
Pagi itu wajah putri Kencana Sari cemberut, gerakan gerakan silat yang di latihnya begitu kaku dan tidak bertenaga, Paman Suro dan paman Rejo yg mengawasi momongannya berlatih itu menjadi geleng geleng kepala.
" Putri, istirahat lah dulu sini ,,,! perintah paman Rejo.
Putri kencana Sari pun menuruti perintah itu, ia berjalan dengan lesu.
" Belajar silat itu tidak hanya mengandalkan kekuatan, kegesitan dan kecepatan, tapi juga harus dengan rasa yang ada di perasaan, jika gerakanmu di pengaruhi oleh amarah, maka kamu akan mudah di kalahkan musuhmu, begitu juga jika gerakanmu di dasari hati yang kecewa maka gerakanmu tidak akan terarah dengan benar" ucap paman Rejo.
"Betul apa yang di katakan pamanmu itu putri, memangnya ada masalah apa sampai berpengaruh pada gerakan silatmu putri,, " tanya paman Suro.
"Aku kecewa sama Cakra paman, kemaren aku ke kediamannya, namun dia sudah pergi mencari informasi ke Gading Padas, sudah dua kali dia pergi tanpa pamit aku dulu paman,, " jawab putri Kencana Sari, dia merasa hanya dengan kedua paman yang memomongnya sejak kecil inilah dia bisa mencurahkan isi hatinya.
"Biarkan Cakra pergi putri, dia kan mengemban tugas yang berat di sana,, " hibur paman Rejo.
"Tapi kenapa dia tidak pamit kepadaku, huuuh pokoknya aku akan menyusul dia,, " tekad putri Kencana Sari.
" Jangan gegabah putri, bukankah terakhir kali kita mencari informasi di sana kita hampir mati disana ,,? " cegah paman Rejo.
__ADS_1
Putri Kencana Sari mengabaikan perkataan paman Rejo, seolah tidak mendengar dia terus melesat masuk ke istana kediaman romo Rangga Jaya untuk meminta ijin menyelidiki di Gading Padas seperti enam purnama lalu.
Paman Rejo dan paman Suro hanya geleng geleng kepala melihat kekerasan hati putri Kencana Sari.
****
Sore itu Cakra berada di sebuah kedai yang cukup ramai, kali ini dia berpakaian seperti yang di pakai oleh masyarakat di situ sehingga tidak ada yang menyangka kalau dia bukan warga situ, sedikit demi sedikit dia mengumpulkan informasi dari banyak pengunjung di kedai itu.
Dari arah utara kedai itu, muncul tiga orang berkuda, mereka terdiri dari dua laki laki dan satu perempuan, mereka yang dalam dunia persilatan berjuluk tiga durjana dari bukit setan, mereka berhenti tepat di kedai itu, dengan pongah ketiga orang itu memasuki kedai, sebagian orang yang tau tentang kekejaman mereka segera meninggalkan kedai itu walau makanannya belum habis.
Ketiga durjana itu mengambil tempat yang kosong.
"Siapkan makanan yang paling enak untuk kami,,! " teriak Bowo, salah satu anggota Durjana dari bukit setan.
Dengan tergopoh gopoh pemilik kedai itu segera menghampiri mereka, dengan arak yang di bawanya segera menyampaikan arak itu untuk mereka dan menyuruh pelayannya segera menyiapkan makanan.
Sambil setengah mabuk, mereka bertiga berbincang bincang, kadang terdengar suara tawa di sana.
__ADS_1
"Apakah keadaan semakin gawat, kok sampai gusti Sangga Bhumi memanggil banyak tokoh hitam untuk memperkuat keamanan Gading Padas ini,,, ? tanya Bowo kepada Dewi Suji yang walaupun dia perempuan namun dia yang paling kuat dan yang paling dekat dengan Sangga Bhumi, pemimpin tertinggi di Gading Padas.
" Benar, bukankah selama ini dengan adanya kita keamanan Gading Padas sudah kuat" imbuh Wito mendukung ucapan Bowo, temannya.
"Apa kalian tidak tau, kalau kemaren ki Seto telah tewas di bunuh seorang pemuda, jadi kini gusti Sangga Bhumi ingin memperketat penjagaan di sini." jawab Dewi Suji kepada kedua kawannya.
Cakra bersikap biasa agar tidak di curigai, namun informasi yang di dapat ini sangatlah penting, dia harus menyusun ulang rencananya agar bisa keluar dari kota itu dengan selamat.
Kini Cakra menyelesaikan makannya, dia segera membayar makanannya, dia keluar dengan tenang dan berjalan mengarah ke alun alun yang tidak begitu jauh dari kedai itu.
Cakra duduk di bawah pohon beringin yang cukup rindang sambil makan kacang godok yang dia dapat dari kedai, ini di lakukan agar tidak di curigai, di alun alun itu banyak pemuda dan laki laki dewasa yang di ajari tata cara berperang, memakai tombak, pedang dan berkuda.
Cakra memperhatikan itu, namun ada yang aneh, para pemuda itu sangat kaku memegang senjata, seakan akan dalam hidupnya baru kali ini mereka memegang senjata dan tubuh mereka gemetaran, entah kenapa Cakra ingat apa yang di ceritakan Sri kemaren, anak yang ditolongnya karena kelaparan.
Cakra mencoba mencari bukti untuk menguatkan dugaannya, benar di satu sisi di balik tembok, banyak orang laki laki yang di ikat di situ, mereka semua dalam keadaan memprihatinkan.
Malam mulai datang, kini aktifitas di alun alun itu telah sepi, merasa sudah tidak ada informasi yang bisa di dapat, Cakra segera kembali ke pondok di sisi utara kota.
__ADS_1