
Tiiiiing.
Tiiiiiingg.
Denting suara senjata berbenturan telah mengusik ketenangan Sardi, Sardi memaksa membuka matanya mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Dia berusaha bangun walau tubuhnya masih terasa sakit semua, dengan berpegangan dengan dinding gua dia berusaha berjalan ke luar gua meninggalkan Cakra yang masih tidak sadarkan diri.
Cahaya matahari menyilaukan matanya sehingga sebentar dia belum mampu melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Setelah matanya mulai terbiasa, Sardi baru melihat adanya seorang botak hitam mengayun ayunkan kapaknya ke arah kakek dewa tongkat rotan.
Pertarungan inilah yang tadi membuatnya bangun.
Sedangkan Kakek dewa tongkat rotan yang baru saja membersihkan badan di sungai di dekat gua itu, dia mendapati seseorang yang berseliweran di depan gua, dia memeriksa setiap tempat mencari pintu gua yang tersembunyi itu.
Melihat gelagat yang tidak baik, kakek dewa tongkat rotan menegur orang itu, namun orang itu bersikap congkak dengan menantang kakek dewa tongkat rotan, akhirnya terjadilah pertarungan itu.
..
" Buat apa kita melakukan pertarungan yang sia sia ini kapak racun ,,, " tanya kakek dewa tongkat rotan saat dia bisa menghindari sabetan kapak lawannya yang bernama kapak racun.
" Siapapun yang ada di hutan ini pasti menginginkan patung garuda emas, jadi siapapun yang ada di sini harus mati agar aku bisa menguasai pusaka sakti itu,, " ucap kapak racun.
" Sama sekali aku tidak tahu menahu tentang patung garuda emas, jadi tidak perlu kau takut aku alan merebutnya dari tangan mu. "
" Aaakkkhh,, tidak perlu banyak bicara, sekarang terimalah ajal mu,, " ucap kapak racun.
Kapak dua sisi yang berwarna hitam legam itu telah di silangkan ke depan dada, sebuah kapak yang apabila menggores kulit lawan sudah cukup bagi lawannya itu untuk meregang nyawa karena keampuhan racun yang terkandung di dalamnya.
Merasa tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan ini dengan baik baik, kakek dewa tongkat rotan menyiapkan kuda kudanya demi menyongsong serangan kapak racun.
__ADS_1
Hiyaaaat.
Wuuuusss.
Kapak racun telah meloncat sambil membacokkan kapaknya, tapi kakek dewa tongkat rotan sudah siap, hanya dengan menggeser kakinya, bacokan kapak itu bisa di hindari.
Serangan kapak racun tidak cukup di situ saja, dia menarik kapaknya kemudian mengirimkan tendangan kilat yang cukup cepat, beruntung bagi kakek dewa tongkat rotan sudah banyak makan asam garam di dunia persilatan, sehingga serangan yang sebenarnya sangat berbahaya itu mampu dengan mudah di atasi.
Giliran kakek dewa tongkat rotan yang kini berusaha secepatnya mengakhiri pertarungan, dia menyabetkan tongkat rotan nya secara cepat, dia kurung kapak racun sehingga gerakan kapak racun menjadi terganggu.
Kapak racun berusaha keluar dari serangan tongkat itu, tapi tidak mudah baginya, setiap terlihat celah untuk keluar dari serangan itu, pasti dengan cepat telah di tutup oleh kakek dewa tongkat rotan.
Hal ini membuat kapak racun kehilangan pengendalian diri, dengan membabi buta dia mengayunkan kapaknya berharap ayunan kapak itu bisa memecahkan kurungan serangan tongkat rotan.
Melihat gerakan lawan tidak terkendali lagi meninggalkan celah yang terbuka di pertahanannya, kakek dewa tongkat rotan memanfaatkan itu, dengan jurus tongkat rotan menghantam gunung, tongkat itu dipukulkan ke bagian tubuh kapak racun yang terbuka.
Dhuuuuuuarrrr.
Blaaaaam.
Tubuh itu baru berhenti setelah menabrak sebuah pohon besar dan terjatuh di tanah tidak bangkit lagi karena luka dadanya remuk tidak berbentuk.
