
Hujan turun dengan lebat, gemuruh petir menyambar menembus alam kesunyian, lima orang yang tengah melakukan perjalanan jauh harus menunda perjalanannya untuk berteduh di sebuah gardu di pinggir jalan.
Sempitnya gardu yang di tempati membuat mereka duduk berhimpitan.
Yang paling senang dengan keadaan ini hanyalah satu satunya perempuan dari rombongan itu yaitu Kenanga seorang, bagaimana pun juga karena keadaan tempat yang sempit mengharuskan dia bisa duduk sangat dekat di tubuh Cakra, walau dengan malu malu dia tidak berani menempelkan tubuhnya ke badan Cakra, meski dekat dia masih menjaga sedikit jarak.
" Apakah perjalanan ke gunung Semeru masih lama,, " tanya kakek dewa tongkat rotan di sela sela gemuruh suara petir.
" Setau ku tinggal setengah hari lagi kita sampai, jika kita melanjutkan perjalanan ini besok pagi, kira kira siang kita sudah sampai,, " saut Sardi yang memang pernah berkunjung ke gunung Semeru.
Awalnya Sardi tidak ingin menjawab karena ada Kenanga yang lebih hapal jalan, namun setelah dia menengok ke arah Kenanga yang diam memandang ke setiap tetes air hujan yang jatuh akhirnya dia memberanikan diri untuk menjawab.
Cakra yang awalnya mengarahkan pandangannya ke arah jatuhnya air hujan, mengarahkan pandangannya ke arah Kenanga yang berada di samping kanannya sedang diam.
" Kenapa kau diam saja Kenanga,, ? " tanya Cakra.
Dua kali Cakra mengulangi pertanyaannya namun tidak ada sautan, akhirnya Cakra menyentuh lengan gadis itu.
Kenanga yang sedang menikmati keadaannya dengan melamun kan Cakra menjadi pasangannya yang bisa melindungi setiap saat menjadi tergagap karena merasakan sentuhan tangan Cakra di lengannya.
" Eh iya ada apa ,,? " tanya Kenanga dengan wajah konyolnya.
Melihat wajah konyol dari Kenanga membuat yang ada di situ menjadi tertawa terpingkal pingkal karena lucu, berbeda dengan Cakra yang justru merasa gemas dengan mimik wajah gadis di sampingnya, ingin sekali dia menyentuh wajah itu namun karena kesopanan membuat Cakra hanya bisa menahan diri.
Kenanga yang kebingungan karena ditertawakan kemudian memandang ke arah Cakra seakan menanyakan apa yang salah dengan dirinya.
Melihat pandangan tajam dari mata indah milik Kenanga membuat Cakra menghentikan seketika tawanya, dengan lembut dia mengusap kepala Kenanga memberi kesan kepada Kenanga jika tidak apa apa.
Yang lain pun ikut menghentikan tawa nya, kemudian sibuk mengobrol dengan kawan di sebelahnya.
__ADS_1
" Terus apakah malam ini kita akan tidur di sini berhimpit himpitan seperti ini, enak Cakra dong kalau gitu,,? " seloroh Sardi.
" Ndoh, kenapa enak aku,, ? " tanya Cakra tidak paham yang di maksud Sardi.
" Ya kamu dapat selimut hidup yang hangat, sedangkan kita,,? "
" Ha ha ha ha, " terdengar suara ketawa yang keras dari ke tiga orang yang beda usia namun kompak itu.
Bahkan Kelana sangking senangnya hingga memukul pundak Sardi.
Yang di pukul pun menjadi terkejut karena rasa panas dari tamparan itu, namun setelah itu kembali tertawa lagi dengan keras.
Malam itu karena tidak mendapati tempat untuk istirahat karena ternyata gardu itu cukup jauh dari desa, karena memang gardu itu di buat untuk istirahat orang yang melakukan perjalanan jauh, maka mereka memutuskan tidur di sana, Kenanga berada di dalam gardu, sedangkan ke empat laki laki di situ berada di luar sambil menyalakan api.
