
Awan putih terhampar luas seakan karpet lembut yang nyaman untuk di tinggali, langit biru yang menaungi menjadikan siapa pun yang berada di bawahnya akan merasa damai dan tenang.
Dua orang yang sedang menaiki garuda menikmati perjalanan itu dengan gembira, dua orang pemuda itu asik bercanda karena tidak ada seorang pun mengganggu mereka, di tambah pemandangan yang begitu menakjubkan jika di lihat dari atas ketinggian.
Gunung yang menjulang, sungai yang memanjang hingga hutan yang terhampar menjadi sebuah kombinasi yang sepadan untuk menciptakan lukisan pemandangan alam yang seimbang
" Lihatlah pemandangan di bawah itu dinda,,! " ucap Cakra sambil menunjuk tempat yang di maksudkan nya.
" Indah sekali kanda,,,, " jawab Kenanga.
" Benar dinda, semua memiliki unsur yang berbeda beda, dari unsur tanah, api di dalamnya, air dan tumbuhan, namun saat mereka di sandingkan mereka saling melengkapi tidak ada yang ingin terlihat menonjol perannya, sehingga mereka bisa bersanding dengan sempurna menciptakan keseimbangan alam yang menjadikan penghuninya merasa aman dan nyaman. "
" Benar kanda, kombinasi mereka selain menciptakan keindahan juga membuat keselarasan di alam ini,, "
" Begitu juga manusia dinda, walau manusia memiliki watak dan tingkah laku yang berbeda beda, tapi mereka harus bisa menyelaraskan diri kita agar tidak terjadi benturan watak yang menyebabkan pertengkaran dengan yang lainnya,,, "
" Tapi jika orang yang memiliki watak yang bisa menjadikan kita berbenturan dan pertengkaran, apa yang harus kita lakukan kanda ,,,? " tanya Kenanga kepada Cakra.
" Jika watak dan perilaku orang itu tidak menyebabkan kerusakan kepada orang lain dan lingkungan maka harus ada yang mau dan mampu mengalah agar tidak terjadi benturan di masyarakat, namun jika watak dan perilaku itu mampu membuat orang lain tersakiti dan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat kita harus bisa menghentikannya dengan segala cara, bisa dengan menyadarkan mereka atau menghilangkan pemilik watak itu dari masyarakat sebelum watak itu menular ke orang lain,, " jawab Cakra tegas.
" Tapi kanda, kita sebagai kaum pendekar di bekali ilmu bela diri untuk mengalahkan mereka yang bertindak menyeleweng dari tata cara berkehidupan di masyarakat, kenapa kita harus mengalah kanda,,? " tanya Kenanga lagi.
" Sebagai manusia yang berakal kita harus bijaksana dalam menggunakan kemampuan kita dinda, ilmu kita seperti pedang ini, apakah setiap waktu harus kita keluarkan untuk membunuh orang,,,? ada waktunya kita harus bisa mengalahkan musuh kita dengan perilaku kita, dengan contoh contoh perbuatan baik kita, dengan kebijaksanaan kita, tidak semua harus kita hadapi dengan pertarungan dan kematian, bisa saja sifat mengalah kita bisa meruntuhkan sifat kesombongan mereka hingga mereka bisa berubah menjadi sosok yang bisa membaur lagi dengan masyarakat lainnya,, "
" Sangat menarik Kanda, tapi adakah saat ini orang yang bisa menjunjung tinggi sikap rendah hati, tepo sliro dan mengalah untuk orang lain, kadang mereka justru merasa bahwa orang yang melakukan itu adalah orang penakut sehingga bisa di perlakukan sesuka hati mereka,,,? "
" Aku masih yakin jika tetesan air yang terus menerus mampu melubangi batu yang keras dinda,, " jawab Cakra.
Mendapat jawaban seperti itu Kenanga hanya diam tidak melanjutkan ucapannya, di dalam kepalanya berkecamuk banyak pertanyaan yang dia pikirkan, akhirnya dia letakkan dagunya di pundak kiri Cakra sambil memikirkan setiap ucapan Cakra tadi.
Cukup lama mereka terdiam sambil menikmati pemandangan alam di bawahnya yang kadang tertutup oleh hamparan awan putih.
" Dinda lihatlah yang di sebelah kanan itu,,,! " kejut Cakra kepada Kenanga yang masih terdiam.
Dengan Segera Kenanga mengangkat kepalanya kemudian mengarahkan pandangan ke kanan.
" Apa itu kanda,,? " tanya Kenanga.
" Bangunan yang terlihat tinggi itu adalah istana kerajaan Selo Cemeng, di belakang itu bukit harimau tempat nantinya aku akan bertarung dinda,, "
__ADS_1
" Besar dan megah sekali istana itu kanda,,"
" Benar dinda, bahkan istana itu di kelilingi oleh tembok yang tinggi dan kokoh untuk menghalau para musuh yang menyerang, namun sayang istana itu di bangun di atas penderitaan, kesengsaraan, air mata dan darah banyak orang, sehingga istana yang megah dan besar itu terasa hampa, istana yang seharusnya menjadi tempat yang mengayomi rakyatnya namun justru menjadi sumber kesengsaraan rakyatnya,,, " ucap Cakra sambil menahan gemuruh di dadanya setiap mengingat masa kecil yang di laluinya sampai dia terpisah dengan ke dua orang tuanya.
" Apakah kita sebentar lagi sampai kanda,,? " tanya Kenanga untuk mengalihkan suasana hati Cakra.
" Benar dinda, setelah kita melalui hutan Pancer yang ada di depan itu kita bisa segera sampai di kerajaan Tirta Kencana,, "
" Wah aku sudah tidak sabar bisa berjumpa dengan kedua orang tua mu kanda,, " ucap Kenanga dengan girang.
