PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Lautan Api di Hutan Murwo


__ADS_3

" He he he, enak sekali kau sore sore begini menggendong gadis cantik,, " ucap Remboko sambil mensejajari lari ki Sudir yang menggendong Kenanga di pundaknya.


" Tenang saja Rumboko, nanti kau juga dapat bagian juga kan, yang penting kita segera sampai di markas kita,, "


Keduanya kemudian tertawa terbahak bahak kemudian mereka meningkatkan kecepatannya agar segera sampai ke markas mereka.


Tidak lama mereka sudah memasuki hutan Murwo, mereka langsung menuju sebuah jurang yang lebat tanamannya, setelah melewati jalan setapak yang berbelok belok sampailah mereka di sebuah bangunan kayu yang kokoh dan cukup besar, karena tempatnya yang tersembunyi, tidak ada yang menyangka jika di sana ada bangunan berpenghuni kecuali orang orang yang sudah terbiasa ke tempat itu.


" Gadis ini sungguh cantik, tubuhnya juga berisi, aku tidak sabar untuk menikmatinya, " seru Remboko setelah melihat Kenanga di baringkan di sebuah ranjang.


" Huuush, jangan berpikir macam macam kau, rencana ku gadis ini akan kita kasihkan kepada ketua, agar ketua senang sehingga kita menjadi orang kepercayaan di wilayah ini, jika kita sudah menjadi orang kepercayaan ketua maka kita tinggal memilih gadis yang kita mau di desa desa sekitar sini,, " ucap Ki Sudir menjelaskan rencanannya.


" Ah, sial, rugi sekali aku, ada gadis di depan mata namun tidak bisa menikmati. "


Tok tok tok.


Tiba tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.


Seketika dua orang yang ada di dalam langsung menghentikan pembicaraan mereka, mereka hening mencari tahu siapa yang telah mengetuk pintu.


Rumboko mengintip dari balik dinding kayu yang berlubang, namun dia hanya melihat bagian dada orang yang ada di luar tanpa mampu melihat wajahnya.


" Siapa,,,? " tanya ki Sudir.


Rumboko tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


" Kita buka bersama, jika dia musuh kita bisa langsung menyerang mereka,, " ajak ki Sudir.


Keduanya berdiri di balik pintu bersiap siap membuka pintu bersiap memukul orang yang ada di dalam secara bersamaan.


Krieeeet.


" Ehh , tunggu kakang, jangan pukul aku, " seru orang yang ada di luar rumah.


Keduanya mengurungkan pukulannya.


" Aku kira siapa, ternyata kau tho Mardi,, untung saja tadi kami bisa menahan diri, jika tidak sudah babak belur mukamu,, " ucap Remboko.


Mardi hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Ada apa kau kesini,,? " tanya Ki Sudir setelah Mardi memasuki rumah.


" Begini ki, aku kesini mau menyampaikan perintah jika ki Sudir dan Remboko di suruh menghadap saat ini juga karena ada kunjungan dari ketua pusat,, " ungkap Mardi.


" Apa, ada ketua pusat datang ke sini,,? kira kira siapa yang kesini ,,? " tanya ki Sudir.


" Aku sendiri juga tidak tahu karena ketua menerima tamu di dalam ruangan tertutup jadi aku tidak tahu. "


" Ah sudah lah, kau balik saja dulu, nanti kami menyusul,, " ucap ki Sudir.


" Bagaimana ki,,? " tanya Remboko.


" Ya kita harus segera ke markas utama karena kita sudah di tunggu oleh ketua,, "


" Terus gadis ini bagaimana ki ,, "


" Kita tinggal saja dulu di sini nanti malam kita undang ketua kesini untuk menikmatinya, dia sudah aku totok jadi tidak mungkin bisa melarikan diri,, "


" Baiklah ki, aku akan menempatkan anak buahku untuk menjaga tempat ini,, "ucap Rumboko.


" Bagus, ayo kita bersiap menghadap ketua, jangan sampai kita kena marah karena terlambat. "


***


Cakra melesat cepat menuju arah yang di tunjukkan oleh pelayan di rumah ki lurah, dia mendapati terdapat jejak dua orang masuk ke hutan Murwo.


Larinya semakin cepat karena hatinya tidak tenang memikirkan keselamatan Kenanga yang saat ini berada di tangan orang yang sudah jelas memiliki niatan yang tidak baik.


