PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Desa Randu Alas 1


__ADS_3

Sepasang manusia memacu kudanya dengan tenang, gerakan kuda yang anggun menambah wibawa kedua penunggang kuda yang tampak serasi.


Kedua penunggang kuda yang terlihat serasi karena memiliki wajah rupawan yang mampu membuat seisi dunia merasa iri, keduanya memakai pakaian khas pendekar berwarna putih, yang membedakan adalah di punggung laki laki tersandang pedang dengan gagang kepala garuda bersarung warna merah sedangkan yang wanita membawa pedang di punggungnya dengan sarung warna putih.


Dari ciri ciri tadi sudah di pastikan jika dua penunggang kuda tadi adalah Cakra dan Kenanga yang sedang menuruti hati berjalan mencari pengalaman dan menyebar kebaikan.


" Suasana bukit ini menenangkan ya kakang,,? apa lagi cahaya matahari sore ini semakin membuat suasana menjadi nyaman,, " ucap Kenanga.


" Apa kamu ingin bermalam di sini dinda,,? "


" Ah tidak mau,,, sudah tiga hari kita bermalam di hutan hanya makan hewan buruan bakar,, malam ini aku ingin menginap di desa biar bisa makan makanan yang ada di desa seperti sambal atau ikan lele penyet kemangi,, " saut Kenanga.


" Kalau begitu ayo kita cepat jalan, jangan sampai kita kemalaman sampai di desa, bisa bisa semua rumah sudah tutup sehingga kita tidak dapat makanan di sana,, " ajak Cakra.


Segera mereka menggebah kudanya dengan cepat mengingat matahari sudah hampir condong ke barat.


Di sebuah bukit yang cukup tinggi Kenanga menghentikan kudanya, dia melihat sekitar mencari tanda tanda adanya desa di sekitar mereka.


" Ah, itu di sana ada desa kakang,, " tunjuk Kenanga kepada Cakra yang baru sampai di bukit itu.


" Benar dinda, kelihatannya desa itu cukup ramai karena banyak rumah berdempetan di sana,, "


Mereka langsung menggebah kudanya untuk segera menuju desa yang tidak terlalu jauh dari mereka berhenti.


Mereka sudah hampir memasuki desa yang hanya terhalang oleh sebuah bukit lagi sudah sampai, namun sebelum mereka naik bukit itu, lima orang bersenjata golok menghadang mereka di tengah jalan.


" Berhenti,,,! siapa kalian,,? " tanya orang di tengah dengan wajah sangar.


" Kami Cakra dan ini adik saya Kenanga,, ingin melewati jalan ini,, " ucap Cakra sopan walau dia yakin kesopanannya tidak akan merubah orang itu melembut ucapannya.


" Mau melewati jalan ini,,,? memangnya mau ke mana kalian ? "


" Kami takut kemalaman, jadi kami ingin menuju desa di depan sana untuk mencari penginapan,, " ucap Cakra.


" Ha ha ha ha, baru kali ini kami dengar ada pendekar takut kemalaman,, pendekar ecek ecek,, " hina salah satu penghadang yang di saut dengan tawa yang lainnya.


Wajah Kenanga berubah menjadi merah mendengar hinaan itu, dia hendak melompat untuk memberi pelajaran kepada mereka, namun tangan Cakra sudah memegang tangannya sebagai tanda dia di suruh bersabar.


" Dengar pendekar penakut, di desa sana tidak ada penginapan, sebaiknya kalian balik sana menginap di hutan biar nanti malam di temani memedi yang ada di sana, untuk adikmu itu jika takut biarkan di sini biarkan di sini biar kami yang menemani sambil menghangatkan tubuh kami,,,! " teriak orang yang berada di tengah.

__ADS_1


" Hei, jaga mulutmu itu, jangan risih aku mendengarnya,, " bentak Kenanga yang terpancing amarahnya.


" Ha ha ha, memang kalau kita tidak bisa berhenti bicara kamu mau apa cah ayu,,,? " ucap salah satu orang sambil menggerakkan tangan layaknya berjoget tayub bersama Ledhek.


" Jika kalian tidak bisa berhenti bicara, biar ku sumpal mulut kalian dengan kakiku,, " ujar Kenanga memberi ancaman.


" Ha ha ha, kalau begitu sinilah sayang, biar semua tubuhmu bisa menyumpal mulutku sehingga yang keluar bukan kata kata tapi erangan ku,, "


Cakra yang dari tadi masih bersabar, mendengar kata kata yang seperti itu habis juga kesabarannya, dengan perlahan pegangan tangan Cakra di lepas dari tangan Kenanga, dengan lepasnya pegangan tangan Cakra, Kenanga paham jika Cakra mengijinkan dia untuk memberi pelajaran kepada kelima orang yang sudah keterlaluan itu.


Hiyaaat.


