
Pangeran Jati Kusuma di temani paman Jolo Wojo, Nyai Selasih, ki Sarjo dan empat ratus prajurit di tambah dua ratus pendekar hampir sampai di perbatasan kota Gading Padas, mereka berencana siang ini memasuki pusat kota dengan masuk melalui jalan rahasia, kemudian malam hari mereka akan menyerbu secara mendadak di bekas istana Gading Padas, mereka akan merebut kerajaan Gading Padas saat wilayah itu di tinggal hampir tiga per empat prajuritnya hingga hanya menyisakan seribu prajurit, itu pun sebagian berasal dari warga Gading Padas yang di paksa menjadi prajurit.
Mereka pagi itu beristirahat di sebuah hutan untuk memulihkan tenaga, dua orang di utus untuk masuk melihat keadaan dan juga mengabarkan kepada prajurit yang telah di susupkan di dalam untuk ikut bergerak nanti malam.
****
Pagi itu di tempat istirahat pasukan Sangga Bhumi para prajurit mulai berkurang keberanian dan semangatnya, bagaimana pun juga penyerangan tadi malam yang memakan korban begitu banyak membuat mereka menjadi ciut nyalinya, apalagi di tambah dengan kabar memisahkannya para prajurit warga Gading Padas, sehingga menjadikan jumlah mereka menjadi berkurang.
Para pimpinan pasukan berkumpul membahas kemungkinan di lanjutkan atau mundur, namun jika mundur mau di taruh mana mukanya nanti saat melapor kepada Sangga Bhumi, bagaimanapun mereka adalah para panglima dan senopati pilihan yang sudah lama memimpin perang, hanya karena perusuh saja mereka tidak mampu mengalahkan, akhirnya panglima Pancaka mengambil keputusan untuk melanjutkan pertempuran itu dengan hasil apapun.
" Persiapkan pasukan, kita akan menyerang dengan pelontar minyak lemak hewan yang kita bawa kemudian luncurkan panah berapi untuk membakar mereka, aku ingin memastikan semua wilayah hutan ini hangus menjadi abu beserta isinya,,,,! " perintah panglima Pancaka kepada Senopati Pradipa.
" Siap akan saya laksanakan,, "
Tidak menunggu lama, senopati Pradipa telah memerintahkan para prajuritnya untuk menyiapkan alat pelontar minyak yang di taruh di kendi kendi kecil terbuat dari tanah, dia juga menyiapkan para pasukan pemanah untuk bersiap.
" Lapor panglima, persiapan kita sudah selesai, tinggal menunggu perintah dari anda,, " lapor senopati Pradipa.
" Baik, langsung saja semua pasukan harus bersiap ,, "
Panglima Pancaka maju di depan prajuritnya, kebanyakan dari mereka menundukkan kepala merasa enggan untuk berperang namun untuk mundur pun mereka tidak berani.
" Wahai saudaraku semua, janganlah karena kejadian kecil semalam membuat hatimu mengecil dan menjadikan seorang yang dari dulu terkenal gagah berani dan tidak takut mati kini malah menjadi pengecut yang ingin lari dari medan perang, ingatlah kalian bahwa kejayaan berada di depan mata, tidak ada satupun yang bisa menghalangi kita untuk menuju kejayaan apalagi hanya sekumpulan kecil orang yang ingin merebutnya, jumlah kita lebih banyak dari mereka, jadi mari kita hancurkan mereka,,,! " ucap panglima Pancaka mengobarkan semangat para prajurit.
Sontak teriakan penuh semangat menggetarkan hutan itu, Cakra dan pasukannya yang menjaga di tepi hutan Gondo Mayit mendengar deru semangat itu, dia merasa lawan sudah bersiap berperang, dia memerintahkan Dirga untuk menjemput prajurit yang tadi malam memisahkan diri dari pasukan Sangga Bhumi untuk bergabung dengannya, Cakra berniat menuntaskan semua perang ini sehingga tidak ada lagi penindasan yang di lakukan di bumi Gading Padas.
Prajurit Gading Padas sedikit demi sedikit maju bersama sama, mereka saling merapat melindungi satu sama lain dari serangan jarak jauh lawannya. tameng tameng besi di pasang di atas kepala sambung menyambung bagai payung raksasa.
Saat jarak mereka sudah semakin dekat, awalnya mereka melontarkan kendi kendi berisi lemak hewan yang di cairkan yang mudah terbakar menggunakan alat pelontar raksasa.
Pyaaaar
Pyaaaar.
Piyaaaaar.
