PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 2


__ADS_3

Sesosok bayangan merah melesat di antara pohon pohon hutan Angkrong, lima bayangan hitam mengejar dengan cepat, lima bayangan hitam yang lebih paham tentang keadaan isi hutan Angkrong membuat mereka tidak kesulitan untuk mengejar buruannya.


Siiiiing.


Claaaph.


Sesekali benda berwarna keperakan melesat dari salah satu bayangan hitam yang mengejar, tapi kewaspadaan Sardi cukup baik sehingga benda keperakan itu masih mampu dielakkan.


Beberapa kali benda keperakan yang ternyata pisau itu meleset dari sasaran sehingga membuat lima bayangan hitam yang mengejar menjadi geram, akhirnya mereka menyebar dan menyerang dari berbagai arah.


Siiiing.


Sebuah pisau mengarah ke tubuh Sardi dari sisi kirinya, Sardi segera menghindari mengegoskan tubuhnya sehingga pisau itu bisa di hindari, namun gerakan menghindari itu fatal akibatnya karena membuat gerakan larinya melambat dan keseimbangan tubuh Sardi terganggu, hampir dia terjungkal ketanah, namun dia bisa mengendalikan tubuhnya dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan di tanah.


Tepat saat itu dua pisau datang dari arah yang berbeda menyasar dadanya.


Sedikit Sardi melihat kilatan pisau itu kemudian dia bersalto dengan kedua tangan yang sebagai tumpuan di hentakkan ke tanah sehingga daya dorongnya mampu melontarkan tubuhnya agak jauh.


Claaap


Claaaph.


Dua pisau menancap di tanah sedangkan tubuh Sardi mendarat dengan dua kaki agak jauh dari tempat menancapnya pisau tadi.


Sardi mencari akal agar dirinya mampu lolos dari kejaran lima orang gerombolan Singa Lodro ini, akhirnya dia menyelinap diantara pohon pohon besar sehingga menyulitkan lawannya mengarahkan pisau ke tubuhnya.


Pohon pohon Besar itu cukup berhasil menghalangi lesatan pisau yang di lempar lawannya.


Sardi semakin leluasa berlari tanpa khawatir serangan pisau lawan mengenainya.


Tapi tiba tiba dari balik pohon di depan Sardi muncul seorang berpakaian serba hitam menghadang, terlambat bagi Sardi untuk menghindari orang itu karena cepatnya lari dan dia tidak menyangka bakal di hadang, orang itu menyepakan kaki kanannya ke arah perut Sardi.


Buuuuuk.


Sepakan itu mengenai perut sardi, beruntung sebelum mengenai perut, kedua tangan Sardi mampu menangkap kaki itu sehingga mengurangi kerasnya benturan di perut.


Sardi terpental kebelakang dengan pantatnya jatuh ke tanah duluan di posisi duduk, Sardi memegangi perutnya yang terasa sakit karena kuatnya tenaga dalam yang terkandung di sepakan tadi.


Tidak lama empat bayangan hitam yang mengejar Sardi tadi sudah bermunculan di sekitar Sardi.

__ADS_1


" Dasar bodoh, buat apa kamu mengajak main kucing kucingan kayak anak kecil, toh kamu tidak akan bisa keluar dari hutan ini dengan selamat, lebih baik kau serahkan saja buntalan itu dan kami akan memberimu kematian yang tidak menyakitkan,, " ucap orang yang menghadang tadi.


" Kau bujuk seperti apa pun aku tidak akan menyerahkan ini,, " ucap Sardi sambil mempererat kain buntalan itu di tubuhnya.


" Baik, kalau begitu akan aku ambil setelah kau menjadi mayat.. "


Hiyaaaaaat.


Seorang berbaju hitam maju menyerang, goloknya yang mengkilat mendesing sebagai tanda kuatnya sabetan golok, namun Sardi tidak ingin menyerah, dengan sekuat tenaga dia menangkis datangnya golok dengan pedangnya.


Tiiiing.


Bunga api muncul saat kedua senjata itu berbenturan, lawan Sardi keliru memperhitungkan kekuatan lawan, tadi waktu mereka melawan sardi berdua dengan kawannya mampu dengan mudah mendesak Sardi, namun saat dia melawan sendirian merasa kesulitan mendesak Sardi.


Empat kawan gerombolan Singa Lodro belum menyadari kalau kawannya belum mampu mengalahkan Sardi, mereka mengira kawannya mempermainkan Sardi sehingga belum waktunya mereka terjun membantu.


Hingga saat masuk di jurus ke delapan puluh, Sardi mampu melukai lengan lawan yang membawa golok sehingga golok itu jatuh ketanah dan melihat kesempatan itu Sardi membacok kearah perut namun mampu di hindari sehingga Sardi membelokkan serangan pedangnya ke arah paha.


Craaaaas.


Aaaaak.


Lawan Sardi berlutut menahan sakit di pahanya dan sardi langsung menebas leher lawannya dengan mudah.


Sardi yang sadar tidak akan mampu melawan empat orang sekaligus langsung mencoba melarikan diri lagi.


