PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Kejutan 1


__ADS_3

Senja merah di ujung barat mulai memberi kesempatan kepada setiap makhluk malam yang ingin keluar mencari makan, serangga malam yang seharian bersembunyi di balik dedaunan kini mulai keluar menyanyikan lagu kegembiraan.


Cakra yang dari tadi dudu di taman setelah berkeliling sebentar untuk melepas kerinduan, suara serangga yang mulai keluar menyadarkan Cakra tentang keseimbangan alam ini, tidak selamanya terang itu menyenangkan, sedangkan gelap pun juga banyak di tunggu kehadirannya oleh serangga malam.


Kita tidak bisa merubah dunia ini selalu terang karena akan berakibat buruk kepada serangga malam, begitu juga kita tidak menginginkan dunia ini selalu dalam kegelapan tanpa cahaya yang membawa terang.


" Apa tidak bosan dari tadi melamun di sini,,? "


Cakra menoleh saat di pundaknya terasa di pegang dengan lembut dari belakang.


" Biyung,, aku masih menikmati suasana di taman ini biyung, sudah lama aku tidak merasakannya,,, " jawab Cakra sopan.


Nyai Galuh langsung bergeser mengambil duduk di samping anak semata wayang nya itu.


" Apa yang kau pikirkan Cakra,,,? " tanya Nyai Galuh.


Cakra kemudian menoleh memandang wajah biyung nya yang masih terlihat cantik meski sudah termakan usia.


" Tidak ada biyung, aku cuma kangen sama suasana di rumah ini saja,, " ucap Cakra.


" Ya sudah kalau begitu, segera bersihkan badan mu,! sebentar lagi romo mu pasti pulang, tapi nanti jangan menemui romo mu sebelum aku suruh ya,, "


" Loh kenapa biyung,,? "


" Sudah nurut saja,,,! "


Akhirnya Cakra menyerah untuk ikut apa yang di suruh oleh biyungnya.


***


Suara hentakan kaki kuda berhenti di depan rumah, dengan tergopoh Nyai Galuh menyambut sosok penunggang kuda.


" Selamat datang kanda,, " sambut Nyai Galuh dengan senyum yang manis.


" Terima kasih dinda, selama ini kau telah mau menyambut kedatanganku dari bekerja, rasa lelah dan penat di pikiranku langsung sirna saat melihat senyumanmu di depan pintu ini,, " ujar Ki Bajra.


" Ah kanda,, ini semua bentuk tanggung jawab saya sebagai istrimu,, "


" He he benar juga, tapi sayang tidak ada anak yang menyambut aku juga,, "


Mendengar itu, Nyai Galuh hanya tersenyum jahil.


" Ayo kanda segera masuk, hari sudah gelap pasti kau sudah lelah,,! " ajak Nyai Galuh.


Nyai Galuh mengajak masuk suaminya kemudian mengajak suaminya duduk di kursi rumah itu.


" Kelihatannya ada tugas yang membuat engkau melupakan kesehatan mu sendiri kanda,,? "


" Benar dinda, aku harus selalu siap menjaga keamanan kerajaan Tirta Kencana ini dinda, di luar banyak perampokan dan orang orang yang berusaha mengacau di kerajaan ini,, " kata Ki Bajra.


Di saat itu, keluar seorang gadis cantik yang dengan berjalan menggunakan lututnya membawa wedang jahe di nampan sambil menundukkan kepala, setelah gadis itu meletakkan wedang jahe itu dia tetap duduk di lantai sambil merunduk.


" Di minum kanda,, ! "


Ki Bajra masih belum sadar jika gadis yang membawa minuman tadi belum beranjak dari tempatnya, dia segera mengambil cangkir berisi wedang jahe itu kemudian meminumnya.


Sejenak rasa hangat dari wedang jahe memasuki kerongkongannya merambat ke perut membuat rasa nyaman di badannya.

__ADS_1


" Apalagi saat ini ada acara besar di istana jadinya aku harus lebih memperhatikan keamanan istana saat ini,, " lanjut Ki Bajra setelah meminum wedang jahenya.


" Tidak apa apa Kanda seperti itu, tapi kesehatan kanda harus di perhatikan, lagi pula banyak yang bisa menggantikan tugas kanda di sana,, " ujar Nyai Galuh.


" Eh kenapa kau tidak kembali ke dapur,,,? " ucap Ki Bajra saat sadar gadis yang membawa minuman masih belum beranjak dari tempatnya.


" Dia sedang menunggu seseorang,,, " timpal Nyai Galuh menjawab pertanyaan suaminya.


Ki Bajra memperhatikan gadis itu, dia merasa belum pernah berjumpa dengan gadis itu.


" Apakah kau baru di sini,,,? " tanya Ki Bajra.


Gadis yang di tanya hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


" Siapa namamu,,,? "


" Namanya Kenanga kanda, bagaimana dia cantik tidak,,,? "


Sejenak Ki Bajra memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.


" Cantik, manis khas gadis desa yang anggun,, "


Mendengar pujian itu , wajah Kenanga bersemu merah karena malu.


" Siapa yang di tunggu dinda,,? "


Tanpa di sadari Ki Bajra, dari belakang kursi Ki Bajra muncul laki laki yang langsung duduk bersimpuh di samping gadis itu.


Laki laki tadi segera melakukan sungkem di lutut ki Bajra.


Ki Bajra kaget kemudian mengangkat badan laki laki itu.


Ki Bajra langsung memeluk tubuh anaknya itu dengan erat seakan tidak ingin melepasnya.


