
Terik panas di atas bukit Menjangan tidak menyurutkan orang orang yang ada di situ untuk menyaksikan pertarungan yang sebentar lagi akan di laksanakan.
Di bukit yang tidak begitu tinggi itu sudah berdiri seorang pemuda tampan yang wajahnya putih bersih dengan rambut sebahu, badannya yang kekar di balut rompi putih tanpa lengan di padu dengan celana yang sama warnanya di tutup kain jarik coklat selutut, di punggungnya tersampir pedang bergagang kepala garuda dengan sarung berwarna merah.
Dari jauh lima orang mengawasi berdirinya pemuda itu, mereka terdiri dari kakek dewa tongkat rotan, ki Lunar, kelana, Sardi dan Kenanga.
Cakra sengaja datang lebih awal karena dia ingin mempersiapkan diri melawan guru dari Jantur.
Saat matahari tepat berada di atas kepala, serangkuman angin berhembus mengawali datangnya seorang kakek berbaju merah berikat kepala senada dengan bajunya.
" Aku akui sikap kesatria yang kau tunjukkan saat ini, sudah banyak pendekar yang hanya mendengar nama ki Ambiseno si Gagak Merah saja sudah lari terbirit birit, namun kau dengan jantan memenuhi undangan ku saat ini,, " puji ki Ambisono guru dari Jantur.
Dengan tersenyum Cakra memberi hormat kepada orang tua di hadapannya.
" Sebenarnya antara kita tidak ada permasalahan ki, jadi sebenarnya tidak perlu kita bertarung di sini,, " ujar Cakra.
" Kalau tidak bertarung terus buat apa saat ini kau datang ke sini,,? "
" Salah paham yang terjadi di desa Glagah Sari semalam perlu di luruskan ki, karena pada dasarnya yang anda bela adalah orang yang salah, "
" Ha ha ha, bagi ku murid ku memang salah, tapi sebagai seorang pendekar tidak puas rasanya jika tidak bertarung, aku tidak mungkin melewatkan bertarung dengan seorang pemuda yang sakti sepertimu, " seru kakek Ambiseno.
" Kalau memang itu kehendak kakek, aku akan meladeni, namun aku khawatir mengecewakan kakek, jadi mohon bimbingannya,, " jawab Cakra.
Ki Ambiseno yang memiliki dasar tenaga dalam sama seperti Cakra dari dalam tubuhnya muncul pusaran angin berwarna hitam yang membumbung tinggi layaknya tiang langit.
Tidak ingin tertekan dengan pusaran tenaga dalam lawan, dari tubuh Cakra juga muncul pusaran angin berwarna biru namun bentuknya bulat mengelilingi tubuh Cakra menjadi perisai serangan lawan.
Keduanya bergerak maju, kedua pusaran angin bertemu dan terjadi gesekan, dua pusaran angin yang seakan memadat itu tidak mau menjadi satu, keduanya saling menekan dan mendorong hingga dari jauh tidak terlihat dua sosok di dalamnya namun yang terlihat hanya dua angin raksasa berbentuk dan berwarna berbeda saling menekan.
Saling menekan itu terus terjadi, hingga kedua sosok di dalamnya menambah ukuran angin di sekitarnya.
Wuuuuuuuuuuuusssss.
Kedua angin itu membesar dan hilang bersamaan, bertepatan dengan itu, dua sosok langsung membenturkan pukulan tangan kosong ke arah lawannya masing masing.
Deeeees.
Duuuuuuk.
Cakra yang menggunakan jurus Cakar garuda membelah badai mampu di reda oleh jurus Cakar gagak menghujam bumi, kedua jurus cakar itu menyambar nyambar dengan cepat ke bagian tubuh lawan, namun belum ada satu pun dari keduanya yang mampu membuat lawannya terluka.
Jurus Cakar garuda membelah badai milik Cakra yang semakin sempurna setelah di gembleng oleh roh garuda agni memiliki sedikit kelebihan pada kekuatan cakaran yang disertai angin dan kecepatan, hal ini membuat Gagak merah sedikit menghindari benturan langsung dengan tangan Cakra.
Ki Ambiseno tidak menyangka jika lawannya yang masih muda itu memiliki kekuatan yang luar biasa, dia yakin jika anak muda ini belum mengeluarkan seluruh kemampuan dan tenaga dalamnya.
__ADS_1
Memang nyatanya seperti itu, Cakra belum mengeluarkan semua tenaga dalamnya karena dia ingin mengalahkan kakek itu tanpa harus membunuhnya.
