
Pagi pagi sekali rombongan Cakra sudah bersiap siap, mereka kini berencana melanjutkan perjalanan dengan naik kuda agar lebih menghemat tenaga, awalnya para penduduk desa Glagah Sari memberikan dengan ikhlas kuda kuda mereka sebagai bentuk rasa terima kasih kepada rombongan itu yang telah menyelamatkan desa itu dari kehancuran, namun Cakra dan kawan kawannya tidak mau, mereka mau menerima kuda kuda itu asal para warga itu mau menerima uang senilai harga kuda itu.
Dengan berat hati para warga menerima pembayaran kuda dari rombongan Cakra.
Puluhan warga memadati halaman pendopo desa untuk melepas kepergian Cakra dan kawan kawannya, banyak warga yang sudah kembali ke desa setelah mendengar keadaan desa sudah aman ikut mengantar kepergian Mereka.
Bukti bahwa apa yang di lakukan oleh Cakra mendapatkan simpati dari warga desa Glagah Sari.
Rombongan Cakra perlahan meninggalkan desa Glagah Sari sambil melambaikan tangan, setelah rombongan keluar dari gerbang desa barulah mereka menggebah kuda mereka lebih cepat.
Kakek dewa tongkat rotan kini memimpin perjalanan di depan, Sardi dan Kelana membuntutinya di belakangnya, sedangkan Cakra dan Kenanga di posisi paling belakang.
" Kek, kata Kenanga di depan ada mata air, kita istirahat sebentar untuk memberi minum kuda kuda ini,, " teriak Cakra kepada kakek dewa tongkat rotan.
Kakek dewa tongkat rotan pun melambatkan laju kudanya, hal ini juga di ikuti oleh yang lain.
Benar saja, tidak lama mereka sudah sampai di sebuah mata air yang jernih, tempat itu pun sangat nyaman karena bersih dan pohon yang menaunginya sangat rindang sehingga menjadi tempat yang cocok untuk beristirahat.
Namun di tempat itu sudah ada seorang kakek yang bajunya compang camping dengan rambut acak acakan berbicara sendiri.
" Bagaimana kakang, kita lanjutkan saja perjalanan mencari sumber mata air yang lain saja,,! " ajak Kenanga yang kurang suka adanya kakek compang camping di dekat sumber mata air.
" Bagaimana kek,, ? " tanya Cakra kepada kakek dewa tongkat rotan.
" Tidak usah nak mas, kita istirahat di sini saja karena kuda kuda kita sudah kehausan dari tadi. "
" Baik, kita istirahat di sini saja," ucap Cakra.
Sardi dan Kelana segera mengisi kantong kantong air mereka untuk bekal perjalanan nanti, Kenanga dengan sigap menyiapkan bekal yang di bawa dari desa Glagah Sari untuk di nikmati, sedangkan Cakra dan kakek dewa tongkat rotan membawa kuda kuda mereka ke aliran air kecil yang bersumber dari mata air di sana, mereka membiarkan kuda kuda itu minum dengan puas, setelah puas kuda kuda itu di mandikan sekalian agar lebih bertenaga saat lari.
__ADS_1
Setelah bekal yang di tata oleh Kenanga sudah selesai semua, rombongan itu langsung mengelilingi hidangan sederhana itu.
Cakra mengambil sebungkus nasi dengan ikan bakar jatahnya kemudian dia berikan kepada kakek yang di anggap kurang waras itu.
Cakra meletakkan bungkusan nasi di depan kakek gila itu, sejenak Kakek gila itu memandang Cakra, seketika wajahnya mengeras dan pandangannya menjadi tajam seperti orang melotot.
" Berhati hatilah dengan fitnah, karena fitnah cepat menyebar seperti api yang membakar daun daun kering, ingat anak muda ingat,, " ucap kakek itu setengah berteriak.
Setelah mengucapkan itu, kakek gila menjadi seperti biasa lagi, dia langsung menyambar bungkusan nasi di depannya dan memakannya dengan lahap bahkan terkesan tergesa gesa.
Saat Cakra kembali ke rombongannya, dia melihat wajah Kenanga masam, dia tidak mempedulikannya, dia langsung duduk dan mengambil ubi bakar yang belum ada yang menyentuh dari tadi.
" Kenapa kau berikan makanan mu kepada kakek gila itu, padahal itu kan aku yang menyiapkan untukmu,, " terdengar suara ketus dari samping kanan Cakra.