Suara kendi yang berjatuhan pecah menghantam pohon kadang menghantam perisai prajurit di bawah pimpinan Cakra yang walaupun tidak terlihat dari luar hutan Gondo Mayit namun sudah bersiap menyambut serangan lawan.
Hujan Kendi berisi lemak hewan masih terjadi, ribuan kendi kendi itu terus berjatuhan, ada prajurit yang sial terkena hantaman kendi di kepalanya hingga pingsan.
Cakra kemudian memerintahkan membalas serangan itu dengan pelontar batu batu seukuran buah kelapa.
Wuuuuuukk.
Wuuuukk.
Braaaak.
Braaaakk
Praaaak.
Suara beradunya batu dengan tameng di pasukan Gading Padas.
" Pertahankan posisi, jangan sampai perisai kalian terlepas, lindungi semua kawan kawan kalian,,,! " teriak senopati Pradipa
__ADS_1
Saling balas serangan itu masih terjadi, walau batu batu yang mengarah kepada pasukan Gading Padas itu sangat banyak namun dengan kerja sama yang baik mereka mampu meredamnya, jika ada teman mereka yang tangannya terluka akibat benturan batu dengan tameng yang di pegang mereka dengan segera menggantikan kawannya yang terluka.
" Siapkan panah api,,,! " teriak senopati Pradipa.
Hampir bersamaan dari sela sela tameng yang menyambung muncul ratusan anak panah yang ujungnya menyala api.
" Lepaskan.......! "
Shiiiiing..
Shiiiiiiiiing..
Shiiiiiiiiiingg..
Ratusan panah itu meluncur ke arah hutan.
Claaaaphh.
Claaaphh.
Aaaaakhhh.
Panah panah itu meluncur cepat menancap di pohon sebagian mengenai pasukan yang di pimpin Cakra, dewa tongkat rotan, Sanja Kelana, Putri Kencana Sari, ki Harjo dan ki Adirojo menghalau serbuan anak panah itu dengan menggunakan senjatanya masing masing, namun walau anak panah itu dapat di tangkis namun api yang ada di anak panah yang mengenai lemak hewan langsung mengobarkan api yang besar membakar apapun yang ada di dekat mereka, apalagi di hutan Gondo Mayit itu banyak ranting dan daun kering yang mudah terbakar sehingga kebakaran itu sangat mudah menjalar.
Cakra yang awalnya masih di belakang melihat itu dia memerintahkan prajurit yang ada untuk berusaha memadamkan api yang semakin membesar, dia sendiri segera mengaktifkan baju zirah dan sayap garudanya, di tangannya tombak Bayu Angkasa memancarkan aura yang membuat orang yang memandangnya akan takluk dan berlutut.
Cakra melesat terbang memutar mutar tombaknya untuk menghalau anak panah yang mengarah ke hutan Gondo Mayit, dia semakin cepat memutar mutar tombaknya sehingga dari putaran itu muncul pusaran angin beliung yang mengarah ke kumpulan prajurit lawan.
Prajurit yang terhempas angin badai itu mulai goyah, sebagian tameng yang berat bahkan terlepas dari pegangan tangan dan terlempar terbawa angin.
Wuuushhh.
Angin yang di buat Cakra itu terus menerus menghantam pasukan Gading Padas, melihat pasukan Gading Padas bercerai berai, Sanja Kelana bersama ki Harjo merangsek ke arah pasukan itu untuk menyerang, tindakan itu di ikuti oleh para pendekar golongan putih dan para prajurit lainnya.
Terjadilah perang yang sengit di situ, Sanja Kelana mengamuk dengan Cambuk Naganya, sabetan Cambuknya selalu menumbangkan paling sedikit tiga orang prajurit lawan.
Cakra yang melihat barisan depan pasukan lawan sudah tercerai berai dia menuju ke tengah barisan yang masih kokoh pertahanannya, dia masih terbang dan mengepakkan sayapnya.
" Jurus Bulu emas jatayu,,, "
Dari kepakan sayap Cakra muncul bulu bulu tajam yang melesat kearah prajurit.
Crraaaass.
Craaasss.
Bulu bulu itu dengan mudah menembus tameng tameng besi, apalagi tubuh prajurit, dengan sekejap berjatuhan lah para prajurit prajurit itu tanpa bernafas lagi.
Sudah banyak prajurit yang berjatuhan di tangan Cakra, hingga akhirnya panglima Pancaka tidak ingin hal itu terus berlangsung, dia menyerang Cakra dari jarak jauh.
Dhuuaaarrr.
