
Semua pasukan pangeran Jati Kusuma sore itu kini telah berada di dalam tembok kota, mereka langsung menyiapkan penyerangan, suasana yang mulai gelap itu membuat mereka lebih leluasa bergerak, pangeran Jati Kusuma mengirim prajurit untuk mempelajari keadaan di bekas istana Gading Padas.
Menjelang malam, utusan itu kembali, mereka melaporkan jika keadaan sangat sepi, hanya ada beberapa prajurit penjaga, sedangkan sebagian besar prajurit dan senopati telah ikut berperang di hutan Gondo Mayit.
" Kalau begitu, saat ini juga mari kita bergerak, berhati hatilah semua dan jangan sampai ada yang melukai rakyat biasa,, ! " perintah pangeran Jati Kusuma.
" Baik,, " jawab pasukan itu kompak.
Mereka bergerak mendekati bekas istana itu, paman Jolo Wojo bergerak lebih dulu, di depan gerbang dia di hadang oleh lima prajurit penjaga.
" Malam malam begini ngapain kamu kesini,,? " tanya pemimpin prajurit itu.
Craaaass.
Craaaassh.
Craaaaash.
Aaakhhhhh.
Paman Jolo Wojo bukannya menjawab malah menebaskan pedangnya ke arah prajurit yang paling dekat sehingga sekejap ketiga prajurit itu telah roboh, melihat teman temannya roboh dua orang prajurit lainnya mencoba menyerang paman Jolo Wojo.
Traang
traaang.
akhh.
Serangan prajurit itu dengan mudah di tangkis paman Jolo Wojo dan membalas sehingga mampu membunuh prajurit itu.
Setelah prajurit penjaga itu mati, semua pasukan baru mendekat dan mendobrak pintu gerbang sehingga pintu tebal itu ambrol dan terbuka menganga.
Empat ratusan prajurit dan seratusan pendekar menerobos masuk ke dalam, dengan gagah berani mereka masuk menghadapi setiap prajurit musuh yang menghadang.
Musuh musuh yang menghalau mereka langsung mereka habisi, dengan jumlah yang tidak seimbang sehingga pasukan pangeran Jati Kusuma dengan mudah merobohkan pasukan lawan.
Dengan waktu singkat mereka sudah sampai di pendopo istana, namun suasana di situ sangat sepi, mereka mau menyisir di kediaman Sangga Bhumi dan pimpinan Gading Padas lainnya, tapi sebelum mereka benar benar meninggalkan pendopo itu menuju kediaman Sangga Bhumi, ratusan anak panah telah mengarah pada mereka, untung mereka telah waspada sehingga pangeran Jati, paman Jolo Wojo, Nyai Selasih dan ki Sarjo menangkis semua serangan anak panah itu sebelum sampai pada tubuh para prajurit.
__ADS_1
" Ha ha ha ,, " suara tawa yang keras muncul dari kegelapan, dari sana muncul sesosok laki laki yang gagah dengan senyum meremehkannya menghias di wajah.
" Sangga Bhumi,,,,? " ucap paman Jolo Wojo kaget.
" Kenapa,,,? apakah kamu terkejut karena seharusnya aku berperang di hutan Gondo Mayit saat ini ,,,? "
" Aku tidak akan tertipu dengan siasat murahan ini, awalnya aku tidak menyadari siasat kalian, namun di tengah jalan aku sadar sehingga aku kembali ke sini seorang diri tanpa ada yang mengetahui, sekarang kalian sudah datang kesini untuk menyetorkan nyawa kalian, jadi jangan salahkan aku jika malam ini adalah malam terakhirmu di dunia,, "
" Seraaang mereka.,,,! " teriak Sangga Bhumi.
Pasukan Gading Padas merangsek ke arah pendopo menyerang prajurit pangeran Jati Kusuma, malam yang awalnya sepi itu kini menjadi riuh dan mencekam karena pada saat itu banyak nyawa yang menjadi korban dari ambisi manusia.
Pangeran Cakra bersama dengan paman Jolo Wojo menyerang Sangga Bhumi bersamaan, sedangkan ki Sarjo menyerang Renggono dan Nyai Selasih ikut membantu para prajurit yang kewalahan menghadapi pasukan yang jumlahnya dua kali jumlah pasukan itu.
Pangeran Jati dan Paman Jolo Wojo mengepung Sangga Bhumi dari dua arah, tendangan dan pukulan mereka arahkan ke tubuh Sangga Bhumi, namun Sangga Bhumi masih jauh lebih tangguh dari pada mereka.
Deeeesh.
