
Di sebuah bangunan yang terbuat dari batu bata merah di bentuk berundak undak seperti candi, di dalam candi itu terdapat ruangan yang cukup luas hingga mampu di tempati dua puluh orang, di tengah tengah ruangan itu terletak batu pipih yang cukup untuk berbaring dua orang, di batu pipih inilah tempat upacara persembahan wanita yang masih gadis untuk di tumbalkan kegadisannya kemudian di bunuh untuk darahnya di persembahkan kepada iblis merah.
Kini di ruangan itu telah berkumpul empat orang, diantaranya adalah ki Sudir dan Remboko.
" Maafkan kami ketua, karena kami telat menghadap, " ucap Ki Sudir kepada seorang yang berpakaian hitam bertopeng setan merah dengan taring yang mencuat di dua mulut topeng.
" Aku maklumi itu ki, tapi jangan di ulang jika kau tidak ingin kehilangan kepalamu,, " ucap laki laki berbaju hitam yang ternyata ketua dari kelompok penyembah iblis merah di wilayah hutan Murwo.
" Tidak apa apa Rendra, mereka hanya sebentar terlambat,, " ucap ketua pusat yang memakai jubah merah dan topeng berwarna merah juga.
Kelompok penyembah iblis merah memiliki jaringan yang sangat luas, mereka memiliki cabang cabang di setiap daerah yang di pimpin langsung oleh ketua pusat yang tidak semua tau lokasi pasti markasnya, ketua pusat hanya muncul ke cabang cabang jika ada sesuatu yang penting seperti hari ini salah seorang ketua pusat yang hadir di hutan Murwo untuk menyampaikan rencana selanjutnya dan mengumpulkan kekuatan sebesar besarnya.
Namun di tengah perbincangan yang mereka lakukan, di luar terjadi keributan.
" Remboko, coba lihat di depan terjadi keributan apa,,! " perintah ketua berbaju hitam.
Remboko langsung keluar dari ruangan itu mencari tahu apa yang terjadi.
Sampai di luar Remboko melihat para penjaga berlarian ke arah timur, ternyata dari kejauhan terlihat api yang besar di sana, apalagi suasana gelap malam membuat kobaran api itu semakin terlihat jelas.
Remboko menghentikan salah satu penjaga yang berlari melintasinya.
" Apa yang terjadi di sana,,,? kenapa terjadi kebakaran,,? " tanya Remboko.
" Anu tuan, markas yang ada di jurang sebelah timur telah di serang orang, dia membakar hutan yang ada di sekitar markas itu. "
" Kurang ajar,, halangi penyerang itu keluar dari hutan ini, aku akan melapor kepada ketua dahulu,,! "
Rumboko langsung kembali ke tempat pertemuan tadi, dia melaporkan apa yang terjadi kepada ketua Rendra.
" Kurang ajar, siapa yang berani merusuh di wilayah ini, cari matikah dia,,? ki Sudir, Remboko segera ke sana habisi mereka yang berani merusuh di sini,,! " perintah ketua Rendra
" Tunggu,,,! sebaiknya kita semua ke sana, aku tidak ingin permasalahan ini berlarut sehingga mengganggu rencana kita,, " ujar ketua pusat yang dari tadi hanya diam mendengarkan.
" Maaf ketua, ini masalah kecil, jadi tidak perlu ketua mengotori tangan hanya karena masalah sepele,, " jawab ketua Rendra
" Tidak apa apa, aku juga ingin tahu siapa orang yang berani mengacau, lumayan juga jika aku nanti bisa menonton pertarungan kalian dengan para pengacau itu.
Akhirnya keempat orang itu langsung pergi ke arah markas mereka yang di serang.
__ADS_1
Saat mereka sampai di sana, seorang laki laki dan seorang perempuan hendak keluar dari markas mereka.
" Berhenti,,,! mau kemana kalian,,? " teriak ketua Rendra.
" Aku kesini hanya menjemput adik ku, kini aku akan pergi dari sini" ucap pemuda itu.
" Bangsat, siapa namamu yang sangat berani mengacaukan markas kami terus mau pergi sesuka hatimu,, ? " bentak Ketua Rendra.
