
Hari itu Cakra menghabiskan waktunya bersama romo biyungnya, biyungnya sangat kangen kepada Cakra, sehingga sehari itu waktunya hanya di gunakan untuk mendengarkan cerita dari anaknya, Cakra menceritakan saat saat di mana dia terpeleset di jurang hutan Pancer, saat saat dia bertemu dengan eyang Bagaskara gurunya dan saat saat dia di latih oleh gurunya.
Kadang terlihat raut penyesalan di wajah Galuh, karena ketelodarannya lah yang menyebabkan dia terpisah dengan anaknya dan anaknya hidup menderita di dasar jurang hutan Pancer.
Tapi Cakra menghibur biyungnya, bahwa kejadian itu bukanlah kesalahan biyungnya, namun itu kehendak Yang Maha Kuasa untuk menjadikan Cakra bisa menjadi pendekar seperti saat ini, lagipula saat ini mereka sudah berkumpul kembali, tidak ada alasan bagi kita untuk meratapi masa lalu,
Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka semua.
" Besok baginda raja mengadakan pesta kecil merayakan kembalinya tuan putri ke istana setelah enam purnama lalu menghilang, besok ikutlah bersamaku akan aku kenalkan kau kepada baginda raja. " ucap senopati Bajra kepada Cakra.
"Baiklah romo, aku akan ikut"
****
Hari sudah pagi, setelah selesai sarapan bersama dengan romo dan biyungnya, Cakra bersiap siap ikut romonya menghadap ke raja Rangga Jaya, dia memakai pakaian yang pantas, dengan celana putih di bawah lutut yang di lapisi kain jarik selutut, untuk atasannya dia menggunakan baju yang berwarna sama dengan celannya, rambutnya di ikat dengan kain berwarna kuning gading yang serasi dengan wajahnya.
Berangkatlah mereka di pendopo istana yang sudah ramai pejabat pejabat penting di kerajaan Tirta Kencana, banyak makanan tersedia di sana, di tengah terdapat empat orang gadis muda yang menari di iringi alunan suara gamelan menghibur para pejabat yang ada di situ.
"Baginda raja masuk keruangan. " teriak prajurit penjaga.
Seketika, suara gamelan itu berhenti, semua pejabat yang ada di situ segera mengambil tempatnya masing masing dengan rapi.
Sesosok laki laki dengan pembawaan yang agung masuk ke dalam pendopo itu di ikuti oleh permaisuri selir dan seorang pangeran tampan.
" Hormat kami kepada baginda raja, " ucap seluruh pejabat yang ada di pendopo itu sambil membungkukkan badan.
Baginda raja berjalan ke arah singgasananya,
" Duduklah kalian, terima kasih atas kesetiaan kalian,,! " titah baginda raja sesaat setelah dia duduk di singgasananya di ikuti para pejabat yang duduk di tempatnya masing masing.
Baginda raja memulai pertemuan itu dengan membahas kejadian kejadian yang baru saja terjadi.
"Senopati Bajra, bagaimana hasil patrolimu kemaren,,? " tanya baginda raja kepada senopati Bajra.
Kemudian senopati Bajra menceritakan semua kejadian yang mereka alami termasuk kejadian di tepi hutan Pancer.
"Bagus senopati, kalian telah bekerja dengan baik, namun kita harus berhati hati karena kerajaan Selo Cemeng sudah berani mendekati wilayah kita, aku berharap semua bersiap terhadap setiap kemungkinan,,,! tegas baginda raja yang di jawabi dengan anggukan kepala semua pejabat yang hadir saat itu.
" Siapa pemuda yang saat ini bersamamu itu senopati ,,,? " tanya baginda raja menunjuk pemuda di samping senopati Bajra.
"Ampun baginda, dia adalah Cakra, anak hamba yang hilang dua belas tahun yang lalu, dia pulalah yang menolong pasukan patroli memukul mundur pasukan Selo Cemeng di tepi hutan Pancer,, " jawab Bajra.
__ADS_1
" Benarkah begitu pemuda ,,,? "
" Benar gusti,, " jawab Cakra.
"Aku sampaikan terima kasih atas bantuanmu itu dan selamat kepada senopati Bajra telah berkumpul lagi dengan anakmu yang hilang"
"Tuan putri menuju pendopo" teriak prajurit penjaga.
Tibalah putri Kencana Sari di pendopo itu, dia berjalan di hadapan baginda raja sambil menghaturkan sembah.
" Maafkan hamba romo, tadi aku berlatih dulu jadi terlambat datang kesini,, " ucap putri Kencana Sari.
"Tidak apa apa putriku, aku tahu kalau kau sedang berlatih silat pasti lupa waktu, sekarang duduklah di tempatmu ,,! " titah raja Rangga Jaya.
Putri Kencana Sari mengambil duduk menghadap ke para pejabat kerajaan, sesaat dua tatap mata bertemu.
" Sari "
" Cakra, "
Dua suara hampir berbarengan menyebut nama, mereka kaget karena bisa bertemu di situ.
Walau pelan, namun dengan jelas yang ada di pendopo itu mendengarnya.
