
Suasana tepi hutan Pancer kembali sepi, beberapa prajurit yang terluka segera mendapat pengobatan dari teman temannya.
Seorang komandan prajurit mendatangi Cakra untuk menyampaikan terima kasih atas bantuannya.
" Kami sangat beruntung atas kedatangan tuan pendekar, saya mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongannya, "
"Tidak perlu begitu tuan, saya hanya menjalankan kewajiban, sebenarnya tanpa saya bantu pun, tuan dan prajurit yang lainnya mampu mengatasi prajurit dari Selo Cemeng tadi " ucap Cakra merendah.
" Kau seorang pendekar yang hebat, aku suka sikapmu, bergabunglah dengan pasukan kami, aku yakin pimpinan kami akan menerimamu " bujuk pemimpin pasukan itu.
"Maaf, bukannya aku tidak mau, tapi aku masih punya urusan lain yang harus aku lakukan," jawab Cakra.
" Baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksamu, mudah mudahan urusanmu segera selesai, ," doa pimpinan itu.
Cakra segera berpamitan kepada pemimpin pasukan itu, dia segera melesat ke arah Kerajaan Tirta Kencana dan berharap segera bertemu dengan keluarganya.
Sepeminuman teh setelah Cakra pergi, datanglah sekelompok pasukan yang di pimpin oleh seorang setengah baya, walau usianya di kepala empat, namun tubuhnya masih gagah, wajahnya tampan di tambah kumis yang melintang menambah kegagahan pemimpin pasukan itu.
"Selamat datang senopati Bajra, " ucap pimpinan pasukan yang di tolong Cakra menyambut senopati pimpinannya.
"Apa yang terjadi di sini...? kenapa ada prajurit yang terluka...? " tanya senopati Braja.
" Ampun, tadi waktu kami berpatroli di wilayah ini, ada sepasukan prajurit Selo Cemeng yang mau masuk wilayah kita, mereka ingin menangkap tiga orang pedagang yang enam purnama lalu memasuki daerah Gading Padas wilayah yang di kuasai Selo Cemeng, kami menghadang mereka, namun mereka tetap ingin masuk ke wilayah Tirta Kencana mencari ketiga pedagang itu, akhirnya kami bertempur dengan mereka"
"Awalnya kami terdesak, tapi kami di tolong oleh seorang pendekar muda, atas pertolongan pemuda itu kami bisa memukul mundur mereka." lanjut pemimpin itu yang bernama Karso.
"Seorang pemuda, siapa namanya dan dimana dia sekarang Karso ..? " tanya senopati Bajra.
"Aduuh bodohnya aku , aku tadi lupa menanyakan namanya, " kata Karso sambil menepuk jidatnya.
"Sudahlah tidak apa apa, mudah mudahan kita bertemu dengan pemuda itu lagi untuk menyampaikan terima kasih. " jawab senopati Bajra.
" Sekarang mari kita kembali ke kerajaan..!" perintah senopati Bajra.
**
Sekilas tentang masa lalu senopati Bajra yang sebenarnya adalah ayah dari Cakra.
Dulu waktu dia kembali ke hutan Pancer dia tidak menemukan jejak keberadaan anaknya, akhirnya dia memutuskan menyusul para pengungsi melanjutkan perjalanan ke kerajaan Tirta Kencana, di kerajaan Tirta Kencana mereka di terima dengan baik, bahkan raja Rangga Jaya memberikan suatu wilayah untuk mereka menetap dan raja Rangga Jaya menitahkan Bajra untuk mengabdi kepada kerajaan Tirta kencana, karena jasa dan kemampuan Bajra sangat besar maka raja Rangga Jaya mengangkatnya menjadi senopati di kerajaan itu.
. . .
__ADS_1
Hari itu Senopati Bajra bertugas patroli menjaga keamanan perbatasan kerajaan Tirta Kencana, dia membagi dua pasukan agar lebih mempersingkat waktu.
Naas bagi pasukan yang di pimpin Karso, telah bertemu dengan pasukan Selo Cemeng yang ingin masuk ke kerajaan Tirta Kencana yang akhirnya terjadi pertempuran di tepi hutan Pancer.
****
Di sebuah kedai yang cukup ramai, Cakra sedang mengisi perutnya sambil mencari informasi keberadaan para pengungsi dari Gading Padas yang datang ke kerajaan Tirta Kencana dua belas tahun lalu.
Dia menikmati daging asap di hadapannya sambil mencuri dengar pembicaraan orang orang yang ada di kedai itu, dia sengaja ingin mempelajari keadaan di situ sebelum dia bertanya tentang keberadaan para pengungsi dari Gading Padas.
"Kemaren prajurit patroli yang di pimpin oleh senopati Bajra telah menghadang prajurit Selo Cemeng di tepi hutan Pancer yang ingin masuk ke wilayah kerajaan ini, beruntung mereka bisa menghalau pasukan itu, kalau tidak, bakal jadi pertempuran di wilayah ini, " cerita seorang pengunjung kedai yang mendapat kabar dari seorang prajurit yang bertugas memberi kabar penting ke kerajaan.
"Kini pasukan patroli itu sudah kembali, mungkin sebentar lagi akan memasuki kota ini" lanjut orang itu.
