
Kesibukan kesibukan di tengah hutan Kuncoro sudah mulai terlihat, para bekas prajurit Gading Padas itu kini berlalu lalang membawa bambu, batang pohon dan juga tali dari rotan, mereka bekerja dengan semangat, bergotong royong agar apa yang mereka buat segera jadi.
Pagi itu Cakra pamit kepada pangeran Jati untuk mencari bantuan di kerajaan Tirta Kencana, dia meninggalkan Jati sendiri karena paman Jolo bersama ke tiga anak buahnya pagi pagi buta telah meninggalkan tempat itu untuk menghimpun kekuatan bersama padepokan aliran putih.
"Saya pamit pangeran, semoga aku bisa segera kembali"
" Silahkan Cakra, berhati hatilah dan bawa bantuan seperlunya. "
Cakra segera berangkat, dia berlari sesaat, setelah berada di tempat sepi, dia segera memusatkan tenaga dalamnya di punggung hingga membentuk sayap yang lebar berwarna putih terang.
Dengan sekali hentak tubuh Cakra melesat terbang , kepak sayapnya menjadikan dia semakin cepat, dari bawah tidak ada yang menyangka kalau yang terbang di angkasa itu adalah manusia, karena yang terlihat hanya titik hitam yang berjalan cepat di angkasa.
Sebelum Cakra keluar dari wilayah Gading Padas, di sebuah padang rumput yang luas, Cakra melihat pertarungan tiga lawan tiga, Cakra merasa tidak mungkin mengabaikannya, maka dia menukik ke bawah untuk turun di balik sebuah bukit, kemudian dia mendekati tempat pertarungan itu terjadi.
"Putri Kencana Sari bertarung dengan Dewi Suji,, " desis Cakra setelah dia mengetahui siapa yang saat itu bertempur.
Cakra memutuskan untuk melihat dulu pertarungan itu karena dia melihat putri Kencana Sari masih mampu meladeni lawannya.
Dewi suji yang saat itu di perintah oleh gusti Sangga Bhumi untuk memberikan undangan kepada pentolan tokoh persilatan aliran hitam ki Amukroso yang berada di gunung Janur, berpapasan dengan Putri Kencana Sari dan kedua pamannya, akhirnya terjadi perselisihan yang berkembang menjadi pertempuran dahsyat di situ.
"Aji Grojogan Lahar" teriak Dewi Suji memulai serangan tangan kosongnya yang berhawa panas.
Kencana Sari masih dengan tenang menghindari setiap serangan yang di berikan Dewi Suji, pukulan pukulan yang terarah padanya kadang di tangkis maupun di belokan arahnya, walaupun serangan Dewi Suji berhawa panas, namun Sari seakan tidak terpengaruh, hal ini membuat kagum Cakra yang melihat dirinya bertarung.
Merasa tidak ingin berlama lama dalam bertarung, Sari sekarang mulai membalas serangan Dewi Suji, dia mengeluarkan jurus Argo srewu, jurus bertahan dan penyerangan secara bersamaan.
Hiyaaat, ,,
Dewi Suji merangsek ke depan memukulkan tangannya ke arah kepala Sari, Sari yang telah siap dengan kuda kudanya yang kokoh, segera menangkis serangan itu dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menjulur kedepan menyasar dada dari Dewi Suji.
__ADS_1
Deeshhh... akkkhh
Teriak Dewi Suji setelah tubuhnya terjajar empat langkah, dari sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Kurang ajar, dasar wanita iblis, " umpat Dewi Suji.
"Apa ? apa aku tidak salah dengar, apakah kamu tidak mengaca, yang pantas di sebut wanita iblis itu kamu, " ucap Sari membalas umpatan Dewi Suji.
Sari memutuskan menyerang lebih dulu.
" Terima balasanku,, " ucap Sari sambil menyapukan tendangan kaki kanannya ke arah paha kiri Dewi Suji.
Dewi Suji menyambut serangan itu dengan tangan kirinya sehingga pahanya terselamatkan, jika paha itu terkena tendangan mungkin Kuda kuda Dewi Suji akan buyar dan dengan mudah dia bisa di gempur lawan.
