
Hiyaaaat.
Wuuuuus.
Wuuuuuuuss.
Sesosok gadis cantik bagai bidadari dengan gesit memperagakan setiap gerak silat yang indah dan luwes, walau gerakannya seperti orang yang menari, namun daya serang yang di timbulkan sangat besar.
Gadis itu yang sudah dari pagi berlatih dengan keras tubuhnya terhias peluh, keadaan seperti itu tidak menjadikan kecantikannya pudar, justru menambah terlihat menawan.
Weeeeeess.
Plaaaak.
Batu sebesar kepalan tangan meluncur ke arahnya, gadis itu langsung menepis dengan telapak tangannya, namun karena daya dorong dari batu itu cukup keras membuat tangan mungil itu kesakitan hingga di kibas kibaskan.
"Aduh kakang, kenapa keras sekali melemparnya,, " keluh gadis itu.
" Dasar manja, baru segitu saja sudah mengeluh. "
Bukannya menghentikan lemparannya, pemuda yang tadi di tegur justru melempar lebih banyak batu batu di sekitarnya.
" Hati hati dinda Kenanga, jangan sampai pulang nanti kepalamu benjol terkena batu ini, nanti kalau benjol cantikmu hilang,, " ucap pemuda yang ternyata Cakra yang sedang melatih Kenanga dengan melempari dengan batu.
Yang menjadi sasaran lemparan menjadi sebal, namun dia juga tidak berani membantah, bagaimanapun juga usulan untuk dilatih oleh Cakra atas permintaan dirinya sendiri.
Weees.
Weeeees.
Lemparan batu yang di arahkan ke Kenanga semakin banyak, belajar dari hasil benturan tadi membuat Kenanga tidak menepis batu itu, namun dia menghindari dengan cepat, dasar dasar gerakan jurus sayap seribu telah mantap di kuasai oleh Kenanga sehingga dengan mudah dia bisa menghindari serbuan batu ke arahnya.
Cukup banyak batu yang sudah berterbangan kini justru Cakra yang melesat ke arah Kenanga, dia menyerang Kenanga dengan jurus cakar garuda membelah badai walau tidak di lambari dengan tenaga dalam.
" Perhatikan serangan ku jangan perhatikan wajahku yang tampan ini, nanti kau akan terpesona hingga mudah di kalahkan,, " ucap Cakra mengejek Kenanga.
" Huuh, Siapa pula yang bakal terpesona dengan wajah pasaran seperti itu,, " balas Kenanga sambil masih berkonsentrasi menghindari serangan Cakra.
Cakra mempercepat serangannya, kakinya pun dia gunakan untuk menyerang, sehingga yang di serang pun harus lebih cepat menghindar, gerak kakinya yang lincah di padu dengan badan yang luwes dan gerakan tangan yang halus mampu membuat serangan Cakra hanya mengenai ruang kosong.
Sampai sebuah sepakan kaki Cakra mengibas dari kanan di hindari Kenanga dengan bersalto ke belakang sebanyak tiga kali.
" Cukup dinda, ayo kita istirahat dulu,,! " ajak Cakra.
Mereka kemudian berjalan menuju bawah pohon yang rindang, di sana sudah tersedia sebumbung air segar yang di bawa dari padepokan, Kenanga langsung menghenyakkan pantatnya di tanah kemudian meneguk air di bumbung itu sampai hampir habis airnya.
" Lelah sekali kakang,, " ucap Kenanga kepada Cakra yang dari tadi memperhatikan tingkah lakunya.
" Ini belum seberapa dinda, jika kau ingin lebih kuat kau harus lebih keras berlatih,,,! " jawab Cakra.
Awalnya Kenanga malas untuk berlatih, dia menggunakan alasan minta di ajari oleh Cakra karena dia ingin terus berdekatan dengan Cakra, namun Cakra yang memang lembut saat bersama Kenanga namun pada saat melatih dia sangat tegas dan keras.
__ADS_1
Bahkan Cakra sempat mengatakan kepada Kenanga jika dia ingin menjadi kekasihnya, dia harus lebih kuat, kalau masih lemah tidak ada alasan bagi Cakra untuk menjadikan dirinya kekasih.
Akhirnya mau tidak mau Kenanga berlatih dengan keras, memenuhi setiap perintah yang diberikan Cakra.
" Bagaimana latihan ku tadi ,,? " tanya Kenanga.
" Di banding beberapa hari kemaren, gerakan mu sudah semakin mantab, kecepatan mu juga sudah meningkat, mungkin tinggal tenaga dalam mu yang belum banyak ada kemajuan. " jawab Cakra.