Mengetahui Sardi lari, tiga orang gerombolan Singa Lodro menghambur untuk mengejar Sardi, yang satu mencoba melihat kondisi kawannya, saat di lihat kawannya telah mati, dia juga ikut mengejar buruannya tadi.


Kejar kejaran di dalam hutan itu terjadi lagi, namun kini tenaga Sardi mulai berkurang sangat jauh, apalagi sebagian tenaganya berkurang saat tadi bertarung dengan lawan.


Sardi berlari tidak menghiraukan akar akar dan dahan yang menyulur sehingga membuat dia jatuh bangun.


Hingga tanpa di sadari dia terjatuh di dekat pohon beringin yang di bawahnya ada mata air yang jernih.


Seorang pemuda berbaju putih yang sedang bersemedi di bawah pohon beringin itu langsung membuka mata melihat ada seorang laki laki yang terjatuh di depannya, tidak lama di sekitar laki laki berbaju merah itu muncul laki laki berwajah kasar berbaju hitam berjumlah tiga orang.


Saat salah seorang laki laki berbaju hitam menapakkan kaki di dekat laki laki yang jatuh itu, laki laki berbaju hitam itu langsung menerjang mengarahkan goloknya ke arah Sardi yang terjatuh.


Taaaaaak.

__ADS_1


Claaaaaph.


Melihat seorang yang sedang dalam keadaan sulit hendak terbunuh, Cakra melesat kemudian menendang pergelangan tangan orang yang mengarahkan goloknya ke Sardi, akibatnya golok itu terlepas dan meluncur kearah pohon hingga bilah golok itu menancap dalam sampai ke pangkal gagangnya.


Orang yang terkena tendangan pergelangan tangannya itu mengumpat sambil menahan sakit.


" Kurang ajar,, siapa yang berani ikut campur urusan Singa Lodro. "


Cakra tidak menjawab namun dia menatap tajam kepada orang yang membentaknya tadi, sebuah pandangan mata yang tajam menekan kepada orang orang berbaju hitam di depannya.


Tiga orang berbaju hitam itu merasa sesak dadanya karena tekanan yang di keluarkan oleh Cakra.


Wuuuuus.


Siiiiiiiiiiiing.


Taaaaaph


Sebuah pisau kecil meluncur kearah Cakra, dengan mudah Cakra menangkap pisau itu, namun dengan Cakra menangkap pisau itu, tiga orang berbaju hitam mampu terlepas dari tekanan yang sebelumnya di lakukan Cakra.


Di antara tiga orang itu kini muncul satu orang yang tadi melemparkan pisau ke arah Cakra.


" Hebat juga kau mampu menangkap pisau yang aku lemparkan,, " ucap orang yang baru datang.


" Hal ini bagiku cuma mainan anak kecil,, " jawab Cakra sambil meremas pisau di tangannya.


Akibatnya seluruh orang yang ada di situ terkejut karena pisau di tangan pemuda itu telah patah menjadi dua hanya dengan remasan satu tangan.


" Cukup ,,,! tidak usah lagi kau pamer kesaktian di depan kami,,! sudah waktunya kau mati di hutan ini. "


Ke empat orang berbaju hitam menyerang bersamaan, tiga golok berdesingan mengurung pergerakan Cakra, yang satu orang hanya mengandalkan serangan tangan kosong karena goloknya telah menancap di pohon.


Cakra tidak ingin memandang sebelah mata lawannya, sehingga di meladeni serangan itu dengan jurus sayap seribu.


Gerakannya yang lincah dan luwes layaknya menari itu namun sangat efektif untuk meredam serangan bertubi tubi lawannya yang membawa golok.


Cukup lama Cakra meladeni serangan lawan, tidak satupun serangan lawan mampu melukai tubuhnya, bahkan kadang Cakra dengan sengaja menyentil bilah golok lawan sehingga golok itu bergetar dan berpengaruh kepada tangan pemilik golok itu yang ikut bergetar.


Ke empat pengeroyok itu begitu penasaran dengan lawannya karena semakin dahsyat serangan yang mereka lakukan justru semakin sulit bagi mereka untuk menaklukan lawan, hal ini membuat mereka kurang fokus dengan pertarungan, akibatnya kawan mereka yang tidak membawa senjata menjadi korban tamparan Cakra, tamparan yang terlihat lemah itu namun menimbulkan angin berkesiutan sebagai tanda besarnya tenaga dalam yang terkandung di telapak tangan itu, sehingga kepala kawan mereka yang tidak membawa senjata langsung remuk kepalanya, dari telinga dan hidungnya keluar darah ambruk tidak bernyawa.

__ADS_1


Melihat kawannya mati, ke tiga orang itu melemparkan pisau bersamaan ke arah Cakra, dengan gesit Cakra menangkap satu pisau kemudian membalikan ke pelempar nya hingga pisau itu menancap tepat di lehernya.


Sedangkan pisau yang satu Cakra tendang dan meluncur kearah pengirimnya menancap di dahi orang itu, tanpa mampu berbuat apa apa orang itu ambruk dengan nyawa yang sudah tebang entah kemana, sedangkan satu pisau meleset dari tubuh Cakra, pemiliknya pun sudah pergi mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan selembar nyawanya.


__ADS_2