
Pagi sekali pasukan Sangga Bhumi telah melanjutkan perjalanan mereka, mereka bersemangat karena perjalanan mungkin tinggal satu hari saja sudah sampai ke hutan Gondo Mayit, mereka sudah tidak sabar membumi hanguskan hutan Gondo Mayit beserta penghuninya.
Perjalanan itu tanpa halangan sekalipun karena tidak ada seorang pun yang berani mendekat, bahkan para perampok yang biasanya mencari mangsa di tepi tepi jalan sekarang mereka menghindar memasuki wilayah hutan yang terdalam.
Sedikit demi sedikit mereka telah hampir sampai di hutan Gondo Mayit, mereka hanya tinggal berjalan sebentar untuk sampai ke tepi hutan Gondo Mayit, namun karena matahari sudah condong ke barat dan pasukan mereka telah lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah hutan kecil di sana.
Malam itu sebelum mereka benar benar menyerang musuh mereka melakukan pesta minuman keras lagi, mereka bersenang senang sambil memakan daging bakar yang mereka bawa dari Gading Padas.
Tanpa mereka sadari sekelompok orang sedikit demi sedikit meninggalkan mereka, akhirnya bertemu di salah satu tempat di tepi hutan Gondo Mayit, sekelompok prajurit yang berjumlah seribu itu adalah para warga yang di paksa ikut berperang, mereka kini memisahkan diri dan di sambut Cakra, karena memang ini adalah salah satu rencana Cakra.
" Bagaimana keadaan di sana,? " tanya Cakra.
" Para prajurit kini sedang minum minuman keras, mereka banyak yang mabuk sehingga kita lebih leluasa untuk pergi dari sana. " jawab Pradipa pimpinan prajurit itu.
" Kalau begitu ini waktu yang tepat untuk memberi kejutan kepada mereka,, " ucap ki Sarjo.
" Benar usulmu ki, kita serang mereka secara mendadak, kemudian kabur ke tengah hutan, ingat kita di sini hanya mengulur waktu sambil menghabisi sebanyak banyaknya prajurit lawan. " jawab Cakra.
" Prajurit yang baru datang sebaiknya masuk kedalam hutan dulu, agar saat kita mundur nanti mereka sudah aman,,! lanjut Cakra.
Akhirnya Cakra di temani putri Kencana Sari, ki Sarjo, dewa tongkat rotan, Sanja Kelana dan ki Adirojo di ikuti oleh pasukan Shindung Bawana menyerbu para prajurit yang sedang beristirahat.
Siiiiiiiiingg.
Siiiiiiiiiiiinggg
Siiiiiiiiiiiiiiingggh.
Ribuan anak panah meluncur ke arah tempat para prajurit berkumpul.
Cleeeephh
Cleeeeephhh.
Akkkhhhh.
"Serangaaaan,,,,,,, "
Teriak para prajurit penjaga yang tidak ikut mabuk.
__ADS_1
Namun terlambat, serangan anak panah itu telah sampai dan sebagian mengenai sasaran, dengan seketika paniklah para prajurit di situ mencari perlindungan, namun karena dalam keadaan mabuk mereka pun sulit mengendalikan diri sehingga dengan mudah mereka menjadi sasaran anak panah yang di lepaskan oleh Putri Kencana Sari.
Panglima Pancaka yang saat itu masih beristirahat di dalam tendanya, hampir saja terkena anak panah yang masuk di tendanya, untuk dia mampu menangkap anak panah itu sebelum tembus di dadanya, dia kemudian keluar dan meloncat ke atas pohon menangkis serbuan anak panah itu dengan tombak pusakanya.
Sebagian anak panah itu kini dapat di tangkis sehingga memberi kesempatan bagi para prajurit untuk mencari perisainya, Panglima Pancaka dengan lihai memainkan tombaknya sehingga mampu membendung serangan anak panah itu, sejenak dia melihat arah mula anak panah itu datang sehingga dia mengarahkan ujung tombaknya ke arah itu.
Duuuaaarr.
Cahaya kemerahan keluar dari ujung tombak panglima Pancaka, menghantam tepat di arah datangnya anak panah, beruntung Putri Kencana Sari mampu menghindari serangan itu, kalau tidak mungkin tubuhnya telah hancur melihat tanah tempat dia berpijak telah terdapat lubang yang cukup dalam dan besar.
