
Sebuah kesibukan terjadi di kerajaan Tirta Kencana, para pasukan di siapkan di pos masing masing, di atas benteng yang kokoh dan menjulang tinggi di tempatkan pasukan pemanah yang terlatih mampu membidik dengan tepat sasaran dari jarak seratus tombak.
Pasukan patroli berjalan kaki hilir mudik mengantisipasi penyusup yang lolos dari pemeriksaan di gerbang, pasukan bersenjata tombak pun tidak kalah sibuknya, mereka memastikan keamanan kota dengan seksama agar warga merasa terlindungi, juga menyiapkan jalur penyelamatan warga jika prajurit musuh mampu membobol pintu gerbang nantinya.
Prajurit yang bertugas di bagian gudang persediaan bahan pokok pun juga sibuk, mereka mendata setiap bahan makanan yang masuk maupun keluar sehingga mereka mampu memperkirakan ketersediaan makanan bagi mereka sampai dua bulan ke depan.
Di tengah tengah kesibukan itu, tiba tiba mereka di kejutkan oleh adanya sesosok seperti burung yang terbang mengarah di lingkungan istana Tirta Kencana, sebagian dari prajurit yang melihat segera mengejar sosok itu, mereka takut bahwa sosok itu adalah musuh yang menyusup.
Kegaduhan terjadi, ratusan prajurit berlari mengikuti arah terbang sosok tadi, hingga sosok itu turun tepat di depan pendopo yang pada saat itu berlangsung pertemuan yang di pimpin oleh raja Rangga Jaya, para prajurit penjaga segera mengepung sosok yang baru menapaki tanah itu, tombak tombak prajurit penjaga itu ditodongkan ke wajah Sosok itu.
" Cakra,,,, " seru senopati Bajra yang keluar dari pendopo setelah mendengar keributan di sana.
" Ayo masuk, kita temui baginda raja,, ! " ajak senopati Bajra.
Akhirnya mereka masuk ke pendopo menghadap kepada baginda raja.
" Ampun baginda raja, kedatanganku saat ini menimbulkan kegaduhan, hamba hanya ingin segera menghadap kepada baginda raja sehingga hamba datang kesini dengan cara seperti itu,, " ucap Cakra setelah memberi sembah hormat kepada baginda raja.
" Tidak apa apa, justru dengan kehadiranmu di sini membuat hatiku sedikit tenang, aku yakin tenagamu sangat di butuhkan di sini. "
" Pastinya kau mengetahui apa yang terjadi di sini,,? "
" Ampun baginda raja,, memang hamba sudah mendapat laporan dari telik sandi, saya juga sudah melihat kekuatan kerajaan Selo Cemeng kemaren saat perjalanan kesini, mungkin sore ini mereka sudah sampai di wilayah kerajaan ini,, " jawab Cakra.
Mereka yang di situ terkejut, mereka tidak menyangka jika akan secepat itu pasukan musuh sampai di wilayah itu.
" Bagaimana pendapatmu panglima Randu Alas ,,,? " tanya baginda raja.
" Ampun baginda, hamba sudah menyiapkan semua pasukan kita, kita semua harus mempertahankan tanah air ini sekuat tenaga, " jawab panglima Randu Alas.
" Baguslah kalau semua sudah siap, sebaiknya mulai saat ini kita bersiap juga,,! "
" Ampun romo, hamba ingin ikut berperang di garis depan,, " ucap pangeran Ranu Mulya.
__ADS_1
" Kau memang sudah dewasa, memang sebaiknya engkau ikut andil di dalam perang saat ini, ikut lah bergabung dengan panglima Randu Alas,,,! "
Akhirnya setelah menyampaikan keputusan dan langkah langkah yang harus di ambil saat terjadi keadaan darurat, pertemuan itu di bubarkan, semua kembali ke kediaman masing masing.
Cakra mengikuti romonya ke kediaman untuk berjumpa dengan biyungnya karena sudah lama biyungnya merindukan Cakra.
Sampai di depan kediaman senopati Bajra, sesosok perempuan paruh baya menghambur memeluk Cakra, perempuan itu menumpahkan kerinduannya dengan tangis gembira di dada Cakra.
" Aku rindu padamu anak ku,, "
" Iya biyung, aku juga merindukan biyung,, " ucap Cakra sambil mengelus punggung biyungnya.
" Sudah galuh,,,! malu di lihat para prajurit, ayo masuk,,,! " tegur senopati Bajra.
Akhirnya mereka masuk ke kediaman senopati Bajra, Nyai Galuh telah menyuruh abdi abdinya menyiapkan banyak makanan untuk menyambut Cakra, walau di tengah suasana perang yang akan terjadi namun pertemuan ini harus berkesan istimewa, sehingga Nyai Galuh tetap menyiapkan makanan untuk Cakra.
***
Sinar mentari pagi menyinari kerajaan Tirta Kencana, teriknya terasa menyengat apalagi di suasana yang tegang meliputi semua penghuni kerajaan itu.
