PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Dewa Tongkat Rotan


__ADS_3

Cakra mengumpulkan semua prajurit yang menyerah, kebanyakan prajurit yang menyerah adalah prajurit kerajaan Selo Cemeng yang di tempatkan di desa Mojosari.


" Dengarkan kalian semua, kalian sudah kalah, sekarang kami tawarkan kepada kalian, kalian ingin bergabung dengan kami atau kalian ingin kebebasan dan kembali ke pasukan kalian,,,? " tanya Cakra memulai siasatnya.


Melihat tidak ada keinginan dari prajurit untuk bergabung dengan mereka Cakra melanjutkan bicaranya.


" Semua tawanan yang ada di sini, ketahuilah bahwa pasukan kami hanyalah pasukan pembuka jalan, nantinya pasukan kami akan menyusul sebanyak lima ribu pasukan yang akan menyerbu Gading Padas dan meluluh lantahkannya, pasukan kami yang berada di hutan Gondo Mayit telah mempersiapkan penyerangan yang menurut kalian yang melihat itu adalah kiamat, maka sampaikan lah pesan kepada pemimpin kalian untuk bersiap menerima ke hancuran kalian,,, " teriak Cakra sengaja membocorkan lokasi markas mereka agar musuh terpancing.


Semua yang mendengar di situ hanya merunduk diam, sebagian dari mereka ingin bergabung dengan Cakra, namun hal itu tidak berani mereka lakukan karena takut di anggap penghianat.


" Hamba ingin bergabung......, Aaaaaakhh...."


Belum selesai orang yang berdiri ingin menyatakan bergabung dengan Cakra, namun kepalanya telah menggelinding ke tanah karena di tebas oleh pimpinannya dengan golok yang tergeletak di tanah.


Melihat itu seorang anggota pasukan Shindung Bawana ingin membunuh pimpinan pasukan itu, namun Cakra telah mencegahnya.


" Kau sangat berani, di tengah tekanan yang kami berikan kau masih keras kepala mempertahankan amanah yang kau pikul, aku suka dengan jiwa kesatria yang kau miliki, untuk itu kau boleh pergi meninggalkan tempat ini,,!" perintah Cakra.


Orang itu langsung membalikan badan pergi dari situ tanpa berkata apapun, hanya tatapan penuh dendam lah yang mengiringi kepergiannya.


" Siapa yang ada di sini ingin menyusul pemimpinnya silahkan, atau ingin kembali ke keluarga kalian maka segeralah pergi dari sini,, " ucap Cakra.


Sebagian dari prajurit itu segera pergi meninggalkan desa itu, sedangkan sebagian lagi merasa sudah nyaman berada di desa itu sehingga mereka memutuskan menetap di desa itu, mereka merasa tidak ada gunanya kembali ke kerajaan Selo Cemeng karena mereka bakal di paksa lagi menjadi prajurit untuk berperang dan mereka sudah tidak punya saudara di sana.


Cakra mempersilahkan mantan prajurit yang tetap tinggal di desa itu untuk membuka lahan pertanian, namun dengan syarat mereka harus mau ikut serta menjaga keamanan desa Mojosari.


***


Di sebuah gubuk yang agak jauh dari desa Mojosari, seorang kakek tua berbaju warna merah kusam dengan tongkat rotan di pangkuannya tengah bersemedi.


Di luar gubuk itu berhenti seorang mengendarai kuda, dia segera meloncat dan menghambur masuk ke dalam gubuk secara terburu buru, namun baru sebentar dia masuk ke dalam gubuk itu, dia terpental ke belakang menabrak dinding anyaman bambu hingga jebol, di luar dia bergulingan kemudian memuntahkan darah segar dari mulutnya.


" Dasar kurang ajar, tidak punya sopan santun, apa selama ini tidak ada yang mengajarimu sopan santun haah,,? " bentak sosok kakek berbaju merah yang merasa terganggu semedinya.


" Ampun eyang, saya terburu buru karena telah terjadi kerusuhan di desa Mojosari yang mengakibatkan ki Karmo tewas,, "


"Apa,,,? Siapa yang berani membunuh muridku,,,? " hardik kakek itu sambil melotot.


