PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Meninggalkan Padepokan Gunung Semeru


__ADS_3

Empat bayangan melesat di tengah kegelapan malam, dengan kecepatan sedang mereka kembali ke padepokan.


Kenanga mencoba mensejajari lari Cakra, dengan pelan dia berkata kepada Cakra.


" Jangan lupa janji kakang tadi sore,,! "


" Janji yang mana ,,,? " jawab Cakra pura pura lupa.


" Iiihhh,, masak baru tadi sore sudah lupa,, " sungut Kenanga sambil berusaha mencubit pinggang Cakra.


Cakra yang tau pinggangnya menjadi sasaran cubitan justru tidak menghindar, di biarkan saja tangan itu mencubit kulitnya.


" Aduuuuh , jahat.." teriak Cakra walau tidak terasa sakit sama sekali.


Mendengar suara kesakitan dari belakang membuat empu Songgo Langit dan Surya menengok ke belakang.


" Hei,, kalian berdua ngapain saja,,? masak masih muda jalannya lelet kayak gitu, apa ndak malu sama yang tua tua ini. " seru empu Songgo Langit.


" Maaf eyang,, soalnya tadi aku di hadang sama nenek lampir,, " ucap Cakra.


" Haaah,, nenek lampir,,,? mana ada di sini nenek lampir,,,? ada ada saja,, " gerutu empu Songgo Langit yang kemudian melesat lebih cepat.


Surya hanya diam saja menahan gemuruh cemburu di dadanya, dia bersabar sampai besok karena pasti pemuda itu akan pergi meneruskan perjalanan sehingga dia bisa leluasa mendekati Kenanga.


" Baik lah , tunggu di taman,,! " ucap Cakra kepada Kenanga.


Jawaban Cakra membuat wajah gadis itu sumringah tidak sabar segera sampai ke padepokan.


**


Malam yang tenang dan sepi karena hampir semua penghuni padepokan telah pergi istirahat menikmati buaian mimpi, udara yang dingin membuat mereka nyaman dengan selimut sarung yang membungkus.


Cakra perlahan berjalan ke arah taman sambil memeriksa keadaan aman, dia menghampiri sosok yang sudah dari tadi menunggunya.


Dengan tanpa menimbulkan suara, Cakra mendekati sosok yang membelakanginya.


Tepat di belakang sosok itu, dia menutup mata Kenanga.


Kenanga yang tahu siapa yang datang kemudian tersenyum sambil memegang dua pergelangan tangan Cakra.


" Kenapa kakang terlambat,,? "


" Maaf dinda, aku tadi baru selesai meditasi,, " jawab Cakra.


Gadis itu memanyunkan bibirnya tanda tidak suka walau alasannya sudah jelas.


Cakra kemudian menurunkan tangan yang menutup di mata gadis itu dikalungkan di depan leher, kemudian dia memajukan kepalanya untuk mencium kening gadis itu.


Gadis itu memejamkan mata menikmati kecupan bibir dari Cakra.


Cakra mengajak gadis itu duduk di bawah, awalnya dengan semangat Kenanga ingin merebahkan diri berbantalkan paha Cakra, tapi hal itu di cegah oleh Cakra.


" Heiiit, mau ngapain,,? tanya Cakra.


" Ya mau tiduran di pahamu lah,, " jawab Kenanga.


" Aku tadi sore memang bilang mau menemanimu, namun bukan untuk bermesraan, tapi aku akan menemanimu bermeditasi untuk menghimpun tenaga dalam agar lebih kuat dan menopang jurus jurus yang sudah kau kuasai tadi,, "


" Apa,,? jadi tujuannya kita di sini itu,,? pantas tadi sore kakang mengalah larinya,, " gerutu Kenanga.


" He he he, ayo kita mulai semedinya,,,! ucap Cakra.


Dengan rasa jengkel Kenanga mengikuti perintah Cakra, dengan di awasi oleh Cakra, dia melakukan semedi untuk mengumpulkan tenaga dalam, sesekali Cakra memberi petunjuk kepada Kenanga.


Kuk ku ruyuuuuuuk..


Tidak terasa semalaman mereka melakukan meditasi di taman itu, memang sengaja Cakra memilih taman karena menghindari fitnah jika di lakukan di sebuah ruangan yang hanya mereka berdua yang ada, selain itu juga karena udara yang sejuk dan aura yang bagus dari tempat itu sehingga membuat proses pengumpulan tenaga dalam semakin cepat, dia berusaha mengajari Kenanga teknik menghimpun tenaga melalui udara yang masuk ke tubuhnya kemudian mengendapkan dan di olah menjadi sumber energi.