" Kau terlihat semakin gagah saja anak ku,, "


" Ah, ini karena ketularan romo saja,, romo juga masih terlihat tampan dan gagah begitu kok,, " canda Cakra.


" Ha ha ha ha,, " suara tawa ki Bajra memenuhi ruangan itu.


Cakra kemudian menggamit lengan Kenanga yang dari tadi masih bersimpuh di lantai.


Kenanga yang di tarik tubuhnya tidak segera berdiri namun justru bersujud di kaki ki Bajra.


Ki Bajra yang sadar segera heran kemudian dia menarik tubuh gadis itu untuk berdiri.


" Apa maksudnya ini,, " tanya Ki Bajra yang kebingungan.


" Maaf romo, dia adalah Kenanga gadis yang selama ini menemani perjalananku, aku mengajak kesini untuk mengenalkan kepada romo dan biyung serta minta restu kepada romo,, " jawab Cakra segera.


" Berarti ini calon mantuku,,,? "


Sekali lagi Kenanga hanya menganggukkan kepalanya saja.


Mendapati jawaban seperti itu Ki Bajra segera merangkul Cakra dan Kenanga bersamaan.


" Puji Syukur kepada Dewata Agung,, " ucap Ki Bajra dengan penuh kegembiraan.

__ADS_1


" Sudah kanda, ayo kita ke ruang makan karena tadi sudah di masakkan oleh calon mantu kita,,,! " ajak Nyai Galuh.


" Benarkah begitu, ayo kalau begitu... " saut Ki Bajra.


Mereka segera pindah ke ruang makan yang di sana sudah tersedia makanan yang tadi di masak oleh Kenanga di bantu Nyai Galuh.


Ki Bajra yang biasanya hanya makan sedikit, kini dia makan dengan lahap karena di temani oleh istri, anak dan calon mantunya, apalagi dia merasa masakan yang di hidangkan saat ini terasa cocok dengan seleranya sehingga dia makan cukup banyak, hal ini membuat hati Kenanga menjadi gembira.


***


Setelah acara makan selesai, Kenanga di ajak Nyai Galuh untuk berbincang sambil membereskan peralatan makan yang baru di gunakan.


Sedangkan Cakra yang masih kangen dengan romonya pindah di ruang sebelahnya sambil menikmati segarnya wedang jahe hangat.


" Apakah sudah saatnya kau menetap di sini Cakra, hidup bersama istrimu nantinya,,,? " tanya Ki Bajra.


" Aku belum tahu romo, karena perjalananku masih panjang, aku pun saat ini mau minta restu kepada romo untuk memenuhi undangan bertarung di bukit harimau dengan kakek Tongkat Naga Merah dan kakek Sabuk Baja,, " ujar Cakra.


" Siapakah mereka itu Cakra,, ? "


" Mereka adalah orang orang yang membunuh eyang Bagaskara romo,, "


" Apa,,,? berarti mereka yang membunuh gurumu,,,? "


" Benar romo,,, "


" Apakah kau ingin bertarung karena ingin membalaskan dendam atas kematian gurumu,,? "


" Ampun romo,, saya bertarung dengan mereka karena ingin menghentikan ke angkara murkaan yang mereka tebar, selama ini mereka yang menjadikan kerajaan Selo Cemeng berani berbuat aniaya,, " jelas Cakra.


" Jika memang begitu tujuanmu, romo akan merestui pertarungan mu Cakra, apakah kau membutuhkan bantuan pasukan,,? "


" Terima kasih romo, sementara ini aku belum membutuhkan pasukan,, "


" Baiklah, apakah kau berencana menghadap kepada baginda raja,,? "


" Oh ya, kelihatannya istana sedang sibuk romo, mau ada acara apa,,? tanya Cakra.


" Apakah kau belum di kasih tahu sama biyungmu,,,? "


" Belum romo, memangnya ada apa,,? " tanya Cakra semakin penasaran.


" Dua hari lagi Putri Kencana Sari akan melangsungkan pernikahan,, " ucap ki Bajra datar.


" Apa,,, " seru Cakra dengan suara yang agak keras karena terkejut atas berita yang baru dia dengar.


" Selama kau pergi, pangeran Jati Kusuma sering berkunjung ke sini, akhirnya pangeran Jati Kusuma mengajukan lamaran kepada raja Rangga, raja Rangga yang merasa pernikahan ini penting untuk hubungan ke dua kerajaan akhirnya menyetujui lamaran itu,, " cerita ki Bajra.


Cakra memahami keadaan itu, namun di hati kecilnya masih terselip rasa sakit, walaupun hal inilah yang dia inginkan, sejak awal dia sengaja menjauhi putri Kencana Sari agar pangeran Jati Kusuma yang dia anggap sebagai saudara bisa mendapatkan hati putri Kencana Sari.


Wuuuush.


Claaaaaph.


Sebuah pisau sudah tergenggam di tangan Cakra, Cakra yang sudah tau siapa pengirimnya langsung membuka surat yang ada di gagang pisau itu.


" Apakah ada yang menyerang kita Cakra,,? " khawatir Ki Bajra.

__ADS_1


" Tidak romo, ini hanya undangan saja,, " jawab Cakra setelah membaca isi tulisan di surat tadi.


Ki Bajra berniat melihat surat itu, namun Cakra sudah lebih dulu memasukkan ke dalam pakaiannya, apalagi setelah itu Nyai Galuh dan Kenanga masuk ke ruang itu untuk ikut ngobrol bersama mereka.


__ADS_2