" Apakah perlu kita basa basi perkenalan diri,,? kalau aku tidak sudi mengenal para penculik licik seperti kalian,, "
" Cuiih, kata katamu memanaskan kuping, tinggalkan saja namamu biar kami nanti bisa memberi nama pada nisanmu nanti. "
" Baiklah agar kalian tidak penasaran nantinya di neraka karena tidak tau siapa yang mengirim kalian ke sana, namaku Cakra dan ini adik ku Kenanga, kalian bisa mengingat namaku nanti biar di neraka kau bisa tenang,, " ucap pemuda itu yang ternyata Cakra yang menyelamatkan Kenanga dari penculikan Ki Sudir dan Remboko.
" Aku dengar dengar omonganmu semakin memanaskan dada, karena kau sudah berani lancang maka ganti dadamu nanti yang akan aku remukkan hingga jebol,, " teriak ketua Rendra.
" Kalau kau mampu, kenapa tidak kau lakukan sekarang ,,? "
Mendengar tantangan itu, ketua Rendra segera memberi perintah kepada Ki Sudir dan Remboko untuk menyerang, sedangkan ketua Rendra dan seorang berjubah merah hanya menonton dari tempatnya berdiri.
Remboko dan Ki Sudir tidak ingin mengecewakan ketuanya, keduanya langsung melesat mencari lawan masing masing.
Cakra dan Kenanga saling mendekat, mereka ingin bertarung berpasangan agar mereka bisa saling mengisi pertahanan dan serangan.
Remboko dan Ki Sudir dengan jurus ombak segoro menyerang lawan mereka, dahsyatnya jurus yang menyerang Cakra dan Kenanga tidak mampu membuat sepasang pendekar itu menjadi gentar, dengan jurus sayap seribu yang bersifat luwes, lincah dan cepat namun memiliki kekuatan serangan yang besar, mereka meladeni serangan lawan.
Remboko yang saat itu menyerang Cakra tidak mampu membuat pemuda itu terdesak, setiap serangan yang dia kirimkan tidak satu pun bisa mencapai sasaran dengan tepat, karena setiap serangan itu sudah tinggal seujung jari namun bisa dengan mudah di elak maupun di tepis oleh Cakra.
Sedangkan Ki Sudir yang melawan Kenanga awalnya yakin bisa dengan mudah mengalahkan gadis itu, namun kini dia merasa hanya memukul udara karena serangannya sia sia di hadapan lawannya.
Kenanga saat ini sadar jika saat di kalahkan tadi sore karena dia di kuasai amarah, kini dia mampu mengendalikan amarahnya sehingga pola gerakannya semakin mantap dan dengan mudah mengimbangi lawannya.
Sepasang pendekar yang gerakannya hampir sama itu meliuk liuk menghindari serangan lawan sambil mempelajari pola serangannya, mereka juga mencoba mencari kelemahan dari jurus ombak segoro yang di gunakan oleh lawan.
Serangan yang terus menerus tanpa henti itu terlihat kuat dan cepat, namun serangan yang seperti itu tidak cocok jika di gunakan bertarung dengan waktu yang cukup lama karena serangan itu membutuhkan tenaga dalam yang besar.
" Dinda, tingkatkan kecepatan mu untuk melawan kecepatan mereka,,,! "
Kenanga paham dengan maksud Cakra, dia langsung mengikuti petunjuk Cakra, dengan kecepatan yang di tingkatkan, Cakra dan Kenanga mampu merubah keadaan, awalnya mereka terlihat hanya bertahan tapi saat ini mereka mampu membalas serangan lawan.
__ADS_1
Pukulan dan tamparan mampu mereka sarangkan ke tubuh lawan, dengan gerak cepat mereka memukul kemudian segera menarik serangan agar tidak ke dahuluan serangan balasan.
Ki Sudir yang beberapa kali terkena pukulan dan tamparan lawannya menjadi marah, wajahnya merah apalagi pertarungan itu di saksikan oleh ketua Rendra dan ketua pusat sehingga dia merasa jatuh harga dirinya.
" Perempuan ******, akan aku bunuh kau yang telah berani menyentuh tubuhku,, "
" Apa,,? apa aku tidak salah dengar, bukankah dari tadi sore kau yang ingin menyentuh tubuhku, kenapa sekarang aku sentuh tubuhmu justru kau malah marah, apa aku kurang keras menyentuhnya,,? " balas Kenanga.