Karena serangan kakinya gagal, Sari memutar badan di udara dan kaki kirinya mengarah pada kepala Dewi Suji, namun Dewi Suji memundurkan kepalanya sehingga kaki Sari hanya lewat sedikit di depan wajah Dewi Suji mengenai udara kosong.
Melihat posisi lawan belum sempurna, Dewi Suji mengarahkan pukulan tangannya tepat di perut Sari.
Sejenak mereka memperbaiki posisi masing masing sambil menarik nafas panjang.
Sriiinggg.
Dewi Suji menghunus pedangnya, pedang pusaka pemberian gurunya itu kini sudah tergenggam di tangannya.
Melihat pedang lawannya cukup berbahaya, Sari berniat menggunakan Gendewa Emas di dalam tubuhnya untuk pertama kali.
Sari memusatkan pikirannya dan tiba tiba di tangan kiri sari tergenggam busur panah berwarna keemasan dan berhiaskan batu mulia yang indah.
Semua yang berada di situ di buat kagum dengan keindahan senjata yang di miliki Sari, termasuk paman Rejo dan Paman Suro yang baru mengetahui kalau Putri Kencana Sari memiliki senjata Gendewa Emas itu.
__ADS_1
Dewi Suji Dan Sari maju bersamaan, mereka mengayunkan senjata masing masing ke arah lawannya.
Dhuuaar,,
Terjadi ledakan di sekitar tempat mereka bertarung, namun kedua senjata mereka masih saling menempel.
Saling dorong terjadi, hingga Sari bergerak ke kiri sambil mengarahkan kakinya ke perut Dewi Suji, karena tidak ada perlindungan Dewi Suji menarik pedangnya dan menebas kaki itu, namun dengan cepat Sari menarik kaki itu sebelum terpotong oleh pedang Dewi Suji.
Pertempuran itu semakin seru, rumput rumput di situ yang terinjak langsung menjadi kering karena tidak mampu menahan tekanan serangan kedua perempuan itu.
Blaaarrt...
Sari memukulkan busurnya dari atas mengarah ke kepala Dewi, Dewi segera menangkis dengan pedang yang menyilang, walau serangan itu dapat di tahan, namun dada Dewi Suji terguncang hingga mengakibatkan tubuhnya terhuyung ke depan, tepat saat itu Sari merentangkan Gendewa Emas dan ajaib di Gendewa itu muncul anak panah berwarna serupa dengan gendewa.
Jleeephh.
Aaakhh....
Suara jerit kematian terdengar menyayat dari mulut Dewi Suji, anak panah yang menancap tepat di jantungnya menjadikan dia ambruk tidak bernyawa.
Di pertarungan lain, paman Suro dan paman Rejo yang melawan Bowo dan Wito masih menggempur kedua orang kawan Dewi Suji itu,
"Kurang ajar, akan aku balas kematian temanku, " teriak Wito.
Dia menyambarkan goloknya, namun karena di penuhi amarah, serangannya tidak terarah sehingga lebih mudah di hindari, hingga pada saat Wito memusatkan kekuatannya untuk menyerang paman Rejo, serangan itu di hindari paman Rejo, hingga serangan itu mengenai udara kosong di samping paman Rejo, namun karena Wito membacok sekuat tenaga, akhirnya tubuhnya tertarik ke depan tanpa kendali, hingga kesempatan itu di manfaatkan paman Rejo untuk menyabetkan pedangnya ke arah punggung Wito.
Aaakkkhh.
Dari punggung itu keluar darah segar akibat luka yang panjang dan dalam.
__ADS_1
Wito Bangkit, dia menyerang dengan sisa sisa kekuatannya, namun dengan mudah paman Rejo menyarangkan pedangnya ke tubuh Wito, hingga akhirnya Wito tewas di tangan paman Rejo.
Bowo yang melihat ke dua temannya telah tewas, dia panik, hingga ia memutuskan melarikan diri untuk melaporkan kejadian itu kepada Gustinya Sangga Bhumi, namun baru beberapa tombak dia lari, punggungnya tertancap anak panah yang sama dengan anak panah yang di gunakan membunuh Dewi Suji, akhirnya dia tersungkur dan menghembuskan nafas terakhirnya di sana.