Duuuk


Duuuuk


Kenanga meloncat sambil mengirimkan tendangan kepada kelima orang itu, karena tidak menyangka gadis itu menyerang secara tiba tiba, mereka yang masih tertawa terpingkal pingkal itu langsung terdorong jatuh karena terkena tendangan telak di dadanya.


Dengan wajah yang merah karena marah, mereka bangkit, di depan mereka gadis yang di anggap remeh, sudah berdiri sambil kedua tangannya di taruh pinggang seakan menantang.


" Aku kira berhadapan dengan orang orang kuat, ternyata hanya kuat bicaranya,, " ucap Kenanga sambil tersenyum mengejek.


Sebelum kelima orang itu menyerang, Kenanga yang sudah siap langsung melesat mendahului serangan, dengan jurus sayap seribu, dia menggempur lawan yang dari jumlahnya jelas tidak berimbang, namun hal itu bukan menjadi patokan jika Kenanga akan mudah di kalahkan, buktinya tamparan tangannya justru yang lebih dahulu mengenai bagian bagian tubuh lawan di bandingkan dengan kilatan golok di tangan lawan.


Gerakan jurus sayap seribu yang kini bertambah mapan, sehingga setiap gerakan Kenanga sangat efektif, tidak ada sedikitpun gerakan yang di lakukan secara percuma, setiap tangannya mengayun pasti ada lawan yang terdorong ke belakang karena tubuhnya terkena tamparan Kenanga.


Sengaja Kenanga tidak melambari jurusnya dengan tenaga dalam karena dia ingin tahu seberapa besar pengaruh pukulannya kepada lawan tanpa tenaga dalam, karena memang baru kali ini dia menggunakan jurus itu setelah keluar dari padepokan gunung Semeru.


Duuuk


Duuuk.


Huweeeeek.


Tanpa tenaga dalam pun, akibat yang di timbulkan oleh tamparan tangan jurus sayap seribu sudah sangat berbahaya, mereka yang terkena langsung muntah darah belum lagi muka mereka menjadi tidak berbentuk karena benjol benjol terkena tamparan.


Buuuuuuk


Buuuuuk.

__ADS_1


Satu persatu dari mereka mendapat jatah tendangan di perut mereka sehingga membuat mereka jatuh kebelakang, tanpa pikir panjang lagi mereka langsung membalikkan badan lari dari tempat itu sebelum mereka lebih jontor lagi.


" Ha ha ha,, lucu sekali memedi sini kakang,, " ucap Kenanga sambil tertawa terpingkal pingkal melihat mereka melarikan diri sampai ada yang terjatuh tersandung batu.


" Sudah dinda, ayo kita melanjutkan perjalanan,, " ajak Cakra.


Dengan tersenyum Kenanga menghampiri kuda di samping Cakra, dengan gerakan yang ringan dia menaiki punggung kuda itu.


" Ayo kakang,, " ajak Kenanga yang sudah mendahului.


Cakra hanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku gadis itu.


Mereka langsung memasuki desa itu yang walau matahari masih belum tenggelam namun sudah sepi.


" Lihat dinda, di sana ada asap, ayo kita kesana,,! " ucap Cakra menunjuk arah sumber asap.


Mereka memacu kudanya agar cepat sampai, namun kali ini terasa suasana yang berbeda dari awal mereka masuk ke desa ini, semakin dekat dengan sumber asap semakin ramai orang yang berlalu lalang.


Cakra mencoba menanyai seseorang tentang asap itu, namun Cakra hanya mendapat informasi jika asap itu berasal dari lapangan desa.


Karena rasa penasaran Cakra menghampiri lapangan desa, ternyata di sana sudah di penuhi warga desa yang berkumpul mengitari api unggun yang besar.


Yang membuat kaget adalah, beberapa pemuda desa yang ada di dekat api unggun itu memasukkan mayat manusia agar ikut terbakar di atas kayu yang terbakar.


" Ada apa ini paman, kenapa banyak sekali mayat yang di bakar di sini,,? " tanya Cakra kepada salah satu warga yang berdiri di barisan paling belakang menyaksikan pembakaran mayat tetangganya.


" Yang di bakar itu mayat orang yang terkena penyakit, biar tidak menulari orang lain,, " jawab orang itu.


" Penyakit, ,,? penyakit apa itu,,? " tanya Kenanga ingin tahu.


" Benar, desa ini di kutuk oleh wabah penyakit yang aneh, kulit mereka mengelupas sampai ke daging hingga tulang mereka pun ikut copot dari tubuhnya. " ucap orang itu.


" Ih ngeri,, " ucap Kenanga membayangkan ngerinya penyakit yang di derita warga desa itu.


" Bagaimana kakang, kita tinggalkan saja desa ini dari pada kita tertular, ,,? "tanya Kenanga.


" Tunggu dulu dinda, kita selidiki dulu penyebab penyakit ini, karena aku merasa ada yang janggal terhadap beberapa hal yang ada di sini,, "


Sore itu berakhir dengan perginya satu persatu warga desa meninggalkan lapangan itu.

__ADS_1


__ADS_2