
Pagi yang cerah terselimuti cahaya mentari yang megah, di halaman kerajaan Siluman Kera telah dipadati oleh para prajurit yang berbaris rapi dengan memakai berbagai bentuk dan warna baju zirah.
Sengaja Cakra membedakan baju zirah yang di gunakan oleh para prajurit kerajaan Siluman Kera untuk memudahkan mengenali mereka dari kelompok apa.
Pasukan dengan baju zirah merah dengan senjata pedang di gantungkan di pinggang mereka sebagai pasukan lini depan yang bisa bergerak dengan cepat memporak porandakan pertahanan lawan dan memberikan kesempatan kepada pasukan di belakangnya yang menggunakan zirah berwarna kuning cerah.
Pasukan berbaju zirah kuning yang walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak di bandingkan dengan kelompok pasukan lainnya, namun kelompok itu di isi oleh para prajurit pilihan yang memiliki kanuragan tinggi, mampu bertempur dengan tangan kosong maupun menggunakan berbagai senjata, pasukan inilah yang paling di takuti oleh lawan karena kemampuan satu orang setara dengan lima belas orang prajurit biasa.
Kelompok lainnya adalah kelompok berbaju zirah biru muda, mereka adalah para prajurit pemanah, selain kuat di pertahanan mereka juga cepat dalam perpindahan tempat sehingga selain sebagai pasukan pertahanan kadang mereka juga bertugas sebagai telik sandi kerajaan.
Yang terakhir adalah kelompok pasukan yang berbaju zirah hitam, mereka kokoh dan kuat dalam pertahanan layaknya batu karang yang tegar walau di gempur ombak lautan, senjata tombak mereka yang runcing membuat siapa pun yang datang menggempur mereka harus bersiap merelakan tubuhnya tertancap tombak.
Barisan prajurit di pagi itu bukan karena kerajaan Siluman Kera hendak bersiap menghadapi lawan namun mereka semua bersiap untuk melepas kepergian raja mereka yang hendak pulang menemui orang tua meminta restu untuk memenuhi undangan kakek Sabuk Baja bertarung di bukit Harimau nantinya.
Selain para pasukan yang memadati halaman kerajaan itu, para warga juga banyak yang berbondong bondong ikut berdesak desakan di tempat itu, mereka sangat ingin melihat secara langsung raja mereka yang walau dari golongan manusia namun mampu memimpin kerajaan ini dengan baik, dari berbagai kebijakan yang di keluarkan oleh Cakra terbukti menjadikan mereka merasa aman, dari pada dahulu yang sering dihantui rasa takut jika sewaktu waktu di serang oleh musuh sehingga mereka tidak tenang saat beraktifitas di luar, tapi saat ini merasa aman, hal ini juga di tunjang oleh pembangunan irigasi dan jalan sehingga memudahkan mereka untuk bekerja.
Akhirnya apa yang di lakukan oleh Cakra membuat dirinya sangat di cintai oleh rakyat di kerajaan Siluman Kera.
***
Tok tok tok...
" Kanda,, cepat keluar..!! sudah di tunggu prajurit dan rakyat mu di luar,, " teriak Kenanga di balik pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam ruangan membuat wajah cantik Kenanga menjadi cemberut.
Di ketok nya pintu itu lebih keras, namun di ketokan terakhir pintu itu terbuka sehingga tangan halus yang tadi mengetok pintu justru hampir mengenai wajah Cakra yang tadi membuka pintu.
Thaaaap.
Sigap Cakra menangkap pergelangan tangan yang halus itu sebelum mengenai wajahnya.
Dengan Cepat Cakra menarik tangan itu sehingga tubuh pemilik tangan itu ikut tertarik ke depan membentur tubuh Cakra yang kemudian langsung di dekap dengan erat oleh Cakra.
Sejenak wajah cantik itu terbentur di dada bidang Cakra, namun Kenanga justru membenamkan wajahnya di dada itu, rasa nyaman dan tenang di rasakan oleh Kenanga.
Tapi saat dia merasakan degup jantung pemuda itu yang semakin cepat membuat dia tersadar dan segera berusaha melepaskan diri dari pelukan Cakra.
" Lepaskan kakang,,!! kita sudah di tunggu oleh prajurit di depan,, " ketus Kenanga walau di dalam hati dia merasa senang.
__ADS_1
" Tidak dinda, aku ingin seperti ini lebih lama,, " ucap Cakra pelan.
" Hiiiiiih, kalau mau seperti ini, minta restu dulu kepada orang tuamu,,! " sahut Kenanga.
Cakra kemudian diam dan melihat mata gadis di depannya.
" Ya sudah kalau begitu ayok,,,! " ucap Cakra sambil berjalan menyeret Kenanga ke depan.
Sampai di halaman kerajaan Cakra di buat terkejut karena dia tidak menyangka jika para prajurit dan rakyat yang berada di halaman itu begitu banyak, bahkan hampir semua petinggi kerajaan juga ikut hadir di halaman kerajaan itu, hal ini membuat Cakra menjadi heran.
" Ada apa ini eyang kok semua sudah berbaris rapi di sini, apakah kita mau perang,,? " tanya Cakra kepada resi Bayushuta.
