
Duaaaaar.
Aaaakkhh.
Dua benturan tenaga dalam yang kuat membuat kepulan debu menutupi tempat terjadinya benturan.
Sesosok laki laki berpakaian putih terpental dari dalam kepulan debu itu kemudian berguling guling di tanah dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Beberapa orang berpakaian sama dengan sosok laki laki yang bergulingan di tanah langsung menghambur menuju laki laki itu.
Mereka segera membantu laki laki itu untuk berdiri.
Beruntung luka dalamnya tidak parah sehingga dia masih kuat berdiri.
" Chuuuuh, siapa yang berani ikut campur urusan kerajaan siluman rubah putih,,,? " teriak pangeran Anjang Manikam kesal karena detik detik dia bisa mengalahkan panglima Gendono Lanang.
Samar samar debu yang menutupi mulai menipis, terlihat di dalam debu itu seorang laki laki di kawal oleh tiga orang dan sosok tubuh besar sedang bersujud di depan laki laki itu.
Melihat pemandangan seperti itu membuat pangeran Anjang Manikam menjadi terheran heran, bagaimana mungkin sosok tinggi besar yang dia kenal sebagai seorang panglima kerajaan siluman kera bersujud di depan laki laki yang masih muda usianya.
Memang saat tadi pangeran Anjang Manikam telah mengarahkan serangan pamungkasnya untuk mengalahkan panglima Gendono Lanang, dia merasa pukulannya membentur dinding tebal yang bisa memantulkan serangan, sehingga pukulan itu justru berbalik arah menyerang dirinya sendiri menyebabkan dirinya terpental jauh dengan dada terasa sesak.
Inilah salah satu kesaktian dari mustika Sodo Jagad yang mampu menjadi pelindung penggunanya dengan mengembalikan serangan lawan yang kini di miliki oleh Cakra.
Sesaat setelah benturan itu, Cakra dengan mudah memutus tali yang melilit panglima Gendono Lanang, awalnya panglima Gendono Lanang tidak tau siapa yang telah menolong dirinya, namun setelah dia memperhatikan aura yang di keluarkan oleh laki laki penolongnya, dia menjadi terkejut karena dia mengenali aura itu adalah aura yang di keluarkan dari mustika Sodo Jagad, serta merta dia langsung bersujud di hadapan laki laki itu, apalagi tiga dari lima kesatria kera telah berdiri di belakang laki laki itu membuat dia yakin bahwa laki laki itu adalah raja yang telah di ramalkan.
" Ampun raja, saya panglima Gendono Lanang yang bertanggung jawab atas keamanan kerajaan telah lalai sehingga pasukan musuh bisa menerobos masuk ke dalam gerbang,, "
" Tidak apa apa panglima, kau dan seluruh pasukan mu sudah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi kerajaan ini, sekarang ayo kita usir mereka bersama sama,,! " seru Cakra.
Panglima Gendono Lanang langsung memposisikan diri di belakang Cakra.
" Kami siap menerima perintah dari raja,, " seru empat orang yang berada di belakang Cakra.
__ADS_1
" Bantu pasukan untuk mengusir pasukan lawan, yang di sini biarkan aku yang mengurusinya di sini,,! "
" Kami laksanakan raja,, " jawab mereka serempak.
Kemudian mereka berempat langsung menyebar membantu pasukan kerajaan siluman kera agar tidak banyak korban dari pihaknya.
Dengan keterlibatan mereka berempat membuat kekacauan di sana mudah teratasi, prajurit prajurit lawan bertumbangan menyisakan tumpukan mayat dan banjir darah.
Melihat pasukan yang di bawanya bertumbangan membuat pangeran Anjang Manikam naik pitam, dengan congkak dia menantang Cakra yang dari tadi masih berdiri diam memperhatikan jalannya pertempuran.
" Hei kau yang sudah berani ikut campur urusan kami, pulang lah kau sebelum ku antar pulang hanya jasad mu saja,,! "
" Pulang,,,? buat apa aku pulang jika inilah rumahku, harusnya kaulah yang pulang karena ini bukan kerajaanmu,,! " balas Cakra.