" Apa mereka sudah bosan hidup,, "


" Ampun eyang, mereka menamakan dirinya pasukan Shindung Bawana,, jawab pelapor yang sebenarnya tangan kanan ki Karmo.


" Baiklah aku akan ke desa untuk menyelesaikan mereka, akan aku balaskan dendam muridku,, " jawab kakek berbaju merah yang di juluki dewa tongkat rotan.


Lhaaaaaphh..


Kakek itu melesat ke arah desa Mojosari, tubuhnya menghilang karena terlalu cepatnya kakek itu berlari.


Pelapor yang di tinggalkan di gubuk itu segera menggebah kudanya untuk menyusul dewa tongkat rotan.

__ADS_1


***


Cakra mengumpulkan warga desa Mojosari, dia memberi penjelasan kepada warga agar tidak panik dan melakukan pekerjaan seperti biasanya, namun mereka juga harus bersiap siap jika ada serangan ke desa itu mereka di minta untuk menjauh agar selamat.


Setelah semua urusan selesai, Cakra membubarkan para warga itu agar segera ke rumah masing masing, kecuali para sesepuh desa di minta untuk tetap tinggal di situ untuk membicarakan kepemimpinan desa Mojosari setelah di tinggal ki Karmo, mereka juga setuju untuk membagi bagikan harta simpanan desa yang berada di lumbung desa dan gudang kediaman ki Karmo, bahan pokok yang cukup banyak itu akan membuat senang warga yang selama ini memang hidup kekurangan akibat hasil panennya di rampas oleh ki Karmo.


Saat para sesepuh desa itu masih berbincang tentang cara membagi harta desa kepada warga, tiba tiba di hadapan mereka telah berdiri seorang kakek yang telah lama mereka kenal.


" Oh Dewa tongkat Rotan, silahkan duduk,, " ucap orang paling tua di antara mereka sambil berdiri mempersilahkan dewa tongkat rotan duduk.


" Tidak usah kau banyak bicara, sekarang tunjukkan padaku orang yang telah membunuh Karmo murid ku,,,,! "


Mendengar perintah itu tidak ada satu pun yang berani berbicara, mereka sangat paham betul dengan watak dewa tongkat rotan, kakek itu tidak pernah segan untuk menurunkan tangan kepada orang yang di anggapnya bersalah.


Melihat semua terdiam Cakra berdiri, dia berjalan menghampiri dewa tongkat rotan dengan tenang tidak ada tanda dia ketakutan.


" Sayalah yang telah membunuh ki Karmo, karena selama ini ki karmo telah berlaku semena mena kepada warga di desa ini, jadi kami tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. " ucap Cakra.


" Kurang ajar, anak masih bau kencur sudah berani bertingkah, sekarang bunuh dirilah di depan ku agar aku memaafkan mu,,,, ! " bentak dewa tongkat rotan.


" Maaf kek, walau nyawaku tidak seberapa berharga, namun bagiku harus aku pertahankan agar tetap berada di badan,, " jawab Cakra tenang.


" Bagus bagus. kalau begitu aku akan memaksa nyawamu itu meninggalkan tubuhmu, agar tubuhmu itu bisa berguna untuk memberi makan anjing liar di hutan,, "


Tidak mau terpancing amarahnya, Cakra hanya tersenyum.


Melihat senyum itu kakek dewa tongkat rotan merasa tidak di hargai, dia sangat murka.


Wuuuuutt...


Wuutt..


Suara tongkat rotan di tangan kakek itu telah berputar putar mengeluarkan aura gelap yang cukup pekat, aura gelap yang menyebar itu membuat semua yang hadir menjadi tertekan, seakan akan akan dada mereka tertimpa batu sebesar kerbau.


Tidak ingin memandang remeh lawan dan tidak ingin yang ada di pendopo itu terluka akibat aura gelap yang pekat, Cakra segera mengeluarkan tombak Bayu Angkasa, dia juga memutar mutarkan tombaknya untuk mengusir aura gelap yang menekan siapa pun yang ada di pendopo itu, sedikit demi sedikit aura gelap itu tertekan oleh angin berwarna biru bening yang di keluarkan dari putaran tombak bayu angkasa.


Dhaaaarr.


