
Kakek dewa tongkat rotan memeriksa keadaan Cakra, dia terkejut dengan apa yang terjadi dengan Cakra, karena luka dalamnya kini telah pulih sempurna, tinggal menunggu dia tersadar dari pingsannya.
Setelah rasa sakit yang sangat karena proses masuknya roh garuda agni ke tubuhnya, semua menjadi gelap, kemudian perlahan Cakra membuka matanya, pertama yang di lihat adalah atap batu dari gua yang di tempatinya, dia menoleh untuk melihat sekelilingnya, di dapatnya kakek dewa tongkat rotan sedang bersemedi, sedangkan Kelana dan Sardi sedang tidur pulas di sudut yang lain.
Tidak ingin mengganggu yang lain, dengan gerakan yang ringan dan cepat dia keluar dari dalam gua itu, tidak ada yang menyadari keluarnya Cakra dari gua itu, karena kecepatan dia saat ini sudah bertambah berlipat lipat setelah mendapat gemblengan oleh roh garuda agni, apalagi setelah roh garuda agni bergabung di tubuhnya, tenaga dalamnya meningkat pesat, tubuhnya terasa ringan dan pandangan matanya lebih tajam, meski dalam gelapnya malam seperti saat ini, namun tidak membuat mata Cakra kesulitan menangkap semua gerakan, bahkan gerakan hewan kecil yang halus pun dapat dia ketahui.
Cakra melesat layaknya terbang, terlalu cepatnya Cakra bergerak, seakan siapapun yang melihat akan mengira jika ada bayangan hantu yang melintas.
Cukup jauh dari keberadaan gua tempatnya berada tadi, Cakra berhenti di sebuah bukit batu yang jarang di tumbuhi pohon.
Dia memastikan di sekitarnya tidak ada orang, dia berniat mencoba kekuatan barunya di sini.
Awalnya dia berdiri kokoh, kemudian dia mengalirkan seperempat tenaga dalam nya ke seluruh tubuh, dari kaki merambat ke atas muncul api yang berwarna biru, tidak lama, api itu menyelubungi seluruh tubuh Cakra, keadaan di sekitar Cakra bergetar, kerikil kerikil melayang mendekati Cakra, namun saat kerikil itu menyentuh api di tubuh Cakra kerikil itu terbakar dan habis seperti meteor yang terbakar.
Dia tingkatkan lagi tenaganya untuk melihat seberapa batas yang mampu dia keluarkan, hasilnya pohon besar yang di bawahnya ada mata air berjarak sepuluh tombak darinya langsung layu, bahkan mata air yang ada mulai mendidih airnya kemudian menguap dan lenyap.
" Luar biasa kekuatan roh garuda agni,, " gumamnya.
" Aku harus menggunakan dengan hati hati agar tidak melukai banyak orang. "
Kemudian Cakra menghentikan kobaran api di tubuhnya, dia kini mencoba mengeluarkan baju zirah yang telah di perbaiki oleh roh garuda api.
Di tubuhnya muncul baju zirah yang indah, bahkan lebih indah dari baju zirah yang dulu dia miliki, terdapat ukiran burung garuda yang sama seperti yang ada di pintu biru tempat dia masuk ke alam tempat roh garuda agni berada, di mata ukiran garuda itu terdapat batu mulia berwarna merah yang sangat indah, begitu juga saat dia mengeluarkan sayap dari kumpulan tenaga dalam yang di padatkan itu, sayap itu berwarna keemasan yang indah dan di hiasi pola garis berwarna biru membuat sayap itu semakin indah.
Cakra melesat terbang menembus awan, dia bergerak bebas, tubuhnya yang ringan menjadikan gerakannya semakin bebas tanpa adanya halangan.
Dia mendaratkan lagi tubuhnya di bukit batu yang sama, sampai saat ini dia puas dengan kemampuan baru yang di milikinya.
Cakra berniat kembali ke gua tempat teman temannya berada, namun baru saja dia bersiap, dia mengurungkan niatnya karena dia mendengar seseorang berbicara padanya.
__ADS_1
" Coba keluarkan tombak bayu angkasa milikmu,,,! "
Cakra merasa heran dengan suara yang muncul dari dalam tubuhnya.
" Siapa kau,,? " tanya Cakra.