Sardi segera menghampiri kakek dewa tongkat rotan, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Kakek dewa tongkat rotan menceritakan dari awal kejadian hingga selesainya pertarungan itu.
Sardi segera mengajak kakek dewa tongkat rotan untuk kembali ke gua, karena Sardi percaya kepada kakek dewa tongkat rotan, dia ingin menceritakan perihal tentang patung garuda emas, belum sempat Sardi bercerita, Kelana yang baru kembali setelah mencari makanan sangat terkejut melihat jasad orang tidak di kenal tergeletak di bawah pohon, dia sadar baru terjadi pertarungan kemudian dia berlari menghampiri kakek dewa tongkat rotan di gua..
Saat Kelana sampai di dekat kakek dewa tongkat rotan, hatinya lega karena kakek dewa tongkat rotan tidak apa apa, kemudian Kelana bertanya tentang apa yang terjadi.
Sambil menyiapkan api mereka akhirnya bercerita.
__ADS_1
Saat hidangan sudah matang, kakek dewa tongkat rotan menanyakan kepada Sardi tentang apa yang akan dia ceritakan mengenai patung garuda emas.
Kakek dewa tongkat rotan dan Kelana sangat terkejut mendengar cerita Sardi bahwa pusaka yang saat ini di perebutkan oleh dunia persilatan ternyata berada di gua yang selama ini mereka tinggali, sekarang maklum lah mereka jika para pendekar masih banyak yang berseliweran di sekitar tempat itu.
***
Byuuuuur.
Tubuh Cakra di bawa terbang lebih tinggi lagi dan di lemparkan ke dalam danau, beruntung bagi Cakra bisa berenang sehingga dia tidak mati tenggelam.
Saat ini dia belum bisa menghindari cengkraman burung garuda yang selalu membawanya terbang tinggi dan melemparnya ke danau, Cakra masih berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk menghindari lesatan burung yang cepat itu.
" Cepat,,,, ahh aku tau harus bagaimana,, " gumam Cakra.
Byuuuuuur.
Tubuhnya jatuh dengan keras di danau lagi, walau sakit tapi rasa sakit itu selalu hilang dengan cepat.
Cakra menggerakkan tubuhnya ke atas setelah tercebur ke dalam danau, saat tubuhnya berada di permukaan dia melihat burung itu hampir sampai, dengan cepat dia masuk lagi ke dalam air, namun dia kalah cepat, walau tubuhnya sudah masuk ke dalam air namun kaki garuda itu masih mampu menjangkau tubuh Cakra.
Byuuuuuur.
" Aku harus lebih cepat menyelam sebelum burung itu bisa menjangkau tubuhku,, " ucap Cakra dalam hati.
Segera Cakra menyelam lagi, kini sedikit cakar garuda itu menyentuh tubuhnya namun tidak mampu membawa tubuh Cakra ke atas.
Cakra menyelam lebih dalam sambil berenang menuju tepi danau, sesekali dia harus muncul di permukaan untuk mengambil napas, hal ini harus di lakukan dengan cepat agar tubuhnya tidak di sambar oleh burung garuda.
Berkali kali Cakra sudah berusaha, saat dia mendekati tepi danau yang dangkal, tubuhnya tersambar lagi oleh burung garuda sehingga lagi lagi dia di lemparkan ke tengah danau.
Cakra harus mengulangi prosesnya dari awal, tanpa di sadari Cakra, pernapasannya semakin panjang dan teratur, hal ini menopang untuk memaksimalkan jurus jurus yang di miliki Cakra nantinya.
__ADS_1
***
Di hutan Angkrong saat ini mulai sepi, pencarian yang tidak mendapatkan hasil menjadikan mereka sedikit demi sedikit meninggalkan hutan itu, mereka harus kembali ke tempat masing masing daripada harus berhadapan dengan kakek tongkat naga merah beserta kakek sabuk baja yang saat ini selalu membantai setiap pendekar yang berpapasan dengan mereka entah dari golongan putih maupun dari golongan hitam.