PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Bergabung Dengan Putra Mahkota 1


__ADS_3

Cakra dengan hati hati menuju ke utara kota, sampai di pondok itu, dia langsung masuk ke dalam, dia terkejut karena di dalam sudah ada Jati Kusuma yang berbaring di lincak bambu satu satunya.


Melihat Cakra datang, Jati Kusuma segera bangkit memberi ruang untuk tempat duduk Cakra.


"Dari mana kamu Cakra ,,,? " tanya Jati Kusuma.


" Jalan jalan mencari udara segar Jati,,? " jawa Cakra.


" Jalan jalan kok seharian,,, " ucap Jati dengan mimik wajah lucu.


" Lagian tujuanmu kesini untuk apa sih Cakra,, "


Cakra hanya diam, dia menimbang untuk menjawab yang sebenarnya dia lakukan.


Melihat Cakra diam, Jati mulai curiga terhadap apa yang di lakukan oleh Cakra, bisa jadi apa yang di lakukan Cakra sama seperti yang dia lakukan.


" Dulu aku bertempat tinggal di sini, namum karena terjadi perang aku terpaksa menyingkir dari sini, kini aku bercita cita bisa kembali tinggal di sini" cerita Jati memancing Cakra.


Mendengar cerita itu, sadarlah Cakra bahwa mereka berdua memiliki tujuan yang sama.


Whuuuuuussshh.. Blaaaaaarrr


Selarik cahaya merah menerjang pondok yang di dalamnya ada Cakra dan Jati, seketika hancurlah pondok itu hanya menyisakan puing puing saja, beruntung sebelum cahaya itu menabrak pondok, Cakra dan Jati meloncat keluar bergulingan sampai lima tombak dari pondok.


Huahahahaha....

__ADS_1


Suara tawa terdengar keras di malam itu.


" Keluarlah kalian, kalian sudah di kepung" ucap seorang wanita yang ternyata Dewi Suji.


Melihat keadaan yang mendesak, Cakra mengaktifkan topeng garuda agar wajahnya tidak di kenali, Cakra dan Jati berdiri gagah di balik api yang membakar pondok mereka.


"Ada apa kalian kesini merusak pondok kami ,,? " tanya Jati.


"Jangan berlagak bodoh kau, kami tau kaulah yang membunuh ki Seto, untuk itu kami Tiga durjana dari bukit setan akan membalaskan dendamnya ki Seto. " teriak Bowo.


Dengan menghunus pedang, Bowo menerjang kearah mereka berdua, melihat itu, Jati segera menghunus pedangnya dan memapak sabetan golok Bowo, Jati tidak menangkis melainkan membelokan arah golok itu sehingga melenceng dari sasarannya.


Merasa goloknya dapat di tepis, Bowo membalik arah goloknya menyasar ke kaki Jati, dengan sigap Jati meloncat sambil menapakan kakinya di punggung Bowo yang dalam posisi rendah, akhirnya Bowo tersungkur ke depan mulutnya menyosor tanah.


"Kurang ajar, " teriak Bowo sambil meludah karena mulutnya kemasukan tanah.


" Minggir kau jika masih ingin hidup" bentak Dewi Suji.


"Maaf, bagaimanapun juga aku tidak akan meninggalkan kawanku," jawab Cakra.


Akhirnya Dewi Suji dan Wito mengeroyok Cakra,


dua pukulan mengarah ke dada Cakra, Cakra ingin menguji kekuatan lawannya maka di sambutlah pukulan itu dengan mengerahkan seperempat tenaga dalamnya.


Deeeshh..

__ADS_1


Ketiga kekuatan itu berbenturan, mereka sama sama terjajar ke belakang sebanyak tiga langkah, kecuali Wito yang terjajar lima langkah, efek yang di di derita pun yang paling parah, karena dia merasa dadanya nyeri.


Melihat lawan lawannya belum siap posisinya, Cakra segera melesat menyerang Dewi Suji, tidak ingin menjadi sasaran empuk, Dewi Suji melemparkan badannya ke samping untuk menghindari serangan Cakra.


Tidak di sangka, dengan gesit Cakra yang serangannya gagal, kakinya menjejak pohon membelokan tubuhnya sehingga mengarah kepada Dewi Suji yang baru mendaratkan kakinya di tanah.


Deeess..


Telak pukulan sayap jatayu mengenai dada Dewi Suji, hingga dia terpental jatuh ke tanah bergulingan, sesaat dia bangun dan memuntahkan darah segar, melihat itu, Wito segera menghampiri Dewi Suji dan membawanya kabur dari situ.


Bowo yang tahu kawan kawannya kalah dan kabur, menjadi lengah hingga tebasan pedang yang di lakukan jati yang mengarah ke dadanya telat untuk di hindari.


Aaaakhh....


Jeritan Bowo yang tangan kirinya putus terkena tebasan pedang Jati, Bowo mengumpat penuh amarah, kemudian dia melarikan diri menyusul teman temannya.


"Kau tidak apa apa Cakra,,? " tanya Jati.


"Tidak apa apa Jati"..


" Aku kira di sini sudah tidak aman, sebaiknya kau ikut aku Cakra. "


Jati mengajak Cakra untuk masuk ke semak semak di belakang pondok, Jati membuka sebuah pintu dari papan yang tersembunyi dan di tutupi oleh rumput, dia mengajak Cakra masuk kemudian setelah mereka di dalam Jati menutup pintu itu.


"Pantas Jati bisa keluar masuk ke kota ini sesuka hatinya, ternyata ada jalan rahasia,, " gumam Cakra.

__ADS_1


Beberapa saat mereka berlari, akhirnya mereka sampai di tepi hutan Kuncoro, sejenak mereka merasa aman dan beristirahat di situ menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan.


__ADS_2