Justru paman Jolo yang terkena tendangan di paha kirinya sehingga membuat dirinya terhuyung, karena posisi paman Jolo yang tidak menguntungkan, Sangga Bhumi mengirimkan tendangan ke arah dada paman Jolo.
Thaaaaak.
Paman Jolo yang awalnya sudah pasrah dengan datangnya serangan tadi kini bisa menarik nafas lega karena serangan Sangga Bhumi bisa di halau oleh pangeran Jati.
Namun akibat bertemunya dua tendangan kaki yang di lambari tenaga dalam itu membuat kaki pangeran Jati kesakitan, ini menunjukan tingkat tenaga dalamnya masih jauh dari Sangga Bhumi.
Pangeran Jati meringis kesakitan, paman Jolo mendekatinya untuk membantu pangeran Jati Kusuma untuk berdiri dengan sempurna.
" He he he he,,, malam ini tibalah ajal kalian,, " ucap Sangga Bhumi sambil menyiapkan jurus Segoro wisa.
Hiyaaaaaat..
Wuuuuuuuuusssh.
Duaaaaaarrrr.
Tubuh Sangga Bhumi terjajar dua langkah, dia heran kenapa serangannya bisa di halau oleh seseorang.
__ADS_1
Sangga Bhumi melihat ke arah lawannya, kini di depan pangeran Jati dan paman Jolo Wojo telah berdiri seseorang yang memakai zirah merah dan topeng garuda, untung di waktu yang tepat Cakra telah datang dan menghalau serangan jarak jauh yang di lakukan Sangga Bhumi.
" Kurang ajar, beraninya kau ikut dalam urusanku, akan aku ***** kau sampai hancur lebur,, "
" Silahkan buktikan ucapan mu, di arena perang ini yang di butuhkan adalah kekuatan bukan kata kata murahan mu,, " ucap Cakra memancing kemarahan Sangga Bhumi.
" Maaf pangeran, biarkan Sangga Bhumi menjadi lawan ku, mohon untuk menyingkir,,! " ucap Cakra.
Cakra tidak mau bermain main melawan Sangga Bhumi, dari benturan tenaga dalam tadi Cakra sudah mampu mengukur kekuatan lawan.
Cakra segera menyiapkan jurus Cakar garuda membelah badai dengan jurus meringankan tubuh langkah kilat menapak angin.
Tubuh Cakra melesat cepat hingga hanya terlihat bayangan merah mengarah ke arah Sangga Bhumi, tidak ingin kalah, Sangga Bhumi juga sudah mengeluarkan jurus andalannya.
Deeees
Deeeees.
Buuukh
Suara benturan demi benturan terjadi, serangan tangan kosong yang di lakukan mereka berdua mulai di rasakan dampaknya oleh orang orang yang ada di sekitar mereka, sehingga dengan perlahan mereka yang ada di dekat arena pertarungan itu mulai menjauh agar tidak terkena sambaran angin dari serangan Cakra maupun Sangga Bhumi.
Sabetan cakar Cakra mengarah di tubuh Sangga Bhumi, sedikit banyak serangan Cakra merepotkan Sangga Bhumi hingga pada jurus ke seribu lengan tangan kiri Sangga Bhumi terluka akibat serangan Cakar Cakra.
Sangga Bhumi menjauh dari Cakra, dia merasa marah karena baru kali ini ada orang yang mampu melukai dirinya, mau tidak mau kini dia harus mengeluarkan senjata pusaka nya untuk mengimbangi serangan Cakra.
Sepasang trisula kini telah tergenggam di kedua tangannya, senjata pusaka berwarna kuning emas mengeluarkan sinar kekuningan, senjata ampuh yang telah lama menemani petualangan Sangga Bhumi, sudah tidak terhitung nyawa yang telah hilang akibat dari sepasang trisula itu.
Prabawa senjata yang luar biasa itu membuat Cakra menghunuskan pedang nya yang selama ini masih tersimpan di warangka, kilat kilat kecil menjalar jalar di bilah pedang yang tipis namun kokoh itu.
Cakra memperbaiki kuda kudanya bersiap menerima serangan lawan.
Hiyyaaaat.
Traaaaang.
Duaaaaar.
__ADS_1
Dua senjata yang beradu menyebabkan ledakan yang cukup besar meninggalkan lubang yang cukup besar di tanah yang mereka pijak sebelumnya.
Serangan demi serangan dengan senjata masing masing kini berlangsung kembali, sebagian orang yang ada di sekitar tempat mereka bertarung kini telah menyingkir agar mereka tidak menjadi korban sambaran senjata yang nyasar, pertarungan itu pun bergeser ke luar agar tidak merusak bangunan yang ada di situ.