PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Menuju Hutan Kuncoro 2


__ADS_3

Cahaya keemasan dari mentari baru muncul, Cakra sudah memerintahkan paman Suro dan paman Rejo agar pasukan mereka bersiap siap meninggalkan hutan Gondo Mayit, semua dengan teliti memeriksa barang bawaan mereka, mereka juga menata lokasi mereka beristirahat agar tidak kentara kalau mereka beristirahat di situ, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan jejak dengan menabur daun kering dan ranting di tempat itu, mereka juga berencana pasukan yang paling belakang menabur daun daun menutupi jejak yang mereka tinggalkan, beruntung pada saat itu musim kemarau sehingga jejak di tanah mereka tidak kentara.


mereka dengan tertib berjalan beriringan, bergantian mereka memikul harta rampasan yang mereka bawa, sebagian di angkut menggunakan pedati dan di naikan kuda yang dulunya di pakai oleh Cakra, putri Kencana Sari dan kedua paman Rejo dan Suro.


Kini Putri Kencana Sari, Nyai Selasih dan ke dua paman Rejo dan Suro ikut berjalan mengiringi langkah para prajurit itu, di depan putri Kencana Sari dan Nyai Selasih memimpin perjalanan mereka, sedangkan kedua paman itu berada di belakang mengawasi proses penutupan jejak.


Cakra kadang terbang untuk mencari jalan yang cepat dan aman untuk di lalui, kadang Cakra turun untuk berdiskusi dengan Nyai Selasih yang lebih paham tentang seluk beluk hutan Gondo Mayit.


Tepat di tepi hutan Kuncoro sebelum mereka menyeberangi sungai yang alirannya dangkal dan jernih, mereka beristirahat, padang yang luas dan air yang jernih membuat mereka bisa beristirahat sambil mengisi persediaan air minum mereka, mereka juga mulai memasak bekal yang mereka dapatkan dari pasukan Selo Cemeng kemaren.


Dengan cepat mereka bekerja sama, ada yang mengumpulkan kayu, ada yang menanak nasi, ada yang berburu hewan yang bisa di jadikan lauk dan ada yang mandi di sungai untuk membersihkan badan.


Setelah semua masakan siap, mereka menyantap bersama sama menggunakan alas daun pisang, terdapat senyum di wajah mereka karena merasa walau makanan sederhana namun mereka makan dalam keadaan bebas tidak tertekan, mereka merasa aman dan nyaman berada di lingkungan prajurit itu yang saling mengingatkan dan menguatkan hingga mereka merasa semakin dekat satu sama lain.


Melihat itu Cakra dan teman temannya merasa puas, mereka semua prajurit yang berhati mulia dan dapat di andalkan.


Selesai makan mereka melanjutkan perjalanannya, mereka mulai meninggalkan hutan Gondo Mayit dan sebentar lagi memasuki hutan Sroyo, mungkin dengan perjalanan seperti ini, mereka akan sampai di hutan Kuncoro tiga hari lagi.


Perlahan mereka memasuki hutan Sroyo, hutan ini tidak begitu lebat di bandingkan dengan hutan Gondo Mayit dan hutan Kuncoro, karena hutan ini di lewati para pedagang yang ingin berdagang di kerajaan Watu Galih.


Karena jalan yang di lalui tidak begitu sulit, perjalanan itu terasa semakin cepat, hingga pada sebuah pertigaan jalan hutan itu Nyai selasih mendapati seorang yang terluka akibat sabetan pedang di tubuhnya, Nyai Selasih menghampiri orang itu.


"Apa yang terjadi tuan, kenapa anda terluka seperti ini,, " tanya Nyai Selasih.


"Aku baru saja dirampok, semua anak buah ku telah di bunuh oleh perampok yang mengatas namakan kelompok kuda sembrani,, "


" Sudahlah tuan, yang penting nyawa anda bisa selamat, sekarang aku akan mengobati luka anda, " jawab Nyai Selasih.


" Tapi... tapi istri dan anak gadisku di culik oleh mereka, " jawab pedagang itu.


Mendengar itu Nyai Selasih terperanjat dan melaporkan kejadian itu kepada Cakra yang masih berbincang dengan putri Kencana Sari dan kedua paman Rejo dan Suro.

__ADS_1


Cakra yang mendapat laporan itu segera menghampiri pedagang yang sekarang sedang di rawat oleh seorang prajurit.


Setelah menanyakan apa yang terjadi dan arah perampok itu berlari, Cakra segera melesat di ikuti Nyai Selasih ke arah yang di tunjukan pedagang tadi.


Putri Kencana Sari sengaja tetap di dekat para prajurit untuk mengawasi para prajurit yang sekarang sedang istirahat.


***


Tooolong Tolooong...


Suara dua orang perempuan meminta tolong memecah keheningan hutan Sroyo, teriakan perempuan itu kadang hilang kalah oleh hentakan kaki kuda dan suara tawa penunggangnya, mereka memacu dengan cepat kudanya agar segera sampai ke markas mereka untuk menikmati kedua perempuan yang mereka bawa, apalagi gadis perawan yang manis itu, seakan mereka sudah tidak sabar untuk menggagahinya di markas.


