
Kuk ku ruyuuuuk......
Suara kokok ayam terdengar bersahutan dari kejauhan, pagi yang gelap dan sunyi itu seketika menjadi riuh dan panik, Panglima Mahendra yang semalam bersemedi untuk mengobati luka dalam dan mengembalikan kebugaran badannya terpaksa mengakhiri semedinya setelah seorang prajurit menghadap.
" Maaf panglima, pasukan Tirta Kencana sudah menyiapkan pasukan, di perkirakan mereka akan menyerang langsung kesini,, " lapor prajurit itu.
" Apa,,,? di mana para senopati saat ini,,,,?".
" Ampun gusti, para senopati kini sedang berkumpul di tenda milik panglima Damar Saketi.. "
" Baiklah aku akan ke sana, sekarang siapkan pasukan,,! "
" Sendiko Gusti. "
Kemudian panglima Mahendra keluar untuk menuju ke tenda panglima Damar Saketi .
Tidak butuh waktu lama, panglima Mahendra sudah sampai tenda panglima Damar Saketi, di sana sudah berkumpul para senopati yang masih hidup, mereka adalah senopati Abinaya, senopati Supit Urang, senopati Arya Satru, senopati Dadung Srono, senopati Angga dan senopati Sampar Gelap.
Panglima Mahendra masuk ke tenda itu, mengetahui panglima Mahendra datang, semua yang ada di situ segera berdiri menyambut pimpinannya.
Panglima Mahendra segera mempersilahkan mereka duduk.
" Maaf kakang, kami mengadakan pertemuan di sini karena kakang masih semedi tadi,, " ucap panglima Damar Saketi.
" Tidak apa apa, sekarang keadaan sedang genting jadi tidak usah dirisaukan. "
" Karena saat ini lukaku belum sembuh benar, sebaiknya untuk memimpin pasukan ini aku serahkan kepada panglima Damar Saketi.. "
" Kalian harus berhati hati jika bertemu dengan seorang pemuda berbaju zirah merah dan seorang perempuan bersenjata busur berwarna emas,, " lanjut panglima Mahendra.
Semua yang ada di pertemuan itu mengangguk dan setuju dengan ucapan panglima Mahendra.
Ketika panglima Mahendra memberi arahan arahan kepada senopati nya, sebuah keributan telah terjadi keributan di salah satu sudut perkemahan.
Salah seorang prajurit menerobos masuk ke dalam tenda panglima Mahendra.
" Ada perlu apa sehingga kau berani mengganggu pertemuan kami,,,? " tanya panglima Mahendra.
" Ampun gusti, sekelompok orang di pimpin seorang perempuan telah menyerang sehingga persiapan kami terganggu, kita kesulitan mengatur barisan karena serangan itu menyebar ke seluruh perkemahan ini. "
" Kurang ajar, hanya karena sekelompok orang saja kalian sudah kewalahan,,, " bentak panglima Mahendra.
__ADS_1
" Senopati Angga, kau ikut aku menghadang perempuan itu, Panglima Mahendra dan seluruh prajurit majulah ke garis depan,,,! "
" Ayo kita bereskan mereka,,,! "
" Ayoooooo.. "
Akhirnya semua senopati berhamburan keluar untuk menghadang penyerang yang mengacau itu.
....
Di pasukan Tirta Kencana, mereka sudah siap dengan menggelar formasi garuda nglayang, senopati Mega Reksi memberi laporan kepada pangeran Ranu Mulya jika pasukan sudah siap, namun sebelum pangeran Ranu Mulya memberi perintah untuk bergerak, seorang prajurit yang bernama Madi melaporkan kepada pangeran Ranu Mulya kalau putri Kencana Sari saat ini telah berada di perkemahan lawan untuk menggempur lawan.
" Dasar keras kepala anak itu,, " ucap pangeran Ranu Mulya sambil geleng geleng kepala.
" Bersama siapa dia,,? " tanya pangeran Ranu.
" Ampun pangeran, gusti putri bersama dengan pasukan Shindung Bawana. "
" Senopati,, beri aba aba untuk menyerang sekarang,,! " perintah pangeran Ranu karena khawatir dengan nasib adiknya.
Gendang segera di tabuh, prajurit Tirta Kencana segera menyerbu ke arah perkemahan prajurit Selo Cemeng.
