
Duuuuarrr.
Diaarrrr.
" Siapa yang berani mengacau di padepokan ini,,? " tanya laki laki gagah yang memiliki kumis tebal dan di pinggangnya terselip seruling berwarna perak.
Semua yang ada di situ langsung menghentikan pertempuran, kemudian memperhatikan datangnya laki laki gagah tadi.
" Kakang Surya, " teriak Kenanga setelah tahu jika murid tertua dari resi Songgo langit telah datang.
Kenanga berlari ingin menjelaskan kepada Surya tentang keributan yang terjadi di tempat itu.
Tapi sebelum Kenanga menghampiri Surya, tiba tiba seorang laki laki yang sudah di kenal oleh Cakra dan Sardi telah berdiri di samping Surya di ikuti oleh para murid padepokan lainnya.
" Kakang, mereka lah yang merebut pusaka patung garuda emas dari tangan ku saat mau ku bawa kesini, mereka juga yang membuat aku terluka,, " ucap permana atau pendekar seruling bambu sambil menunjuk Sardi.
Mendengar itu Kenanga menghentikan larinya, sedangkan Surya tampak sangat marah kepada semua pengacau yang berani datang ke padepokan itu.
" Tangkap mereka, kita hadapkan kepada eyang guru,,,! " perintah Surya.
Sardi dan Cakra yang awalnya ingin membuka suara, tidak sempat lagi melakukannya karena mereka telah di keroyok oleh para murid padepokan itu.
Permana yang mulai memimpin murid murid padepokan untuk menyerang tamu yang seharusnya mereka hormati itu langsung menggunakan seruling bambunya menyerang Sardi.
Sardi yang merasa menjadi sasaran serang Permana tidak menjadi ciut nyalinya, dengan pedang yang memang dari awal berada di tangannya segera memapaki serangan Permana.
Jeeeessshh.
Taaaak.
Sebuah pukulan menggunakan senjata seruling datang, untuk mengukur kekuatan lawan Sardi sengaja membenturkan senjata nya, namun dari benturan tadi bisa di sebut jika Permana sedikit lebih unggul tenaganya, terbukti dengan terdorongnya Sardi sampai tiga langkah.
Permana tersenyum licik.
" Jangan harap kalian bisa mengadukan kebenaran di sini,, " ucap Permana pelan takut di dengar murid lainnya.
__ADS_1
" Dasar pengkhianat,, " desis Sardi.
" Akan aku bungkam mulut kotormu itu,, " bentak Permana kepada Sardi.
Hiyaaat.
Permana meloncat mengarahkan telapak kaki kanannya ke arah dada lawan, dengan gesit Sardi mengelak, tapi saat Permana menjejakkan kakinya ke tanah, dia mengibaskan kakinya melingkar mengincar pinggang Sardi.
Buuuukh
Dengan telak punggung Sardi terkena sepakan itu, tubuhnya terdorong hingga bersalto di tanah.
Sardi langsung berdiri, dari wajahnya terlihat jika dia menahan sakit.
Namun Sardi masih mampu melawan Permana, sehingga kini dia yang mulai menyerang lebih dahulu.
Sambaran pedangnya dia arahkan ke bagian bagian tubuh lawan yang mematikan, gerakannya cepat sehingga bilah pedang warna putih itu seakan terlihat ratusan banyaknya.
Permana tidak mau pasrah terhadap serangan Sardi, dia menyerang Sardi dengan dahsyat, walau senjata yang di gunakan terlihat tidak begitu berbahaya namun karena seruling itu bukan seruling biasa yang bisa di aliri tenaga dalam sehingga hasil serangannya bisa berakibat fatal, bahkan mampu mengimbangi serangan pedang Sardi.
Seruling di tangan Permana di putar putar dengan cepat, dia pukul kan seruling itu pada bagian tubuh Sardi yang terbuka pertahanannya, hingga suatu saat Permana mengarahkan seruling nya ke arah perut, dengan Cepat Sardi menebas seruling itu menutup celah pertahanannya, tapi dengan cepat Permana menarik serangannya kemudian menjejakkan kakinya ke paha Sardi.
Duuuuuk.
Limbung lah tubuh Sardi, tapi serangan Permana tidak sampai di situ, dia mengarahkan pukulan seruling nya ke kepala Sardi.
Blaaaarrr.
Tubuh Permana terdorong ke belakang, wajahnya pucat setelah seruling nya berbenturan dengan tongkat rotan milik kakek dewa tongkat rotan.
Kakek dewa tongkat rotan yang tadi menggempur para murid padepokan gunung Semeru melihat jika Sardi terdesak, dia tidak membiarkan kawannya tewas makanya dia segera melesat untuk menghadang pukulan Permana.