" Sudah cukup dinda, aku kira sudah ada kemajuan tenaga dalam mu di bandingkan sebelumnya,, "

__ADS_1


Kenanga mencoba membuka matanya, hal pertama yang dia rasakan adalah tubuhnya terasa lebih ringan dan lebih bertenaga.


Kenanga tersenyum mendapat kemajuan yang cukup pesat walau berlatih hanya beberapa hari.


" Terima kasih kakang, aku merasa banyak kemajuan dari latihan yang kakang berikan,, "


" Sebenarnya semua itu bukan karena aku dinda, tapi karena dasar dasar jurus yang aku ajarkan sudah lama kau kuasai karena memang mirip, sehingga untuk mempelajari jurus yang aku beri dengan mudah kau mempelajarinya, sekarang tinggal kau ulang terus dan kau kembangkan, apalagi dengan semedi mu harus kau lakukan setiap saat. "


" Baiklah kakang aku akan selalu giat berlatih agar bisa sekuat kakang. "


" Ayo kita kembali ke kamar masing masing,,! ajak Cakra.


***


Pagi itu semua telah berkumpul di ruang makan, Kenanga duduk juga disana, dari wajahnya terlihat lebih ceria di banding dengan hari hari sebelumnya, entah apa yang direncanakan nya, sehingga membuat empu Songgo Langit bertanya tanya tentang keadaan cucunya, namun hal itu tidak di utarakannya.


Sedangkan Cakra sendiri datang ke ruang makan itu dengan pakaian yang rapi dengan pedang Garuda sudah bertengger di punggungnya pertanda dia siap melalui perjalanan jauh.


Semua makan dengan lahap sambil menikmati kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan segera berakhir.


Dengan cepat mereka menyelesaikan makanannya seperti terburu buru mau melanjutkan kegiatannya.


" Mohon maaf eyang, sudah lama saya berada di sini merepotkan eyang, jadi hari ini saya pamit kepada eyang untuk melanjutkan perjalanan,, " buka Cakra untuk berpamitan.


" Ah jangan begitu Cakra, kami di sini tidak merasa direpotkan, justru dengan adanya kamu di dini kami sangat terbantu, namun kami juga tidak punya hak untuk menahan mu di sini, apalagi dengan kondisi dunia persilatan yang seperti ini tidak bijak sekiranya kau di sini terus,, " jawab empu Songgo Langit.


" Terima kasih eyang, saya mohon doa restu agar perjalanan saya lancar,, "


" Eh, kakek saya minta ijin juga untuk bisa mengembara menambah pengetahuan bersama kakang Cakra,, " ucap Kenanga tiba tiba sambil menunjukkan wajah memelas.


Uhuuk uhuuk.


Cakra yang sedang meneguk air di gelas langsung tersendak mendengar permintaan seperti itu.


Begitu juga dengan empu Songgo Langit dan Surya, mereka tidak menyangka jika Kenanga bakal mengambil keputusan seperti itu.


" Ih kakek,, ijinkan ya, sekarang kan ada kakang Cakra yang melindungi aku,, "


" Kakang mu tidak hanya pergi rekreasi Kenanga, dia pergi menempuh bahaya sehingga jika kau ikut dengannya kamu hanya akan menjadi beban baginya,, " ucap Surya yang kini ikut bicara.


" Benar apa yang di katakan kakang mu itu Kenanga, kau harus lebih banyak berlatih dulu di sini sebelum kau benar benar aku perbolehkan untuk mengembara,, " timpal empu Songgo Langit.


" Makanya itu kek, aku ingin meneruskan belajar dengan kakang Cakra, makanya aku harus mengikutinya kemana pun dia berada, kalau di sini aku belajar dengan siapa,,? " tanya Kenanga.


" Kan kamu bisa berlatih dengan ku dinda,, " jawab Surya.


" Haaah, denganmu, begini saja, aku akan melawan mu, jika aku kalah aku akan belajar dengan mu, tapi jika aku menang biarkan aku mengembara bersama kakang Cakra ,, " tawar Kenanga.


" Apa,,,? " ucap empu Songgo Langit terkejut putrinya menantang Surya, salah satu murid paling berbakat kesayangannya.


" Bagaimana,,? "


" Apa kau sudah yakin,,? " tanya empu.


kenanga mengangguk yakin.


