
Putri Kencana Sari dan kedua paman Rejo dan Suro memutuskan untuk ikut Cakra di hutan Kuncoro, mereka kini berjalan menggunakan kuda, Cakra kini naik kuda yang yang dulunya milik Dewi Suji.
Cakra memimpin jalan di depan karena dia sangat faham rute rute yang harus di lewati.
Di pertengahan hari, mereka telah memasuki hutan Gondo Mayit, sebuah hutan yang luas di sisi barat daya kerajaan Gading Padas.
Mereka berempat berjalan dengan pelan karena jalan di hutan itu jarang di lewati orang sehingga banyak belukar dan cabang pohon yang menjulur ke jalan, kalau mereka tidak hati hati, bisa bisa leher mereka tersangkut di cabang pohon di sana.
Perlahan namun pasti, mereka masuk ke tengah hutan itu, tidak terasa perjalan yang mereka tempuh sudah jauh, di dahi putri Kencana Sari terdapat butiran peluh menandakan dia butuh istirahat, akhirnya Cakra mengajak mereka semua untuk beristirahat di bawah pohon beringin yang rindang.
" Istirahatlah dulu putri,,,! saya akan mencarikan hewan buruan untuk kita santap,, " ucap Cakra.
"Aku ikut kau Cakra,, " ucap putri Kencana.
" Tidak putri, anda harus istirahat agar saat kita melanjutkan perjalanan putri tidak kelelahan,, " jawab Cakra
Cakra segera pergi dari situ, dia mengintai mangsanya dengan seksama seperti garuda yang mengintai mangsa.
Wuuussshhh.. dapat,,
Dalam sekejap di tangan Cakra terdapat seekor rusa yang cukup gemuk, cukup jika di makan empat orang.
Cakra berniat kembali, secepatnya dia ingin memanggang rusa itu.
Srriiiiiingg. craaaph.
Sebuah tusuk konde melesat kearah Cakra , namun dengan sigap Cakra meloncat menghindari tusuk konde itu, lewatlah tusuk konde itu sejengkal di bawah kaki Cakra dan menancap ke tanah.
Sriiiiing....
Huuuphh..
Serangan kedua datang, namun kini Cakra sudah siap, dengan mudah dia menangkap tusuk konde itu.
__ADS_1
Cakra memperhatikan tusuk konde di tangannya itu,
Sriiiing traaang..
serangan ke tiga telah datang, Cakra menangkis dengan tusuk konde di tangannya.
Cakra kini mulai waspada, dia ingin tahu siapa orang yang menyerangnya.
Sriiiiiingg..
" Di sana, "Cakra melihat asal serangan yang datang padanya hingga dia meloncat sambil melempar Tusuk konde yang tadi ada di tangannya.
" he he he he,, kau lumayan juga anak muda, kau bisa mengetahui tempatku menyerang,, " ucap seorang perempuan paruh baya yang baru keluar dari balik pohon.
"Namun apakah kau bisa menahan seranganku ini,, ? ucap Perempuan itu sambil menyabetkan selendangnya ke arah Cakra.
Luar biasa, selendang berwarna kuning yang terlihat rapuh itu, saat di sabetkan bisa meluncur dengan cepat dan di sertai dengan hawa dingin yang dahsyat.
Cakra yang saat itu masih memanggul rusanya, dia bergerak dengan gesit menghindari sabetan selendang itu.
Sabetan selendang itu bisa di hindari Cakra dan mengenai pohon di belakangnya.
Sungguh Dahsyat hasilnya, pohon sebesar lengan tangan itu tergores dan meledak hingga roboh, hanya dengan sabetan selendang saja.
Cakra yang melihat Dahsyatnya tenaga dalam lawan merasa harus melawan kalau tidak ingin binasa di situ.
Wheeerrrr , duaar
Suara selendang itu datang mengarah ke dada Cakra, namun sebelum selendang itu mengenai sasaran, Cakra membenturkan tangannya yang sudah di lambari dengan jurus Cakar Garuda Membelah Badai hingga terjadi benturan yang cukup keras.
Hasil dari benturan itu, perempuan yang menyerang Cakra terjajar kebelakang sebanyak lima langkah, dadanya terasa sesak.
Melihat lawannya sudah tidak bersiap untuk meneruskan pertarungan itu, dia kemudian bertanya dengan sopan kepada perempuan itu.
__ADS_1
"Maaf nyai, kelihatannya di antara kita tidak ada urusan, kenapa nyai menyerang saya ,? " tanya Cakra.
"Memang sebenarnya tidak ada, namun aku juga memburu rusa yang kau bawa saat ini, awalnya aku ingin melumpuhkan rusa itu dengan tusuk kondeku namun kau telah lebih dulu menangkapnya, lagian aku ingin menguji kemampuanmu, ternyata kamu sangat kuat,, " jelas perempuan itu.
" Maafkan aku yang telah menangkap hewan buruanmu, sungguh aku tidak tahu jika hewan ini sudah ada yang memburu,, " jawab Cakra.
" Ahhh tidak apa apa, sekarang aku tidak tertarik dengan hewan itu, siapa namamu ,,? " tanya perempuan itu.
"Oh saya bernama Cakra, kebetulan dalam perjalanan melewati hutan ini dan kami beristirahat di hutan ini, bagaiman saya harus memanggil nyai,, ? " tanya Cakra.
" Panggil saja aku Nyai Selasih, kalau kau melewati sini bukankah kau akan ke Gading Padas ? "
" Benar nyai, namun kami tidak akan ke lota raja,, "
" Buat apa ke kota raja yang terkutuk itu, sebaiknya memang tidak perlu kesana, " ucap Nyi Selasih sinis.
Menangkap nada bicara yang penuh benci itu, Cakra ingin tau lebih banyak penyebab kebencian Nyai Selasih kepada Gading Padas.
" Kenapa anda membenci kota raja Gading Padas Nyai ,,? " tanya Cakra hati hati.
Nyai Selasih menatap Cakra dengan tajam, kemudian bibirnya tersungging senyum sinis.
" Karena di sanalah saat ini bersarang banyak perampok, manusia nista yang menuruti hawa nafsunya dan haus akan kekuasaan, karena mereka aku terpisah dari keluargaku, semua yang aku miliki di sana telah di rampas oleh mereka, " jelas Nyai Selasih.
Mendengar penjelasan itu, Cakra mengajak Nyai Selasih untuk bergabung dengan pangeran Jati Kusuma.
" Apakah benar pangeran Jati Kusuma masih hidup,,? " tanya Nyai Selasih.
"Benar Nyai,, "
" Kalau begitu aku akan ikut perjuangannya, mengorbankan jiwa ragaku untuk pangeran,, " sumpah Nyai selasih.
Cakra kemudian mengajak Nyai Selasih untuk bergabung dengan rombongannya.
__ADS_1
Mereka berkenalan dan terjalin keakraban antara Nyai Selasih dengan Putri Kencana Sari, Cakra sangat lega karena saat ini dia telah mendapatkan bantuan yang cukup dari Nyai Selasih dan Putri Kencana Sari.