
Nguuuuuungggg
Terompet di bunyikan dari tempat komando prajurit Selo Cemeng sebagai tanda prajurit Selo Cemeng harus mundur, mereka segera kembali ke tempat mereke beristirahat untuk mengobati luka dan memulihkan tenaga.
Wajah wajah tertunduk lesu menjadi pemandangan di sana, mereka telah berusaha untuk menerobos ke dalam benteng namun hasilnya justru banyak nyawa yang melayang saat itu.
Sebuah keputusan yang gegabah di ambil oleh panglima Mahendra, dia merasa percaya diri bahwa pasukan mereka bisa dengan mudah menembus pertahanan benteng itu, namun dugaannya salah, prajurit Tirta Kencana mempersiapkan peperangan ini dengan baik, mereka sangat pantang menyerah dan menaati perintah atasannya dengan baik.
Karena kepercayaan tinggi itu membuat panglima Mahendra langsung menyerang benteng kerajaan Tirta Kencana tanpa menunggu alat pelontar batu yang karena beratnya alat itu sehingga terlambat sampai.
Keputusan itu di bayar mahal dengan banyaknya prajurit yang harus mati sia sia di hari itu.
" Apa yang harus kita lakukan untuk menggempur benteng kerajaan Tirta Kencana gusti panglima ,,? hari ini pasukan kita lebih dari seribu lima ratus telah tewas akibat penjagaan ketat mereka ,, " tanya senopati Abinaya kepada panglima Mahendra saat mereka sedang melakukan pertemuan di tenda paling besar.
" Benar, aku tidak habis pikir, ternyata mereka sangat kuat pertahanannya, tidak seorang pun mampu menembus kokohnya benteng itu, seandainya ada yang mampu merangsek ke dalam, namun itu sama saja dengan menyetor nyawa,, "
" Benar, senopati Jalu Kuning yang mampu menerobos benteng itu nyatanya bisa terbunuh oleh senopati Bajra,, aku tidak akan melepaskan senopati Bajra di peperangan ini,, " geram senopati Cengger Jago sambil mengepalkan tangannya karena hari ini senopati Jalu Kuning saudaranya telah tewas di tangan senopati Bajra.
" Terus besok apa yang akan kita lakukan untuk menggempur benteng itu ,,? " tanya panglima Mahendra.
__ADS_1
Sebelum semua mampu untuk menjawab pertanyaan itu, seorang prajurit datang mengabarkan kepada mereka jika alat pelontar batu malam ini baru sampai, mendengar laporan itu panglima Mahendra tersenyum senang, kini dia tidak akan mengulangi kesalahannya yang kemaren lagi, dia menyusun rencana ulang penyerangan itu, sehingga di wajah para pemimpin pasukan itu terlihat harapan baru untuk menghancurkan benteng musuh.
***
Di sebuah ruangan di benteng, pangeran Ranu Mulya memimpin pertemuan, dia sangat gelisah dengan kabar yang di sampaikan oleh seorang kepercayaannya tentang apa yang terjadi di istana, awalnya dia hendak kembali ke istana, namun hal itu di cegah oleh senopati Bajra, dia menenangkan pangeran itu dan menyampaikan jika di benteng itu pasukan membutuhkannya sebagai pucuk pimpinan sehingga dia mengurungkan niatnya.
Namun hal itu juga mempengaruhi setiap keputusannya sehingga membuat panglima Restu Aji yang mendampinginya selalu memberi saran saran agar keputusan pangeran tidak merugikan mereka.
" Aku masih mengkhawatirkan baginda raja di istana, apakah sudah ada kabar dari istana,,? " tanya pangeran Ranu Mulya.
" Ampun pangeran, para telik sandi yang melaporkan terjadinya peristiwa di istana tadi, sekarang baru berangkat ke istana mencari kabar,, " jawab panglima Restu Aji.
" Sebaiknya saat ini anda menenangkan diri anda dulu pangeran, lebih baik kita menyiapkan strategi untuk menghadapi peperangan besok, bagaimana pun juga besok kita harus berperang lagi dengan prajurit kerajaan Selo Cemeng, untuk keselamatan baginda raja saya yakin beliau dalam keadaan baik baik saja,, " usul senopati Bajra.