" Baru saja kau menggunakan kekuatan ku, sekarang kau sudah lupa,, " ucap roh garuda api.
" Apakah benar kau roh garuda agni,,? "
" Benar, kapan pun kau bisa berbicara dengan ku karena aku saat ini sudah menyatu dengan mu,, " ucap roh garuda agni.
Cakra sangat gembira mendengar ucapan roh garuda agni, dia tidak akan merasa kesepian jika harus berpetualang sendiri karena roh garuda agni akan selalu bisa di ajak bicara.
Dia segera melakukan apa yang di suruh oleh roh garuda agni, di genggamannya kini muncul tombak bayu angkasa, ternyata tombak itu kini juga berubah, kini di gagang dan bilah tombak itu muncul ukiran ukiran berwarna emas di antara warna biru, membuat tampilan tombak itu semakin mewah, tidak hanya itu, saat Cakra mengibaskan tombaknya meluncur dari tombak itu melesat angin yang terbungkus api berwarna biru.
Jdaaaaaaaar.
" Luar biasa,,, " decak Cakra.
Dia tidak menyangka perpaduan api dan angin menyimpan daya rusak yang besar seperti ini.
Suara ledakan yang keras dan pancaran tenaga dalam yang kuat menjadikan beberapa pendekar yang memiliki kemampuan tinggi berdatangan.
Cakra yang mengetahui itu, dia segera melesat meninggalkan tempat itu.
Tidak lama, para pendekar yang menuju bukit batu itu telah tiba, di sana mereka tidak menemui apa apa kecuali kepulan asap akibat ledakan batu.
***
__ADS_1
Kakek dewa tongkat rotan baru membuka matanya mengakhiri semedinya, dia terkejut karena dia tidak mendapati Cakra berada di tempat nya, dia segera membangunkan Kelana dan Sardi.
Kelana dan Sardi pun ikut panik setelah melihat Cakra tidak berada di tempatnya.
Mereka menghambur keluar mencari keberadaan Cakra, baru sebentar mereka keluar, mereka menghentikan larinya karena ternyata Cakra telah duduk di dekat perapian sambil memanggang dua ayam hutan yang hampir matang.
Melihat kawan kawannya telah bangun, dengan tersenyum Cakra menyapa mereka.
" Ah kebetulan kalian sudah bangun, ayam hutan ini sebentar lagi akan matang,, " ucap Cakra.
Yang di sapa hanya saling melempar pandangan sambil menggaruk kepala tanda mereka sedang bingung.
" Aaah, aku mau ke sungai dulu membersihkan diri,, " ucap kakek dewa tongkat rotan menutupi kebingungannya.
" Oh, aku juga,, " ucap Sardi dan Kelana bersamaan, kemudian mereka menyusul kakek dewa tongkat rotan yang sudah lebih dulu berjalan ke arah sungai.
Tidak lama mereka sudah kembali dari sungai, kemudian mereka bergabung dengan Cakra yang saat ini telah sibuk mengunyah daging ayam di mulutnya.
Mereka makan ayam bakar dengan lahap sambil membicarakan banyak hal.
Cakra menanyakan berapa lama dia tidak sadarkan diri dan apa saja yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri.
Dengan bergantian kakek dewa tongkat rotan, Sardi dan Kelana menceritakan semuanya kepada Cakra, termasuk tentang kondisi saat ini para pendekar yang sudah mulai meninggalkan hutan Angkrong.
" Melihat kondisi saat ini dan nak mas Cakra juga sudah pulih sebaiknya kita segera mengembalikan patung garuda emas kepada empu Songgo Langit di gunung Semeru, " usul kakek dewa tongkat rotan.
" Benar,, jika pusaka ini sudah sampai ke tangan empu Songgo Langit, pasti tidak akan ada orang lain yang berani merebut pusaka ini,, " lanjut Sardi.
Mereka tidak tahu jika patung garuda emas saat ini hanya menjadi patung biasa karena roh garuda agni yang mendiami patung itu kini telah menyatu dengan tubuh Cakra.
__ADS_1
Cakra tidak ingin membuka rahasia itu dulu, dia mengiyakan usulan kawan kawannya sehingga di sepakati jika secepatnya mereka berangkat ke gunung Semeru.