
Semua yang melihat pertarungan Cakra telah selesai langsung mendekat, mereka semua tidak percaya terhadap apa yang mereka saksikan, dulu kekuatan Cakra tidak sebesar ini, namun kini seakan akan naik dengan pesat kemampuannya.
Di benak masing masing muncul tanya tentang kapan Cakra mendapatkan kekuatan itu dan dari mana asalnya, tapi semua tidak mampu menjawab pertanyaan yang tidak tersampaikan itu.
" Sungguh luar biasa, pemuda yang penuh misteri, masih adakah hal lain yang belum terungkap dari dirinya,,? " gumam kakek dewa tongkat rotan.
" Siapa namamu,,? kenapa berurusan dengan empat setan gendut ,,? " tanya Cakra kepada gadis yang ditolongnya.
Mendapat seorang yang tampan dan gagah membuat gadis itu wajahnya bersemu merah, dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedang malu dengan menundukkan kepalanya.
" Aku Kenanga dari gunung Semeru, aku kesini karena mendengar kabar jika patung garuda emas berada di sini,, " jawab gadis itu.
" Sebaiknya tidak perlu kau teruskan perjalananmu, karena akan sangat berbahaya bagimu jika kau melanjutkan perjalanan ke dalam hutan ini,, " ujar Cakra tidak mau menceritakan jika patung itu ada padanya.
" Tapi aku harus menemukan patung itu,, " jawab Kenanga yang memang mempunyai sifat keras kepala khas kaum wanita.
" Di sana banyak pendekar pendekar kuat yang juga memperebutkan patung itu, kau hanya akan menyetorkan nyawa jika memaksa ke sana, lebih baik kau kami antar sampai ke gunung Semeru,, " kini Sardi yang mengerti maksud Cakra tidak menyebut patung garuda emas di bawanya ikut menimpali.
Wajah Kenanga yang manis itu nampak cemberut menjadikan gemas siapa pun yang melihat, termasuk Cakra juga tertarik dengan gadis di depannya itu.
" Baiklah, aku ikut kalian saja, tapi kalian harus janji akan mengantar aku sampai ke gunung Semeru,, " jawab Kenanga Menyerah.
" Baik lah,, ayo kita berangkat,,! " ajak Cakra.
Rombongan yang kini berjumlah lima orang itu sudah mulai berangkat, semua berlari agar segera bisa keluar dari hutan Angkrong, mereka tidak ingin bermalam di hutan itu.
Kini kakek dewa tongkat rotan memimpin perjalanan di depan, karena Kenanga ingin selalu berdampingan dengan Cakra sehingga Cakra memilih berlari di posisi paling belakang, dengan begini Kenanga lebih bebas berbicara dan mendekati Cakra.
Kenanga yang memang aktif berbicara membuat keduanya tidak habis pembahasan yang mereka bicarakan, hal ini membuat perjalanan yang lama itu tidak terasa, tanpa di sadari mereka sudah hampir masuk ke sebuah desa yang cukup ramai.
" Di desa depan sana, kita istirahat dulu sambil cari makan, perutku sudah lapar,, " ucap Kenanga sambil memegangi perut ratanya.
Melihat mata bulat penuh permohonan, membuat Cakra tidak mampu menolak, dia segera memberi tahu kepada kakek dewa tongkat rotan untuk singgah dulu di desa itu.
Karena sudah memasuki pintu masuk gerbang desa, mereka menghentikan larinya, mereka berjalan bersisian, beberapa pemuda yang ada di situ menghadang jalan mereka.
" Ada keperluan apa kalian masuk ke desa ini,, " tanya salah satu pemuda yang berjaga di situ.
" Kami kesini hanya melintas dan ingin singgah sebentar untuk istirahat dan mengisi perut,, " jawab kakek dewa tongkat rotan yang masih memiliki sikap galak dari masa lalunya.
__ADS_1
" Tidak bisa, hari sudah menjelang malam, tidak ada yang boleh masuk desa ini,, " bentak seorang pemuda yang dari tadi hanya berdiri di belakang pemuda yang mencegat rombongan Cakra.
