahaya merah teredam oleh tombak yang mengeluarkan pusaran angin berwarna biru muda, di dalam pusaran angin itu, cahaya merah dari keris seakan pudar, tidak hanya itu hawa panas yang di keluarkan juga menjadi berkurang, bahkan di sekitar pertarungan itu terasa dingin yang membekukan tulang.
Hiyaaat.
Rendra melompat kebelakang karena tidak tahan dengan hawa dingin yang dia rasakan, tulangnya menjadi kaku, bisa saja dia membeku jika dia tetap berusaha berada di dekat Cakra.
" Kenapa malah mundur, katanya ingin meremukkan kepalaku,,? "
Rendra yang merasa jerih karena melihat daun daun di sekitar Cakra membeku sehingga jika di pegang jari saja bisa pecah hanya diam mendengar sindiran itu.
" Oh, atau kau saat ini kedinginan, baiklah aku akan sedikit menghangatkan suasana agar kau tidak kedinginan,, "
Setelah mengucapkan itu, Cakra mengalirkan sedikit tenaga dalam roh garuda agni ke tombaknya, akibatnya tombak itu berubah warna, sebagian tombak itu di hiasi warna merah dan biru yang indah, tidak sampai di situ dari ujung batang sampai bilah tombak itu berkobar api berwarna biru muda.
" Jika kau tidak maju biarkan aku sekarang yang maju. "
__ADS_1
Wuuush.
Blaaam.
Ledakan mengiringi lesatan tubuh Cakra, tanah yang tadi di pijaknya itu sampai berlubang selutut dalamnya.
Rendra merasa hampir tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk melawan, dia hanya mengandalkan keris di tangannya untuk mengurangi tekanan lawan, hal itu pun dengan gerakan yang tidak beraturan sehingga Rendra terdesak ke belakang.
Saat ini hawa panas yang di keluarkan oleh tombak bayu angkasa mengalahkan hawa panas yang tadi di keluarkan oleh keris geni abang.
Tusukan dan sabetan tombak itu selalu bisa memberi ancaman kepada Rendra, walau tombak itu hanya lewat atau meleset karena tertangkis oleh keris geni abang namun hasilnya membuat pakaian yang di kenakan oleh Rendra menjadi terbakar hingga hanya menyisakan pakaian bawahnya, bahkan topeng yang menutupi wajahnya juga tidak mampu melindungi wajah itu dari hawa panas yang di keluarkan dari serangan Cakra.
Semakin lama, pertarungan itu terlihat perbedaannya, Rendra yang hanya mampu bertahan dari serangan dengan susah payah berjumpalitan menghindari serangan Cakra.
Cakra menusukkan tombaknya ke arah perut, dengan sisa tenaga dia menangkis dengan keris geni abang sehingga tusukan itu meleset, karena tusukannya meleset, Cakra menarik tombak itu kesamping kemudian menggebukkan tombaknya.
Weeeeees,
Tombak itu bergerak cepat kearah pinggang Rendra, karena datangnya tombak itu agak rendah, Rendra meloncat di atas tombak sambil menyabetkan keris geni abang ke tangan kanan Cakra.
Cakra yang paham arah serangan lawan kemudian menarik tubuhnya sehingga keris itu hanya mengenai udara kosong.
Hal ini di manfaatkan oleh Rendra untuk sedikit menjauh dari Cakra untuk mengambil napas yang terasa sangat susah dia dapat saat berdekatan dengan Cakra.
Cakra sendiri menggunakan kesempatan itu untuk melihat keadaan Kenanga yang tengah di keroyok dua puluh orang anak buah dari kelompok penyembah iblis merah.
Di sana terlihat Kenanga sedikit kerepotan karena penyerangnya sangat banyak, apalagi mereka bukan anggota biasa, namun mereka adalah para pendekar yang di rekrut menjadi anggota sehingga kemampuan mereka tidak bisa di pandang remeh.
Melihat itu, Cakra mengarahkan pukulan paruh garuda ke arah lawan Kenanga.
Sebuah ledakan terjadi di tengah kerumunan penyerang Kenanga, enam orang langsung tergeletak tidak bernyawa dengan tubuh gosong.
Rendra yang dari tadi berusaha memulihkan tenaganya, menjadi marah karena anak buahnya binasa dengan cara yang mengenaskan.
Saat Cakra hendak mengarahkan pukulan jarak jauhnya, tiba tiba dari samping kirinya meluncur bola api yang mengarah kepadanya, serangan ini cukup untuk membuat Cakra menarik pukulan yang hendak di lesatkannya, kini pukulan itu di arahkan ke bola api tadi.
Duaaaaaaar.
Blaaaaaam
Blegaaaaar.
Ledakan yang lebih dahsyat terjadi di sana akibat bertemunya dua kekuatan.
Akibat ledakan itu, sampai sampai pertarungan di pihak Kenanga sampai berhenti karena takut terkena imbas ledakan.
Sedangkan dua orang yang membenturkan pukulannya itu hingga terpental kebelakang, namun Cakra hanya terdorong tiga langkah saja.
" Edan anak ini, tenaga dalamnya sangat kuat,, " ucap Rendra sambil bersila karena dadanya terguncang, dari mulutnya meleleh darah segar.
