PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Tercerai Berai


__ADS_3

Banjir darah terjadi di medan perang, tubuh tubuh manusia bertumbangan menyiratkan kesedihan bagi siapapun yang di tinggalkan.


Jerit jerit kematian saling susul menyusul di iringi alunan denting senjata yang berbenturan menjadi nyanyian yang lumrah di tengah kancah peperangan.


Cakra, Putri Kencana Sari, Senopati Bajra beserta prajuritnya tengah di kepung oleh pasukan lawan, tanpa kenal takut mereka menyongsong serbuan lawan yang jumlahnya dua kali lipat itu.


Senopati Bajra mempertahankan formasi pasukannya, dia ingin menerobos kumpulan prajurit untuk kembali ke dalam benteng, dia memimpin di ujung kepala formasi maju sedikit demi sedikit mengarah ke benteng.


Cakra yang di posisi ekor terbelakang formasi mencoba menghalau setiap serangan lawan, setiap Cakra menyabetkan pedangnya, lima sampai tujuh prajurit lawan langsung bertumbangan.


Tidak mau kalah putri Kencana Sari juga mengandalkan busur gendewa emas miliknya sehingga angin yang tercipta dari pukulan gendewa emas mampu merobohkan banyak prajurit.


Dari arah belakang musuh sekelompok orang menerjang, sekelompok orang itu menggelar formasi mandala teja, sebuah formasi melingkar yang selalu berputar dan bergerak sehingga musuh akan kesulitan menghadapi, sebuah formasi yang kuat, karena jika ada kawan mereka yang terluka maka yang terluka itu akan masuk ke dalam lingkaran dan posisinya di tutup oleh kawan di sampingnya, mereka saling melindungi dan saling menutup kelemahan kawan sehingga kelompok ini dengan cepat bisa menumbangkan banyak lawan walau jumlah mereka sedikit, di lain itu kemampuan mereka yang di atas rata rata prajurit lawan menyebabkan pasukan itu tidak kesulitan menghadapi lawan.


Traaang.


traang.


Bunyi benturan senjata menambah semarak suasana.


mereka melumpuhkan lawan yang paling dekat dengan mereka.


Sekolompok orang itu kini sudah mendekat ke arah Cakra berada, saat Cakra melihat ke arah mereka, Cakra terkejut ternyata di sana ada paman Suro dan paman Rejo bersama dengan pasukan Shindung Bawana, Cakra gembira dengan kehadirannya mereka sehingga dia menyongsong kelompok itu dengan membantai prajurit di depannya untuk memberi jalan kelompok itu.

__ADS_1


" Paman Suro paman Rejo, kalian menyusul juga,,,? "


" Benar nak mas, setelah kami pamit kepada raja Jati Kusuma beliau memerintahkan pasukan Shindung Bawana untuk membantu disini, untung kita belum terlambat,, " jawab paman Suro.


" Untunglah kalau begitu,, Ayo kita bergabung dengan pasukan Gading Padas,,! " ucap Cakra.


Di pimpin oleh senopati Bajra, pasukan itu mundur sedikit demi sedikit kemudian mereka masuk ke dalam benteng.


Pasukan lawan merasa jerih jika harus mengejar ke dalam benteng, apalagi mereka merasa kelelahan setelah bertempur secara dahsyat dan pemimpin mereka sedang terluka.


Akhirnya pasukan Selo Cemeng mundur ke tempat perkemahannya untuk memulihkan pasukan.


Di pertempuran ke tiga ini lebih banyak korban meninggal dari ke dua belah pihak, lebih dari empat ribu pasukan di pihak Selo Cemeng telah tewas dan terluka berat, sedangkan alat pelontar yang tersisa tinggal lima buah.


Sore itu pangeran Ranu Mulya menyambut adiknya putri Kencana Sari, dia memeluk tubuh adiknya sambil mengusap kepalanya.


" Dasar anak keras kepala, romo merindukanmu,, " lirih pangeran Ranu Mulya di dekat telinga putri Kencana Sari.


" Aku juga merindukan romo, tapi kita selesaikan dulu yang ada di sini setelah itu baru menghadap romo,, "


Mendengar itu, pangeran Ranu Mulya melepas pelukannya, dia mengerutkan kening merasa heran.


" Apa tidak sebaiknya kau langsung menemui romo malam ini,,,? "

__ADS_1


" Tidak, kita harus segera menyelesaikan perang ini, jangan sampai rakyat Tirta Kencana menderita nantinya karena kita tidak mampu melindungi mereka, " ucap putri Kencana Sari mantap.


Jika sudah seperti ini, tidak ada pilihan lain, karena di larang seperti apa pun putri Kencana Sari tidak akan merubah pendiriannya.


Setelah gelap mulai menyelimuti, kini para pimpinan pasukan di pimpin pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari mengadakan pertemuan.


Mereka mendengarkan laporan laporan tentang pertempuran tadi siang dan menentukan strategi perang untuk besok.


" Melihat kekuatan lawan yang saat ini sudah berkurang banyak, alangkah baiknya jika kita besok perang terbuka, kita akan menggempur mereka duluan agar tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bersiap,,, " usul panglima Restu Aji.


" Ini sebuah usul yang bagus, saya kira jika kita bertempur di sekitar benteng terus justru posisi kita akan terjepit, jadi lebih baik kita bisa keluar dan berperang secara terbuka.,, " lanjut senopati Rangka Wuni.


Hampir semua yang hadir mengangguk anggukkan kepala tanda setuju.


" Apa strategi kita besok menghadapi lawan,, "


Senopati Bajra mengusulkan menggunakan formasi garuda nglayang, di mana terdapat tiga ujung tombak penyerangan dari kedua sayap yang terbuka dan kepala.


Panglima Restu Aji menyetujui usulan itu, dia membagi para pimpinan untuk memimpin pasukan itu.


Panglima menunjuk senopati Bajra untuk memimpin pasukan di sayap kanan, sedangkan di sayap kiri di pimpin oleh senopati Rangka Wuni dan untuk di kepala garuda di pimpin langsung oleh panglima Restu Aji di bantu Cakra.


Pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari di tempatkan di ekor untuk mengawasi jalannya pertempuran.

__ADS_1


Awalnya putri Kencana Sari menolak itu, namun panglima Restu Aji menjelaskan bahwa putri di minta untuk ikut menggempur pasukan lawan bersama dengan pasukan Shindung Bawana dari belakang saat mereka sibuk berperang dengan pasukan Tirta Kencana di depan, mendengar itu, putri Kencana Sari yang awalnya cemberut kini wajahnya sudah cerah dan bersemangat tidak sabar menunggu besok.


__ADS_2