" Ampun romo, pemuda inilah yang membantu hamba dan paman suro paman rejo saat di keroyok pasukan Selo Cemeng di Gading Putih enam purnama yang lalu,,, " jelas putri Kencana Sari.
Raja Rangga Jaya yang sudah mendengar cerita itu dari putrinya kemaren, sekarang faham apa yang terjadi.
" Kau sudah dua kali membantu kerajaan Tirta Kencana, sudah selayaknya kau ku beri hadiah kerajaan Tirta Kencana membutuhkan tenaga pemuda sepertimu, maka bergabunglah kau dengan pasukan Tirta Kencana, "
" Senopati Bajra, masukanlah Cakra di bawah kepemimpinanmu,,,! " titah raja Rangga Jaya.
Bersamaan Cakra dan senopati Bajra menangkupkan tangan di depan hidungnya sambil menganggukan kepala.
Setelah pertemuan itu, raja bersama keluarganya meninggalkan pendopo, di lanjutkan dengan acara hiburan tari dan makan di pendopo itu sampai petang.
***
Pagi itu, kediaman senopati Bajra menjadi gaduh, ini di karenakan tiba tiba putri Kencana Sari berkunjung ke kediaman senopati Bajra.
Segera mereka menyambut dan menjamu putri Kencana Sari di pendopo rumah mereka.
__ADS_1
"Ada apakah putri Kencana Sari berkunjung di sini, jika perlu sesuatu tinggal panggil lah hamba, hamba pasti segera menghadap." ucap Bajra dengan sopan.
" Tidak paman aku kesini hanya ingin berkunjung dan ingin menyampaikan selamat atas kembalinya Cakra di keluarga ini"
Mendengar itu, Bajra baru teringat kalau Cakra tidak ikut menyambut kedatangan putri Kencana sari.
" Dinda galuh kemana Cakra, kenapa dia tidak ikut menyambut kedatangan tuan putri,,? "
"Dia tadi latihan di halaman belakang kanda, dia tidak tahu kalau putri berkunjung di sini, biar ku susul dia, " jawab Galuh sambil mau berdiri memanggil anaknya.
" Tidak usah bibi, aku yang akan kesana, aku ingin ngobrol dengan Cakra dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya dulu, aku dulu belum sempat mengucapkan terima kasih" cegah putri Kencana Sari sambil berdiri pamit ingin menemui Cakra.
Putri mencari keberadaan Cakra di halaman belakang, dia melihat Cakra sedang bersemedi membelakanginya, timbul ide jahil putri Kencana Sari, dia berjalan mengendap ingin menyergap menutup mata Cakra dengan telapak tangannya.
Bukannya Cakra tidak tahu ada seseorang dengan langkah ringan mendekatinya dari belakang, namun dia tidak merasakan adanya niat buruk dari orang yang mendekatinya sehingga dia masih tetap melanjutkan semedinya.
Sreet Thaaap.
Sesaat sebelum tangan itu mampu menutup mata Cakra, cakra menghindar bersalto kedepan dan berbalik badan, Cakra Kaget dengan sosok yang tadi mendekatinya adalah putri Kencana Sari yang sekarang sedang tertawa terbahak bahak meskipun keusilannya gagal.
" Mohon ampun atas kelancangan saya tuan putri" ucap Cakra.
"Halah tidak usah memanggil putri putrian segala di sini, panggil saja sari seperti biasa. " perintah putri itu.
"Mohon maaf hamba tidak berani".
Mendengar jawaban itu, wajah putri Kencana Sari cemberut dan memalingkan wajahnya dari Cakra.
Melihat itu, Cakra menjadi serba salah, dirinya tidak tau harus berbuat apa.
" Kenapa dulu kamu meninggalkan aku secara tiba tiba,,,? tanya putri Kencana Sari setelah cukup lama mereka tidak bicara.
" Maaf tuan putri, pada saat itu hamba ingin segera menyelesaikan tugas yang di perintahkan guruku, jadi aku tergesa gesa,, " jawab Cakra.
Kini mereka mulai tidak canggung berbicara, kadang di sela pembicaraan itu terdengar tawa yang nyaring.
"Seharusnya tuan putri sudah kembali enam purnama lalu, tapi kenapa baru sampai akhir akhir ini ,,,, ? " tanya Cakra.
Mendengar pertanyaan itu, Putri Kencana Sari menceritakan kejadian setelah dia berpisah dengan Cakra dulu, hingga dia terperosok di lubang yang cukup dalam dan dia mendapatkan ilmu dan senjata baru di gua itu.
"Sungguh anugarah dari Sang Hyang Widi yang di berikan kepada tuan Putri" ucap Cakra.
__ADS_1
"Benar kanda Cakra, semua ini menjadikan aku tambah bersyukur atas anugrah yang di berikan kepada ku saat ini, termasuk bisa bertemu dengan mu kakang"
Cakra tersendak ludah mendengar ucapan putri kencana Sari, dia merasa bahwa apa yang di ucapkan putri Kencana Sari adalah berlebihan, dia menyadari dirinya bukan siapa siapa namun juga tidak di pungkiri hatinya bahagia mendengar kata kata itu dan bisa berdekatan dengan putri Kencana Sari untuk meluapkan kerinduannya.