" Bagaiman dengan mu Surya,, "


" Semua titah guru akan saya lakukan,, " jawab Surya mantab.


" Baiklah persiapkan diri kalian, aku tunggu kalian di halaman padepokan,, "


Semua langsung menuju halaman padepokan, dua orang itu langsung berdiri berhadap hadapan di sana, sikap mereka yang seperti itu membuat murid yang lainnya penasaran sehingga mereka langsung berkumpul membuat lingkaran untuk menyaksikan pertarungan itu.


Empu Songgo Langit tegang akan menyaksikan cucunya bertarung, dia sangat tahu kemampuan Kenanga sangat jauh di bawah Surya, hal ini memang karena dia tidak ingin menjadikan Kenanga sebagai seorang pendekar, namun dari dulu Kenanga mendesak dia untuk di latih kanuragan, hingga hanya dasar dasar ilmu silat lah yang dia ajarkan kepada cucunya, berbeda dengan Cakra, dia masih tenang, dia juga ingin tahu seberapa mampu Kenanga melawan Surya, ini bisa menjadi tolak ukur kemajuan Kenanga.


Kenanga sudah tidak sabar lagi untuk mengalahkan Surya, dengan jurus jurus yang dulu di ajarkan kakeknya dia mulai menyerang.


Langkahnya yang ringan membuat gerakan Kenanga semakin cepat.

__ADS_1


Dia arahkan pukulan telapak tangan ke arah dada Surya, karena Surya masih sigap maka pukulan itu bisa dia hindari, bahkan Surya mencoba untuk membalas serangan gadis itu dengan mengarahkan pukulan di bawah ketiak lawan.


Sebuah pukulan yang kuat mengarah pada bagian tubuh yang sulit di hindari, namun dengan waktu yang tepat gadis itu menangkis dengan sikunya di gerakkan ke bawah sehingga membuat pukulan itu berbelok arah.


Deeees.


Benturan itu membuat Surya terkejut, dia tidak mengira jika Kenanga bisa melakukan itu, dia merasa ada kemajuan yang di alami oleh Kenanga setelah di latih oleh Cakra di bandingkan sebelumnya, apalagi akibat benturan tadi terasa sekali jika tenaga dalamnya seimbang dengan tenaga dalam Kenanga.


Setelah lolos dari pukulan Surya, Kenanga langsung mengirimkan tendangan kakinya ke arah pinggang Surya, dengan mudah Surya menahan kaki itu dengan tangan kirinya, kemudian dia pegang pergelangan tangan itu untuk di tarik, namun yang di tarik justru menggunakan tenaga tarikan itu untuk meloncat menyarangkan kaki kirinya ke dada lawan.


Dengan tangan kanan dia menangkis tendangan Kenanga, kemudian dia mendorong tubuh itu, Justru karena Kenanga meloncat di udara membuat dorongan itu semakin kuat dan melontarkan tubuhnya semakin jauh hingga dia harus bergulingan di tanah.


" Apa kau menganggap aku masih lemah sehingga kau tidak berani memukulku,, ? " tanya Kenanga ketus kepada Surya yang bertarung tidak sungguh sungguh karena dia punya kesempatan untuk memukul namun tidak di lakukan.


Surya hanya diam.


" Baiklah kalau begitu aku yang akan memukulmu,, " ucap Kenanga.


Kenanga mencoba membuat kuda kuda yang kuat untuk mengeluarkan jurus sayap seribu yang di ajarkan Cakra, gerakannya menjadi luwes dan indah, di imbangi dengan gerak kaki yang lincah, dia melesat menyerang Surya, dengan sangat cepat gerakannya membuat Surya yang kini kerepotan, Surya mulai sadar jika dia harus mengeluarkan kemampuannya jika tidak ingin kehilangan gadis ini dalam hidupnya, dia juga meningkatkan kecepatannya meladeni serangan gadis itu.


Tangan dan kaki Kenanga menyambar ke berbagai bagian tubuh Surya yang paling lemah, namun Surya masih mampu menutup kelemahan itu walau harus dengan memeras keringat.


Dua orang itu kini bertarung dengan serius, pukulan, tendangan dan lompatan silih berganti di lakukan, mereka bertarung dengan indah di halaman, hampir semua yang ada di sana berdecak kagum karena di suguhi pertarungan yang cukup menghibur mereka.


Empu Songgo Langit yang awalnya tegang kini di wajahnya telah terulas senyum karena puas terhadap kemajuan cucunya, dia tidak menyangka jika cucunya mampu mengimbangi bahkan mendesak Surya.


