
Suasana terasa khidmat di ruang makan padepokan gunung Semeru, para pelayan di pimpin oleh Kenanga menyiapkan berbagai jenis makanan dan minuman untuk menjamu tamu mereka.
" Sudah lah dinda, jangan sibuk terus dengan makanan makanan itu, sini duduk temani aku makan,,,,! " ucap Cakra kepada Kenanga yang masih sibuk hilir mudik menata makanan yang di bawa oleh para pelayan.
Pipi Kenanga sampai merah menahan malu mendengar ajakan Cakra, dia merunduk tidak tau harus melakukan apa.
Sedangkan empu Songgo Langit yang sudah berpengalaman dengan gerak gerik pemuda sangat senang sekali hatinya, ada harapan jika Cakra benar benar menyukai cucunya.
" Benar Kenanga, sana temani kakangmu makan, ambilkan dia makanan yang banyak dan enak biar tenaganya kuat,,! " canda empu Songgo Langit.
" Eh jangan salah empu,, Cakra itu sangat kuat, jika cuma menghadapi dua perempuan sekaligus saja masih mampu dia, ha ha ha , " timpal Kelana meneruskan candaan empu Songgo Langit.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa terbahak bahak kecuali Kenanga yang tolah toleh tidak tau maksud perkataan itu, begitu juga Surya merasa tidak suka dengan candaan itu karena dari awal dia sudah menaruh hati kepada Kenanga, namun dengan datangnya Cakra mungkin impiannya itu akan sirna.
Di ruang makan itu mulai terjalin ke akraban antara tamu dan penghuni padepokan, setelah menyelesaikan makan mereka tidak langsung bubar namun masih tetap bercengkerama di sana sampai larut.
Kenanga yang kurang suka dengan suasana gaduh seperti itu mengajak Cakra untuk berkeliling keluar, dia mengajak Cakra ke sebuah taman kecil berisikan tanaman bunga khas pegunungan yang indah dan segar di pandang mata, di sebuah bangku panjang di sudut taman itu Kenanga mengajak Cakra duduk berdampingan sambil melihat ikan yang berenang anggun di kolam kecil yang berair jernih.
Kenanga menaruh kepalanya di pundak Cakra, dia pejamkan matanya untuk menghayati kebersamaan itu, suatu hal yang baru Kenanga dan Cakra rasakan, dulu Kenanga sangat ingin melakukan ini namun karena malu dengan yang lainnya hal itu tidak di lakukan .
Cakra menggerakkan tangannya secara lembut untuk mengelus rambut Kenanga yang harum dan halus itu.
Sejenak Kenanga kaget dan mengangkat kepalanya, namun setelah melihat senyum di bibir Cakra yang menyihir, dia kembali merebahkan kepalanya di pundak Cakra.
Suasana yang sunyi dan dingin membuat dua orang itu semakin tenggelam dengan perasaannya.
Kenanga sudah melingkarkan tangannya di perut Cakra, sedangkan elusan Cakra sudah turun di pundak gadis cantik itu.
" Sudah malam, ayo kita istirahat,,! " ajak Cakra.
Kenanga bangun kemudian menatap Cakra dengan senyuman.
Dengan gerakan cepat, Kenanga mencium pipi Cakra, karena Cakra tidak menyangka terhadap apa yang di lakukan oleh Kenanga dia tidak sempat berbuat apa apa, dia hanya diam menerima sensasi yang di berikan oleh seorang gadis yang baru kali ini dia rasakan.
Kenanga meraih tangan Cakra menariknya untuk berdiri, kemudian mereka berjalan bergandengan menuju ruang makan tadi untuk bergabung dengan yang lainnya.
Baru berjalan beberapa langkah, Cakra menghentikan langkahnya, dia merasa aneh dengan keadaan yang sepi, tidak ada murid lain di halaman maupun di pos jaga, setelah dia teliti ternyata hampir semua murid di sana tertidur lelap.
Cakra membatalkan langkahnya menuju ke ruang makan, dia hanya menyuruh Kenanga untuk memperingatkan empu Songgo Langit agar berhati hati, dia sendiri langsung mengelilingi halaman padepokan mencari penyebab kejadian itu, dia merasa ini bukan ilmu sirep karena sampai saat ini dia tidak merasakan adanya ilmu sirep yang menyerang.
" Aneh, jika memang ini serangan, menggunakan apa mereka menyerang, tidak ada hal hal mencurigakan yang ada di tempat ini,, " gumam Cakra.
Dia masih bingung memastikan ini serangan apa hanya karena para murid itu kelelahan.
__ADS_1
" Ehhh tunggu. " lirih Cakra melihat kumpulan serangga laron yang berterbangan di sekitar padepokan itu, termasuk di atas para murid yang tertidur.
" Bukan kah hari ini tidak ada tanda tanda mau turun hujan, kenapa hewan itu keluar dari sarang,,? " pikir Cakra.
Kemudian Cakra menangkap salah satu serangga laron itu.
" Aah, sial ini racun yang di bawa di tubuh laron, pantas saja mereka tidak menyadari jika di serang,, " gumam Cakra sesaat setelah mencium laron itu.
Sekejap kepalanya pening dan pandangannya berkunang, namun dia langsung mengerahkan tenaga dalamnya untuk membakar racun yang masuk ke dalam tubuhnya.