Para senopati Selo Cemeng segera menghambur untuk membunuh setiap prajurit lawan yang mereka temui, saat itu senopati Abinaya mengamuk di tengah tengah pasukan Tirta Kencana, dengan keris di tangannya dia menyerang membabi buta, kerisnya yang berwarna hitam legam kini sudah berwarna merah karena sudah berlumur darah lawannya,
Senopati Rangka Wuni yang melihat banyak prajuritnya terbunuh di ujung keris milik senopati Abinaya segera menghadang senopati Abinaya, dia memerintahkan para prajurit untuk melawan prajurit yang lain.
" Kau lawanku saat ini,, " ucap senopati Rangka Wuni.
Mereka segera terlibat pertempuran, pedang senopati Rangka Wuni menyambar nyambar, walau keris yang di pegang senopati Abinaya lebih pendek, namun mampu menangkis semua serangan pedang senopati Rangka Wuni.
Pedang pusaka yang panjang itu belum mampu menembus pertahanan keris di tangan senopati Abinaya, bahkan kadang tusukan keris masuk di pertahanan senopati Rangka Wuni sehingga dia harus berjumpalitan menghindari tusukan keris itu.
Senopati Rangka Wuni tersenyum melihat wajah lawannya pucat pasi karena sedikit lagi kerisnya akan menancap di dada, namun senopati Rangka Wuni beruntung bisa menangkis dengan pedangnya, tapi karena benturan itu dia terjajar tiga langkah.
" Bagaimana, kita lanjutkan pertarungan ini atau kau mengaku kalah dan memenggal kepalamu sendiri. "
" Cuiiih,, pantang aku mundur dari pertarungan ini. "
" Baik, ayo kita lakukan,,! "
Hiyaaaatt.
__ADS_1
Triiiiing.
Tiiiiiing.
Suara senjata berbenturan memekakkan telinga, senopati Rangka Wuni menyerang dengan cepat, setiap sambaran pedangnya mampu membuat hempasan hempasan angin yang kuat sehingga membuat senopati Abinaya harus meningkatkan kewaspadaannya, Rangka Wuni menyerang ke arah dada senopati Abinaya, namun hanya dengan memundurkan badannya senopati Abinaya mampu menghindari sabetan pedang senopati Rangka Wuni.
Saat senopati Abinaya mampu menghindar, senopati Abinaya memutar tubuhnya sambil menyepakkan kakinya ke arah punggung lawan.
Duuuuuk.
tendangan itu telak mengenai punggung senopati Rangka Wuni.
Tubuh senopati Rangka Wuni terlempar ke samping, tubuhnya jatuh ke tanah, sebelum senopati mampu berdiri, senopati Abinaya sudah meloncat menusukkan kerisnya ke arah perut lawan.
Traaaak.
Seseorang menangkis serangan senopati Abinaya sehingga selamatlah senopati Rangka Wuni.
" Terima kasih gusti pangeran,, " ucap senopati Rangka Wuni kepada pangeran Ranu Mulya yang menolongnya.
" Ayo kita lawan dia,, "
Pangeran Ranu Mulya dan senopati Rangka Wuni maju menyerang secara bersamaan.
Serangan serangan bersamaan itu membuat senopati Abinaya kerepotan, senopati Abinaya di buat berguling guling di tanah menghindari datangnya senjata lawan, di tubuhnya kini telah banyak luka luka yang di sebabkan oleh sabetan pedang pangeran Ranu Mulya dan pedang senopati Rangka Wuni.
Senopati Rangka Wuni kini meloncat menyabetkan pedangnya dari atas ke bawah, karena posisinya masih bergulingan di tanah membuat dia tidak sempat menghindar dan hanya mampu berharap kepada keris yang di gunakan untuk menangkis.
Traaaaang.
Keris di tangan senopati Abinaya terlempar karena terlalu kerasnya serangan senopati Rangka Wuni, kesempatan ini di manfaatkan oleh senopati Rangka Wuni untuk mengarahkan pedangnya ke arah senopati Abinaya.
Craaas.
Aaaaakh.
Jerit terakhir senopati Abinaya terdengar keras, hal ini menyebabkan prajurit lawan jatuh mentalnya sehingga mudah bagi prajurit Tirta Kencan menghabisi lawan.
Sedangkan pangeran Ranu Mulya segera berlari ke arah putri kencana Sari bertarung dengan panglima Mahendra.
Putri Kencana Sari dengan gagah berani memporak porandakan perkemahan lawan, hingga akhirnya dia di hadang oleh panglima Mahendra, putri Kencana Sari mengenali penghalangnya itu, sehingga dia tidak segan untuk menggempur lawan.
__ADS_1