
Gedebuuuuukh...
Suara jatuhnya tubuh tanpa kepala mengakhiri pertarungan antara Cakra dan ki Jangkung, Cakra mengedarkan pandangannya memperhatikan jalannya pertarungan lainnya.
Di tempat lain, Nyai Selasih mengurung pergerakan ki Nardi, dengan selendang yang bergerak layaknya ular yang mematuk lawan dia menyerang ki Nardi, mendapat serangan yang cepat itu membuat ki Nardi berjumpalitan menghindari patukan selendang, kadang dia membalas serangan dengan pukulan jarak jauhnya, namun dengan mudah Nyai Selasih menghindarinya, pisau pisau kecil yang dia lempar selalu rontok ke tanah sebelum benar benar mengenai tubuh Nyai Selasih, Selendang kuning milik Nyai Selasih bergerak sendiri melindungi bagian tubuh yang di serang, layaknya perisai hidup yang selalu melindungi pemakainya.
Merasa terpojok, Ki Nardi mengeluarkan senjata andalannya berupa kapak bermata dua, kapak berwarna hitam di hiasi sisa sisa darah dari lawannya, entah sudah berapa nyawa yang melayang akibat dari sepak terjang ki Nardi bersama kapaknya itu.
Pertarungan itu kini cukup berimbang karena ki Nardi sudah berani memapaki datangnya serangan selendang, tidak seperti tadi yang cuma menghindar.
Melihat serangan lawannya lebih dahsyat, Nyai Selasih menaikan tenaga dalamnya, lebih banyak tenaga dalam yang di salurkan ke selendangnya sehingga membuat selendang itu memancarkan cahaya berkilauan seperti pelangi, walaupun cahaya yang terlihat sangat indah, namun serangannya membuat ketakutan lawannya, pasalnya angin sambaran yang di keluarkan berbau harum yang dapat membuat pening dan sesak nafas musuhnya,
Hiyyaaat.
Wheeeerrrrr..
Nyai Selasih melemparkan selendangnya mengarah tepat ke dada ki Nardi, tidak mau mati karena serangan itu, ki Nardi menghindar ke kanan sehingga selendang itu hanya lewat di sisi kiri tubuhnya.
Sebelum selendang itu di tarik kembali, ki Nardi membacokkan kapaknya ke selendang itu, niatnya ingin memotong selendang itu, namun selendang yang lentur dan liat itu tidak dapat terpotong, justru ujung dari selendang itu menampar wajah ki Nardi sehingga tubuh ki Nardi terlempar ke samping jatuh ke tanah, tidak menunggu lama Nyai Selasih melancarkan tendangannya ke arah dada ki Nardi.
Duuuuukhh...
Aaaaakkkkkkhh.
Darah segar mengalir dari mulut Ki Nardi, tidak selesai di situ, kaki kanannya mengayun ke arah kepala yang masih tergeletak.
Daaaasshh.
Kraaaaakk.
Patah lah leher Ki Nardi karena tendangan tadi di lambari tenaga dalam tinggi.
...
__ADS_1
Saat Cakra dan Nyai Selasih masih bertarung, Jantoro dan Samin pelayan Nyai Selasih bekas anak buah kuda Sembrani telah mengepung Ki Barno, walau di keroyok dua orang, ki Barno yang hanya berada satu tingkat dari ki Jangkrong itu dengan mudah meladeni serangan lawannya, bahkan sesekali dia bisa menyarangkan pukulan atau tendangan ke tubuh lawan.
Jantoro dan Samin bergerak saling mengisi sehingga mereka yang kalah tenaga dalam bertarung mampu mengurangi tekanan dari ki Barno, sebagai bekas anak buah kuda sembrani, dia paham betul kemampuan ki Barno sehingga mereka tidak berani bertarung dengan sembrono.
Jantoro dan Samin menyerang bersamaan, Jantoro memukulkan tangannya ke arah dada, sedangkan Samin menendangkan kakinya ke kaki lawan, namun dengan tenang ki Barno menangkis pukulan itu dengan tongkat di tangan kanannya dan kaki kanannya di angkat untuk menepis tendangan Samin.