Pengalaman bertarung ki Ambiseno menutupi kekurangannya, walau gerakannya masih sedikit lambat di banding Cakra dia mampu memberi perlawanan kepada Cakra.
Dia selalu mengarahkan serangan cakarnya ke arah wajah maupun perut sehingga membuat Cakra selalu kerepotan, apalagi banyaknya gerakan tipuan yang di lancarkan oleh ki Ambiseno menjadikan Cakra harus cepat menutup celah pertahanannya.
Wuuuuuushh.
Serangan tangan kanan ki Ambiseno datang dari arah bawah mengarah perutnya, dengan sigap tangan kiri Cakra hendak menangkis, namun saat perhatian Cakra hanya menuju serangan dari bawah, dari arah lain tangan kiri ki Ambiseno mengarah ke wajah Cakra.
Beruntung Cakra sempat memundurkan wajahnya menghindari cakaran itu, sedangkan ki Ambiseno setelah serangannya meleset, dia tidak mengendurkan serangan, dia mengirimkan tangan kanannya lurus ke dada Cakra, dengan cekatan Cakra mengegoskan badannya ke samping kiri, kemudian hendak meraih tangan kanan lawan yang terulur.
Belum sempat Cakra mampu meraih tangan itu, ki Ambiseno telah dengan cepat menarik pulang serangannya, kemudian keduanya bersalto ke belakang dua kali untuk menjaga jarak.
" Aku akui kau memang hebat anak muda, sampai saat ini belum ada serangan ku yang bisa melukaimu,, " ucap ki Ambiseno.
" Saya kira kita bertarung dengan seimbang kek, jadi tidak perlu kita lanjutkan pertarungan ini,, " ujar Cakra.
" Ha ha ha ha , apa kau kira tubuh tua ku ini sudah tidak mampu meladeni tenaga muda mu itu pemuda, justru saat ini aku sangat bersemangat bisa bertarung dengan mu,, "
Cakra hanya geleng geleng kepala, baru kali ini dia menghadapi sikap pendekar golongan tua yang aneh yang bertarung bukan karena ingin mengalahkan namun karena kepuasan, dia kehabisan kata kata untuk menjawab perkataan ki Ambiseno atau Gagak Merah itu.
Ki Ambiseno semakin terkekeh melihat kebingungan Cakra.
Sepasang sayap berwarna hitam telah terkembang dari punggung ki Ambiseno, sayap yang hampir sama dengan yang di miliki oleh Cakra, ki Ambiseno mengepak kepakan ke dua sayapnya, dari kepakan itu muncul angin yang menderu deru ke arah Cakra, Cakra yang belum siap hanya menyilangkan tangannya untuk melindungi wajahnya.
Angin itu semakin lama semakin kencang, tubuh Cakra terdorong mundur, Cakra menguatkan posisinya, di tekuknya kaki kanan yang ada di depan dan kaki kiri lurus agak ke belakang, sehingga posisinya tubuhnya agak rendah condong ke depan.
Tapi kuatnya angin yang di hasilkan oleh kepakan sayap Ki Ambiseno semakin kuat, sehingga tubuh Cakra masih terus terdorong, kaki kirinya sampai masuk ke dalam tanah sedalam pergelangan kaki, beberapa pohon yang ada di belakang Cakra sampai tercabut dari akarnya dan terlempar jauh dari tempatnya.
" Jika aku terus seperti ini bakal porak poranda tempat ini,, " gumam Cakra dalam hati.
Cakra tidak ingin bermain main lagi, dia keluarkan juga sayapnya, dengan sayap itu, dia mendorong tubuhnya melesat ke arah ki Ambiseno menerobos kencangnya angin yang di hasilkan kepakan sayap ki Ambiseno.
Ki Ambiseno yang awalnya merasa di atas angin menjadi terkejut karena Cakra mampu menerobos kencangnya angin yang di ciptakan nya, bahkan dengan cepat Cakra mampu mengirimkan pukulan ke arah dadanya, dengan segera ki Ambiseno menangkis pukulan itu, akibatnya berhentilah deruan angin yang dia ciptakan.
Saat angin itu berhenti membuat gerakan Cakra semakin bebas, kini tidak hanya tangan dan kakinya yang dia gunakan untuk menyerang lawan, namun sayapnya pun dengan leluasa mampu memberi serangan serangan berbahaya bagi lawannya.
Cara bertarung yang sangat berbahaya karena semua bagian tubuhnya bisa menjadi senjata, hal ini baru di dapatkan oleh Cakra setelah bertarung dengan roh garuda agni.