Saat itu panglima Pancaka tidak menunggu lama, dia mengirimkan serangan susulan.
Blaaaarrr.
Dua pukulan bertemu di udara sehingga membuat tubuh panglima Pancaka terdorong dan jatuh dari pohon.
Di depan putri Kencana Sari kini berdiri Cakra yang sudah memakai baju zirah berwarna merah dan topeng garuda.
" Pergilah membantu yang lainnya menyerang, aku akan mengurus yang ini,, " ucap Cakra tanpa menoleh kepada putri Kencana Sari karena waspada terhadap musuh.
" Kurang ajaaar, siapa yang berani membokong panglima Pancaka, apa mau cari mati,,? " umpat panglima Pancaka.
" Kalau begitu, terima ini,,! "
Wussssh.
Tusukan tombak panglima Pancaka mengarah di dada Cakra, Cakra dengan segera mengeluarkan tombak Bayu Angkasa untuk menangkis serangan itu.
Duaaaarrrr.
Blaaaamm.
Dua senjata beradu membuat ledakan yang cukup besar, keduanya terdorong ke belakang, namun mereka berdua langsung menghambur ke arah lawan dengan cepat.
Dess deess deesss.
Suara benturan demi benturan terjadi, walau keadaan gelap namun tidak mengurangi kecepatan gerak mereka, tusukan dan sambetan tombak silih berganti menyerang lawannya, kadang mereka menghindar kadang juga menangkis dengan tombak sehingga jika kedua tombak itu beradu menimbulkan ledakan yang cukup besar.
Serangan terus terjadi sampai di jurus ke seribu dua ratus namun keduanya masih saling mendesak.
__ADS_1
Aaakkh.
Tubuh Panglima Pancaka terkena tendangan Cakra, dia terhuyung memegangi perutnya.
Wuuush.
Panglima Pancaka menyerang lebih hebat, tidak hanya serangan tombaknya yang berbahaya, namun sepakan kakinya pun mengandung tenaga dalam tinggi karena panglima Pancaka telah menggunakan jurus Gedruk bumi.
Cakra memutar mutar tombaknya sehingga menimbulkan angin yang menderu di arena pertempuran itu, dia kini melesat di ikuti angin beliung yang cukup besar, lesatan itu layaknya di dorong angin sehingga sangat cepat hingga tidak ada pilihan lain bagi panglima Pancaka selain memapaki dengan tombaknya.
Praaaak.
Sial bagi panglima Pancaka, tombak pusaka kebanggaannya telah patah menjadi dua karena tebasan bilah tombak Bayu Angkasa.
Melihat tombaknya telah patah, Panglima Pancaka melempar kedua potongan tombak itu ke arah Cakra di disertai dengan tenaga dalam tinggi.
Wwuuus.
Wuuus..
Traaaang.
Traaaaang.
Untung Cakra mampu menangkis kedua senjata yang mengarah kepadanya dengan memutar mutar tombaknya, namun saat dia mampu menangkis serangan senjata yang mengarah padanya, panglima Pancaka sudah kabur dari tempat itu.
Cakra berusaha mengejar namun dia kehilangan jejak, karena panglima Pancaka telah membaur dengan prajurit yang bertarung.
Banyak sudah prajurit Gading Padas yang telah tewas, namun karena begitu banyaknya lawan sehingga pasukan Shindung Bawana yang hanya tiga puluh lima orang itu mulai terdesak, hingga akhirnya ada tanda dari Cakra untuk mundur dari pertarungan itu.
Blaaaaaar
Blaaaaar
Blaaaaammm
Seketika beberapa pendekar yang ada di situ menyiapkan serangan terakhir untuk memberi kesempatan yang lain untuk kabur.
Saat serangan terakhir itu meninggalkan tubuh yang bergelimpangan dan debu yang pekat, anggota pasukan Shindung Bawana dengan gesit meninggalkan arena bertarung itu, mereka meninggalkan tempat yang porak poranda itu dan meninggalkan korban yang cukup banyak, kurang lebih seribu lima ratus orang binasa di tempat itu, yang paling banyak karena tertembus anak panah, di pasukan Shindung Bawana tidak seorang pun dari mereka yang menjadi korban, hanya ada tiga orang yang terluka terkena sabetan di tubuhnya.
__ADS_1