Cakra yang mencuri dengar merasa penasaran dengan pembicaraan itu, bukan penasaran pada ceritanya karena pada saat terjadinya kejadian itu, dia berada di situ, namun dia penasaran dengan nama yang di sebut sebagai pemimpin pasukan itu, pada saat itu dia tidak melihat seorang yang wajahnya mirip dengan ayahnya, apakah nama yang di sebut itu orang lain bukan ayahnya, atau dia sudah tidak mengenali wajah ayahnya yang terpisah dua belas tahun lalu.
Rasa penasaran inilah yang mendorong Cakra untuk menunggu lewatnya pasukan patroli itu.
"Maaf paman, apakah pasukan patroli itu akan lewat jalan ini..? " tanya Cakra.
"Benar pemuda, apakah kamu ingin menyambut mereka, seperti para penduduk di sini yang ingin menyambut pasukan itu,,,?"
Akhirnya mereka kembali meneruskan makannya sambil mengobrol bersama.
Tidak lama, iring iringan pasukan memasuki gerbang kota itu, hampir seluruh penduduk keluar dari rumah untuk menyambut rombongan pasukan itu, mereka berdesak desakan di tepi jalan sambil memberi tepuk tangan kebanggaan kepada pasukan itu, pasukan itu yang berada di atas punggung kuda melambaikan tangan sambil membalas senyum kepada para penduduk di situ.
"Itu senopati Bajra, dia gagah dan tampan, " seru salah satu orang yang berada di samping Cakra.
Cakra menatap dengan lekat wajah orang yang di tunjuk tadi, sesaat dia mengenali wajah itu, meski wajah itu telah berubah karena di hiasi kumis yang melintang, namun cukup bagi Cakra untuk mengenalinya, Cakra semakin yakin bahwa senopati Bajra adalah ayahnya setelah melihat bekas luka sayatan di lengan kirinya, itu adalah bekas luka saat berperang dulu.
Cakra memutuskan untuk mengikuti pasukan itu, sampai di sebuah gerbang yang megah, semua pasukan itu masuk ke dalam, di depan gerbang Cakra di cegat oleh penjaga gerbang.
"Maaf, tidak semua orang masuk ke istana ini, anda harus pergi ,,,! " ucap penjaga itu tegas.
"Maafkan kelancanganku, aku harus bertemu dengan senopati Bajra, tolong ijinkan saya menemuinya," mohon Cakra.
"Maaf, senopati Bajra masih sibuk, beliau harus melaporkan hasil patrolinya kepada baginda raja, " jelas penjaga itu.
Awalnya Cakra mau menerima alasan itu, dia bersabar menunggu di depan gerbang , berharap senopati Bajra segera keluar, namun hal itu tidak terjadi, akhirnya Cakra mengambil cara lain.
Cakra berjalan memutari tembok istana, dia mencari bagian paling sepi dari istana itu.
__ADS_1
Huuuph...
Sekali loncat Cakra sudah berada di dalam tembok istana, dia mengendap mencari kediaman senopati Bajra yang tadi dia ketahui melalui informasi prajurit yang lewat di luar tembok.
"Berhenti,,,! siapa di sana ,,? " teriak seorang prajurit yang tidak sengaja memergoki Cakra.
"Sial " umpat Cakra.
Segera terdengar bunyi kentongan bertalu talu, tanda adanya penyusup di lingkungan itu, tidak butuh waktu lama, sekelompok prajurit mengurung Cakra, Cakra berfikir keras bagaimana menghadapi prajurit ini tanpa melukainya, akhirnya sebelum dia di ringkus oleh prajurit prajurit itu, dia memusatkan tenaga dalamnya, dari dalam tubuh Cakra muncul pusaran angin yang besar menghalau siapa pun yang ingin mendekati Cakra.
"Berhenti,,,! " teriak Karso yang baru datang.
Merasa mengenali pemuda yang di kepung itu, segera Karso menghentikan para prajurit itu.
" Apa yang kau lakukan di sini, kenapa kau menyusup di istana ini,,,? " tanya Karso mencurigai Cakra.
"Maafkan hamba telah lancang masuk ke istana ini, namun saya terpaksa melakukan ini karena saya ingin bertemu dengan senopati Bajra,,, " jelas Cakra.
"Ada perlu apa kau ingin menemui senopati Bajra ,,? "
"Aku hanya ingin menyelesaikan urusanku,, "
"Ada apa ribut ribut di sini,,,,? " terdengar suara yang berwibawa dari belakang.
"Maaf senopati, pemuda yang dulu menolong saya, kini menyusup di istana ini mencari anda,,, " jawab Karso kepada senopati Bajra yang baru datang.
" Suruh dia menghadap kepadaku ,,,! suruh senopati Bajra.
Cakra menghadap senopati Bajra dengan menunduk hormat, dengan tanpa di duga setelah Cakra berada di jarak dua langkah langsung bersujud di kaki ayahnya.
"Romo,,, Saya Cakra anakmu yang dulu terpisah di hutan Pancer, "
Mendengar itu senopati Bajra tercekat tidak percaya, segera dia meraih pundak pemuda yang masih bersujud di kakinya, segera dia angkat dan dia pandangi lekat lekat wajah pemuda itu.
" Cakra,,,, kau benar benar anakku nak,, " ucap senopati Bajra setelah melihat tanda lahir di leher Cakra.
Senopati Bajra memeluk erat anaknya, seakan dia tidak mau berpisah lagi.
Bajra segera mengajak Cakra ke kediamannya, ia segera mempertemukan Cakra dengan Galuh ibunya.
Hari itu di kediaman senopati Bajra terjadi tangis kebahagian karena sudah berkumpul lagi dengan Cakra, anak mereka.
__ADS_1