PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Penculikan


__ADS_3

Mentari pagi berjalan perlahan membawa cahaya namun juga meninggalkan kegelapan di belakangnya.


Seperti suasana pagi di rumah ki lurah desa Randu Alas, mereka bersuka cita karena saat pagi menyingsing, penyakit yang mereka alami telah sembuh tinggal mengembalikan tenaga mereka yang masih lemah sehingga mereka hanya terbaring lemas di ranjang.


Namun di satu sisi mereka juga sedih karena kehilangan anak laki laki yang di harapkan bisa meneruskan kepemimpinannya nanti, walau perbuatannya sudah melenceng karena dibutakan oleh cinta, tapi bagaimana pun juga dia adalah darah daging mereka yang mereka rawat dengan kasih sayang.


Cakra yang juga memahami hal itu mencoba menghibur dan menegarkan hati kedua orang tua itu beserta Suci adik dari Arya Marga.


Sejak di beri kabar tentang kematian kakaknya tadi pagi, Suci menelungkupkan kepalanya di bantal sambil menangis sesenggukan, sedangkan kedua orang tuanya yang terlihat tegar namun dadanya pun terguncang.


" Sudahlah dinda, jangan kau bersedih, hidupmu masih panjang, kau harus selalu menemani orang tuamu dan menjadi anak yang membanggakan mereka,, " hibur Kenanga sambil mengelus rambut Suci.


Lama Cakra dan Kenanga menghibur mereka, agar mereka mampu menghadapi musibah ini dengan tegar.


" Dinda, aku akan berkeliling kampung ini untuk memberi pertolongan kepada warga yang terkena racun seperti yang di alami ki lurah, kau tetap saja di sini untuk menghibur mereka,,! " pamit Cakra kepada Kenanga.


Yang di pamiti cuma menganggukkan kepala tanda mengiyakan.


Di temani seorang penjaga rumah ki lurah, Cakra mendatangi satu persatu warga yang terkena racun, dia memberi sedikit bantuan dengan menyalurkan sedikit tenaga dalam roh garuda agni.


Reaksi yang di alami oleh para warga di sana tidak jauh berbeda di bandingkan dengan keluarga ki lurah, mereka mengalami rasa panas yang luar biasa di dalam tubuh mereka, namun setelah muncul asap dari anggota tubuh mereka, rasa panas tadi menjadi rasa sejuk yang menenangkan.


Banyak warga yang merasa berhutang budi kepada Cakra sehingga mereka memberikan sesuatu berharga yang mereka miliki, namun dengan halus Cakra menolak semua itu, bukan karena sombong namun dia merasa dzalim jika warga yang serba kekurangan hanya memiliki beberapa barang berharga namun di bela belain di kasihkan kepadanya, kalau dia menerima berarti dia tidak memikirkan nasib orang itu nantinya jika sesuatu yang berharga sudah di kasihkan kepadanya, sedangkan Cakra melakukan itu semua karena dia mengamalkan semua petuah petuah yang di berikan kepadanya oleh gurunya maupun para sesepuh lainnya.


***


Matahari sudah hampir Condong ke barat, entah kenapa hati Kenanga tidak tenang, dia berjalan mondar mandir di depan rumah ki lurah, sedangkan keluarga ki lurah kini sudah lebih baik keadaannya.


" Kenapa Kakang Cakra tidak segera kembali, sudah hampir seharian dia berkeliling ke rumah warga, apakah ada kendala di sana,,? " gumam Kenanga.


Slaaaaas.


Jleeeeeeph.


Sebuah pisau meluncur ke arah Kenanga, beruntung Kenanga dengan sigap menghindari serangan pisau itu.


Kenanga langsung waspada, dia langsung mencari penyerang gelap yang meluncurkan pisau ke arahnya.


" Tunjukkan diri kalian, jangan beraninya hanya menyerang dari belakang, dasar tidak jantan,, " teriak Kenanga.

__ADS_1


"Ha ha ha ha.... "


Dari atas pohon mahuni muncul dua orang paruh baya sambil memperlihatkan tawa terbahak bahak.


" Ternyata ada gadis cantik yang ingin tahu kejantanan kita kakang Sudir,, "


" Benar Remboko, aku kira kesempatan ini tidak bisa di lewatkan, jarang jarang kejantanan kita menikmati gadis cantik seperti dia, pasti kita puas,, " ujar Ki Sudir.


Kenanga yang mendengar ucapan dua laki laki yang menyerangnya itu menjadi marah, dia lupa jika pengendalian emosi sangat berpengaruh pada hasil pertarungan.


" Jaga mulut kalian, siapa yang sudi melayani kalian, mungkin cuma monyet yang mau,, " sungut Kenanga.


" Ha ha ha, jika monyetnya cantik kayak kamu, ya jelas mau aku,, " jawab Ki Sudir.


Kenanga sudah tidak sabar, dia langsung melesat hendak menyerang, melihat gadis itu melesat Ki Sudir dan Remboko menghujani gadis itu dengan senjata pisau kecil.