Angin biru bening yang menekan aura gelap dari pusaran rotan semakin besar, sehingga angin yang membentur tongkat rotan meledak mengakibatkan tubuh dewa tongkat rotan terpental ke luar pendopo, dadanya merasa sesak, dalam batinnya menanyakan siapa pemuda ini, kenapa tenaga dalamnya sangat kuat, bahkan dirinya yang sudah bersemedi bertahun tahun masih bisa di kalahkannya.


" Bagaimana kek, apakah kita masih perlu melanjutkan pertarungan ini,,? " tanya Cakra sopan.


" Jangan merasa sombong kau anak muda,,! sebentar lagi akan aku buat kau menyembah kakiku minta ampun,, "


Hiyaaaaatt


wuuuushhh


Sabetan tongkat rotan yang lentur mengarah ke arah Cakra, dengan tombak Bayu Angkasa, Cakra menangkis serangan itu.

__ADS_1


Dhuuuaaarr.


Suara ledakan di akibatkan bertemunya dua pusaka andalan mereka.


Kedua pusaka itu masih menempel sehingga kedua pemiliknya menghentakkan tenaga dalam untuk menekan lawan, namun kekuatan tenaga dalam mereka berimbang sehingga menjadikan kedua orang itu terlempar ke belakang berjumpalitan.


Setelah selesai laju tubuh mereka, mereka langsung melesat ke depan menyerang lawannya.


Sabetan rotan yang cepat di hindari Cakra dengan meloncat, dia membalas sabetan itu dengan mengayunkan tombaknya ke arah kepala dewa tongkat rotan.


Sedikit sebelum tombak itu mengenai kepala dewa tongkat rotan, dewa tongkat rotan menangkis dengan tangan kirinya.


Deeshh.


Tubuh dewa tongkat rotan terlempar kesamping akibat besarnya dorongan tombak bayu angkasa.


Dengan gesit, dewa tongkat rotan langsung meluncur ke arah Cakra setelah kakinya mendarat ke tanah.


Wuuushhh


wuuuushh.


Serangan tongkat rotan itu semakin cepat, bahkan kini yang terlihat rotan itu seakan menjadi ribuan jumlahnya, namun bagi Cakra yang matanya sudah terlatih tidak merasa kesulitan untuk meladeni serangan itu.


Mereka saling serang dengan cepat, serangan mereka sampai tidak dapat di ikuti oleh mata biasa, orang orang desa yang melihat pertarungan itu hanya melihat bayangan putih dan merah yang saling bertabrakan dan saling menghindar.


Dhuuarrr.


Sebuah pukulan saling bertabrakan sehingga mengguncang pendopo desa yang ada di dekat mereka.


Blaaaaaarrr.


Seluruh orang di pendopo yang menyaksikan pertarungan itu terpental terkena impas dari benturan dua kekuatan yang dahsyat, kecuali orang orang yang memiliki tenaga dalam tinggi.


Cakra semakin meningkatkan kecepatannya untuk segera menuntaskan pertarungan ini, hingga di tubuh Cakra sudah terbentuk zirah berwarna merah yang mewah,,


Blaaarr.


Pukulan rotan itu telak mengenai dada Cakra, namun seakan tidak terjadi apa apa Cakra tidak terluka sedikit pun, zirah yang ada di tubuh Cakra telah memusnahkan kekuatan benturan dari tongkat rotan itu.


Dewa Tongkat Rotan sangat penasaran, selama ini tidak ada satu pun orang yang tetap hidup apabila terkena sabetan rotan itu, kini lawannya jangankan mati, terluka pun tidak.


Cakra sekarang semakin berani untuk menyerang dewa tongkat rotan karena sekarang di lindungi oleh zirah yang terbentuk dari aura tenaga dalam yang memadat.


Dewa tongkat rotan menusukan ujung rotan ke arah perut Cakra, namun Cakra mampu mengelak dan mengarahkan jurus paruh garuda ke dada dewa tongkat rotan.


Deeshh.


Aaaakhh.

__ADS_1


Dewa tongkat rotan terpental ke belakang hingga sepuluh tombak, tubuhnya baru berhenti setelah menabrak pohon dan pingsan.


Cakra memerintahkan untuk membawa dewa tongkat rotan ke dalam dan mengobati lukanya.


__ADS_2