Pertarungan semakin seru, hingga tanpa terasa mereka sudah mencapai puncaknya, Kenanga mundur tiga langkah, dia mengubah jurusnya menjadi jurus cakar garuda membelah badai, jari jarinya yang terlihat lemah itu kini menjadi tegang membentuk cakar, Cakra yang menyaksikan itu menjadi terkejut, karena jurus itu baru kemaren dia ajarkan, apakah benar jika Kenanga akan menggunakannya.


Tidak menunggu lama, Kenanga langsung melesat ke arah Surya, cakar cakarnya berdesingan mengancam leher dan dada Surya, dengan berhati hati Surya menangkis serangan itu, suatu hal yang tidak di duga oleh Surya pada saat Kenanga mengarahkan serangannya ke arah perut, dengan sigap Surya memukul pergelangan tangan Kenanga, namun belum sempat pukulannya mengenai pergelangan tangan Kenanga, Kenanga telah memutar pergelangan tangannya sehingga pukulan itu meleset sedikit, sedangkan cakar Kenanga berbelok menuju lengan Surya.


Sraaaaak.


Daging lengan itu terkoyak, walau tidak dalam namun membuat darah segar mengalir, tidak sampai situ, cakar Kenanga yang lain mengoyak dada Surya, untung bagi Surya dia cepat memundurkan badan sehingga luka di dadanya tidak dalam.


Cakra terkejut dengan hasil itu, dia tidak menyangka jika jurus cakar garuda membelah badai yang baru kemaren di pelajari oleh Kenanga mampu di kuasai oleh Kenanga, meski masih banyak gerakan yang salah maupun masih lemah namun nyatanya mampu membuat Surya terluka.


" Cukup.....! " teriak empu Songgo Langit.


" Sudah jangan di teruskan,,,! "


Kedua orang yang bertarung langsung menghentikan pertarungannya, sedangkan para penonton yang sangat kagum dengan pertarungan tadi hingga tidak ada yang mengalihkan pandangannya dari pertarungan tadi, setelah pertarungan selesai mereka langsung bersorak dan bertepuk tangan.


Gemuruh lah halaman padepokan itu yang awalnya sepi tiada suara kecuali suara pertarungan.


" Kenanga, Cakra masuklah ke dalam, kau Surya lekas obati lukamu,,! "


" Siap guru,, " jawab Surya.


Cakra dan Kenanga segera masuk ke pendopo padepokan, mereka dudu berhadap hadapan hanya berdua saja.


Tidak lama empu Songgo Langit masuk kedalam, di kedua tangannya menopang peti kayu yang panjang, dia letakkan peti kayu itu di atas meja kemudian dengan perlahan membuka tutupnya.


Dari dalam peti itu empu Songgo Langit mengeluarkan sebuah pedang yang bersarung putih dan bergagang putih juga, dengan perlahan empu mengeluarkan bilah pedang itu dari sarungnya, sebuah cahaya putih keluar menandakan aura yang di bawa oleh pedang itu sangat kuat.


" Pedang yang indah,, " gumam Cakra.


Benar pandangan mata Cakra, karena selain bentuknya pedang itu yang indah juga di dalam bilahnya terdapat ukiran bulu burung merak yang sangat detil sehingga setiap incinya dapat di nikmati keindahannya.


" Pedang ini namanya adalah pedang merak putih, senjata pedang terbaik yang pernah aku buat, sampai saat ini belum ada seorang pun yang menggunakannya, namun dengan aku berikan pedang ini kepada Kenanga sama artinya aku mengijinkan kamu untuk mengembara bersama Cakra, pergunakan lah pedang ini untuk kebaikan dan memusnahkan kejahatan, aku serahkan ini kepadamu,, " ucap empu Songgo Langit sambil menyerahkan pedang itu.


Kenanga menerima pedang itu dengan haru, tidak dapat di bendung lagi air matanya mengalir dengan deras, kemudian dia memeluk kakek yang telah membesarkannya bertahun tahun.


Cukup lama mereka berada di keadaan seperti itu,,


" Cakra, aku titipkan cucuku kepadamu, tolong bimbing dia dan jaga dia, aku percaya kepadamu,, "


" Baik eyang, " jawab Cakra.


Hari itu dua orang dengan menunggang kuda telah melanjutkan perjalanannya meninggalkan padepokan gunung Semeru.

__ADS_1


__ADS_2