" Kenapa kau begitu yakin senopati jika ramanda dalam keadaan baik baik saja,,,? "
" Ampun pangeran, karena hamba yakin kepada pasukan pengawal raja, juga saya sudah meminta Cakra, anak hamba untuk memata matai panglima Randu Alas karena hamba sudah lama melakukan penyelidikan kepada panglima Randu Alas,, " jelas senopati Bajra..
" Benarkah begitu, kalau begitu lega hatiku karena aku tahu kemampuan Cakra anakmu,, "
__ADS_1
" Untuk pertempuran hari ini saya kira kita cukup baik menghalau serangan mereka, saya harapkan besok kita bisa mempertahankan benteng ini lagi, jika ada masukan masukan maka silahkan di sampaikan,,! " ucap pangeran Ranu Mulya.
Pertemuan itu berlangsung agak lama karena semua yang ada di situ saling memberi masukan masukan untuk menghadapi lawan besok.
Seorang prajurit penjaga masuk melaporkan kedatangan Cakra saat itu.
Pangeran Ranu Mulya menyambut kedatangan Cakra dengan antusias, dia segera di minta untuk duduk dan menyampaikan apa yang di alami di istana tadi siang.
Cakra menceritakan semuanya yang terjadi dan menyampaikan pesan dari baginda raja untuk pangeran Ranu Mulya agar pangeran Ranu Mulya tidak mengkhawatirkan keadaanya dan tetap berkonsentrasi memenangkan peperangan di sini, hamba juga di minta membantu pangeran Ranu Mulya jika di perlukan.
Pangeran sangat senang mendengar laporan itu, dia segera memerintahkan semua yang ada di situ untuk beristirahat untuk memulihkan tenaga.
Saat semua telah kembali ke tempatnya masing masing, ada yang masih menemani pangeran ada yang melihat kondisi prajurit yang sedang beristirahat dan ada yang sedang mengawasi lawan yang beristirahat.
Cakra di gamit tangannya oleh senopati Bajra, dia ingin tahu secara pasti siapa dalang di balik serangan itu, kemudian Cakra menyampaikan bahwa patih Gajah Seno yang telah merencanakan ini, bahkan patih Gajah Seno juga bekerja sama dengan kerajaan Selo Cemeng sehingga terjadi kejadian ini.
Senopati Bajra tidak habis pikir dengan kejadian ini, dia mengira kepemimpinan raja Rangga Jaya sangatlah adil, namun kenapa masih ada orang serakah yang tidak puas dengan apa yang di milikinya sehingga ingin merebut kekuasaan dengan cara yang keji, jika melihat gaji punggawa kerajaan yang cukup besar, cukup bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, namun kenapa mereka masih merampas hak orang lain, kenapa mereka masih menggunakan harta kekayaan kerajaan untuk kepentingan diri mereka sendiri, tidak sadarkah mereka jika harta kekayaan kerajaan yang ada itu berasal dari jerih payah rakyat jelata yang penyerahannya di iringi doa semoga kerajaan mampu mengayomi mereka dan memberi rasa aman,tenang tentram kepada rakyat jelata, apakah mereka tidak sadar jika harta kerajaan itu di berikan rakyat dari hasil jerih payah memeras keringat mereka, namun kita para punggawa kerajaan hanya bisa menghambur hamburkan kekayaan ini hanya untuk kesenangan sesaat.
Cakra mendengarkan keluh kesah ayahnya sambil merenung, di dalam pikirannya sedang berkecamuk tentang nasib rakyat jelata yang selalu menjadi yang paling di rugikan dari setiap perang dan kerusuhan, rakyat hanya ingin merasa nyaman saat bekerja mencari sesuap nasi, rakyat hanya ingin tidur nyenyak tanpa memikirkan besok harus makan apa, rakyat hanya ingin bercanda dengan kawan kawannya tanpa takut keselamatannya terancam, hanya sederhana keinginan rakyat jelata, namun yang sederhana itu sulit terjadi akibat dari nafsu keserakahan manusia.
__ADS_1