
Siang hari saat matahari terik, pasukan Selo Cemeng telah mendekati benteng, mereka berbaris dengan rapi sambil mengangkat perisai di tangan kirinya ke atas kepala, perisai perisai itu layaknya payung yang melindungi mereka dari hujan anak panah.
Pasukan pemanah yang telah siap di atas benteng sudah merentangkan busurnya, hanya tinggal menunggu perintah saja maka busur busur itu akan melesatkan anak panahnya.
Senopati Bajra dan senopati Arya Nanda telah bergabung di pasukan itu, pangeran Ranu Mulya yang menjadi pemimpin pasukan itu juga telah menempati posisinya.
Pasukan Selo Cemeng semakin mendekat, kini dari celah celah formasi perisai meluncur anak panah anak panah yang mengarah ke atas benteng.
Serangan itupun akhirnya di balas oleh pasukan Tirta Kencana, ribuan panah mengarah ke pasukan yang mendekat itu.
Caaaass
Caaass
cleeeeephh
Suara ribuan anak panah yang menancap di sasarannya, ada yang menancap di perisai namun tidak sedikit yang masuk di celah perisai sehingga tubuh yang ada di situ tidak bisa menghindar dari serbuan anak panah itu.
Walaupun ribuan anak panah itu tetap mengarah ke prajurit Selo Cemeng, namun tidak menyurutkan langkah mereka, justru mereka semakin dekat dan mengeluarkan tangga tangga panjang untuk memanjat benteng itu.
Pasukan bersenjata tombak dari atas benteng menghalau para prajurit yang hendak sampai di puncak benteng, tusukan tombak yang datang bertubi tubi itu berhasil mencegah pasukan Selo Cemeng masuk ke benteng namun kadang ada celah di benteng itu karena prajurit bersenjata tombak mati terkena serangan anak panah dari bawah.
Suasana peperangan itu sangat mengerikan, nyawa nyawa manusia seakan tidak ada harganya, mereka berkorban atas nama kejayaan, namun kejayaan itu hanya di miliki oleh segelintir orang yang berkuasa.
***
Pertempuran di halaman istana kerajaan Tirta Kencana masih berlangsung, pukulan dan tendangan silih berganti mereka layangkan.
Raja Rangga melayani serangan serangan panglima Randu Alas, dia mampu menangkis semua serangan serangan panglima Randu Alas dengan tepat, namun nafas tuanya menjadi kelemahan tersendiri, apalagi saat dia melihat para pengawal khususnya telah terdesak hebat oleh prajurit lawan, hingga kelemahan itu bisa di manfaatkan oleh panglima Randu Alas.
Buuuuuuuuukk.
Aaaaaaaaakhh.
Sebuah pukulan telapak tangan telak mengenai dada sang raja, tubuhnya terpental bergulingan di tanah, hingga dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
" Ha ha ha ha, menyerah lah raja,,! jika kau menyerah mungkin aku akan berbaik hati membiarkanmu hidup, namun jika kau tidak mau maka nyawamu akan melayang,, "
" Cuuuiih, tidak sudi bagiku mengemis nyawa padamu,, " ucap raja tegas walau dalam keadaan terluka parah.
" Ha ha ha, keras kepala sekali kau, padahal nyawamu sudah sampai di kerongkongan mu. "
__ADS_1
Tiba tiba dari arah pendopo istana muncul sesosok lelaki setengah baya mendekati mereka.
" Patih Gajah Seno, syukurlah kau datang, sekarang ringkus lah pengkhianat itu,,! " perintah raja sambil menunjuk ke arah panglima Randu Alas.
Bukan sebuah anggukan yang di terima baginda raja, justru suara tawa kedua orang kepercayaannya lah yang dia terima.
" Apa ,,? meringkus pengkhianat, ,,? justru aku kesini ingin menghabisi nyawamu,, ucap patih Gajah Seno kejam.
Terkejut lah raja melihat kejadian ini, ternyata dari dulu dia salah menilai dua punggawanya itu.
" Kalian kurang ajar, musuh menyerang kita justru kalian malah berkhianat, apakah jika kalian bisa merebut kekuasaan di kerajaan ini kalian bisa mempertahankan kekuasaan mu dari serbuan kerajaan Selo Cemeng,,? "
" Ha ha ha , apakah kau tidak sadar, peperangan ini akulah yang mengatur dan aku sudah bekerja sama dengan kerajaan Selo Cemeng untuk menggulingkan mu. " ucap patih Gajah Seno.
Mendengar itu, raja Rangga Jaya terkejut, dia tidak menyangka jika patih Gajah Seno begitu berambisi menguasai kerajaan ini.
" Kurang ajar kau, apakah kedudukan mu sebagai patih kurang sehingga kau menjual kesetiaan mu kepada kerajaan lain,,? "
" Dasar kau raja bodoh ,, selama ini kami bekerja untuk kemakmuran kerajaan ini, namun yang terjadi kau malah lebih memilih Bajra sebagai orang kepercayaan, padahal dia orang luar yang menumpang di kerajaan ini, namun kau malah meng anak emaskan dia, bahkan limpahan harta kau berikan kepadanya,, " sahut panglima Randu Alas.
Baginda raja hanya diam mendengar itu, dia merasa tidak berguna menjelaskan kepada mereka.
" Sekarang sudah waktunya kau pergi ke neraka,,, "
Duaaaaaaar.