Sebenarnya bagi mereka mengalahkan para murid padepokan gunung Semeru sangat mudah, namun karena mereka tidak ingin membunuh atau memberi luka yang serius sehingga membuat mereka bertarung dengan hati hati, namun hal itu tidak di rasakan oleh Surya sehingga dia masih tetap memerintahkan para murid yang baru datang untuk menyerang.
Kini pertarungan di lanjutkan, kakek dewa tongkat rotan sekarang telah menghadapi Permana, sedangkan Sardi kini membantu Cakra dan Kelana yang di keroyok puluhan murid padepokan gunung Semeru.
__ADS_1
Walau pun para murid padepokan yang mengeroyok sangat banyak, namun tidak membuat sedikitpun dari Cakra, Kelana dan Sardi yang terdesak, mereka bertahan dengan baik dan tidak menurunkan tangan kejam mereka kepada pengeroyoknya, jika terpaksa mereka cuma membuat kaki maupun tangan lawan keseleo sehingga tidak mampu melanjutkan pertarungan.
Melihat kepungan para murid tidak membuahkan hasil bahkan semakin lama semakin banyak murid murid padepokan yang keseleo tidak bisa melanjutkan serangannya membuat Surya geram.
Akhirnya Surya dan Kenanga yang termakan oleh fitnah menerjunkan diri ke arena pertarungan.
Melihat dua orang senior mereka masuk ke arena pertarungan, semua murid padepokan itu langsung mundur dari arena pertarungan membuat lingkaran di sekitar pertarungan.
Di sana sekarang tinggal tiga pertarungan satu lawan satu, Cakra yang melawan Surya, Kelana yang melawan Kenanga dan kakek dewa tongkat rotan yang melawan Permana sedangkan Sardi ikut menepi karena dia harus memulihkan tenaga.
Cakra yang melawan Surya tidak ingin mengalahkan dengan cepat, karena hal itu bisa menjadi aib pada diri Surya karena kalah di depan para muridnya sendiri, karena setiap hari yang menjalankan latihan di padepokan itu adalah Surya, sedang resi Songgo Langit hanya memberi nasehat dan arahan saja.
Cakra menyeimbangkan kekuatan yang di keluarkan untuk melawan Surya, sehingga tidak terlihat jika dia unggul jauh dari pada lawannya.
Surya telah mencabut seruling perak dari tempat nya, dia putar seruling itu hingga muncul bunyi berdengungan mengganggu lawan bertarungnya, namun hal ini tidak berlaku dengan Cakra, bunyi itu bisa di redam dengan menyalurkan tenaga dalam di ke dua telinganya.
Surya tidak menyadari hal ini, dia menyerang Cakra dengan dahsyat, serangan serangan cepat itu selalu di hindari oleh Cakra tanpa perlu membalas serangan, hal ini di kira oleh Surya jika lawannya terdesak tidak mampu membalas sehingga dia bertambah semangat dalam menyerang.
Semakin lama Cakra merasa jika dasar dasar jurus yang di gunakan oleh Surya hampir mirip dengan dasar jurus yang dia miliki, dia merasa heran kenapa bisa sama seperti itu.
" Berhenti........! "
Teriak seorang kakek berusia tujuh puluh lima tahunan yang masih terlihat segar badannya, hanya rambut yang memutih dan keriput di bawah mata yang membuat orang percaya bahwa kakek itu berusia tujuh puluh lima tahun.
Mendengar teriakan yang menggelegar di landasi dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi membuat sebagian murid dan Sardi yang tidak memiliki tenaga dalam mumpuni seakan di gedor palu dadanya.
Semua berhenti menoleh ke arah sumber suara, Kenanga yang sedang melawan Kelana langsung menoleh kemudian lari ke arah sumber suara itu kemudian bersujud di kakinya.
" eyang,, maafkan Kenanga telah pergi tanpa pamit dari padepokan ini,, " ucap Kenanga yang ternyata cucu satu satunya dari kakek tua yang baru datang itu.
" Dasar anak nakal, kita bicarakan nanti, sekarang aku ingin mengurus perusuh di padepokan ku. " ucap Kakek itu yang ternyata empu Songgo Langit.
Dengan langkah ringan empu Songgo Langit menghampiri mereka.
" Siapa kalian berani Mengacau di sini,,? " teriak empu Songgo Langit.
__ADS_1
Empu Songgo Langit kemudian memandang satu persatu orang yang mengacau itu, saat tatapan empu Songgo Langit bertemu dengan mata Cakra, empu Songgo Langit menjadi terkejut, dia melihat dengan seksama mata pemuda itu, namun keterkejutannya semakin bertambah, dia yakin dengan apa yang baru saja dia lihat.