" Tidak nak mas prabu, mereka semua di sini karena ingin melepas kepergian nak mas, mereka ingin melepas kepergian nak mas dengan mendoakan nak mas agar selamat di perjalanan nantinya dan kembali ke kerajaan ini untuk memimpin mereka,, " ujar resi Bayushuta.
" Tapi tidak harus sampai seperti ini eyang,, " tukas Cakra.
" Ini semua keinginan mereka sendiri nak mas, jadi sebaiknya nak mas tidak mengecewakan mereka,,!! " jawab resi Bayushuta.
" Ah baiklah,, " ujar Cakra menyerah.
Dengan perlahan Cakra maju ke depan, dia tidak menyangka jika ada acara seperti ini sehingga dia hanya mengenakan pakaian pendekarnya tidak menggunakan pakaian kerajaan, namun dia harus tetap terlihat berwibawa di depan prajurit dan rakyatnya.
" Aku menitipkan kerajaan ini kepada kalian semua selama aku pergi, janganlah kalian suka bermusuhan dengan teman kalian sendiri, jangan lah kalian ingin menguasai kekayaan hanya untuk diri sendiri dan jangan kalian berlaku tidak adil sesama kalian sendiri agar kalian semua tidak mendapatkan murka dari Dewata Agung,, " seru Cakra.
Semua mendengarkan pesan pesan dari Cakra dengan seksama, dalam hati mereka memiliki tekad untuk selalu mengikuti apa yang telah raja mereka pesankan.
Satu persatu dari petinggi kerajaan menyalami Cakra, mereka mengucapkan selamat jalan dan mendoakan keselamatan Cakra.
Tidak lupa raja Siluman Rubah Putih juga berpamitan untuk kembali ke kerajaannya lagi.
Semuanya sudah bersiap, sedangkan raja Siluman Rubah Putih sudah menaiki kereta kencana milik kerajaan Siluman Kera di kawal oleh prajurit Siluman Kera.
Kenanga segera mendekati Cakra yang masih sibuk berbincang dengan para petinggi kerajaan.
" Kakang,, naik apa kita perjalanan nanti, kalau kita jalan kaki pasti waktu kita tidak cukup sampai tepat waktu,, " ujar Kenanga yang bingung karena di tempat itu tidak ada kuda yang tersedia untuk perjalanan mereka.
" Tenang saja dinda, kita pasti sampai tepat pada waktunya,, " ujar Cakra menghibur Kenanga.
Kenanga yang mendapati jawaban yang kurang memuaskan hanya bisa kembali duduk di kursinya dan diam.
__ADS_1
Sejenak setelah dirasa cukup memberikan petunjuk petunjuk selama dia tidak ada di kerajaan itu kepada para petinggi kerajaan, Cakra segera menghampiri Kenanga.
" Ayo dinda kita berangkat,,! " ajak Cakra.
Kenanga tidak segera berdiri dari kursinya, dia diam sebentar kemudian dengan malas baru berdiri kemudian mendekatkan mulutnya di telinga Cakra dan berbisik.
" Aku tidak mau jika jalan kaki,, "
Dengan lembut Cakra tersenyum.
" Tenang saja Dinda, aku tidak akan membiarkan bidadariku kelelahan berjalan. "
Kemudian Cakra memusatkan tenaganya, dari dalam kening Cakra menyembul batu mustika Sodo Jagad yang telah menyatu di dalam tubuhnya, perlahan gumpalan energi keluar dan membentuk burung garuda yang berukuran cukup besar.
Besar tubuh burung Garuda itu hingga menutupi seluruh panggung yang berukuran empat tombak.
Hampir semua yang melihat munculnya burung Garuda itu merasa ketakutan, mereka khawatir jika burung raksasa itu menyerang mereka.
Khaaaaak....
Suara burung yang keras memekik membuat semua yang hadir langsung berusaha meredam kerasnya suara dengan menutupi telinga dengan kedua tangan mereka.
" Janganlah kalian takut, burung ini berada di pihak kita,, " ucap Cakra sambil mengelus leher burung itu.
Semua yang mendengar titah raja mereka menjadi tenang dan kembali ke barisan mereka masing masing.
Dengan ringan Cakra melompat keatas tubuh burung itu, kemudian dia menoleh kearah Kenanga yang masih berdiri terpaku melihat burung garuda yang begitu besar.
" Kenapa hanya bengong, katanya ingin aku perkenalkan kepada orang tuaku,,?, ayo kita berangkat,,,! " ujar Cakra kepada Kenanga.
Kenanga gelagapan mendapat ajakan itu, sejenak dia salah tingkah, namun kemudian dia ikut lompat ke atas punggung burung garuda.
Cakra hanya tersenyum melihat Kenanga sudah berada di belakangnya.
" Saatnya kami berangkat, jaga diri kalian baik baik,, " ucap Cakra kepada semua yang mengantar kepergiaannya.
Cakta menepuk leher burung garuda itu dengan lembut, seakan mengerti burung garuda itu segera mengepakkan sayapnya melesat ke angkasa yang hanya sekejap saja sudah membumbung tinggi sampai tidak terlihat.
Mendapati pemandangan itu, semua yang hadir hanya bisa menggeleng gelengkan kepala seakan tidak percaya terhadap apa yang telah di lihatnya, sebagian semakin kagum akan kesaktian yang di miliki oleh raja mereka.
__ADS_1