Kenanga hanya menganggukkan kepala mendengarkan penjelasan Cakra, dia bersyukur bisa di latih oleh Cakra, karena cara melatihnya sehingga hanya beberapa hari saja kemampuannya meningkat dengan cepat.
Setelah merasa cukup beristirahat, Cakra meminta Kenanga melanjutkan latihannya, kini Cakra memperagakan dasar dasar jurus cakar garuda membelah badai, dengan perlahan Cakra mencontohkan setiap gerakan hingga selesai, kemudian dia menyuruh Kenanga mengulangi lagi samua gerakan tadi.
Kenanga sangat antusias dengan jurus baru yang di ajarkan oleh Cakra kepadanya, dia berusaha mengingat semua gerakan yang di contohkan, dia bertekad tidak akan mengecewakan Cakra yang telah bersusah payah mengajarinya.
Tidak terasa saat Kenanga mengulang ulang jurus itu entah sudah berapa kali dia mengulang, matahari sudah condong ke barat menandakan mereka harus segera menyelesaikan latihannya.
Cakra mengajak Kenanga berlomba adu cepat sampai ke padepokan dahulu, jika Kenanga menang dia menjanjikan untuk nanti malam menemuinya di taman padepokan, hal ini membuat Kenanga senang sehingga dia dengan semangat berlari meninggalkan Cakra yang entah kenapa kecepatan larinya berkurang tidak seperti biasanya.
***
Suasana makan malam di ruangan padepokan sekarang terasa sepi, telah kembalinya Kakek dewa tongkat rotan, Kelana dan Sardi membuat ruangan itu hanya terisi oleh empu Songgo Langit, Surya, Kenanga dan Cakra.
Mereka menyelesaikan makan malam mereka dengan cepat tanpa ada seorang pun yang berkata kata.
" Bagaimana hasil latihan mu Kenanga,,? " tanya empu Songgo Langit mengakhiri kesunyian setelah semuanya selesai makan.
" Kenapa tanya pada ku, bukan kah yang mengajari aku itu kakang Cakra, jadi tanyanya ya kepada kakang saja,, " jawab Kenanga dengan wajah yang lucu.
" Ya sudah tidak jadi tanya aku,, " umpat kakeknya dengan wajah yang tidak kalah lucu.
Memang sewibawa apapun empu Songgo Langit di mata murid dan masyarakat sekitar, di hadapan cucunya ini seakan akan tidak berlaku, karena cucu satu satunya itu selalu mampu membuat kakek itu bertingkah layaknya seusia Kenanga.
" Maaf eyang, selama ini pelajaran yang saya berikan kepada dinda Kenanga bisa di serap dengan baik, kemajuannya pun cukup pesat, namun masih banyak kekurangan yang perlu dinda perbaiki,, " saut Cakra yang tidak ingin kakek dan cucunya saling berdebat.
Empu Songgo Langit merasa puas dengan jawaban itu.
" Oh iya Cakra, pedang pusaka mu telah selesai di perbaiki, "
" Terima kasih atas kebaikan eyang,, "
" Ah bukan hal yang besar, apa lagi itu pusaka milik guruku juga, jadi sama saja aku merawat peninggalan guruku. "
" Surya, tolong ambilkan pedang milik Cakra di sentong tempat aku istirahat,,,! " perintah Kakek itu kepada Surya.
" Baik empu,, " kemudian Surya segera beranjak dari ruangan itu untuk mengambil pedang pusaka yang di maksud.
Surya dengan perlahan memasuki ruangan sentong itu, di edarkan nya pandangan matanya mencari letak empu Songgo Langit menyimpan pedang itu, di atas sebuah meja tempat para pelayan menaruh makanan, Surya melihat pedang itu tergeletak, Sebelum Surya mengambil pedang itu, dia mengelus bagian luar pedang itu karena mengagumi keindahan dan kehalusan ukiran nya.
Ada semacam dorongan hati untuk membuka bilah pedang yang saat ini masih berada di atas meja, perlahan Surya menggenggam pedang itu untuk di angkat, namun raut wajah Surya menggambarkan keterkejutan karena pedang yang berukuran tidak terlalu besar dan panjang itu namun saat di angkat terasa sangat berat, bahkan dia perlu menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat pedang itu.
Dengan susah payah bahkan otot ototnya mengeras Surya berhasil sedikit mengangkat pedang itu, akhirnya dengan mengalirkan tenaga dalam di kedua tangannya dia mampu mengangkat pedang itu.
