PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Perebutan Patung Garuda Emas 3


__ADS_3

" Berhenti,,! " teriak kakek tongkat naga merah.


Mendengar teriakan itu, seketika mereka menghentikan serangannya masing masing.


Kakek tongkat naga merah menatap tajam ke arah Cakra, dia melangkah mendekati arena pertarungan tadi sambil menudingkan tongkatnya ke arah Cakra.


" Apa hubunganmu dengan Bagaskara pemuda,,? " tanya kakek tongkat naga merah dengan suara yang keras.


Mendengar ada orang yang memanggil gurunya dengan namanya saja membuat dada Cakra terasa panas, namun sekuat tenaga dia tekan rasa itu agar tidak meluap menjadi amarah.


" Apakah kau mengenal guru ku itu kakek tua ,,,? " tanya Cakra untuk mengusir rasa penasarannya.


" Ha ha ha ha, jadi benar kau murid tua bangka Bagaskara itu,,,? pantas jurus jurus mu sama persis dengan nya.


Dada Cakra semakin panas mendengar ucapan tadi, namun sampai saat ini dia masih bisa menekan amarahnya.


" Kebetulan sekali, sungguh sangat kebetulan bisa bertemu dengan murid Bagaskara sehingga kita bisa menagih hutang bersama bunganya,, " ucap kakek sabuk baja.


Cakra merasa heran dengan apa yang di ucapkan dua kakek di depannya itu.


" Apa maksud ucapan kakek berdua, saya benar benar tidak paham,,? " tanya Cakra.


" Asal kau tahu pemuda,, dulu gurumu telah membunuh saudara perguruan kami, sehingga dulu kami yang di kenal tiga bersaudara sekarang hanya tinggal dua ini, tapi hutang nyawa itu telah kami tagih empat purnama kemaren sehingga sekarang kau sebagai muridnya harus membayar bunganya dengan menyerahkan nyawamu kepada kami,,,!. "


Seketika amarah Cakra langsung meluap, secara tidak sadar dia telah membuat pusaran angin yang besar mengelilingi tubuhnya, semakin lama semakin lebar membumbung tinggi, apa yang ada di sekitar Cakra telah tersapu angin itu, bahkan Sardi dan dua pendekar golongan putih beserta pengawal yang melawan mereka terdorong angin beliung itu, bahkan hampir menerbangkan mereka, akhirnya mereka sedikit demi sedikit menjauh dari Cakra.


Dua kakek di hadapan Cakra masih bertahan, dengan mengerahkan tenaga dalam mereka di telapak kaki dan sekeliling tubuh mereka membuat angin beliung itu tidak begitu berpengaruh kepada mereka.


Blaaaaaaam.


Kakek tongkat naga merah telah menusukkan tongkatnya ke tanah, sehingga tanah itu bengkah cukup lebar dan dalam menjalar ke arah Cakra.


Melihat tanah di hadapannya bengkah, Cakra melayang terbang dengan sayap yang mengembang, sedangkan baju zirah nya telah menutupi setiap bagian tubuh Cakra termasuk wajahnya yang tertutup topeng.


Angin yang mengelilingi Cakra semakin besar dan kuat, Cakra mengepakkan sayapnya secara kuat, dari kepakan ke dua sayap itu melesat bulu bulu secara cepat, ribuan bulu itu langsung menghujam ke dua kakek itu.


Baaaaam


Baaaaaaaam


Baaaaaaaaaaam.


Terjangan bulu tadi menyebabkan ledakan ledakan yang tidak berkesudahan, sepintas dua kakek itu tidak sempat bergerak sama sekali karena begitu banyaknya bulu yang mengarah kepada mereka, Cakra menghentikan serangannya dan angin beliung pun berhenti.


Kini yang terlihat adalah sisa sisa ledakan dari bulu tadi, tidak terlihat keberadaan dua kakek tadi, yang terlihat hanya cekungan tanah yang tercipta akibat ledakan, Cakra celingukan mencari kedua kakek tadi, namun dia tidak menemukan mereka.


Siiiiiing


Wuuuuuush.


Sebuah lempengan baja bergerigi melesat kearah Cakra, lempengan baja yang berputar cepat itu menerjang dari balik pohon memotong dahan dan terus melesat.


Menyadari datangnya serangan, Cakra bersalto di udara kemudian melenting terbang menuju datangnya senjata tadi.


Duaaaar.

__ADS_1


Dengan mengarahkan pukulan paruh Garuda nya, Cakra menghancurkan tempat datangnya serangan.


Dua bayangan kakek melesat berlainan arah menghindari serangan Cakra kemudian Cakra mendarat di tengah antara kedua kakek tadi.


" Tidak ku sangka murid Bagaskara bisa memberi serangan sehebat ini, kita coba berapa lama dia bisa bertahan. "


" Ha ha ha, benar kakang, sejauh ini dia cukup menghibur, ayo kita ajak main main pemuda ini kakang,,! " ucap kakek sabuk baja.