Sardi yang melihat gelagat tidak baik segera maju dan mengajak para pemuda itu agar di ijinkan masuk ke desa ini dengan baik baik.
" Maaf, ada apakah di desa ini sehingga kami tidak boleh masuk ke desa ini,,? " tanya Sardi sopan.
" Bukan urusan orang luar, sebaiknya kalian cepat pergi dari sini mencari jalan lain,,! " ucap pemuda tadi merasa tidak sabar.
" Baiklah, kami akan pergi, namun ijinkan kami membeli makanan dulu untuk mengisi perut kami yang lapar,, " pinta Sardi.
" Terserahlah, asal hanya kamu yang masuk, yang lainnya tidak boleh masuk ke dalam desa ini,,! " ucap pemuda kasar itu.
Kelompok Cakra segera berunding, akhirnya Sardi masuk ke desa itu untuk mencari warung makan yang masih buka sekedar mencari makanan pengganjal perut mereka.
Sedangkan Cakra, Kelana, kakek dewa tongkat rotan dan Kenanga pergi ke pinggiran desa mencari tempat yang nyaman untuk istirahat.
Cukup jauh mereka menemukan tempat yang nyaman untuk istirahat, Cakra dan Kelana langsung mencari ranting ranting kering untuk menghangatkan badan, sedangkan Kenanga membersihkan tempat itu khawatir jika ada hewan hewan berbisa mengganggu mereka.
Tidak begitu lama, Sardi datang dengan membawa lima bungkus nasi jagung dengan lauk sambal dan ikan asin, tidak lupa dua ikat singkong rebus sebagai teman berbincang nantinya.
Tanpa menunggu lama lagi, ke lima orang itu sudah menikmati makanan yang di bawa Sardi dari desa sambil melingkari api unggun yang sudah di nyalakan.
Di sela sela makan itu mereka berbincang sekedar mengusir kesunyian.
" Aneh bagaimana,,,? " tanya Kelana yang penasaran.
" Tadi waktu aku memasuki desa itu, seakan akan desa itu desa mati, sangat sepi, yang tinggal di desa itu sebagian besar hanya laki laki, jika ada perempuan itu usianya yang lebih dari enam puluh tahun, hewan ternak pun tak ada,, "
" Terus kau dapatkan makanan ini dari mana,,? " tanya Kelana lagi.
" Beruntungnya kita, masih ada warung yang di jaga oleh nenek nenek masakannya masih ada tadi, awalnya dia sudah tutup, masakannya sudah di ringkasi, namun beliau berbaik hati membongkar dagangannya untuk kita,, "
" Tapi saat aku menanyakan tentang keadaan desa ini, beliau malah ketakutan dan langsung ke dalam rumah. "
" Pasti ada sesuatu yang membuat nenek itu ketakutan,, " ucap Kelana.
" Ahhh. sudahlah, itu urusan mereka sebaiknya kita tidak ikut Campur,, " ucap Kakek dewa tongkat rotan yang telah menghabiskan makanannya sehingga dia bersiap beristirahat.
Cakra dan Kenanga hanya mendengarkan pembicaraan itu tanpa menanggapi, namun di hati nya berkecamuk pertanyaan pertanyaan tentang keadaan desa tadi, dia ingin membantu desa tadi keluar dari masalah yang di hadapi.
__ADS_1
***
Tengah malam saat semua beristirahat, Kelana yang masih berjaga saat itu membangunkan semuanya, Kelana menunjuk arah desa yang saat ini terang benderang karena kobaran api yang membakar rumah rumah di desa itu.
Merasa ada yang berbahaya, mereka semua melesat kearah desa itu.
Sampai di desa itu mereka mendapati jasad jasad yang bergelimpangan tidak bernyawa di tengah jalan, rumah rumah terbakar, para penduduk yang lain berlarian ke sana kemari mencari keselamatan diri sendiri.
