
Malam di hutan Kuncoro begitu lengang, pangeran Jati Kusuma menjamu para tamu yang datang di padepokan itu dengan makan malam yang meriah, hampir lima ratus orang makan bersama diterangi obor di halaman pendopo, mereka memanfaatkan saat saat makan ini untuk saling mengenal satu sama lain, kadang terdengar suara tertawa dari salah satu sudut tempat, suasana hangat ini di harapkan bisa mempererat hubungan mereka.
Cakra, paman Jolo, Putri Kencana Sari, Nyai selasih dan pimpinan padepokan yang datang telah duduk melingkar bersama pangeran Jati Kusuma, sambil bersantap mereka membicarakan hal yang perlu di lakukan ke depannya.
" Aku dari tadi belum mendengarkan cerita perjalananmu Cakra, ceritakan lah apa yang kau alami,,,,!" ucap pangeran Jati.
" Hamba awalnya berniat menuju ke kerajaan Tirta Kencana menemui ayahanda untuk meminta bantuan, namun di tengah jalan, hamba berjumpa dengan putri Kencana Sari, kebetulan akhirnya hamba meminta bantuan putri Kencana Sari untuk membantu pangeran,, " Cakra memulai ceritanya.
Cakra menceritakan perjalanannya sehingga dia bisa berjumpa dengan Putri Kencana Sari, berjumpa dengan Nyai Selasih, berperang dengan para pendekar yang dikirim oleh Sangga Bhumi hingga mendapatkan harta rampasan yang banyak.
__ADS_1
" Setelah ini hamba berencana untuk melatih semua prajurit yang ada di sini agar menyesuaikan dengan strategi perang yang cocok kita lakukan, sementara para prajurit yang hamba bawa sudah mahir dalam kanuragan dan penguasaan senjata, kita tinggal memberi semangat agar prajurit itu mau berjuang dengan segenap jiwa raganya. " beber Cakra .
" Hamba juga sudah menyusupkan lima orang prajurit ke Padas Gading untuk mempelajari keadaan di sana, hamba juga meminta kepada mereka untuk membujuk teman teman mereka yang masih di paksa menjadi prajurit agar mau bergabung dengan kita, sehingga nanti saat kita menyerang mereka dari luar, ada serangan kejutan dari dalam yang di lakukan oleh para prajurit kita di sana,, " lanjut Cakra.
" Hamba juga sudah meminta ki Warso seorang pedagang yang akan menghubungi pedagang pedagang dari Gading Padas yang dulu menyingkir untuk membantu biaya perjuangan ini, sejauh yang hamba terima dari penghubung kami, ki Warso sudah berhasil mengajak enam saudagar membantu biaya perjuangan kita. " tutup laporan Cakra.
Semua yang berada di situ tersenyum gembira mengetahui gerak cepat Cakra dalam bertindak.
" Pangeran, hamba utusan dari padepokan juga akan membantu sekuat tenaga kami, kami yakin dengan adanya rencana ini, kita semua akan berhasil, kami akan menambah murid murid yang akan di ajak berjuang, " seru ki Sarjo bersemangat setelah mendengar perkembangan yang di sampaikan Cakra.
__ADS_1
Pangeran sangat berterima kasih atas bantuan itu, semoga semua bisa berjalan dengan lancar.
Pangeran memerintahkan paman Jolo Wojo untuk melatih para prajurit, sebagian dari mereka bertugas membuat senjata sebanyak banyaknya dan menambah orang orang yang menyusup ke kota raja dengan mengirim para pendekar padepokan secara bertahap melalui jalan rahasia.
Semua yang ada di situ merasa lega, kini mereka pergi beristirahat dengan membawa cita cita ke dalam mimpi mereka, mereka tidur untuk menyambut pagi yang cerah penuh harapan.
***
Pagi itu, suasana mencekam terjadi di pendopo Gading Putih, Gusti Sangga Bhumi sangat marah atas kekalahan mereka di desa Ringin Anom, mereka tidak menyangka pasukannya di hancurkan begitu saja, ini akibat dari mereka meremehkan lawannya.
__ADS_1
Gusti Sangga Bhumi memerintahkan untuk menyisir hutan Gondo Mayit, dia bertekad untuk menghancurkan pasukan itu, namun mereka tidak menemukan apa apa di sana, karena Cakra telah membawa pergi pasukannya menuju hutan Kuncoro, Tidak sedikitpun jejak mereka dapatkan, mereka seakan lenyap di telan bumi, hal inilah yang menjadikan gusti Sangga Bhumi naik pitam, kalau tidak ingat dia membutuhkan orang orang kepercayaan, dia pasti sudah membantai prajurit yang datang tanpa mendapatkan hasil apa apa itu.