
Dewa tongkat rotan kini sudah mampu berdiri dan berjalan jalan di sekitar rumah tempat dia di rawat, beberapa malam kemaren Cakra selalu menyalurkan tenaga dalamnya sehingga luka tenaga dalamnya lebih cepat sembuh.
Dari arah pintu gerbang desa, sebelas pasukan Shindung Bawana masuk, dewa tongkat rotan wajahnya gembira melihat Cakra telah datang, entah akhir akhir ini dia merasa sangat bersyukur karena di pertemukan dengan Cakra, selain Sifatnya yang sopan dan rendah hati, Cakra juga teman mengobrol yang baik, karena Cakra pula lah kini dewa tongkat rotan bisa merubah jalan hidupnya.
" Selamat datang nak mas, bagaimana perjalanan nak mas, apakah mendapat halangan ,,,? " tanya dewa tongkat rotan.
" Syukurlah kek, perjalanan ini di mudahkan oleh Sang Hyang Widi,, " jawab Cakra.
Kemudian Cakra dan dewa tongkat rotan masuk kedalam rumah untuk beristirahat.
Blaaaaaar.
Sebuah pos penjagaan yang ada di depan pendopo hancur berantakan, untung para penjaga yang saat itu bertugas sigap menghindar sehingga mereka tidak ikut terbakar bersama pos itu.
Cakra yang masih berbincang di dalam rumah segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.
" Heeeiii kakek busuk, keluarlah kau, jangan kau bersembunyi di balik ketiak muridmu,,! " teriak seorang pemuda yang tadi mengarahkan pukulan jauhnya ke arah pos penjagaan.
Saat Cakra sudah keluar, dia terkejut karena pemuda yang saat ini berteriak adalah pemuda yang tadi di temui di hutan.
" Maaf kawan, ada apa anda datang kemari dengan teriak teriak dan merusak ,,,? " tanya Cakra.
" Aku kira kau orang baik baik, ternyata kau sama saja,, di mana dewa tongkat rotan,,? " tanya pemuda itu.
" Kita tidak ada urusan apa apa, kenapa kau begitu marah dengan ku,,,?" tanya dewa tongkat rotan di samping Cakra.
" memang kau tidak ada urusan dengan aku, namun kau telah membunuh guruku ki Gunturbumi,, "
"Apakah benar kau murid ki Gunturbumi,, siapa namamu,,,? " tanya dewa tongkat rotan.
" Benar, namaku Sanja Kelana, murid tunggal ki Gunturbumi,, " jawab pemuda itu yang bernama Sanja Kelana.
" Pantas pusaka Cambuk Naga berada padamu, memang akulah yang membunuh gurumu, namun pertarungan itu adalah pertarungan para kesatria yang adil, waktu itu aku yang masih memihak di kerajaan Selo Cemeng menghadapi gurumu yang membela para rakyat yang tertindas, kami pun bertarung dengan adil nak mas dan gurumu tewas membawa kebanggaan sebagai seorang pahlawan,, " jawab dewa tongkat rotan.
" Namun hutang nyawa di bayar nyawa... "
Hiyaaaaat.
Deeeesss
Deeesshhh.
__ADS_1
Pukulan yang di arahkan Sanja Kelana di tangkis oleh Cakra.
" kalau memang itu alasanmu, aku akan mewakili kakek dewa tongkat rotan, karena beliau saat ini sedang terluka, aku tidak akan membiarkan dewa tongkat rotan bertarung.. " ucap Cakra.
Kelana hanya tersenyum sinis.
" Kalau begitu bersiaplah nyawamu menggantikan nyawa dia. "
Wuuushh.
Wuuuuushh.
Serangan tangan kosong Kelana menuju ke arah Cakra, melihat serangan yang datang cukup berbahaya, Cakra langsung menerapkan jurus Cakar garuda membelah badai.
Duukkh
Duaaaaarrr.
Serangan itu bertemu di udara membuat ke dua orang itu terpental kebelakang sejauh lima tombak.
Sekejap tubuh Kelana limbung saat menapaki tanah, dia merasa lawannya masih sedikit lebih tangguh.
Kelana segera menyerang kembali, kini serangannya lebih dahsyat.
Wuuushh.
Kelana meloncat mengarahkan kakinya kearah dada Cakra, Cakra menangkis tendangan itu dengan tangan kanannya.
Deesh.
Cakra mampu meredam lajunya serangan itu, dia juga mengincar kaki lawannya dengan cakar tangan kirinya, namun dengan cekatan Kelana menarik kakinya dengan bersalto ke belakang sehingga aman lah kaki itu dari luka.
Kelana tidak menunggu lama, saat kakinya menapak ke tanah, dia segera meloncat menerjang, serangan demi serangan terjadi, mereka bergerak dengan cepat sehingga yang terlihat hanya bayangan saja.
Wuuushh.
Wuussssh....
Sambaran serangan mereka kadang menyasar di sekitar mereka hingga beberapa pohon tumbang akibat serangan mereka.
Lima ratus jurus telah berlalu dengan cepat, Kelana mulai menggunakan cambuknya.
__ADS_1
Wuuuuush.
Wuuushhhh..
Wuuuuuushhh..
Suara cambuk yang di putar putar di atas kepala memunculkan serangkuman angin yang menderu deru.
Cakra tersenyum karena dia merasa tombak Bayu Angkasa yang di milikinya mampu mengatasi pusaka lawan.
Di tangan Cakra kini telah tergenggam tombak indah berwarna biru berhias emas dengan mata tombak melebar seperti kapak yang sangat tajam.
Ctaaaarr.
Dhuaaaarr.
Ujung Cambuk mengarah ke arah Cakra, dengan sedikit meloncat Cakra menghindari serangan itu dan membalas dengan tusukan tombak.
Whuuus.
Ganti Kelana yang bersusah payah menghindari serangan Cakra, apalagi dengan tombak Bayu Angkasa membuat serangan Cakra semakin sulit di hindari karena jangkauannya semakin lebar.
Kelana selalu menjaga jarak dari Cakra sambil berusaha mencari kesempatan melancarkan serangan ke Cakra.
Cetaaaaaar.
Wuuuuush..
Serangan Kelana mengarah ke dada Cakra, merasa serangan itu sudah terlambat untuk di hindari akhirnya Cakra memapaki serangan tersebut.
Blaaaar.
Terjadi ledakan yang cukup keras sehingga mengguncang semua yang ada di sekitar situ.
Kelana terdorong ke belakang sampai berguling guling, tangannya memegangi dadanya yang terasa sesak.
Cakra menghampiri Kelana memberi pertolongan.
" Bagaimana Kelana, apakah kau masih ingin melanjutkannya ,,,? " tanya Cakra.
" Kau adalah murid seorang pendekar yang berjalan lurus, namun kenapa dirimu diliputi nafsu dalam mengambil tindakan, bukankah di setiap tindakan harus di dasarkan oleh kepentingan orang lain, walau dulu kakek dewa tongkat rotan bergelimang dosa, namun sekarang beliau sudah berubah, jadi kenapa harus menurutkan nafsu untuk mengumbar dendam ,,,? "
__ADS_1
" Agar kau tahu sekarang kakek dewa tongkat rotan telah bergabung dengan kami untuk memerangi kebengisan kerajaan Selo Cemeng,, "
Mendengar cerita itu, Kelana mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada kakek Dewa tongkat rotan.