Pukulan itu tepat mengenai dada Cakra, namun karena tubuh Cakra terlindungi baju zirah sehingga pukulan yang bisa menghancurkan batu karang itu hanya terasa panas sedikit setelah itu hilang efeknya.
Setelah mendapat serangan itu, Cakra meluncur menerjang ke tengah prajurit dengan membentangkan sayapnya, para prajurit yang terkena sayap Cakra semuanya terpental badannya hangus dan mati.
__ADS_1
Tepat di hadapan panglima Pancaka dia berhenti, dia ingin segera menghabisi panglima itu untuk menyelesaikan pertarungan.
Tanpa harus membuang waktu panglima Pancaka dan senopati Pradipa sudah menyerang secara bersamaan, serangan demi serangan Cakra hadapi dengan serius karena walau kekuatan panglima Pancaka tinggal setengah setelah dia kehilangan pusakanya namun kini dia di bantu oleh senopati Pradipa yang hanya satu tingkat kemampuannya di bawah panglima Pancaka.
Cakra di kurung oleh dua penyerangnya, sambaran pedang silih berganti mengincar setiap inci tubuhnya, namun sampai dengan lima ratus jurus belum satupun serangan lawan yang mampu mengenainya.
Kini Cakra mulai membalas serangan lawan dengan lebih aktif menggunakan tongkatnya untuk menyerang dari sebelumnya yang hanya di gunakan untuk menghalau serangan lawan.
Buuuukhh.
Punggung senopati Pradipa terkena gebukan tombak Cakra, dia terjungkal ke depan dengan darah yang meleleh dari mulutnya.
Terlihat amarah di wajah Pradipa, dia segera ingin membalas serangan Cakra.
Wuuushh.
Pedang Pradipa menyambar kepala Cakra yang saat itu masih melayani serangan panglima Pancaka, merasa ada serangan yang kuat dari arah belakang mengarah di kepalanya, Cakra meloncat ke atas dan bersalto ke belakang, tepat saat dia bersalto tubuh Pradipa lewat di bawahnya sehingga kesempatan bagi Cakra untuk menyarangkan tendangannya ke punggung Pradipa.
Buuuukh.
Dua kali punggung itu terkena serangan Cakra, tubuh Pradipa terdorong ke depan hampir menabrak panglima Pancaka, untung Panglima Pancaka mampu menangkap tubuh itu sehingga mereka tidak terjatuh.
Cakra tersenyum melihat lawannya seperti itu, apalagi Pradipa saat ini sedang meringis kesakitan karena punggungnya dua kali terkena serangan.
Cakra memutar mutar tombaknya sekali lagi, dia bersiap menyerang dua musuhnya itu.
Wuuus.
wuuush.
Cakra mengarahkan ujung tombaknya ke arah dua lawannya, dengan memisahkan diri, kedua lawan Cakra menghindari serangannya, tepat saat tombak itu berada di tengah tengah lawannya, Cakra menggerakkan tombaknya mengejar Pradipa yang posisinya kurang menguntungkan.
Wuuuut.
Praaaak.
Laju tombak yang cepat itu membentur pedang Pradipa yang di gunakan untuk menangkis, namun pedang itu tidak mampu membendung laju tombak Cakra hingga akhirnya pedang itu patah dan tombak itu dengan tepat menancap di dada Pradipa.
Melihat kawannya mati, panglima Pancaka murka, dia mau mengadu nyawa dengan Cakra, dia kerahkan tenaga dalam dan di kumpulkan ke telapak tangannya.
Wuuuuuuuushh.
Duaaaaaaaar.
Cahaya kehijauan meluncur ke arah Cakra, namun Cakra sudah siap, di papakinya pukulan itu dengan jurus paruh garuda agni, terjadi ledakan yang besar namun pukulan paruh garuda agni tetap melesat ke arah tubuh panglima Pancaka hingga meledak lah tubuh itu tidak berbentuk meninggalkan potongan daging yang berserakan.
Cakra segera menghampiri Dewa tongkat rotan.
" Kakek, apakah kakek tau di mana Sangga Bhumi,,? " tanya Cakra kepada kakek dewa rotan yang sudah pernah bertemu dengan Sangga Bhumi.
" Sampai saat ini aku tidak melihat keberadaannya, apakah dia tidak ikut kesini,,, " jawab kakek itu.
" Kalau dia tidak ikut, berarti pangeran Jati Kusuma dalam keadaan bahaya, aku harus segera menyusulnya, mudah mudahan mereka belum menyerang istana Gading Padas. "
Cakra segera melesat terbang menuju ke arah Gading Padas.
__ADS_1