" Akan aku sumpal mulutmu. "
Ki Sudir kembali menyerang Kenanga, Kenanga yang merasa jurus sayap seribu belum mampu menembus ilmu kebal dari ki Sudir sengaja mengubah jurusnya menjadi cakar garuda membelah badai, di padu dengan jurus langkah kilat menapak angin membuat serangan cakar itu semakin cepat susah untuk di ikuti mata kepala.
Serangan cakar Kenanga yang seakan akan berjumlah ratusan karena cepatnya gerakan Kenanga membuat ki Sudir kewalahan, walau ilmu kebalnya sudah di anggap sempurna namun jurus cakar garuda membelah badai yang sudah di kuasai Kenanga mampu membuat luka luka di tubuh Ki Sudir.
Lelehan darah sudah membasahi Tubuh Ki Sudir, hal ini membuat ketua Rendra melotot tidak percaya, dia sangat yakin dengan kemampuan orang kepercayaannya itu, namun di hadapan sorang gadis yang masih belia seakan akan tidak berdaya.
Keadaan Remboko yang melawan Cakra justru lebih parah, tangan kirinya sudah patah sehingga dia hanya mengandalkan serangan menggunakan tangan kanan, karena tangannya patah, membuat pola serangannya juga tidak terarah, hingga saat dia sekuat tenaga mengirimkan pukulan tangan kanan, pukulan itu bisa di hindari oleh Cakra kemudian Cakra menendang punggung Remboko hingga dia terjungkal ke depan, Remboko jatuh bergulingan dengan rasa sakit di punggung, dia berusaha bangkit namun sebelum dia mampu berdiri tangan kekar Cakra mencekik lehernya, tubuhnya terangkat sampai sejengkal dari tanah.
Kraaak.
Leher itu patah kemudian Cakra melempar tubuh Remboko yang sudah tidak bernyawa.
Ketua Rendra yang melihat anak buahnya mati dengan cara mengenaskan tidak tinggal diam, dia tidak ingin menganggap remeh lawan sehingga dia langsung menggunakan keris yang cukup besar.
Keris di tangan Rendra mengeluarkan cahaya merah seakan bara besi yang membara.
Dengan keris yang di acungkan ke depan, Rendra menyerang Cakra, dengan gesit Cakra menghindari setiap tusukan keris Rendra.
Hawa panas yang di pancarkan dari prabawa keris Rendra mampu membuat Cakra kehabisan napas, namun hal itu tidak lama, karena Cakra mengempos tenaga dalamnya menciptakan pusaran angin yang mampu meredam hawa panas dari keris Rendra.
Kenanga yang tahu Cakra sudah membunuh satu lawannya dia juga meningkatkan tenaga dalamnya, jari jari nya terlapis udara tipis yang tajam sehingga serangan cakarnya semakin membuat luka yang cukup dalam, akibat cakar garuda membelah badai luka luka di tubuh Ki Sudir semakin banyak sehingga banyak darah yang keluar dari tubuhnya, hal ini mempengaruhi kekuatan dan kecepatan bertarungnya, sehingga membuat Kenanga lebih mudah menyarangkan cakarnya ke tubuh Ki Sudir.
Kenanga memutari tubuh Ki Sudir meninggalkan luka yang banyak di sana, hingga akhirnya tubuh ki Sudir jatuh berlutut karena kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya, Kenanga tidak ingin memberi ampun kepada lawannya, dia teringat bagaimana perlakuan laki laki di depannya ini tadi sore sehingga dia muak melihat laki laki itu, dengan cakarnya dia membabat leher ki Sudir.
Craaaaaas..
Buuuk.
Kepala itu terjatuh ke tanah di ikuti oleh tubuhnya, sebenarnya beberapa anak buah dari kelompok iblis merah hendak menolong namun hal itu terlambat karena ki Sudir sudah tewas, akhirnya mereka tetap memutuskan mengeroyok Kenanga, sedangkan ketua dari pusat hanya bersedekap tangannya di dada, entah apa yang di pikirkan sehingga dia tidak menerjunkan diri di pertarungan itu.
__ADS_1