Setelah mereka berbicara, mereka langsung melesat ke arah Cakra.


Cakra yang sudah bersiap dengan kuda kudanya, mencoba meladeni serangan dua arah dari kakek lawannya.


Tiba tiba di tangan kirinya sudah menggenggam tombak bayu angkasa untuk menangkal serangan tongkat dari kakek tongkat naga merah, sedangkan di tangan kanannya sudah terhunus pedang garuda untuk meladeni serangan lempengan baja di tangan kakek sabuk baja, memang lempengan baja berbentuk lingkaran bergerigi ini cukup istimewa, selain bisa di lemparkan juga bisa berfungsi sebagai tameng dan senjata di tangan untuk menambah daya serang.


Traaaangg.


Taaaaangg..


Duuaaaaarrr.


Dua serangan menekan Cakra menimbulkan ledakan yang cukup besar membuat tubuh Cakra mencelat, melihat tubuh Cakra yang mencelat itu, dua kakek langsung memburu untuk menghantamkan dua senjata mereka ke dada Cakra.


Duaaaar.


Tubuh Cakra meluncur lebih cepat, tapi beruntung bagi dia saat senjata itu hampir menghantam dadanya, Cakra sudah menyilangkan senjata sebagai tameng, sehingga selamat lah Cakra dari luka dalam, walau baju zirah Cakra mampu meredam pukulan, namun dengan dua serangan yang besar seperti tadi bisa di pastikan akan membuat Cakra terkapar.


Dua kakek yang saat ini terlihat tidak tahu malu karena menyerang seorang anak muda bersamaan itu malah terlihat kegirangan karena merasa di atas angin, hanya tinggal menunggu waktu untuk melenyapkannya.


Melihat lawannya tertawa seperti itu, di mata Cakra terbayang sosok guru yang sangat menderita akibat luka luka di tubuhnya, dia juga membayangkan detik detik terakhir kematian gurunya di tangan pendekar laknat seperti mereka.


Dari kedua tangan yang memegang senjata itu kini mengalir kilat kilat kecil yang membungkus tombak dan pedangnya.


Craaat.


Craaaat.


Kilatan kilatan petir kecil itu terlihat cukup menyilaukan sehingga membuat gentar orang orang yang melihatnya, namun hal ini tidak berlaku bagi dua kakek lawan Cakra.


Cakra berpikir jika menyerang mereka berdua maka akan sulit bagi Cakra untuk mengalahkan lawannya, maka Cakra mencoba mengincar salah satu dari kakek itu.


Cakra melesat menyerang kakek tongkat naga merah menggunakan serangan kombinasi dua senjata.


Serangan serangan bervariasi itu membuat kakek tongkat naga merah cukup kerepotan, tongkatnya yang di putar cepat tidak mampu menghalau sabetan tombak bayu angkasa, sehingga mengharuskan dia mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.


Tapi Cakra tidak melepaskan lawannya, dia terus memburu lawannya dan bersiap menebaskan pedang garuda kearah kepala kakek tongkat naga merah.


Traaaaang.


Belum sempat Cakra menebaskan pedangnya, dari arah samping meluncur lempengan baja, mau tidak mau Cakra harus menghindar sehingga gagal lah niat Cakra untuk menyelesaikan pertarungan dengan kakek tongkat naga merah.


Dalam hati Cakra mengumpat karena serangannya gagal.


" Ha ha ha, sejauh ini, Bagaskara cukup berhasil mendidik muridnya, namun sayang sebentar lagi kau akan mati,, " ucap kakek tongkat naga merah merasa senang, dia sama sekali tidak gentar walau sebelumnya kepalanya terancam pisah dari tubuhnya.


" Jangan banyak membual kek, buktinya tadi kau hampir kehilangan kepala jika tidak di tolong oleh kawanmu itu,, " ucap Cakra sambil menunjuk kakek sabuk baja.

__ADS_1


" Ha ha ha, sekarang istirahatlah sabuk baja, biarkan aku memberi pelajaran pada bocah ini, di kira dia bisa mudah membunuhku tadi,, " ucap kakek tongkat naga merah jumawa.


"Silahkan kakang silahkan, aku akan sangat menikmati hiburan ini kakang. "


Kakek tongkat naga merah langsung memutar-mutar tongkatnya, dari putaran itu muncul hawa panas yang menyebar ke sekitar tempat itu, hawa panas yang menyebar itu mampu membuat daun daun pohon menjadi layu dan kering.


Dengan sepenuh tenaga Kakek tongkat naga merah melesat menusukkan ujung tongkatnya yang runcing.


Wuuuuuush.