Mereka memasuki sebuah gerbang yang di dalamnya berjajar rapi rumah rumah terbuat dari kayu jati, di tengah terdapat pendopo yang cukup besar, mereka tetap melarikan kudanya sampai di depan pendopo mereka baru berhenti.


" Masukan semua harta itu ke gudang penyimpanan, ,! " perintah ki Wongso pemimpin kelompok Kuda Sembrani sambil memanggul seorang gadis di pundaknya.


Belum perintah itu di laksanakan dua bayangan telah melesat dan berdiri di depan pendopo itu dengan gagah.


" Bebaskan kedua perempuan itu dan kembalikan semua harta yang kalian ambil dari ayahnya, karena harta itu bukan hak kalian,,! " seru Cakra dengan tenang.


" Hahahahah, memangnya siapa kau berani memerintah nama besar kuda sembrani yang aku pimpin ini,,,? " bentak ki Wongso menutupi keterkejutannya.


" Tidak perlu aku memperkenalkan diri, bagiku nama besar bukan suatu yang penting di pamerkan, yang penting bebaskan perempuan itu,, " jawab Cakra sambil menyindir ki Wongso.


" Kurang ajar, anak tidak tau diri, cincang mereka berdua,,! " teriak ki Wongso.


Sebelas perampok langsung menyerang mendengar perintah pimpinannya, mereka langsung merangsek ke depan membabatkan pedang dan golok mereka.


Traaang trangg traaangg,


Senjata senjata di tangan perampok itu berpentalan dan terlepas dari tangan pemiliknya karena terkena tangkisan selendang kuning milik Nyai Selasih, tidak sampai di situ setelah menangkis senjata tadi, Nyai Selasih langsung meloncat mengarahkan kakinya ke badan para perampok itu.

__ADS_1


Deessshh.


Deeeeessshh..


Aaakhh..


Lima orang terpental terkena tendangan Nyai Selasih, kebanyakan dari mereka langsung pingsan yang masih sadar pun tidak bisa melanjutkan pertarungan karena dadanya terasa sesak dan muntah darah.


Nyai Selasih masih di kurung oleh enam anggota rampok itu, walau di kurung dia tidak gentar karena memang kemampuan mereka jauh di bawah Nyai Selasih.


Dengan bersamaan mereka menyerang, desingan pedang dan golok menyambar ke arah tubuh Nyai Selasih, namun semua serangan itu terasa lambat bagi Nyai Selasih hingga sangat mudah dia menghindari serangan senjata itu, kadang Nyai Selasih menyentil senjata yang datang hingga tangan pemiliknya bergetar karena kalah tenaga dalam, kadang Nyai selasih membelokan arah senjata hinga mengenai tubuh kawannya sendiri.


Nyai Selasih masih menikmati pertarungan itu sehingga Cakra hanya berdiri mengawasinya, berbeda dengan ki Wongso yang mulai geram karena anak buahnya tidak mampu berbuat apa apa di depan seorang perempuan.


Dengan amarah yang memuncak, ki Wongso menaruh tubuh gadis yang di panggulnya, dia berniat menyerang Nyai Selasih selagi masih sibuk melawan anak buahnya, namun di tengah jalan, Cakra telah menghadangnya, dia sudah tau maksud licik dari ki Wongso, sehingga dia tidak membiarkan itu terjadi.


Dengan membabi buta ki Wongso menyerang Cakra, awalnya dia memandang remeh kepada Cakra, namun kini saat dia sudah bertarung dengan Cakra, dia sadar lawannya sangat tangguh, dia yang telah mengeluarkan jurus andalannya jurus gentur bumi yang dahsyat mampu dengan mudah di hindari oleh Cakra.


Duuukh Duukh.


Hentakan kaki ki Wongso menggetarkan tanah agar mengganggu lawannya, namun Cakra dengan lincah meloncat loncat menghindari serangan yang tersalur dari tanah itu.


Cakra mengeluarkan jurus Cakar Garuda membelah Badainya, dia meloncat ke kanan kiri kadang meluncur mengarah musuhnya, dia meloncat keatas dan meluncur kedepan dengan cepat, dia mengarahkan kedua cakarnya ke arah lawan.


Melihat serangan yang datang, ki Wongso memapak dengan pukulan tangan kanan, Cakra memutar mengelak dari pukulan itu, Cakar tangan kirinya menggores lengan yang terjulur hingga terdapat luka yang panjang dan dalam di lengan itu dan Cakar tangan kanannya menyabet ke arah leher ki Wongso.


Craaaashhh.


Aaaakhhhhhhhh...


Suara jerit kematian terdengar di iringi suara leher yang mengeluarkan darah segar, ambruklah tubuh itu ke tanah tidak bergerak lagi.

__ADS_1


Nyai selasih tinggal menyisakan dua lawan, melihat pemimpinnya binasa, ke dua lawan itu segera membuang senjata tanda menyerah.


Nyai Selasih mengampuni mereka dengan menjadikan kedua orang itu pembantunya, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menerima keputusan Nyai Selasih.


__ADS_2