**
Pagi menyapa, alam menjadi cerah tersinari mentari yang merekah, burung burung berkicauan menambah semarak suasana pagi, lima orang yang berkuda dengan cepat seakan di buru waktu, apalagi gunung tujuan dari perjalanan itu telah terlihat membuat semangat mereka untuk segera sampai menjadi terpacu.
Tidak terasa, waktu setengah hari begitu cepat berlalu, kini di sepanjang perjalanan yang mulai menanjak mereka tidak merasakan terik panas matahari, karena selain di kanan kiri banyak pohon yang rindang juga karena udara sejuk khas pegunungan telah menyambut mereka.
Cakra merasakan energi yang masih murni di sekitar situ, sehingga tempat itu sangat cocok jika di jadikan tempat untuk bersemedi memulihkan tenaga.
" Tidak lama lagi kita akan memasuki pintu gapura masuk padepokan di gunung Semeru kakang, " ucap Kenanga kepada Cakra.
Cakra hanya mengangguk mendengar ucapan Kenanga sambil melihat gadis itu yang tampak bersemangat dan tidak sabar.
" Berhenti,,,,! siapa kalian dan dari mana ,,,? " tanya seorang penjaga.
" Eh paman, ini kawan kawan ku yang mengantar aku pulang sampai di sini, biarkan mereka masuk bersamaku,,! " ucap Kenanga.
__ADS_1
" Maaf Nyi mas, pesan dari kakang Surya kalau tidak ada orang asing yang boleh masuk padepokan ini,, "
" Nyi mas silahkan kami antar masuk, namun kawan kawan anda tidak boleh masuk,, "
Sardi yang merasa harus ikut bicara kemudian dia maju ke depan.
" Maaf paman, kami ada urusan penting dengan resi Songgo Langit, jadi mohon agar kami di ijinkan masuk,, " ucap Cakra.
" Tidak bisa, kanjeng resi tidak bisa menemui tamu saat ini,, "
" Maaf, kami akan memaksa masuk,, " ucap kakek dewa tongkat rotan.
Kemudian rombongan itu merangsek masuk, namun dengan sigap para penjaga itu menghadang, Kenanga yang tidak tau menahu tentang tujuan penting apa yang di maksud oleh Sardi menjadi bingung.
Kelana dan Sardi tetap merangsek masuk hingga bentrokan di depan gapura itu tidak bisa di hindari lagi.
Sardi dan Kelana di keroyok oleh sepuluh penjaga gapura itu, sedangkan Cakra dan kakek dewa tongkat rotan merasa masih belum perlu ikut masuk ke medan pertempuran.
Dua mata tombak mengarah ke perut Kelana, dengan sigap dia menangkap gagang tombak kemudian menggeser sedikit arah tombak itu sehingga dua tombak itu meleset dari tujuannya, Kelana mengapit batang tombak itu hingga pemiliknya sulit di cabut, setelah itu dia memutar badannya sehingga lawan pemilik tombak itu ikut terbawa putaran sampai terlepas pegangannya pada tombak dan terlempar menimpa lawannya yang hendak maju membantu kawannya.
Sardi yang sudah mengeluarkan pedangnya untuk menangkis tusukan tusukan tombak lawan mampu membuat penyerangnya jatuh bangun.
" Sardi, Kelana jangan membunuh di sini,, " teriak kakek dewa tongkat rotan memperingatkan kawan kawannya.
Sardi dan Kelana pun paham jika mereka membunuh para penjaga itu, maka kesalah pahaman ini akan semakin melebar.
Sardi dan Kelana berusaha hanya melumpuhkan mereka tanpa memberi cedera kepada lawannya.
Wuuuuuuus.
__ADS_1
Duaaarr.
Seorang pemuda bersenjata seruling berwarna perak mengirimkan pukulan jarak jauhnya beruntun, beruntung bagi Kelana dan Sardi yang menjadi sasaran pukulan itu mampu menghindari sehingga selamat lah mereka.