***
Suasana penuh suka cita terjadi di kerajaan Tirta Kencana, di sepanjang jalan masuk telah di hias dengan janur kuning yang di anyam dengan berbagai bentuk, bunga bunga berwarna warni di letakkan begitu rupa sehingga jalanan itu terlihat meriah, umbul umbul juga di pasang sepanjang jalan dan di tambah berbagai macam hidangan jajanan pasar di sajikan di depan seakan mereka berlomba untuk menyambut tamu istimewa yang akan datang.
Cakra dan Kenanga yang tadi memilih turun di tempat yang jauh dari keramaian kini masuk ke pintu gerbang dengan berjalan kaki beriringan.
"Ada pesta apa ini kakang, kenapa semuanya terlihat sibuk mempersiapkan pesta yang besar. " tanya Kenanga.
" Entahlah dinda, aku juga tidak tahu, sebaiknya kita langsung menuju ke rumah ku saja dinda,,! " ajak Cakra.
Kedua muda mudi itu mempercepat langkah mereka agar bisa segera sampai ke rumah Cakra, selain karena Cakra sudah benar benar kangen dengan kedua orang tuanya, dia juga penasaran dengan keadaan di kerajaan itu, dia ingin segera menanyakan hal itu kepada kedua orang tuanya.
" Den mas baru datang,,? " tanya emban itu setelah tau yang datang Cakra.
" Benar mbok, dimana romo dan biyung mbok ,,? " tanya Cakra tidak sabar.
" Gusti putri berada di taman belakang den,, " jawab emban itu.
Tanpa berkata kata lagi Cakra segera menggamit tangan Kenanga untuk di ajak menemui biyungnya di taman belakang.
Di taman belakang Cakra mendapati biyungnya sedang duduk termenung di sebuah bangku taman, tidak menunggu lama, dia segera bersujud di kaki biyungnya itu, sedangkan Kenanga duduk bersimpuh di samping Cakra.
Nyai Galuh yang tidak menyangka anaknya hari ini datang menjadi terkejut, namun hal itu tidak berlangsung lama karena setelah itu perasaannya berubah menjadi gembira.
" Sudah ngger, bangunlah, aku kira kau sudah lupa kepada biyung mu ini,, " ujar Nyai Galuh sambil mengangkat tubuh anaknya yang bersujud itu.
Cakra mengangkat kepalanya,,,
" Maafkan saya biyung, telah lama saya tidak mengunjungi biyung,,, " ucap Cakra.
__ADS_1
" Sudah lah yang penting kau sekarang sudah datang kesini,, "
Nyai Galuh melirik gadis yang duduk bersimpuh di samping Cakra.
" Siapakah gadis cantik di samping mu itu Cakra,, " tanya Nyai Galuh.
Cakra yang baru ingat telah membawa kenanga menghadap biyungnya menjadi gelagapan.
" Eh,,, maaf biyung, aku mengajak gadis ini menghadap biyung untuk mengenalkannya kepada biyung, juga minta restu kepada biyung,, " ucap Cakra.
" Benarkah,,,? " ucap Nyai Galuh dengan gembira berbeda saat awal Cakra datang.
Memang awalnya dia berada di taman belakang sedang memikirkan keadaan anaknya yang belum pulang, dia juga ingin segera memiliki cucu dari anaknya itu, namun dia bersedih anaknya memilih jalan pendekar yang lebih mementingkan kedamaian dunia dari pada memikirkan tentang rumah tangga, namun hal itu telah berubah setelah anaknya datang dengan gadis yang cantik untuk meminta restu.
Cakra menggeser posisinya, kemudian Kenanga segera menyalami Nyai Galuh dan meletakkan kepalanya di lutut Nyai Galuh.
" Benar biyung, saya di ajak kesini oleh kanda Cakra untuk di kenalkan dan untuk meminta restu kepada biyung,, " ucap Kenanga.
" Ah,, sudah jangan seperti itu, aku sangat gembira sekali karena kau mau menjadi pendamping anak ku, ayo sini duduk sama biyung ceritakan dirimu kepada biyung,,! " ucap Nyai Galuh sambil mengangkat tubuh Kenanga dan mendudukkan gadis itu di sampingnya sambil di peluk erat seakan tidak ingin berpisah dengan gadis itu.
Karena mendapatkan sambutan yang hangat seperti itu, bergembiralah hati Kenanga, hingga akhirnya dia mengenalkan dirinya dan asal usulnya sampai akhirnya berjumpa dengan Cakra, Nyai Galuh menyimak cerita itu dengan penuh perhatian dan kegembiraan.
Cukup lama Kenanga bercerita hingga akhirnya Cakra menyela.
" Maaf biyung, dari tadi aku tidak melihat romo, kira kira romo di mana ,,? "
" Oh ya , romo mu menghadap ke istana raja, mungkin sebentar lagi datang,, oh ya pasti kalian lelah, ayo kalian istirahat,,! aku akan memasakkan masakan yang istimewa untuk kalian,, " ujar Nyai Galuh.
" Aku tidak lelah biyung, biarkan aku membantu memasak ya,, " ucap Kenanga penuh harap.
" Lah,,,, cantik cantik gini mau masak,, ? " tanya Nyai Galuh.
Kenanga menjadi malu,,,
" Ya belajar biyung biar nanti kanda Cakra tidak jajan saja di warung, ajari ya biyung,,! " ucap Kenanga.
" Benar kamu tidak lelah, ya udah ayo kita ke dapur,,! " ajak Nyai Galuh.
Keduanya kemudian beranjak dari taman itu menuju ke dapur, sedangkan Cakra masih terpaku di situ sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Haduh,, sudah dapat menantu anaknya sendiri malah di lupakan,,, " gerutu Cakra pelan.