Cakra kemudian meloncat ke halaman padepokan itu di wajahnya terpasang topeng garuda agar dia terlindung dari racun , dia mengerahkan tenaga dalamnya membentuk pusaran angin yang keras sehingga serangga laron yang berterbangan di halaman itu tersedot ke pusat pusaran angin, laron laron itu tidak bisa lari lagi, setelah laron laron yang jumlahnya ribuan itu terkumpul menjadi satu kemudian di bakar dengan menggunakan sedikit tenaga dalam roh garuda agni yang menyatu dengan Cakra.
Kraaak kraaaatak kraaaatak...
Terlalu banyaknya laron yang terbakar sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Setelah halaman itu bersih, kemudian Cakra melesat kedalam ruang makan, saat ini dia melihat empu Songgo Langit sedang menyalurkan tenaga dalamnya kepada Kenanga, Sardi dan Surya sedang mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh murid padepokan lainnya, sedangkan Kelana, Kakek dewa tongkat rotan sedang bersemedi mengeluarkan racun yang sempat mereka hirup.
Cakra menghampiri Surya untuk menolong lelaki itu, sedangkan kakek dewa tongkat rotan yang telah selesai mengeluarkan racun di tubuhnya langsung menolong Sardi.
Tidak begitu lama, Kenanga memuntahkan darah berwarna hitam yang kental kemudian dia siuman, begitu juga dengan Surya dan Sardi juga mengalami hal yang sama.
" Apa yang terjadi,,? apa makanan kita telah di racun,,? " tanya Surya.
" Apa,,,laron,,,,,,,? " kejut Surya.
Cakra mengangguk membenarkan.
" Apakah kelompok laron beracun menyerang kita, tapi selama ini kita tidak pernah terlibat perselisihan dengan mereka,, " ucap Surya.
" Kita belum tau siapa yang menyerang kita, sebaiknya kita ikuti saja permainan mereka,, " ucap kakek dewa tongkat rotan.
" Bagaimana maksudnya,, ? " tanya Surya.
" Kita berpura pura saja terpengaruh oleh racun yang mereka sebar untuk mencari tahu siapa dalang di balik kejadian ini, kemudian jika mereka muncul baru kita ringkus mereka. " lanjut kakek dewa tongkat rotan.
Mereka semua menyetujui usulan itu, sehingga mereka langsung memposisikan diri seakan akan pingsan.
Yang di tunggu tidak lama telah muncul, hampir dua puluh orang berpakaian hitam hitam muncul dari gapura padepokan, mereka langsung memeriksa para penjaga dan murid murid padepokan yang ada di halaman.
" Mereka semua sudah pingsan karena pengaruh racun kita ketua, mungkin besok siang mereka akan mati jika tidak di tolong,, " lapor salah satu anggota kelompok itu.
" Bagus lah, kalau begitu periksa kamar tamu, ikat mereka dan kumpulkan mereka ke sini...! "
__ADS_1
"Baik..... "
Akhirnya semua menyebar memeriksa setiap ruangan, utamanya ruangan yang di gunakan untuk tamu.
Sedangkan di halaman itu hanya menyisakan dua orang saja menunggu laporan anak buahnya memeriksa.
"Lapor ketua, kamar tamu kosong,, "
" Bagaimana Permana, apakah mereka sudah pergi,,? "
" Aku kira belum ketua, mungkin mereka masih di ruang makan,, " ucap Permana si murid durhaka.
" Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita kesana,, " ajak ketua dari laron beracun yang bernama Benggala.
Semua melesat ke arah ruang perjamuan makan, Benggala dan Permana masuk ke ruangan itu di ikuti anak buah laron beracun.
Permana memeriksa keadaan Sardi yang paling dekat dengan dia, karena keadaan Sardi sangat lemah mengingat efek racun yang ada di dalam tubuhnya belum bersih sehingga keadaan Sardi yang di periksa sangat persis dengan orang pingsan.
" Ha ha ha, tidak percuma aku membayar kelompok laron beracun untuk membantuku, kini aku akan menguasai padepokan ini dan aku bisa membalaskan dendam kepada para tamu sialan yang telah menggagalkan rencanaku.. " teriak Permana.
" oh ya ketua, saya minta penawar dari racun ini,, "
" Buat apa Permana, bukannya kamu menginginkan mereka mati,,? tanya Benggala.
" iya, namun aku ingin siapapun murid yang yang mau menjadi pengikutku akan aku kasih penawar racun itu, kalau tidak aku akan membiarkan mereka mati, sedangkan untuk gadis itu aku ingin menjadikan budak nafsuku dan menyuruh dia memberitahukan tempat patung garuda emas,, " ucap Permana sambil menunjuk Kenanga.
" Ha ha ha , tidak ku sangka kau begitu licik sekali Permana,, " ucap Benggala.
" Nampaknya gadis itu memang cukup menggiurka, jadi aku ingin ikut mencicipi tubuhnya juga malam ini,, " lanjut Benggala.
" Boleh saja asal aku duluan,, " jawab Permana sambil tertawa senang.
Permana mendekati tubuh Kenanga yang kepalanya tertelungkup di atas meja makan, Permana mencoba menarik bahu gadis itu.
Wuuuuuuuuusss.
Braaaaaaak.
Namun sebelum tangan itu menyentuh kulit gadis itu yang halus, sebuah hawa angin berasal dari pukulan jarak jauh Cakra mengenai dada Pernana sehingga Permana terpental menabrak dinding hingga jebol.
Semua yang ada di situ terkejut dengan serangan dadakan membuat mereka waspada.
Catatan : Selamat menikmati tulisan ini, mohon maaf bagi para pembaca yang kurang puas dengan karya ini, semoga karya yang banyak kekurangannya ini semakin hari semakin memberi rasa puas kepada para pembaca.
__ADS_1