PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Menyelidiki Kematian Eyang Guru


__ADS_3

Malam yang gelap menaungi hutan Pancer, sepotong bulan cahayanya suram karena terhalang mendung tipis, membuat malam itu sedikit lebih menggidikkan bulu roman.


Suara hewan malam yang biasanya ramai, kini semua terdiam seakan ikut bersedih atas tewasnya eyang Bagaskara yang selama ini menemani mereka.


Cakra masih duduk bersila, di depannya terdapat gundukan tanah yang masih basah, di gundukan tanah itulah Cakra menguburkan jasad eyang Bagaskara, setelah dia menguburkan jasad eyang Bagaskara, dia tidak langsung beranjak, namun dia mengenang setiap kejadian kejadian yang di lalui olehnya bersama eyang Bagaskara selama ini.


Di dalam posisi merenung ini tidak sadar dia masuk ke alam bawah sadar, dia merasa sosok eyang Bagaskara berdiri di depannya dan menaruh telapak tangan kanannya dengan lembut di kepala Cakra, sesaat Cakra merasa berada di bawah air terjun yang jatuhnya air tepat di kepalanya, dari ubun ubun kepalanya yang terkena air itu dirasakan adanya aliran energi yang menenangkan merasuk ke hati sehingga tanpa di sadari hatinya yang tadi bergemuruh karena amarah kini sedikit demi sedikit amarah itu sudah berkurang, bahkan hilang sama sekali yang ada perasaan tenang dan nyaman, bahkan dendam dendam yang awalnya mengakar kuat di dalam hati, kini dendam itu bersih seakan hanyut oleh tekanan arus deras yang mengalir dari ubun ubunnya.


Saat aliran itu telah berhenti, Cakra membuka matanya, tidak di sangka Cakra sudah bersemedi semalaman.


Cahaya matahari pagi menyambut selesainya semedi Cakra, Cakra merasa perasaannya jauh lebih baik dan dia mampu berpikir jernih untuk melanjutkan perjalanan menebar keadilan dan menolong semua orang yang membutuhkan.


Cakra segera membersihkan badannya di mata air tempat dia terjatuh dulu, setelah mandi dia kenakan pakaian celana putih selutut dengan kain jarik coklat yang melapisi sepaha, dengan baju warna sama dengan celananya berlengan panjang tanpa kancing di depannya kepalanya di ikat dengan kain putih rambutnya di biarkan panjang tidak lupa pedang garuda bertengger di balik punggungnya.


Cakra melangkahkan kakinya dengan mengikuti jejak pertarungan gurunya, memang Cakra sengaja tidak terbang karena dia ingin menyelidiki ke matian eyang gurunya, dia juga merasa dengan berjalan kaki akan mudah baginya untuk menemukan hal hal menarik di perjalanannya.


***


Di kerajaan Selo Cemeng, patih Mangun Gada yang saat ini menjadi raja di sana tengah mengadakan pertemuan dengan para punggawanya, dia banyak menggantikan punggawa lama dengan punggawa yang baru, kebanyakan punggawa punggawa yang baru berasal dari para pendekar golongan hitam dan pimpinan perampok yang selama ini membantu dirinya.

__ADS_1


Sedangkan para punggawa punggawa yang dahulu jika mau tunduk kepadanya maka mereka di biarkan namun jika masih memihak kepada raja Danujaya maka mereka akan di singkirkan dengan keji.


Di bawah kepemimpinan raja Mangun Gada yang baru ini justru kerajaan Selo Cemeng di pimpin dengan tangan besi, penindasan penindasan terjadi di mana mana, para gadis perawan banyak yang di culik untuk menjadi pemuas nafsu hewani mereka, dulu walau raja Danujaya suka berperang namun rakyatnya sangat makmur, dengan harta benda yang mengalir dari negeri taklukan perang mereka justru membuat warga di sana senang karena upeti yang mereka keluarkan tidak terlalu banyak, bahkan raja Danujaya membebaskan mereka untuk mengembangkan usahanya supaya cepat besar.


