PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Restu Orang Tua 3


__ADS_3

Rombongan raja Siluman Rubah Putih mulai memasuki wilayah kerajaannya, rombongan yang di kawal oleh senopati Sulendra dari kerajaan Siluman Kera melalui perjalanan dengan lancar tanpa adanya gangguan sedikit pun, setengah hari lagi rombongan itu akan sampai ke tempat tujuan mereka.


" Berhenti,,,,,,! " terdengar suara perintah dari dalam kereta kencana.


Senopati Sulendra yang memimpin perjalanan di posisi paling depan segera menghentikan semua pasukan, dia segera menghampiri kereta kencana yang di kawal.


" Ada apa baginda raja menghentikan perjalanan ini, perjalanan masih setengah hari lagi baru sampai tujuan,,? " tanya senopati Sulendra.


Raja Siluman Rubah Putih kemudian membuka kain penutup kereta.


" Aku merasa heran senopati, kita sudah memasuki wilayah kerajaan ku, seharusnya di sekitar sini banyak prajurit penjaga, tapi kenapa tidak ada satu pun prajurit yang berjaga di sini,, ? " jawab raja Siluman Rubah Putih.


" Benar raja, dari tadi aku tidak melihat pergerakan apapun di sekitar sini,, "


" Ah sudahlah senopati, tidak usah di pikirkan,, ayo kita melanjutkan perjalanan,,! " perintah raja Siluman Rubah Putih.


" Baik baginda,, "


Akhirnya perjalanan di lanjutkan lagi agar mereka bisa segera sampai ke tujuan.


Tanpa mereka sadari dari jarak yang aman, terdapat dua orang prajurit yang mengintai mereka.


" Segera kau menghadap kepada gusti patih, laporkan keadaan yang ada di sini,,!, aku akan mengikuti mereka dari kejauhan, "


Sosok prajurit yang mendapat perintah tidak menjawab karena dia sudah pergi dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya yang setara dengan angin, sekejap saja dia sudah berada jauh dari tempat mengintainya.


***


Di dalam kerajaan Siluman Rubah Putih seorang kakek berjubah putih terbaring sambil di pijat oleh para dayang di istana kepatihan, lembutnya pijatan yang di lakukan oleh dayang yang cantik cantik itu membuat dirinya terbuai di alam tidur.


" Ijin gusti patih, saya hendak melapor,, "


Mau tidak mau, suara prajurit yang melapor tadi membuat sosok berjubah putih itu terlonjat kaget bangun dari tidurnya.


" Kurang ajar, dasar tidak tau adat, berani beraninya kau mengganggu istirahat ku,, " bentak kakek itu.


" Ampun patih, hamba membawa kabar jika saat ini raja Siluman Rubah Putih telah memasuki perbatasan kerajaan ini menuju kemari, " ucap prajurit itu dengan ketakutan.


" Apa,,? apa aku tidak salah dengar ,,,? " tanya kakek itu yang di sebut patih.


" Tidak gusti patih, karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri,, "


" Aku kira dia sudah mampus, ini akan membuat rencana ku berantakan saja,, " gumam patih Sembrani.


" Bersama dengan siapa dia,,? "


" Ampun gusti patih, sesuai apa yang aku lihat, raja Siluman Rubah Putih di kawal oleh dua puluh orang prajurit kerajaan Siluman Kera,, " jawab prajurit itu.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin raja itu justru datang bersama prajurit kerajaan Siluman Kera,,,? " tanya dalam hati patih Sembrani.


" Apakah kau sudah melaporkan hal ini kepada raja Anjang Manikam,,? "


" Ampun gusti patih, saya belum melaporkan hal ini kepada gusti raja Anjang Manikam,, "


" Bagus,, sekarang undang para panglima ke istana kepatihan, jangan sampai raja Anjang Manikam tahu tentang masalah ini,, kerjakan,,,! " perintah patih Sembrani.


Prajurit itu pun akhirnya pergi meninggalkan istana kepatihan untuk melaksanakan perintah yang baru di dapat.