__ADS_1
Di bawanya pedang itu berhati hati menuju ke ruang makan agar tidak jatuh, dengan perjuangan yang besar akhirnya dia sampai juga ke dalam ruang makan kemudian meletakkan di depan empu Songgo Langit.
" Kenapa kang Surya keringatnya bercucuran seperti itu, memang baru bertarung dengan siapa,,? " tanya Kenanga dengan polosnya.
" Ah tidak apa apa dinda.. " jawab Surya dengan wajah yang agak pucat.
" Ini terimalah Cakra, "
Dengan kedua tangan untuk menghormati pemberinya, Cakra menerima pedang itu, dia perhatikan pedang yang ada di genggamannya itu.
" Jangan kau buka di sini, ayo kita pergi ke bukit di belakang padepokan ini,,! " ajak empu Songgo Langit sambil bangkit.
Semuanya mengikuti empu Songgo Langit dari belakang, mereka berlari dengan menggunakan pengerahan jurus peringan tubuh sehingga tubuh mereka yang terasa seringan kapas itu mampu melesat dengan cepat.
Tidak lama ke empat orang itu sudah berada agak jauh dari padepokan gunung Semeru.
" Bukalah pedang itu Cakra,,,! "
Pedang yang ada di genggaman tangan kiri Cakra itu segera di pegang gagangnya, perlahan dia menarik pedang itu dari sarungnya.
Sriiiiiiingh.
Hempasan angin menyentak mengiringi keluarnya pedang garuda, tempat yang awalnya gelap gulita karena bulan yang menggantung di langit cuma sepotong di tutupi oleh awan hitam kini terlihat terang benderang karena dari bilah pedang yang di pegang oleh Cakra mengeluarkan cahaya kebiruan yang terang.
Semua yang ada di situ tercengang sampai tidak percaya dengan apa yang di lihat termasuk Cakra sendiri yang merasa pedang itu auranya semakin kuat.
" Coba kau alirkan tenaga dalam yang berasal dari roh garuda agni Cakra,,! " ucap empu Songgo Langit satu satunya orang di situ yang tidak terkejut dengan penampakan wujud pedang garuda.
Cakra mengikuti perintah empu Songgo Langit, sedikit dia alirkan tenaga dalam ke bilah itu, namun tenaganya justru tersedot masuk seakan akan pedang itu tidak pernah penuh.
Cakra sangat khawatir jika semua tenaga dalam dari roh garuda agni akan habis tersedot ke dalam pedang itu, namun dia mendengarkan suara dari roh garuda agni di dalam tubuhnya.
" Tidak perlu khawatir aku akan tersedot ke dalam pedang itu Cakra,, biarkan saja tidak perlu di tahan, aku akan memberimu tenaga lebih,, "
Cakra mulai lega, akhirnya dia membiarkan tenaga dalamnya mengalir ke pedang itu, yang membuat Cakra terkejut adalah tenaganya seakan tidak berkurang sedikit pun walau terus mengalir ke pedang garuda.
" Apakah sekarang kau sudah tau Cakra kenapa gurumu tidak menggunakan pedang itu dengan maksimal, bahkan pada usia tuanya dia menyimpan pedang itu di gunung Gembolo Arum karena butuh tenaga tanpa batas untuk menguasainya. "
Cakra mulai paham dengan apa yang terjadi kepada pedang garuda itu, pedang di tangannya itu semakin bersinar dengan terang, bahkan di bilahnya berkobar api berwarna biru terang.
Saat Cakra mencoba menggerakkan pedang itu, dengan gerakan yang pelan pun meluncur selarik api yang melesat membakar pohon pohon yang ada agak jauh dari tempat mereka, ajaib pohon itu seketika menjadi abu dan hilang beserta api yang membakarnya.
Cakra segera memasukkan pedang itu ke sarungnya takut jika membuat kerusakan lebih besar lagi.
" Sebenarnya kekuatan dari pedang itu telah di kunci setengah sehingga dulu kau bisa menggunakan dengan leluasa namun berkurang kekuatannya, sekarang karena kau memiliki tenaga dalam yang tanpa batas akhirnya aku membuka kunci itu,, " jelas empu Songgo Langit.
" Terima kasih eyang, akan aku gunakan pedang ini untuk kebaikan banyak orang.. "
" Baiklah ayo kita kembali. "
Akhirnya semua kembali ke padepokan meninggalkan bekas kerusakan yang di akibatkan oleh pedang garuda yang bergabung dengan tenaga dalam roh garuda agni.
__ADS_1