" Aku melihat dia kelaparan, jadi kuberikan saja makananku,, " jawab Cakra cuek tanpa menoleh.
" Terus apa kamu tidak lapar,,? "
Kenanga kaget dengan ucapan Cakra, kedua pipinya yang putih kini bersemu merah karena malu, namun Tangan Kenanga mencoba mengangsurkan nasi ke depan mulut Cakra, tanpa di sangka oleh Kenanga Cakra tidak menolak, bahkan dia membuka mulutnya, Kenanga pun memasukkan makanan itu ke mulut Cakra sehingga ujung jari Kenanga di kecup oleh bibir Cakra.
Dari ujung jari Kenanga yang di kecup Cakra, mengalir sengatan listrik halus menuju ke hati Kenanga sehingga desiran di hati itu menjadikan pipinya semakin memerah.
Tiga orang di hadapan mereka pura pura tidak tahu, mereka memilih diam dan menekuni makanan mereka masing masing.
" Dasar anak muda sekarang, tidak memandang yang tua di sekitarnya, mengingatkan dengan masa mudaku saja,, " batin dalam hati kakek dewa tongkat rotan.
Tanpa memperdulikan yang lainnya, Kenanga terus menyuapi Cakra, hatinya berbunga bunga karena bisa dekat dengan Cakra bahkan menyuapinya.
Sardi yang tahu diri menyelesaikan makannya dengan cepat, dia segera berdiri untuk mengambil minum langsung dari mata air yang segar, Kelana juga mengikuti apa yang di lakukan oleh Sardi kemudian setelah minum mereka duduk agak jauh dari tempat mereka makan.
__ADS_1
Kakek dewa tongkat rotan mengumpat dalam hati karena dia di tinggal sendiri oleh Sardi dan Kelana, dia merasa kaku berhadapan dua muda mudi yang sedang menyuapi.
Akhirnya kakek dewa tongkat rotan pun juga menyelesaikan makannya kemudian menuju mata air untuk minum dan membasuh wajahnya.
Melihat gelagat yang kaku dari kawan kawannya membuat Cakra paham, dia segera menyelesaikan makannya juga kemudian mengajak mereka melanjutkan perjalanannya di ikuti pandangan mata yang tajam dari kakek gila sampai tubuh mereka tidak terlihat lagi karena sudah jauh pergi.
" Berapa lama lagi kita sampai ke gunung Semeru dinda,, ? " tanya Cakra sambil menjalankan kudanya santai karena memang mereka tidak terburu buru.
Uhuuk uhhhuk.
Kenanga tersendak liurnya mendengar Cakra memanggil dirinya dengan dinda, dia menghentikan jalannya kuda dan memasang wajah heran kepada Cakra, karena sehari ini dia sudah mendapatkan dua perlakuan yang membuat hatinya berbunga bunga dari Cakra.
" Kenapa,,,? apa kau tidak suka aku panggil dinda,,? " tanya Cakra.
" Ahh tidak, tidak,,,,, aku sangat suka jika di panggil dinda oleh kakang,, " jawab Kenanga tergagap.
" Kalau begitu ayo jalan jangan bengong di situ,,! "
Kenanga yang sadar akan ulahnya kemudian menjalankan lagi kudanya, kemaren dia berdekatan dengan Cakra tidak segugup ini, namun saat ini dia merasa tidak mampu berjalan di samping Cakra sehingga dia sedikit di belakang Cakra sambil memandang punggung Cakra.
Namun justru Cakra melambatkan laju kudanya mensejajari Kenanga yang semakin gugup.
" Kau belum menjawab pertanyaan ku dinda,," ucap Cakra pelan.
" Hah, pertanyaan yang mana,,? " tanya Kenanga kaget.
" Masih jauh kah perjalanan ke gunung Semeru dinda,,,? " ucap Cakra gemas.
" Eehh.. maaf, mungkin jika perjalanan kita cepat lima hari sudah sampai, namun jika perjalanannya lambat seperti ini akan sampai delapan hari lagi,, " jawab Kenanga.
__ADS_1
" Masih jauh,,, kalau begitu ayo kita balapan agar cepat sampai ke sana,,! " ucap Cakra sambil menggebah kudanya agar berlari semakin kencang.
Namun Kenanga tidak mau memacu kudanya semakin cepat, karena dia ingin lebih lama bersama dengan Cakra, dia tidak ingin segera sampai ke gunung Semeru kemudian berpisah dengan Cakra.