Ki Ambiseno sangat kerepotan menghadapi perlawanan pemuda di depannya ini, harus dia akui jika pemuda ini kemampuannya berada di atasnya.
Sriiiiiingg.
Deeees.
__ADS_1
Karena tidak punya kesempatan menghindar dari serangan Cakra, Ki Ambiseno mengeluarkan senjata pusaka nya yang berupa besi sepanjang dua jengkal berbentuk cakar gagak berwarna merah untuk menangkis serangan Cakra, benturan dengan pusaka berbentuk cakar itu membuat Cakra terdorong ke belakang sebanyak tiga langkah.
Ki Ambiseno langsung menyerbu Cakra, dengan senjatanya Ki Ambiseno semakin gencar menyerang, kilatan kilatan cahaya merah menyambar nyambar tubuh Cakra, namun Cakra masih mampu menghindari semua serangan itu, dia masih belum berniat menggunakan tombak bayu angkasa maupun pedang garuda untuk mengimbangi serangan lawan.
Dengan gerakannya yang semakin cepat membuat Cakra mampu meladeni serangan ki Ambiseno, walau kini jangkauan serangan ki Ambiseno semakin lebar namun masih sulit baginya untuk melukai Cakra.
Jari jari tangan Cakra yang kaku membentuk cakar semakin keras layaknya besi mencoba memapaki pusaka milik ki Ambiseno.
Duaaar.
Duaaaar.
Dua kekuatan dahsyat bertemu membuat keduanya terpental ke belakang, namun keadaan Cakra lebih parah karena dia merasakan dadanya sesak karena besarnya pengaruh pusaka yang ada di tangan ki Ambiseno.
Cakra kemudian mencoba jurus barunya, jurus pukulan agni, dia pusatkan tenaganya ke telapak tangan kanan yang dia letakkan di dadanya, perlahan telapak tangan kanan itu berkilauan karena muncul cahaya biru muda, ki Ambiseno pun juga sudah menyiapkan pukulan gagak wesi, sebuah pukulan pamungkas yang dari dulu menjadi andalan ki Ambiseno bahkan nama kelompoknya di namai sesuai nama jurus itu.
Hiyaaaaaat.
Duuuuuuuarrr.
Dua orang itu menghentakkan masing masing pukulannya sehingga cahaya biru dan cahaya hitam berbenturan di tengah tengah mereka mengakibatkan ledakan yang cukup keras.
Tanah di bawah bertemunya dua cahaya tadi sampai berlubang cukup lebar dengan dalam satu tinggi manusia.
Yang mengejutkan lagi, dua orang yang mengirimkan pukulan tadi sama sama terpental ke belakang sampai jauh, Cakra sampai bergulingan di tanah kemudian dia duduk bersemedi menghilangkan efek panas di dadanya dari efek benturan pukulan tadi.
Sedangkan tubuh Ki Ambiseno tetap meluncur dan baru berhenti setelah membentur batu besar di belakangnya, dari mulutnya banyak keluar darah segar, sampai dia kesulitan untuk bangkit lagi sehingga dia hanya berbaring di situ.
Setelah keadaan Cakra membaik, di segera melesat ke arah Ki Ambiseno untuk melihat kondisinya, melihat ki Ambiseno terluka parah, Cakra langsung menolong kakek itu dengan menyalurkan tenaga dalamnya.
Tidak lama, rombongan kakek dewa tongkat rotan mendekati dua orang yang baru bertarung itu.
Mereka melihat senyum di bibir ki Ambiseno, setelah mendapat pertolongan Cakra wajahnya kini sudah tidak pucat lagi.
" Cukup pemuda, aku sudah baikan,, " ucap ki Ambiseno.
Cakra menghentikan penyaluran tenaga dalamnya, kemudian duduk di depan ki Ambiseno.
" Aku sangat senang sekali bisa bertarung dengan mu, aku berjanji jika Jantur tidak akan lagi mengusik ketenangan desa Glagah Sari lagi dan aku akan mendidik murid murid ku menjadi kesatria tangguh yang berbudi baik sepertimu,, " ucap ki Ambiseno.
Semua yang mendengar kata kata itu yang awalnya masih tegang kini dari wajah mereka tergambar kelegaan, mereka tidak menyangka hasil dari pertarungan itu menjadikan perubahan yang baik.
Begitu pun dengan Cakra, dia merasa bersyukur kepada Sang Hyang Widi karena telah memberi kesadaran kepada ki Ambiseno itu.
Siang itu mereka meninggalkan bukit Menjangan dengan hati yang lega.
__ADS_1