Di atas desa yang terbakar tadi berkelebatan lebih dari sepuluh sosok berbaju hitam hitam dengan topeng burung gagak, mereka menyambar apapun yang bisa di raih mereka, kadang ada yang menyambar tubuh warga desa untuk di bawa terbang dan di lempar di kobaran api sehingga jerit jerit kematian terdengar di mana mana.
Cakra dan yang lainnya tidak membiarkan ini terjadi, Cakra segera mengeluarkan sayapnya yang indah kemudian dia melesat ke arah sosok menyerupai burung gagak raksasa yang terbang di atas desa.
Secepat kilat Cakra menghabisi burung burung itu, dengan jurus cakar garuda membelah badai Cakra menebas sayap sayap burung gagak raksasa itu sehingga terpotong dan pemiliknya kehilangan keseimbangan jatuh di dalam kobaran api.
Selama Cakra melawan sosok burung gagak itu, ternyata Cakra mendapati burung burung itu sebenarnya manusia yang terselubung kain hitam bertopeng burung gagak, mereka ini dari kelompok gagak wesi yang sering membuat kerusakan di desa desa agar bisa menguasai desa itu untuk markas mereka, juga mencari perempuan untuk melampiaskan nafsu mereka.
Cakra terbang menghalau serangan serangan orang orang gagak wesi itu, sedangkan Kelana sudah menggunakan cambuk naga nya untuk menyerang kawanan orang yang terbang di atasnya.
Saat Kelana telah siap dengan cambuknya, seorang anggota gagak wesi melintas di atasnya sambil menyerang Kelana dengan besi berbentuk cakar gagak, untung Kelana masih jeli, dia membuang tubuhnya ke kanan menghindari datangnya senjata itu, sambil bersalto Kelana menyabetkan cambuknya ke arah lawan, cambuk itu membelit kaki lawan sehingga berhentilah laju terbangnya, dengan sekuat tenaga, Kelana menghentakkan cambuk itu ke tanah sehingga tubuh musuhnya ikut terbanting ke tanah.
Buuuuuuuuuk.
Tubuh itu membentur tanah dengan keras, kemudian Kelana meloncat mengirimkan tendangan ke punggung musuhnya yang belum bangun dari tanah itu.
Kelana mengikatkan cambuknya ke leher orang itu hingga orang itu kehabisan napas dan mati.
Sepak terjang kakek dewa tongkat rotan juga tidak bisa di pandang remeh, dengan tongkat rotan di tangannya dia menghabisi setiap musuh yang menyerangnya, tongkatnya yang dialiri tenaga dalam menjadi momok yang mengerikan bagi lawan.
Sardi dan Kenanga bekerja sama untuk menyelamatkan para warga yang masih hidup dengan mengarahkan masuk ke pendopo milik desa itu.
Sedangkan Cakra masih mengejar seorang yang memiliki kecepatan terbang di atas kawan kawannya yang lain yang sudah mati di tangan Cakra dan yang lainnya.
Sebenarnya Cakra lebih cepat terbangnya, namun orang itu mampu dengan gesit menghindar saat hendak di tangkap oleh Cakra, dia terbang diantara rumah rumah warga bahkan kadang masuk rumah warga agar bisa terlepas dari kejaran Cakra.
Hingga pada saat orang itu hendak masuk ke rumah warga lagi, Cakra yang tahu rumah itu telah kosong langsung mengarahkan jurus pukulan garuda agni yang baru di milikinya.
Jdaaaar.
Rumah itu hancur sehingga orang itu tidak jadi masuk ke rumah dan terbang lebih tinggi, saat yang seperti ini yang di tunggu cakra, dia terbang lebih cepat mensejajari kecepatan terbang lawan, memposisikan diri di atasnya kemudian mendaratkan kakinya di punggung orang itu memegang sayapnya.
__ADS_1
Cakra seperti menunggangi burung raksasa terbang di atas, namun karena beban berat di punggungnya, orang itu gagal mempertahankan keseimbangannya dan terjatuh terperosok ke tanah dengan Cakra masih berada di atasnya.
Cakra segera memukul leher orang itu hingga orang itu tidak sadarkan diri.