Ki Barno memutar tongkat memukul kaki Samin, namun dengan cepat Samin menarik kakinya dan dengan gerakan memutar memutar mengarahkan kaki kirinya ke arah kepala ki Barno, ki Barno hanya menundukkan kepalanya hingga tendangan itu luput dari sasaran, melihat lawannya belum sempurna posisinya, Ki Barno menyapukan kaki Samin yang hanya satu yang menapak ke tanah, sehingga tubuh itu jatuh, beruntung Jantoro menangkap tubuh itu sehingga tidak sampai jatuh ke tanah.
Ki Barno meloncat menendang punggung Samin yang berada di rengkuhan tangan Jantoro.
Duuukhh.
Tendangan itu telak mengenai punggung Samin membuat dua tubub itu terpental dan jatuh.
Dengan Sigap Jantoro bangun sambil Membantu Samin untuk berdiri, dari sudut bibir Samin telah keluar darah, Samin menyeka lelehan darah di bibirnya dan bersiap menyerang lagi.
Kini mereka menghunus golok mereka, dengan cepat mereka menyerang bersamaan menbabat dari atas ke arah kepala Ki Barno,
Taaangg.
Buukhh.
Buuuukh.
Tubuh ki Barno terjajar empat
langkah karena tendangan itu, memang dari awal serangan golok tadi adalah serangan tipuan dari Jantoro dan Samin.
" Kurang ajaaar. Kunyuuuk,, " umpat ki Barno kepada kedua lawannya.
" Aku penggal kepala kalian agar tidak lagi berkhianat kepada kelompok Kuda Sembrani, sini maju aku gebuk kalian,,,! '" umpat ki Barno.
Ki Barno memutar mutar tongkatnya, layaknya baling baling tongkat itu berputar dengan cepat.
__ADS_1
Hiyaaaat,
wuuuushh
Tongkat itu menyambar ke arah Jantoro, Jantoro mengelak, namun tongkat itu terus mengejar mengincar kepalanya, hingga saat dia tidak mungkin menghindar.
Traaaakhh.
Tongkat itu ditangkis dengan golok, namun karena kuatnya pukulan tongkat itu hingga golok Jantoro terlepas dan terlempar cukup jauh dan saat itu sodokan ujung tongkat mengarah ke dada Jantoro.
Duuukh.
Jantoro terdorong hingga satu tombak, tubuhnya jatuh terduduk dengan dada terasa sesak nafasnya tersengal sengal.
Ki Barno berniat mengakhiri pertarungan itu dengan menggebukan tongkatnya ke kepala Jantoro.
Praaakh..
Tongkat itu mengenai golok yang di pakai Samin untuk menghadang serangan kepada Jantoro, namun golok itu rompal hampir patah dan tongkat itu berubah arah menuju perut Samin.
Telak tubuh samin ikut terjengkang merasa sakit mual di perutnya.
Dhuuuuaarrr.
Tepat saat Ki Barno hendak mengayunkan tongkatnya lagi ke arah kepala ke dua pelayan Nyai Selasih, Nyai Selasih meloncat ke udara sambil mengarahkan pukulan jarak jauhnya ke arah kepala Ki Barno, ki Barno yang tidak waspada karena dia ingin cepat mengakhiri perlawanan dua musuhnya menjadi kurang waspada dan pukulan itu telak mengenai tubuhnya sehingga tubuh itu meledak menghamburkan serpihan serpihan tubuh yang sudah tidak berbentuk.
" Terima kasih Nyai anda telah menyelamatkan nyawa kami,, " ucap Jantoro setelah Nyai Selasih mendekat membantu mereka Berdiri.
" Apakah kalian tidak apa apa ,,? " tanya Nyai Selasih.
" Tidak apa apa Nyai, kami hanya luka sedikit,, " jawab Samin.
Cakra yang baru saja mendatangi mereka segera meminta mereka duduk bersila, dia menyalurkan tenaga dalamnya untuk memulihkan luka dalam mereka.
__ADS_1
" Tidak ada waktu lagi, sini aku obati biar kita bisa segera menyusul pangeran Jati,, " ucap Cakra memulai menyalurkan tenaga dalamnya.