Kenanga yang ada di udara berusaha menghindari hujan senjata dengan memutar tubuhnya.


Craaas.


Sebuah pisau mampu menggores lengan Kenanga, membuat laju lesatan Kenanga terganggu, namun Kenanga tetap melesat.


Lawan Kenanga walau terdesak mundur namun mampu menghalau serangan cakar Kenanga, karena tubuh Kenanga masih merangsek ke depan akhirnya mereka menghindar ke samping sehingga tubuh Kenanga meluncur di antara mereka dan mendarat di atas tanah dengan sempurna.


Dari hasil benturan yang di alami tadi, Ki Sudir sadar jika gadis di depannya tidak bisa di pandang remeh, mereka harus berhati hati jika tidak ingin nyawanya melayang.


Keduanya kini bergerak menyepakan kakinya, ki Sudir menggunakan kaki kirinya dari sebelah kiri Kenanga, sedangkan Rumboko dari sebelah kanan menyepakan kaki kanannya.


Deeeees.


Dengan sisi lengan luar di depan badan, Kenanga menahan sepakan itu, kemudian dia mendorong kedua kaki itu agar terjatuh.


Ki Sudir dan Remboko sigap, walau tubuhnya terdorong namun mampu mempertahankan kuda kudanya sehingga saat lawan menyerang mereka sudah siap.


Benar saja, setelah Kenanga mendorong dua kaki lawan, dia langsung mengirimkan tendangan memutar.


Weeeees.


Kuatnya tendangan Kenanga sehingga menimbulkan suara siutan angin yang keras.

__ADS_1


Dengan sigap lawan Kenanga langsung meloncat kebelakang menghindari serangannya.


" Huuuh, yang katanya jantan ternyata dua lelaki melawan satu perempuan saja main mundur tidak berani maju,, " ketus Kenanga.


" Ha ha ha, tunggu dulu gadis manis, belum saatnya kami maju memberimu kenikmatan, sebaiknya kita main main saja dulu,, " jawab ki Sudir.


" Kurang ajar, tidak akan ku biarkan kalian hidup untuk membuat kerusakan kepada kaum perempuan seperti aku,, " bentak Kenanga.


Hiyaaaat.


Kenanga kembali menyerang mereka, dengan jurus jurus mematikan dia menyerang agar pertarungan ini cepat selesai, namun semakin besar dia menekan semakin kedua orang itu mampu menahan, bahkan beberapa pukulan telah bersarang di tubuh Kenanga.


Kenanga akhirnya mengeluarkan pedang merak putih dari sarungnya.


Dengan pedang di tangan, serangan Kenanga semakin berbahaya, tapi sesuatu terjadi pada tubuh Kenanga, tubuhnya menjadi lemas, pandangan berkunang kunang dan kepalanya pening.


" Ha ha ha, apa kamu tidak sadar dari tadi kami tidak meladenimu dengan serius karena menunggu racun berasal dari pisau yang menggores lengan mu bekerja, sekarang kami bisa membawa tubuhmu tanpa harus membuat cacat tubuhmu yang indah itu,, " ucap ki Sudir.


Kenanga yang mendengar itu baru sadar jika di dalam tubuhnya ada racun, dia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya.


Tapi dia sudah terlambat karena racunnya sudah menyebar, akhirnya pandangan matanya gelap tidak sadarkan diri.


***


Menjelang sore Cakra kembali ke rumah ki lurah, di sana dia melihat seorang penjaga rumah tergeletak tidak sadarkan diri di tempat tersembunyi, Cakra menjadi curiga sehingga dia langsung menghambur ke dalam rumah mencari keberadaan Kenanga, namun sebelum dia masuk rumah, seorang pelayan sudah menyambutnya dengan wajah penuh kekhawatiran.


" Kenapa kamu begitu khawatir seperti itu,,? " tanya Cakra.


" Ampun tuan,,,, ampun, ketiwasan, Den ayu Kenanga telah di bawa pergi dua orang,, " jawab pelayan tergagap karena ketakutan.


" Siapa yang membawa dan kemana,,? " tanya Cakra.


" Kelihatannya di bawa oleh kelompok pemuja iblis merah,, pasti den ayu di bawa ke markas mereka di hutan Murwo di selatan desa ini,, "


Mendengar itu tanpa pikir panjang Cakra segera melesat ke arah hutan Murwo sambil mencari jejak penculik Kenanga.


-----


Terima kasih pada semua reader yang telah setia menunggu update cerita terbaru dari Pewaris Kesatria Jatayu, mohon maaf jika akhir akhir ini saya author kurang produktif sehingga kurang bisa memberikan rasa kepuasan kepada para pembaca, semoga kedepan semakin mampu membuat para pembaca menjadi lebih puas. semoga karya ini juga bisa bermanfaat bagi para pembaca, minimal mengusir rasa jenuh atau memberi istirahat otak di sela sela padatnya aktifitas para pembaca.

__ADS_1


__ADS_2