Pasukan segera di kerahkan, bahkan pasukan yang awalnya bertugas menjaga kota yang jumlahnya tiga ribu kini juga di kirim oleh panglima Randu Alas di pimpin oleh senopati Bajra dan senopati Arya Nanda, kini di kota hanya ada pasukan di bawah kepemimpinan panglima Randu Alas yang berjumlah lima ratus orang dan pasukan khusus pengawal raja yang berjumlah seratus orang.
Senopati Bajra dan senopati Arya Nanda sejak pagi sudah berangkat, mereka tidak ingin terlambat di peperangan itu sehingga musuh bisa masuk ke dalam benteng.
Saat suasana kerajaan sepi, sebuah pasukan bergerak secara diam diam, mereka bergerak dengan cepat seakan akan sangat paham tentang situasi dan keadaan di kerajaan itu, saat mereka sudah hampir sampai di pintu gerbang, tiba tiba pintu gerbang itu terbuka.
" Terima kasih telah membukakan pintu gerbang ini,, "
" Silahkan masuk tuan, setelah pasukan anda masuk akan kami tutup pintu ini agar tidak ada yang masuk,, " ucap salah satu prajurit penjaga pintu gerbang itu.
Segera pasukan tadi masuk semua, mereka langsung mengarah di kediaman raja, saat mereka mendekati kediaman raja, panglima Randu Alas segera di hadang oleh para prajurit penjaga karena saat ini baginda raja masih bersemedi di altar pemujaan khusus di dalam.
Craaaas
__ADS_1
Craaaaass.
" Penjaga bodoh,, " umpat panglima Randu Alas setelah menusukkan kerisnya ke jantung dua penjaga itu.
Tiba tiba, para prajurit khusus pengawal raja berdatangan menghadang panglima Randu Alas dan pasukannya.
" Ada apa ini, kenapa kau membunuh prajurit yang ada di sini ,,? " tanya ki Angga pemimpin pasukan khusus.
" Oh ternyata kau yang hadir, lebih baik kau bergabung dengan aku untuk membunuh raja busuk itu, nanti kau akan ku angkat menjadi senopati atau panglima, ha ha ha ha,, " ucap panglima Randu Alas.
" Apa,, selama ini raja bersikap baik kepada kita semua, namun kenapa kau malah memberontak,,? aku tidak sudi berkhianat seperti kamu, lebih baik aku mati membela tanah airku,, " ucap ki Angga.
" Kalau begitu kau memilih mati, baik akan aku kabulkan,, "
Wuuushh.
Panglima Randu Alas menghujamkan kerisnya ke arah ki Angga, ki Angga hanya menggeser tubuhnya menghindari hujaman keris itu.
Berbarengan dengan serangan itu, pasukan panglima Randu Alas juga ikut maju untuk menyerbu pasukan pengawal khusus raja, jumlah mereka yang banyak itu membuat mereka begitu yakin bisa mengalahkan lawan yang cuma berjumlah seratus orang.
Terjadilah perang saudara di halaman kediaman raja, walau jumlah pengawal raja tidak imbang namun secara kemampuan bertarung mereka lebih baik dari pada pasukan panglima Randu Alas, ini menjadi alasan kenapa pasukan panglima Randu Alas sulit menggempur pasukan pengawal raja, bahkan jumlah mereka yang semakin berkurang karena serangan ganas pasukan pengawal raja.
Keributan itu mau tidak mau membuat semedi sang raja terganggu, akhirnya raja menyelesaikan semedinya dan keluar dari ruang semedi.
" Apa yang terjadi di sini,, ? " bentak raja Rangga Jaya.
Melihat raja Rangga Jaya keluar dari ruangan itu, panglima Randu Alas bergerak melesat ke arah raja Rangga Jaya berada, namun lesatan itu harus di hentikan karena ki Angga sudah mengejar dan menghadangnya, akhirnya terjadi kembali pertarungan antara panglima Randu Alas dan ki Angga.
Raja Rangga sudah paham dengan situasi yang terjadi saat itu, dia segera maju menghadapi panglima Randu Alas.
" Biarkan panglima Randu Alas menjadi lawanku, kau bantu saja pasukan pengawal menghadapi prajurit itu...! " perintah raja Rangga.
Awalnya ki Angga ragu ragu meninggalkan rajanya, namun karena melihat raja Rangga mampu mengimbangi serangan panglima Randu Alas, bahkan kini terlihat raja mampu menekan panglima Randu Alas.
__ADS_1
Pertarungan pertarungan itu terlihat berimbang, mereka saling serang dan saling membunuh padahal dulunya mereka bersaudara dan saling bekerja sama menghadapi musuh kerajaan Tirta Kencana, karena nafsu keserakahan lah yang menjadikan manusia buta mata hatinya sehingga tega untuk membunuh saudaranya sendiri.