Setelah luka dalam yang di peroleh dari pertarungan dengan Cakra pulih, Ki Sembrani segera mengajak pangeran Anjang Manikam untuk kembali ke kerajaan Siluman Rubah Putih, untuk mengisi kekuasaan yang kosong karena di tinggal oleh raja Siluman Rubah Putih, akhirnya dia mempengaruhi semua punggawa kerajaan untuk mengangkat pangeran Anjang Manikam sebagai raja.


Akhirnya semua menyetujui dan mengangkat dirinya sendiri sebagai patih di kerajaan ini, hal ini tidak sulit di lakukan karena hampir semua punggawa kerajaan berada pada kekuasaannya sehingga dengan mudah dia menguasai kerajaan Siluman Rubah Putih, walau secara pemerintahan dia di bawah raja, namun nyatanya hampir semua urusan kerajaan dia yang menguasai, bahkan raja sendiri tidak bisa berbuat apa apa mengingat sang patih adalah gurunya.


Tidak lama dari kepergian prajurit tadi, kini telah muncul empat orang panglima untuk menghadap kepada patih Sembrani.


" Kami menghadap, ada kekacauan apakah sehingga kami semua di minta untuk menghadap kemari,,? " tanya panglima Bintang Senja, sosok panglima senior yang menjadi kaki tangan patih Sembrani.


" Ada kabar jika raja Siluman Rubah Putih telah menuju kemari, aku minta kalian semua menghadang mereka sebelum tiba di sini,,! " perintah patih.


" Harus kami apakan raja itu gusti patih? " tanya panglima Batu Keru.


" Habisi dan jangan ada yang tersisa,,,! "


" Baik kami laksanakan. "


***


" Semoga apa yang anda cita citakan terlaksana dan hubungan kerajaan anda dengan kerajaan kami bisa lebih akrab lagi. " jawab senopati Sulendra.


" Ha ha ha ha, terima kasih atas doamu itu senopati,, " ujar raja Siluman Rubah Putih.


Belum selesai raja Siluman Rubah Putih menyelesaikan tawanya, tiba tiba dari arah depan bermunculan empat orang berkuda di ikuti seratusan prajurit di belakangnya.


Raja Siluman Rubah Putih gembira melihat siapa yang datang, saat rombongan pasukan itu telah sampai, raja Siluman Rubah Putih menyambut dengan gembira.


" Selamat datang panglima,, apakah kalian ingin menjemput aku, seharusnya tidak perlu kalian menjemput aku sampai kesini, cukup menjemput di pintu gerbang saja,, " ucap raja Siluman Rubah Putih dengan gembira.


Para panglima itu turun dari kudanya dan mendekati raja tua itu, mereka semua menghormat di hadapan raja.


Namun tanpa bisa ada yang menyadari, panglima Bintang Senja yang berada paling dekat dengan raja dengan cepat menyabetkan pedangnya ke tubuh raja.


Beruntung dengan cepat raja tua itu merundukkan kepala sehingga lehernya masih utuh menempel di badan, namun serangan itu tidak berhenti, dari samping panglima Batu Keru menusukkan tombaknya.


Claaaaph.


Tombak itu menusuk dada kiri raja Rubah Putih.

__ADS_1


Sedangkan Senopati Sulendra yang hendak menolong raja Rubah Putih, dirinya di hadang oleh panglima Sandung Suko, perhatian senopati itu harus terbagi dengan keadaan raja yang di kawalnya dengan penyerangnya.


Panglima Sandung Suko sangat tangguh, pertahanan dan kecepatannya membuat senopati Sulendra sulit untuk bisa mempertahankan diri, berbagai macam luka telah menghiasi tubuhnya, apalagi melihat para prajurit yang di bawanya semua telah binasa di tangan prajurit lawan yang jumlahnya lebih banyak.


Raja Siluman Rubah Putih walaupun telah terluka nyatanya masih sulit di rubuhkan, walau dia di keroyok oleh ke tiga panglima yang dia kenal sangat sakti, namun dirinya masih bisa meredam.