Slaaaph.


Sekejap dia sudah hinggap di sebuah pohon yang tinggi dan rindang, dia pelajari situasinya dahulu yang ternyata masih aman sehingga dia bergegas melesat mengikuti jejak penculik Kenanga.


Cakra kembali berhenti di atas pohon, dia kehilangan jejak larinya penculik itu, diamati sekelilingnya, namun jejaknya terputus di tengah jalan.


Di tengah kebingungannya mencari jalan, dari sebuah jurang yang berada di samping kirinya keluar dua orang yang setelah keluar dari jurang itu langsung melesat ke arah barat.


Cakra yakin jika kedua orang itu adalah penculik Kenanga, namun kenapa kenanga tidak berada bersama mereka.


" Mungkin Kenanga di sembunyikan di suatu tempat, aku harus mencarinya,, " gumam Cakra.

__ADS_1


Kemudian Cakra menghampiri tepi jurang tempat kedua orang tadi keluar, dia memperhatikan dengan teliti sehingga dia menemukan jalan setapak kecil yang tersembunyi oleh semak belukar.


Dia ikuti jalan setapak itu hingga dia menemukan sebuah bangunan yang terbuat dari kayu jati.


" Pasti di sini Kenanga di sembunyikan. "


Tanpa menunggu waktu lagi, Cakra langsung menghampiri rumah itu, tapi pada saat dia baru memasuki halaman rumah, ribuan anak panah meluncur ke arahnya.


Sadar jika dirinya menjadi sasaran ribuan anak panah, Cakra tidak menjadi panik, dia kerahkan sedikit tenaga dalamnya sehingga di sekitar tubuhnya muncul pusaran angin bercampur api berwarna biru sehingga seluruh anak panah yang mendekati tubuhnya terpental jatuh ada yang terbakar hingga menjadi abu.


Saat serangan anak panah gagal, kini ratusan tombak yang berujung runcing menyusul lesatan anak panah.


Wuuus


Wuuuus.


Cakra tidak ingin bermain main lagi, dia ingin mengakhiri ini dengan mengeluarkan tombak bayu angkasa, dengan tombak itu dia halau semua tombak yang meluncur ke arahnya, tidak sampai di situ Cakra memutar tombaknya dengan cepat, dari putaran itu melesat bola bola api ke arah munculnya panah dan tombak di belakang semak.


Duaaar


Duaar.


Blaaam.


Puluhan orang berjatuhan dengan tubuh gosong karena serangan bola api, tempat itu langsung porak poranda, pepohonan banyak yang ikut terbakar menimbulkan kobaran api yang cukup besar dan luas karena api itu cepat merambat.


Dari arah lain muncul jaring yang terbang ke arah Cakra, Jaring yang terbuat dari tali goni yang besar dan liat, awalnya Cakra agak kesusahan melepaskan diri dari jaring itu, namun dia segera membakar jaring tadi dengan tenaga dalam roh garuda agni sehingga jaring tadi berjatuhan ke tanah menjadi abu.


Cakra melesat ke arah munculnya jaring tadi, didapatinya beberapa orang yang menghadang dia dengan bersenjata golok dan pedang.


Cakra langsung menggebrak para lawannya itu, dengan tombak bayu angkasa di tangannya membuat dia tidak kesulitan memusnahkan lawannya, dia tidak sadar apa yang di lakukan nya telah membakar begitu banyak pohon yang ada di sekitar rumah itu.


Dia kemudian segera memasuki rumah tadi, dia periksa satu persatu ruangan yang ada di situ dan di sebuah ruangan yang paling besar, dia mendapati tubuh Kenanga yang masih terbaring di ranjang, kemudian dia memeriksa keadaan Kenanga.


Cakra sadar jika Kenanga dalam keadaan tertotok sehingga dia tidak bisa bergerak, akhirnya dengan menotok beberapa anggota tubuh Kenanga, Cakra membebaskan pengaruh totokan lawan.


" Kakang Cakra,, " teriak Kenanga sambil memeluk Cakra setelah dia terbebas dari totokan.


" Sudah dinda ayo kita keluar dari sini,, ! " ajak Cakra.

__ADS_1


Keduanya segera keluar dari rumah itu, namun di halaman rumah itu telah berdiri empat orang yang mencegat mereka.


__ADS_2