" Dulu pemuda ini tidak sekuat ini, namun kenapa sekarang dia sangat kuat, hal ini tidak bisa di biarkan karena bisa jadi dia akan menjadi penghalang cita cita kelompok penyembah iblis merah,, " gumam laki laki berjubah merah dan bertopeng yang dari tadi memperhatikan pertarungan mereka.
" Terima kasih kakang, fokuslah kepada lawan mu, selebihnya mereka bagian ku,, " teriak Kenanga kepada Cakra.
__ADS_1
" Jangan Khawatir dinda, aku pastikan tidak akan ada lagi orang orang dari kelompok penyembah iblis merah yang berani menyentuh tubuhmu, akan aku kasih dia kematian yang menyakitkan,, " seru Cakra.
Muka Rendra menjadi merah, untung wajahnya tertutup topeng sehingga tidak terlihat oleh yang lainnya.
Rendra langsung mencoba melempari Cakra dengan pisau kecil beracun yang seperti senjata yang di gunakan ki Sudir untuk melumpuhkan Kenanga.
" Hati hati kakang, pisau itu beracun,,! " teriak Kenanga.
Cakra yang sudah di kasih tau tentang pisau itu, bertindak cukup hati hati, dia hanya menghindar dan menangkis pisau itu, kadang dia juga mengarahkan tangkisannya ke arah anak buah kelompok penyembah iblis merah sehingga akibatnya beberapa orang anak buah yang mengeroyok Kenanga langsung ambruk dengan pisau menancap di kepala atau dadanya.
Karena serangannya gagal, justru memakan korban anak buahnya, Rendra menghentikan serangannya, dia sekarang kembali maju menyerang Cakra, dengan tersenyum Cakra menyambut serangan itu, kini gerakannya semakin kuat dan cepat, bertubi tubi tombaknya menyerang lawan, hingga pada saat Rendra lengah, tombak itu dapat memukul tangan kanan Rendra.
Praak.
Akibatnya tangan itu patah dan pegangan pada kerisnya terlepas, tidak sampai disitu kakinya menendang dengan telak dada Rendra membuat tubuh yang di tendang mencelat ke belakang.
Thaaaph.
Untung laki laki berjubah merah telah bertindak cepat untuk menangkap tubuh Rendra, laki laki itu berdiri sambil memapah tubuh Rendra, perlahan dia membuka topengnya.
" Kau,,? " seru Cakra kaget terhadap sosok di balik topeng itu.
" Benar, kau kini sudah kuat sekali, aku tunggu kau sebulan lagi di bukit harimau, kita bertanding di sana agar kau bisa membalaskan dendam gurumu ki Bagaskara.,, " ucap laki laki itu.
" Tunggu, kita selesaikan pertarungan ini sekarang juga,,! " tantang Cakra.
" Belum saatnya Cakra, jika tiba waktunya nanti aku akan meladeni mu,, "
" Percuma berbicara dengan mu, " Cakra langsung mengeluarkan baju zirah dan sayapnya.
Dia melesat ke arah orang tadi, namun puluhan lempengan baja terbang kearahnya memotong apapun yang di lewatinya, termasuk pohon pohon besar pun tumbang berjatuhan sehingga membuat laju terbang Cakra terhambat, Dua buah lempengan baja berputar mengarah ke Cakra, dia silangkan tangannya untuk menahan dua senjata itu, akibatnya laju terbangnya terhenti, dua senjata itu masih berputar menekan Cakra, sampai tubuh Cakra ikut terdorong ke belakang, Cakra mengumpulkan tenaga dalamnya di tangan dan menghentakkannya, lempengan baja itu terlempar namun seperti ada yang mengendalikan lempengan itu kembali ke arah Cakra.
Dengan jurus pukulan paruh garuda yang di aliri tenaga dalam roh garuda agni, Cakra menyambut datangnya senjata itu.
Daaaaar.
Blegaaaar.
Lempengan itu hancur berkeping keping dan jatuh di tanah, Cakra langsung mengejar orang itu namun dia kehilangan jejak.
Akhirnya Cakra melampiaskan kekesalan hatinya dengan membantai orang orang yang mengeroyok Kenanga, sekejap saja mereka sudah mati terbujur di tanah.
" Kakang, apa yang terjadi, tidak biasanya kakang membunuh lawan seperti ini, " tanya Kenanga.
" Aku sedang kesal Kenanga, ternyata orang yang dari tadi menonton pertarungan kita adalah kakek sabuk baja,, "
" Siapa itu kakang,,? apakah dia sangat berbahaya,, ? " tanya Kenanga.
" Iya Kenanga, dia adalah salah satu pembunuh guruku, eyang Bagaskara adik seperguruan kakekmu empu Songgo Langit,, " jelas Cakra.
" Apa,,? " Kenanga mengepalkan tangannya mengetahui orang tadi adalah pembunuh adik seperguruan kakeknya.
" Aku akan membantu mu menuntut balas kakang,, " ucap Kenanga.
__ADS_1
Mendengar itu Cakra langsung memeluk tubuh Kenanga sambil membisikkan kata " terima kasih dinda,, " di telinga Kencana.