Tapi melihat senopati Sulendra menjadi bulan bulanan panglima Sandung Suko membuat dia kehilangan konsentrasi bertarung, akibatnya, sebuah sabetan tombak panglima Batu Reko telak memukul dadanya, hal ini membuat dia terpental hingga tiga tombak jauhnya, tidak sampai di situ, seakan tidak memberi kesempatan raja itu bangkit, panglima Bintang Senja sudah mengirim tendangannya tepat mengenai dada raja itu, untuk kedua kali tubuh raja itu terpental kebelakang dan membentur pohon kemudian tidak sadarkan diri.


Ketiga panglima lawan raja itu tertawa melihat lawannya tidak berdaya, hal ini membuat panglima Sandung Suko segera meninggalkan senopati Sulendra yang sudah jatuh di tanah untuk berkumpul dengan panglima lainnya.


" Sekarang ayo kita habisi raja tua ini,, " ujar panglima Bintang Senja.


Dengan pedang di tangan kanannya dia mendekati raja yang tidak berdaya itu, dia mengangkat pedang ditangannya untuk memenggal kepala raja itu.


Craaaaaasss.


Traaaaang......


Dengan sisa sisa tenaga senopati Sulendra menangkis datangnya pedang itu, karena tidak menyangka sabetan pedangnya ada yang menangkis, membuat panglima Bintang Senja tidak siap, tubuhnya limbung kebelakang, kesempatan ini tidak di sia siakan oleh senopati Sulendra untuk kabur membawa tubuh raja Siluman Rubah Putih.


" Sial, dia kabur, kejar mereka,,, ! " perintah panglima Bintang Senja.


Semua mengejar arah larinya senopati Sulendra.


Senopati Sulendra yang tidak paham dengan lokasi itu berlari tanpa arah, semak belukar dan tanah yang naik turun dia lalui tanpa peduli lukanya bertambah lebih banyak karena harus terkena duri dan ranting kering.


Suara derap kaki orang yang mengejarnya membuat dia semakin mempercepat larinya, tanpa di sadari oleh senopati Sulendra jika di depan terdapat jurang yang dalam di bawahnya teraliri sungai yang deras alirannya.


" Heiii, berhenti...! " teriak panglima Sandung Suko di belakang.


Tanpa memperdulikan teriakan itu, senopati Sulendra tetap berlari dengan kencang.


Namun langkahnya harus terhenti karena di depannya terhalang oleh jurang yang cukup dalam, dia berbalik tapi dari jarak empat langkah sudah berdiri panglima Sandung Suko dan panglima Batu Reko.


" Mau pergi kemana kau tikus,,? " ucap panglima Sandung Suko Sinis.


" Saat ini ajalmu sudah tiba, tidak perlu kau mempersulit kami dengan berlari seperti tadi, sebaiknya biarkan kami dengan mudah memisahkan kepalamu dari badanmu itu,, "


" Cuiiih, aku tidak akan menyerah hanya dengan berhadapan dengan manusia licik sepertimu. " ujar senopati Sulendra.


" Kurang ajar, aku bunuh kau,, "


Sriiiiiing.


Panglima Sandung Suko menarik pedangnya kemudian menyerang senopati Sulendra.


Serangan yang dahsyat di tambah dengan ruang yang sempit karena di belakangnya ada jurang serta beban yang di bawa membuat perlawanan senopati Sulendra tidak berarti apa apa, beberapa kali sabetan pedang lawan melukai tubuhnya, namun dia tidak menyerah, dengan sekuat tenaga dia menghindari semua serangan lawan.

__ADS_1


Namun semua pasti ada batasnya, tenaga senopati Sulendra terkuras, hingga dia sulit menghindari tendangan lurus yang mengenai dadanya, akibatnya tubuhnya terdorong ke belakang dan jatuh ke dalam jurang yang dalam tanpa di ketahui nasibnya.


__ADS_2