Namun di kepemimpinan raja Mangun Gada ini mereka di perlakukan layaknya budak yang tidak berhak atas hasil jerih payahnya sendiri, karena setiap hasil yang mereka dapatkan sebagian besar harus di berikan kepada kerajaan, mereka yang berani menentang akan di binasakan.


Tidak butuh waktu lama, hanya tiga purnama saja sudah terasa kemunduran ekonomi warga Selo Cemeng, mereka kini sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, apalagi di awal awal resminya raja Mangun Gada dulu, dia memungut upeti yang banyak dengan alasan mengembalikan perbendaharaan keuangan kerajaan yang habis karena banyaknya biaya perang dengan kerajaan Tirta Kencana yang harus di keluarkan.


Selain upeti juga para kawanan perampok sangat bebas berkeliaran di setiap rumah warga, mereka menguras harta benda simpanan yang sudah lama di kumpulkan sedikit demi sedikit.


Ternyata kawanan perampok itu pun juga berasal dari lingkungan istana yang mereka ingin menguras harta benda warganya tanpa harus terlihat kotor, mereka menggunakan nama perampok untuk melancarkan aksinya.


" Ada kabar apa senopati Ekata,,? " tanya raja Mangun Gada.


" Ampun Gusti prabu, banyak laporan dari para warga yang menyampaikan jika banyak terjadi perampokan, harta, ternak dan hasil panen mereka di kuras habis oleh para perampok,, " lapor senopati Ekata salah seorang senopati lama yang masih di biarkan menjadi punggawa di kerajaan Selo Cemeng.


Mendapat laporan itu, raja Mangun Gada hanya melirik ke arah senopati Byakta, karena dia yakin jika yang beraksi itu anak buah nya.


" Bagaimana menurut kalian tentang kejadian ini,, ? " tanya raja Mangun Gada.

__ADS_1


" Ampun gusti, sebaiknya kita selidiki dulu kejadian sebenarnya, apakah memang ada perampokan atau justru ini adalah akal akalan mereka agar mereka tida perlu membayar upeti kepada kerajaan, " usul senopati Cipta memainkan sandiwara.


" Namun akhir akhir ini memang banyak terjadi perampokan gusti,, " ucap senopati Ismawan.


" Tapi apa ada bukti,,,? dari kelompok perampok mana mereka,,,? semua tidak tahu kan ,,? " teriak senopati Dayan menyanggah ucapan senopati Ismawan.


Keadaan di situ semakin panas, pada dasarnya para senopati lama menginginkan kerajaan mengirim prajurit untuk membumi hanguskan para perampok namun dari senopati yang baru yang sebagian besar mereka dari pimpinan perampok, mereka menolak usulan itu.


" Sudah hentikan,,! buat apa kalian ribut ribut,,,? "


" Ampuun gusti,, " ucap semua yang hadir saat itu.


" Sekarang aku perintahkan kepada senopati Dayan untuk menyelidiki kebenaran kabar itu, aku minta jangan ada yang bertindak sebelum benar benar pasti kabar keberadaan perampok di sana, namun jika memang ini hanya alasan bagi mereka untuk tidak menyetorkan upeti kepada kita, maka bunuhlah mereka..! " tutup raja Mangun Gada.


Keputusan ini membuat tersenyum penuh arti dari senopati Byakta dan senopati Dayan.


Mereka semua segera undur diri untuk melakukan tugas mereka masing masing.


Namun raja Mangun Gada meminta senopati Byakta untuk tetap tinggal di situ, dia memerintahkan senopati Byakta untuk mengawasi senopati Ekata, senopati Ismawan dan senopati Birawa, raja juga memerintahkan untuk menghabisi mereka jika mereka tidak patuh kepada putusan raja.

__ADS_1


__ADS_2