" Memang ini bukan kerajaan ku, namun sebentar lagi akan menjadi kerajaan ku,, "
" Benarkah itu,, dengan cara apa kau bisa merebut kerajaan ini,,? "
" Kurang ajar, akan aku buktikan jika aku bisa merebut kerajaan ini,, "
Daaaaar.
Diam diam pangeran Anjang Manikam menghimpun tenaga dalamnya di tangan kanannya, kemudian melepaskan ke arah lawannya.
Bukannya menghindar, Cakra tetap berdiri dengan tenang di tempatnya, saat pukulan jarak jauh itu mengenai tubuhnya, seakan akan pukulan itu hanya lalat yang menabrak dinding batu, bukannya merusak dindingnya malah lalat itulah yang hancur dan mati.
" Apakah ini belum cukup menjadi alasan bagimu untuk pergi dari sini,,? " tanya Cakra dengan suara yang dingin.
Pangeran Anjang Manikam menjadi bingung, pukulan yang selama ini dia banggakan menjadi pukulan pamungkas yang menghancurkan musuh musuhnya, bahkan baja pilihan pun akan hancur jika terkena pukulannya, namun saat ini jangankan lawannya hancur, membuat lawannya bergeming dari tempatnya saja tidak.
Hal ini meruntuhkan kepercayaan diri dari pangeran Anjang Manikam, namun untuk mundur dan lari dari sana sangat tidak mungkin karena sifat tinggi hatinya menolak untuk melakukan itu.
" Huh, aku adalah seorang pangeran, tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat aku mundur walau satu langkah pun dari medan perang,, " jawab pangeran Anjang Manikam dengan congkak menepuk dada.
__ADS_1
" Itu terserah kau saja, yang penting aku sudah mengingatkan,, " ucap Cakra lirih.
" Chuiiiih, maju kau biar ku hancurkan tubuhmu,,! "
Cakra tidak ingin bermain main, dia langsung melesat mengarah kepada pangeran Anjang Manikam.
Melihat lawan bergerak mengarah kepada junjungannya, empat orang pengawal pangeran Anjang Manikam langsung pasang badan di depan melindungi.
Walau ada penghalang namun Cakra tidak mengurungkan serangannya, dengan kedua tangan menyilang dan jari membentuk cakar, dia mengibaskan tangan itu, serangkuman angin tipis melesat, tiba tiba empat orang pengawal yang melindungi pangeran Anjang Manikam telah ambruk di tanah dengan kepala terpenggal akibat dari desiran angin dari jari jari Cakra.
Tubuh Cakra masih tetap meluncur menuju lawannya, hal ini tidak di bayangkan oleh pangeran Anjang Manikam jika hanya satu serangan empat pengawalnya yang dari dahulu terkenal kuat dan kejam itu akan tumbang dalam satu serangan dan lawannya dengan cepat sudah sampai di hadapannya.
Tidak ada harapan lagi baginya, dia hanya menyilang kan tangannya di depan untuk melindungi dirinya.
Duaaaaar.
Pukulan Cakra telak mengenai tangan yang menyilang lawannya, membuat tubuh itu terpental jauh meluncur dengan kecepatan tinggi dan sebentar lagi akan membentur tembok yang terbuat dari batu gunung di pipihkan sehingga sangat kokoh dan kuat untuk benteng pertahanan.
Claaaaaph
Sesosok kakek tua menangkap tubuh itu tepat sebelum menabrak dinding batu, membuat selamatlah nyawa pangeran Anjang Manikam, sesosok kakek itu langsung pergi dengan membawa tubuh yang tidak sadarkan diri.
Tepat saat Cakra memperhatikan perginya kakek itu, Rewanda Hijau telah berdiri di samping kirinya.
" Siapa kakek itu, kecepatannya sungguh luar biasa, bergerak bagai hantu yang hanya terlihat bayangannya saja,,? " tanya Cakra.
" Maaf raja, selama ini hamba tidak pernah sekali pun melihat kakek itu,, "
" Ahhh, ya sudah biarlah, bagaimana dengan kondisi pertarungan,,? "
" Pasukan kita sudah bisa mengalahkan lawan raja, mereka yang masih hidup telah kita tawan,, "
" Bereskan semua,, !"
__ADS_1
" Baik raja,, "