
" Baiklah, kalau begitu tidak ada jalan lain selain membunuhmu,, " ujar Cakra.
Cakra menyiapkan pukulan paruh garudanya,
Hiyaat
Duaaar.
Pukulan dahsyat meluncur dengan cepat mengarah raja siluman Rubah Putih.
Tubuh yang terkena pukulan itu langsung tumbang ke tanah, kemudian dengan secepat kilat Cakra meninggalkan tempat itu.
Suasana menjadi malam itu kembali sunyi kembali.
Dua sosok yang tadinya bersembunyi, kini mulai menampakkan diri dan menghampiri tubuh raja siluman Rubah Putih yang tergeletak di tanah.
Di lihatnya tubuh itu oleh dua sosok yang baru keluar dari persembunyian.
" Bodoh sekali pemuda itu, membunuh raja lemah saja tidak bisa, dia malah meninggalkan raja ini sekarat di sini,, " seru orang tua yang berbaju serba putih.
" Benar bopo, kalau sudah begini mau tidak mau kita saja yang membunuhnya, agar kita bisa mengendalikan kerajaan siluman Rubah Putih sesuka hati kita,, " lanjut sosok laki laki berpakaian serba hitam di samping orang tua itu.
" Cepat lakukan dan jangan tinggalkan jejak, kalau tidak ingin kita mendapat masalah nantinya,, ! "
" Baik bopo,, "
Laki laki berbaju hitam itu menghampiri tubuh raja siluman Rubah Putih yang tidak berdaya, napasnya sudah tersengal semua badannya tidak dapat di gerakkan, laki laki itu mengangkat kakinya kemudian menginjak dada raja itu.
" Dasar raja bodoh, dengan mudah kau aku arahkan sehingga kau menjadi korban dari kebodohan mu, setelah kematian mu biarkan raja muda dari siluman kera di salahkan, aku akan menikmati permainan ini dari singgasanamu,, " ujar sosok berbaju hitam dengan tersenyum sinis.
Dia mengangkat tangan kanannya ke atas, perlahan tangan itu terselubung cahaya kekuningan.
__ADS_1
Hiyaaaaat.
Blaaaaaaar.
Tidak mereka sangka pukulan terakhir untuk mengakhiri hidup raja siluman Rubah Putih membuat laki laki berpakaian hitam itu terpental ke belakang, untuk dengan cepat orang tua berbaju putih mengejar dan menangkap tubuh laki laki itu sebelum membentur pohon.
Mereka berdua mendarat di tanah dengan ringan, namun laki laki itu memegangi dadanya yang terasa sesak akibat ledakan tadi.
" Apa yang terjadi,, ? " tanya orang tua itu.
" Entahlah bopo, aku merasa pukulan ku membentur dinding tebal,, "
Sementara, setelah terjadi ledakan tadi, tubuh raja siluman Rubah Putih telah di bopong oleh Cakra, sejenak Cakra menyalurkan sedikit tenaga dalamnya untuk mengobati luka dalam yang di derita karena pukulannya tadi.
Tadi Cakra sengaja membelokkan sedikit pukulannya sehingga tidak mengenai bagian tubuh yang menyebabkan kematian.
" Apa maksudnya ini,,? " tanya raja siluman Rubah Putih setelah luka lukanya terasa sedikit baikan.
Kemudian Cakra berdiri menghampiri dua orang yang sebelumnya bersembunyi.
" Sudah lama aku menunggu munculnya para pengecut yang bersembunyi di balik batu,, " ucap Cakra.
" Apa maksudmu berkata begitu,,? " gertak orang tua yang terkejut Cakra tahu mereka tadi bersembunyi.
" Ha ha, tidak ada maksud apa apa, cuma aku ingin tahu, apa tujuan si pengecut, ternyata hanya ingin mengambil keuntungan dari pertarungan ini, huh dasar licik. " seru Cakra.
" Jaga mulutmu, kalau tidak akan aku sobek mulut mu yang tidak tau aturan,,! "
" Silahkan saja kau mengajari aku aturan berbicara asal tidak mengajari aku cara berpikir licik,,! "
" Kau memang perlu di kasih pelajaran anak muda,, " bentak orang tua itu kemudian maju menyerang Cakra.
__ADS_1
Pertarungan seru di malam itu terjadi lagi untuk ke dua kalinya, kini dua bayangan putih saling beradu tendangan, pukulan serta cakaran.
Cakra yang langsung menggunakan jurus cakar garuda membelah badai di landasi jurus gerak cepat langkah kilat menapak angin membuat gerakannya semakin berbahaya.
Kecepatan gerak Cakra yang sulit di ikuti lawannya membuat lawannya kewalahan, hal ini di pahami oleh laki laki berbaju hitam, sehingga tidak perlu berpikir lama, dia menerjunkan diri membantu romonya.
Di keroyok dua orang bukannya menjadi gentar, justru Cakra menambah kecepatannya sampai sampai dua orang itu yang menjadi bulan bulanan Cakra.
Beberapa kali pukulan dan tendangan Cakra bisa mengenai lawan, sampai mereka terjajar mundur dari pertarungan, namun karena amarah mereka membuat mereka enggan untuk mundur dari pertarungan itu.
Keduanya sekarang semakin nekad menyerang Cakra, di kedua tangan mereka telah tergenggam senjata mereka masing masing berupa tongkat pendek berujung pisau.
Sambaran sambaran senjata itu mengancam tubuh Cakra, namun Cakra masih yakin bisa mengatasi serangan itu sehingga tidak perlu dia menggunakan pedangnya.
Cakra bergerak cepat berkelit di antara desingan senjata lawan, gerakannya yang luwes dan cepat menjadikan lawan kebingungan, karena lawan sulit menebak posisi Cakra, kadang berada di depan namun tiba tiba sudah berada di belakang lawan, akhirnya mereka mencoba mengurung dari dua arah.
Tapi Cakra bukannya mengendorkan serangan justru dua tangannya dengan leluasa melawan.
Saat serangan itu masih berlangsung lama, Cakra memutuskan mengeluarkan dua sayapnya, sayap yang lebar dengan daya jangkau serangan lebih luas membuat dua orang yang di serang tidak berdaya untuk mendekati tubuh Cakra..
" Lari lah sebelum nyawa kalian melayang,,! " ucap Cakra.
Mendengar itu, bukannya membuat mereka lari, namun justru malah merasa terhina sehingga mereka dalam hati bertekad tidak akan lari.
" Baik lah, jika kematian yang kalian inginkan, aku akan mengabulkannya,, "
Cakra menyerang dengan sambaran sayap yang berujung runcing.
Daaar.
Daaaaar.
__ADS_1
Daaaaaaar.