PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Jati Diri Empu Songgo Langit


__ADS_3

Sosok Empu Songgo Langit mendekati Cakra, dia memandang tajam ke arah Cakra, entah kenapa dari dalam diri Cakra memaksa untuk tidak membalas tatapan itu dan merundukkan pandangannnya.


" Siapa namamu,,,? " tanya empu Songgo Langit kepada Cakra.


" Maaf resi, saya bernama Cakra,, " jawab Cakra singkat


" Angkat wajahmu....! "


Dengan perlahan Cakra mengangkat wajahnya dan beradu pandang dengan empu Songgo Langit.


" Aku ingin berbicara dengan kamu, ayo masuk ke padepokan ku,,,,! " ajak empu Songgo Langit.


Tanpa menunggu di minta ke dua kalinya, mereka langsung masuk mengikuti langkah kaki empu Songgo Langit dari belakang, dari rombongan itu ikut juga Surya dan Kenanga, sedangkan yang lain membubarkan diri kembali ke kegiatan mereka masing masing dan yang sakit di rawat oleh teman temannya.


Mereka memasuki aula pertemuan padepokan yang cukup luas, Cakra dan kawan kawannya di persilahkan duduk tidak jauh dari tempat duduk empu Songgo Langit yang diapit oleh Surya dan Kenanga.


Tidak lama jamuan untuk tamu telah terhidang, aneka jajanan pasar di dampingi wedang jahe gula kelapa hangat memenuhi meja di depan mereka.


" Silahkan dinikmati,, anggap saja ini permintaan maaf dari aku yang menyambut kalian dengan keributan" ucap empu Songgo Langit dengan senyum yang menenangkan.


Hal ini menjadikan Cakra semakin menundukkan kepala karena wibawa kakek itu semakin terlihat kuat, begitu juga yang lainnya.


Yang menjadi kaget akan perlakuan empu Songgo Langit adalah Surya, karena bagaimana pun juga orang orang di depannya ini adalah tertuduh yang merampas patung garuda emas, namun kenapa di perlakukan istimewa oleh gurunya.


" Sebenarnya apa tujuan kalian kesini,, "


Cakra memandang kawan kawannya, namun tidak satupun yang hendak menjawab karena merasa tidak berhak untuk menjawab.


" Maafkan kami empu, sebenarnya kami kesini memang bukan hendak mengantar Dinda Kenanga saja, namun kami kesini ingin mengembalikan patung garuda emas, " akhirnya Cakra yang menjawab.


Cakra meminta Sardi untuk meletakkan patung garuda emas di atas meja.


Surya dan Kenanga terkejut saat patung itu berada pada buntalan kain yang selalu di bawa Sardi berbeda dengan guru mereka yang tidak menampakkan perubahan raut wajah.


" Bagaimana ceritanya patung garuda emas ini berada dengan kalian.....? "

__ADS_1


Sardi kemudian menceritakan awal patung itu berada di tangan gurunya eyang Rangkah Sedayu, kemudian gurunya mengutus dia dan saudara seperguruannya mengantar patung ini ke gunung Semeru namun saat melintasi hutan Angkrong mereka di serang oleh kelompok perampok Singa lodro yang menyebabkan saudar seperguruannya tewas, beruntung saat dia juga berada di ambang maut dia di tolong oleh Cakra yang sampai sekarang berbaik hati mau mengantar sampai ke gunung Semeru ini.


Empu Songgo Langit manggut manggut mendengar cerita Sardi.


" Berarti kau murid dari eyang Rangkah Sedayu temanku dulu ,,?


" Benar empu,, " jawab Sardi.


" Terus kenapa kalian menyerang mereka Surya,,? " tanya gurunya kepada Surya.


" Maaf guru, karena saya mendengar mereka lah yang merampas patung garuda emas dari tangan Permana,, " jawab Surya.


" Apakah benar begitu,, ? "


Awalnya Sardi yang tidak ingin menceritakan tentang pengkhianatan Permana karena mendapatkan pertanyaan seperti itu sehingga mau tidak mau dia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Surya yang mendengar cerita itu langsung memanggil salah satu murid padepokan itu untuk memanggil Permana agar dia bisa menjelaskan kebenaran cerita itu.


Murid yang tadi di tugaskan memanggil Permana telah kembali lagi, dia menyampaikan jika Permana sudah di cari namun dia sudah tidak ada.


Surya merasa malu telah mempercayai omongan saudara seperguruannya tanpa meminta penjelasan dulu dari yang lainnya, dia menundukkan wajah karena menahan malu.