Kecepatan kakek tongkat naga merah sangat luar biasa, serangan yang sulit di ikuti mata itu meluruk langsung ke arah Cakra,


Tusukan tongkat yang hampir sampai ke dada Cakra itu oleh Cakra di halau dengan tombak di tangan kirinya, sedangkan pedang di tangan kanannya menebas ke leher kakek itu, dengan lihai kakek tongkat naga merah menghindari sabetan itu dengan menundukkan kepalanya sedikit hinga pedang itu hanya sedikit menyentuh ujung rambut kakek tongkat naga merah.


Setelah serangannya di hindari Cakra memanfaatkan kakinya untuk menendang wajah lawannya yang menunduk.


Des.


Tendangan itu di tangkap dengan tangan kiri, sehingga laju tendangan Cakra berhenti.


Kakek tongkat naga merah mencoba membalas serangan Cakra dengan menarik pergelangan laki Cakra dan menusuk lurus tongkatnya.


Cakra menghindari tusukan tongkat itu dengan menarik tubuhnya ke belakang kemudian berputar sehingga pegangan tangan di kaki Cakra terlepas dan Cakra mencoba menjejakkan kakinya ke perut lawan namun masih bisa di hadang dengan tongkat di tangan lawannya.


Tubuh Cakra terlontar ke belakang kemudian bersalto dan berdiri sempurna di atas tanah.


Dua duanya kini melesat bersama, sekejap terjadi pertarungan tingkat tinggi yang sangat dahsyat, Sardi dengan kedua pendekar golongan putih kini menjauh dari tempat Cakra bertarung, mereka masih bertarung melawan delapan pengawal kakek tongkat naga merah, mereka bertempur dengan mengeluarkan segenap kekuatan untuk segera menghabisi lawan.


Pertarungan Cakra dengan kakek tongkat naga merah terjadi dengan cepat, serangan serangan mereka yang menggunakan jurus tingkat tinggi mengakibatkan tempat di sekitar menjadi porak poranda, hampir dua ribu jurus telah mereka lewati, pertarungan itu masih terlihat imbang, belum ada tanda tanda salah satunya terdesak.


Kakek tongkat naga merah merasa harus segera mengakhiri pertarungan itu jika tidak ingin napas tuanya semakin habis.


Dia menjauh dari jangkauan Cakra, hal ini di manfaatkan Cakra untuk mengisi kembali tenaga dalamnya dengan memasukkan udara sebanyak banyaknya ke dalam tubuh.


Kakek tongkat naga merah menancapkan tongkatnya di tanah, kemudian dia duduk bersila dan merapatkan kedua tangannya, sekejap tubuhnya bergetar cukup hebat, dari atas kepala muncul asap tipis menandakan besarnya tenaga dalam yang dia gunakan.


Perlahan dari kepala tongkat yang berbentuk kepala naga, mulutnya mengeluarkan asap merah pekat yang membumbung ke angkasa, perlahan asap itu memadat membentuk seekor naga yang cukup besar ukurannya, naga merah yang baru keluar ini adalah roh naga yang di masukkan kedalam tongkat setelah naga itu kalah bertarung dengan seorang kakek ribuan tahun yang lalu.


Cakra sedikit terkejut melihat penampakan naga yang mengerikan itu.


Naga itu langsung meluncurkan moncongnya ke arah Cakra seakan hendak memakannya, namun Cakra segera menghindari dengan terbang ke angkasa, tapi gerakan naga yang gesit masih terus berusaha mengejar Cakra yang terbang, Cakra terbang sambil menghindari serangan moncong naga juga menelusuri setiap inci tubuh naga untuk mencari kelemahannya.


Cakra berkali kali memukulkan tombaknya maupun menggoreskan pedangnya ke tubuh naga, namun hasilnya sia sia semua pukulan dan sabetan seakan tidak berakibat apa apa di tubuh naga, justru kini moncong naga mulai datang lebih dekat di bagian tubuh Cakra.


Merasa moncong naga sudah hampir menyentuh tubuhnya, Cakra membalikkan badan dan menahan laju kepala naga itu dengan tombaknya.


Karena kuatnya naga, membuat tubuh Cakra tetap terdorong, dia berusaha menahan sekuat tenaga namun pertahanannya tetap jebol sehingga tombaknya terlempar dan moncong naga itu menabrak dada Cakra yang terbuka, kuatnya hantaman itu membuat baju zirah Cakra retak retak.


Sardi yang melihat kejadian itu melesat berusaha menolong Cakra, saat dia hampir sampai di dekat Cakra, terjadi ledakan cukup keras.


Blaaaaar.


Baju zirah Cakra pecah tubuh Cakra terpental ke belakang menabrak Sardi yang ada di belakangnya.


Sebelum dua tubuh itu jatuh ke tanah, dua bayangan menangkap tubuh mereka dan membawanya lari.

__ADS_1


Kakek tongkat naga merah mengetahui musuhnya telah sirna membuat dia marah marah, dia menarik lagi jurusnya dan melampiaskan kekesalan hatinya dengan membunuh pendekar celurit kembar dan pendekar gua sanca dengan sadis.


__ADS_2