Lesatan cahaya hijau yang keluar dari kepalan tangan patih Gajah Seno meledak sebelum mengenai tubuh raja Rangga, justru tubuh patih Gajah Seno terpental enam tombak ke belakang bergulingan, tidak sampek situ dari kepulan asap hasil benturan tenaga dalam tadi melesat bayangan yang mengarah ke arah panglima Randu Alas dan menyarangkan tendangan kaki penuh tenaga dalam tepat di dada panglima itu sehingga panglima Randu Alas terpental kebelakang hingga membentur pohon yang cukup besar.
Patih Gajah Seno terkejut karena tidak menyangka pukulan jarak jauhnya di halau oleh lawan, dia penasaran siapa orang yang mampu menahan pukulan jarak jauhnya, begitu juga dengan panglima Randu Alas, dia sudah mencoba berdiri setelah mengurangi rasa sakit di dadanya dengan menyalurkan tenaga dalam ke arah dada.
" Kurang ajar, siapa kau yang berani menghalangi rencana ku,,,,? " tanya patih Gajah Seno kepada seseorang yang membelakanginya karena sedang membantu raja Rangga Jaya berdiri.
Mendengar ucapan itu, Cakra membalikan badannya menghadap patih Gajah Seno.
" Kau,,, " ucap patih Gajah Seno terkejut dengan sosok di depannya.
" Bukankah kau seharusnya ikut membantu perang di batas kerajaan ini ,, " ucap panglima Randu Alas.
Dengan tersenyum Cakra menjawab.
" Sudah lama romo curiga kepada kalian, setelah ada penyusup yang mencuri dengar di rumah kami itu, romo menyelidiki masalah ini dan romo curiga kepada kamu, namun romo tidak punya banyak bukti sehingga romo hanya memendam masalah ini, kemaren romo curiga karena semua pasukan kau kirim ke perbatasan namun tidak ada satu pun prajurit khusus mu yang kau kirim sehingga romo menugaskan aku berada di sini untuk mengintai mu dan aku merasa beruntung karena dalang utama dari kejadian ini muncul di sini, jadi aku lebih mudah meringkus kalian,, "
__ADS_1
" Apa meringkus kami,,,? apa kau tidak sedang bermimpi mau meringkus kami ,,,,? " jawab patih Gajah Seno.
" Mari kita coba,,,, "
Cakra segera menyerang dengan jurus cakar garuda membelah badai dengan ilmu langkah kilat menapak angin sehingga serangan Cakra datang dengan cepat dan kuat.
Sambaran sambaran cakar Cakra mencari bagian bagian tubuh dari ke dua lawannya yang terbuka.
Dengan susah payah panglima Randu Alas dan patih Gajah Seno melayani serangan Cakra, serangan yang dibarengi angin berkesiutan sebagai tanda kuatnya serangan.
Cakra menggerakkan tangannya dengan cepat, bahkan gerakan itu sampai sulit di ikuti dengan pandangan mata biasa, serangan yang dahsyat mengarah ke dada panglima Randu Alas.
Sreeeett.
Dada itu terkoyak oleh Cakar Cakra, hingga tubuh panglima mundur empat langkah, Cakra mengejar tubuh itu mengarahkan cakarnya ke arah leher panglima Randu Alas, namun sebelum Cakar itu sampai di leher lawannya, tangan Cakra di raih oleh patih Gajah Seno, saat tangannya di pegang lawan, dia memutar lengannya sehingga lepaslah lengannya dari cengkraman tangan patih Gajah Seno, saat lengannya lepas, tubuh patih Gajah Seno tertarik ke depan dan hal itu tidak di sia siakan oleh Cakra, dia memukulkan telapak tangannya dengan di lambari jurus sayap garuda ke dada patih Gajah Seno.
Duaaaaaar.
Dada patih Gajah Seno jebol karena terkena pukulan itu. tubuhnya terpental dan ambruk di tanah tanpa bergerak lagi.
Tersulut lah amarah panglima Randu Alas yang melihat kematian temannya, akhirnya dia mengeluarkan keris pusaka nya.
Sriiiing.
Cakra juga mengeluarkan pedangnya, dia merasa harus segera mengakhiri pertarungan itu.
Hiyyaaaaat.
Sebuah serangan datang dari panglima Randu Alas, serangan dahsyat itu di elakkan oleh Cakra, namun sabetan keris itu tetap memburu, akhirnya Cakra menjauh dengan melompat ke atas pohon, kemudian dia terbang meluncur ke arah panglima, dia menebaskan pedangnya ke arah tubuh panglima Randu Alas.
Sriiiiiiiing.
Tebasan itu di tangkis menggunakan keris namun, tangkisan itu tidak berguna karena keris itu terpotong sehingga laju tebasan pedang terus mengarah ke arah leher panglima itu.
Craaaaaas.
Sebuah kepala terjatuh dari tubuhnya di ikuti jatuhnya tubuh ke tanah, darahnya mengalir deras membasahi tanah di situ.
Raja menghampiri Cakra dan mengucapkan terima kasih.
Sedangkan para pasukan yang sedang bertempur melihat ke dua pemimpinnya telah tewas kini semangat mereka menjadi turun sehingga mereka dengan mudah di bantai oleh pengawal khusus raja.
__ADS_1
***
Hari semakin gelap, pasukan kerajaan Selo Cemeng masih kesulitan menembus benteng yang di jaga ketat itu, akhirnya mereka memutuskan istirahat dan mendirikan tenda di padang rumput yang cukup jauh dari benteng.