" Aku mewakili murid muridku meminta maaf akan kesalahan mereka, untung tidak terjadi korban,, "


" Tidak apa apa empu, yang penting kita tidak apa apa. " jawab Cakra dengan hormat karena dia merasa canggung mendengar permintaan maaf langsung dari empu Songgo Langit.


" Pantas kalian meladeni serangan kami tidak dengan sungguh sungguh, jika kalian sungguh sungguh murid muridku tidak hanya akan terluka ringan tapi mereka akan mati,, " lanjut kakek itu.


" Mohon untuk tidak berlebih lebihan menilai kami empu, memang ini semua karena kedangkalan ilmu kami, justru kami kesini selain ingin mengantar patung itu juga ingin meminta sedikit tambahan ilmu kepada empu sebagai bekal perjalanan kami nantinya. " ucap Cakra.


" Ha ha ha, apa ilmu yang kau dapat dari roh garuda agni masih kurang,, ? "


Deeg.


Cakra terkejut, hal yang selama ini dia rahasiakan bahkan kepada teman seperjalanannya namun kenapa empu Songgo Langit mengetahuinya.

__ADS_1


" Tidak usah heran seperti itu, dari awal menatap matamu aku sudah tahu jika roh garuda agni sudah menyatu di tubuhmu, itu terlihat dari warna matamu yang ke emasan tidak seperti warna mata orang lain. "


Mendengar itu semua yang berada di situ menjadi bingung, mereka saling memandang mencari jawaban atas apa yang di sampaikan oleh empu Songgo Langit.


Mereka awalnya tidak menyadari perubahan warna mata Cakra, namun saat ini mereka baru bisa membedakannya, bahkan Cakra sendiri pun tidak menyadari.


" Dulu sekali aku belajar kepada seorang guru bernama eyang Rekso Nyowo di lembah kesunyian, selain memiliki murid aku, beliau juga mengangkat murid seorang anak yang berusia lima tahun di bawahku bernama Bagaskara,, "


Cakra kaget, mendengar nama gurunya di sebut.


" Berarti empu adalah kakak seperguruan guru saya,,? " tanya Cakra.


Gantian empu Songgo Langit yang terkejut, dia tidak menyangka Cakra adalah murid dari adik seperguruannya.


" Kalau begitu apakah benar pedang di punggungmu itu pedang garuda,,? "


" Benar empu,, " jawab Cakra sambil menyerahkan pedang itu kepada paman gurunya.


Sriiiiiiing.


Kakek itu mengeluarkan bilah pedang garuda dari warangkanya.


" Pedang ini belum kehilangan keampuhannya, tapi sayang sedikit kotor, gurumu dulu lebih suka mendalami ilmu bela diri tingkat tinggi sehingga oleh eyang Rekso Nyowo di warisi pedang dan kitab garuda yang kelihatannya sudah di wariskan kepada mu, sedangkan aku yang lebih suka membuat senjata walau aku juga di bekali dengan ilmu bela diri, oleh eyang Rekso Nyowo di warisi untuk menjaga patung garuda emas ini, sekarang kedua pusaka ini telah bersatu kembali dengan menyatunya roh garuda agni dengan tubuhmu sehingga sudah selesailah tugas ku menjaga patung garuda emas ini, "


" Aku menjadi lega jika yang bisa mewarisi roh garuda agni adalah murid dari Bagaskara, semoga dengan menyatunya roh garuda agni dan pusaka pedang garuda, kesemrawutan dunia persilatan bisa kau atasai,, " ucap empu Songgo Langit penuh harap.


" Saya mohon bimbingannya eyang, " ucap Cakra merubah panggilannya setelah dia tahu beliau adalah paman gurunya.


" Ha ha ha, kau pemuda yang rendah hati,, jika kau mengijinkan, aku akan membersihkan pedang ini, untuk itu tinggal lah sebentar di padepokan ini,,! " pinta empu Songgo Langit.


Cakra belum menjawab, dia memandang teman temannya dulu meminta persetujuan.


Setelah semua menganngukkan kepala, akhirnya Cakra menerima permintaan empu Songgo Langit.


Empu Songgo Langit tersenyum lembut mendengar jawaban Cakra, namun di sini yang paling bahagia tentunya adalah Kenanga karena dia bisa berdekatan dengan Cakra, dia berjanji akan melayani Cakra beserta kawan kawannya agar dengan baik agar mereka betah di padepokan itu.

__ADS_1


Hari itu semua di antar menuju kamar peristirahatan masing masing.


__ADS_2